Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
The Fall of the Border Fortress (1)


“Mungkin dia sudah tidak sabar. Lagi pula, kamu ada di sini sekarang dan telah menyembuhkan racun bunga busuk Tianlong Heyu. Ini sudah dianggap rencana yang menyimpang bagi wanita tua itu.”


Baiyue hanya bisa menjelaskannya demikian. Karena memang di kehidupan sebelumnya dan kehidupan ini memiliki nasib yang sama sekali berbeda.


"Kamu juga harus berjuang keras agar bisa membuat negara ini tambah maju," kata Baiyue.


"Aku bukan kaisar. Kenapa jadi urusanku?" Chen Sisi mengerutkan kening.


Baiyue lagi-lagi mencari alasan yang masuk akal untuknya. "Jika rakyatnya banyak akal, kaisar juga bangga."


"Bukankah ungkapan untuk tidak baik menjadi terlalu pintar itu benar?"


"..." Baiyue tidak memikirkannya.


Menjadi terlalu pintar terkadang juga menjadi masalah. Bukan hanya membuat seseorang terkesima, tapi juga akan menimbulkan perasaan ingin memiliki, menjatuhkan bahkan mengendalikan lebih jauh.


Terutama wanita yang terlalu pintar terkadang menjadi incaran para pria yang suka mengatakan satu kata klasik 'menarik'.


Karena Ibu Suri Meng yang tiba-tiba saja menghilang, banyak masyarakat yang bergosip diam-diam. Mereka menebak ke mana Ibu Suri Meng menghilang.Ada juga yang dituduh jika Ibu Suri Meng melarikan diri.


Bahkan ada yang bergosip lebih kejam jika ibu Suri Meng meninggal karena terjangkit wabah mayat hidup.


Semua jenis diskusi semakin meluas hingga ke setiap toko dan restoran.


Chen Sisi juga tidak mau memikirkan ini.


"Mungkinkah dia pergi dengan pria berjubah hitam itu?" gumamnya.


Chen Sisi tidak ingin berlarut-larut dalam masalah ini dan segera bersiap untuk pergi ke restorannya.


Hari ini, Chen Yelang juga tidak ada di ruang dan dipanggil ke istana oleh Kaisar Tian. Tidak perlu menebak. Chen Sisi sudah tahu jika Kaisar Tian ingin membahas serangan lebih lanjut terhadap orang-orang dan bintang yang terkena wabah mayat hidup.


Tak lama setelah Chen Sisi tiba di restoran, Tianlong Heyu serta Chen Yelang datang bersama.


"Oh, pertemuan dengan kaisar begitu cepat?" tanyanya pada mereka berdua.


"Masalah lama yang dibahas." Tianlong Heyu tidak menjelaskan lebih jauh karena dia yakin Chen Sisi sudah menebaknya.


Di belakang Tianlong Heyu, Chen Yelang menyentuh perutnya yang keroncongan.


"Adikku, aku lapar."


Chen Sisi berkata. "Ibu bilang kamu langsung pergi setelah mendapat panggilan kaisar. Dan kamu belum sarapan. Istana tidak menawari sarapan?"


Chen Yelang berdeham. "Bagaimana mungkin aku meminta sarapan di istana? Aku tidak begitu miskin."


Padahal sebenarnya kaisar memang mengajaknya sarapan bersama. Tapi dengan kebersamaan Tianlong Heyu yang segera pergi, dia akhirnya mengikuti.


"Ternyata begitu. Kalau begitu, aku akan membuat sarapan untuk kalian. Apa yang ingin kalian makan?"


Karena Tianlong Heyu belum sarapan juga, tentu saja dia setuju untuk makan di restoran.


"Apapun itu, adik masakanku selalu enak!" Chen Yelang tak lupa memuji.Rasanya menyenangkan memiliki adik perempuan.


Chen Sisi menatap Tianlong Heyu."Bagaimana denganmu?"


"Aku pun sama."


"Baiklah kalau begitu. Pergilah dan cari tempat duduk sendiri. Aku akan pergi ke dapur."


Chen Sisi tidak menahan mereka mengangguk dan segera pergi ke dapur. Melihat keberadaan Chen Sisi, para koki di sana senang dan tidak sopan. Lagi pula, Chen Sisi adalah bos mereka.


"Bos, apakah butuh sesuatu?" tanya salah satu dari mereka.


Lagi pula, restoran selalu ramai dan pendapatannya juga besar. Hampir setiap tujuh hari sekali, menu baru dibuat dan akan digilir setiap hari agar pelanggan tidak bosan.


"Baiklah, kali begitu, jangan sungkan memberi kami perintah."


Chen Sisi hanya mengangguk. Dia berniat untuk membuat beberapa hidangan yang cocok untuk sarapan.


Chen Sisi membuat sup tahu.


Dia memotong wortel, tahu putih, daun bawang dan tomat. Kemudian haluskan bawang merah, bawang putih serta merica.


Tumis bumbu halus lebih dulu sampai harum. Tambakan air, kaldu ayam serta wortel. Masak hingga wortel mulai empuk lalu tambahkan gula pasir, potongan tomat dan sedikit garam. Masak hingga matang.


Setelah kira-kira pas, Chen Sisi memasukkan potongan daun bawang lalu angkat dan masukan ke dalam mangkuk. Beri taburan bawang goreng.


Aroma kaldu dan bawang goreng langsung membuat nafsu makan menjadi lebih baik.


"Tolong antarkan ke tempat pangeran kedelapan di kotak pribadi," katanya ada salah satu pelayan yang selalu menyajikan hidangan.


"Baik, Bos!" Pria pelayan itu segera mengantarkan sup tahu.


Sekarang, Chen Sisi membuat hidangan lainnya. Dia menyiapkan beberapa pakcoy utuh dan membersihkannya dengan teliti. Setelah pakcoy bersih diiriskan, potong bawang putih secukupnya.


Masak air sampai mendidih dan rebus pakcoy selama beberapa saat dan tiriskan. Lalu tumis bawang putih hingga harum. Tambahkan saus tiram, penyedap rasa, air secukupnya, gula pasir serta sedikit maizena sebagai pengental.


Aduk semuanya sampai mengental dan kemudian angkat.


Chen Sisi menata pakcoy yang telah direbus tadi di atas piring kemudian siram dengan bumbu tumis tadi.


Tumisan ini berbeda dengan biasanya dan rasanya juga lebih segar. Dengan begitu, cita rasa sayur segar dari pakcoy tetap terasa.


Lalu yang terakhir, Chen Sisi membuat bola-bola bihun. Ini adalah makanan yang digoreng.


“Tolong rebus bihun secukupnya kemudian potong-potong,” katanya pada salah satu asisten koki yang tidak sibuk.


"Ya." Asisten koki bergerak cepat untuk menyiapkan bihun yang diinginkan.


Sementara itu, Chen Sisi menghaluskan cabai, garam, bawang merah, bawang putih dan juga kemiri. Lalu wortel yang sudah dibersihkan lalu dipotong kotak kecil-kecil. Setelah itu potong daun bawang serta seledri.


Haluskan tahu putih sampai benar-benar lembut dan campurkan semua bahan tadi beserta bumbu seperti garam, penyedap rasa dan lainnya. Bihun yang telah ditambahkan juga dimasukkan. Tambahkan telur, aduk hingga rata sampai semuanya tercampur.


Chen Sisi langsung membentuknya bulat-bulat sebelum akhirnya dikukus selama kurang lebih setengah batang dupa (10-15 menit).


Barulah setelah itu digoreng hingga kuning keemasan.


Bola-bola bihun akhirnya selesai. Prosesnya cukup lama hingga mungkin Tianlong Heyu dan Chen Yelang sudah bosan menunggu.


Namun ketika Chen Sisi pergi ke tempat mereka, keduanya sedang mengobrol serius tentang rencana jangka panjang untuk menangani wabah mayat hidup.


"Kalian sudah makan sup tahu nya?"


"Ya, adikku, sup tahunya sangat enak. Dengan nasi hangat, ternyata sangat cocok. Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya?" Chen Yelang sudah menghabiskan supnya tanpa tersisa sedikit pun.


Tumis pakcoy yang diantarkan pelayan juga enak hingga kedua pria itu makan dua mangkuk nasi pagi ini.


Baru kemudian setelah Chen Sisi datang sambil membawa nampan berisi bola-bola bihun, Chen Yelang tak sabar untuk mengambilnya.


Adapun Tianlong Heyu yang tak terlalu peduli dengan makanan—lebih mengkhawatirkan Chen Sisi.


"Kamu pasti lelah. Duduklah dan istirahat," ucapnya sembari meminta gadis itu duduk di sampingnya.