Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
About the Peony Flower Building


Keesokan paginya, Chen Sisi bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan. Setelah menyegarkan diri, dia tak lupa mengajak Baiyue ke dapur.


Kucing itu ingin makan ikan goreng pagi ini. Memang kebiasaan seekor kucing. Dan hari ini, dia juga harus pergi ke Istana Kekaisaran bersama Tianlong Heyu. Dan pelayan yang ditugaskan untuk membeli benih atau bibit bunga dan sayur pun mulai sibuk.


Tianlong Heyu memiliki kebiasaan bangun pagi dan berolahraga di halaman belakangnya. Dan dari sana, ia masih bisa mencium aroma makanan dari dapur. Sepertinya gadis itu sedang menyiapkan sarapan.


“Yang Mulia, tuan muda Mo dari Gedung Bunga Peony datang untuk bertemu,” lapor Butler Sun yang baru saja menghampirinya.


Tianlong Heyu menghentikan latihan pedangnya. “Biarkan dia menunggu di ruang tamu,” katanya.


Butler Sun mengangguk dan meninggalkannya sendiri. Sementara Tianlong Heyu kembali ke kamar, menyegarkan diri dan meminta dua pelayan pria untuk membantunya berpakaian. Hari ini dia akan berkunjung ke istana dan bertemu ayah kaisar.


Dia tidak tahu apakah kaisar itu masih menganggapnya sebagai putra. Namun karena tidak ada utusan yang datang untuk mendesaknya pergi ke istana, itu artinya Kaisar Tian masih peduli dengannya. Tianlong Heyu juga tidak tahu bahwa Kaisar Tian lebih cemas


Setelah selesai berpakaian, dia pergi ke ruang tamu dan menemukan Mo Huazhu sedang menikmati secangkir teh. Penampilannya kali ini lebih baik dari pada saat datang kemarin sore. Setidaknya tidak ada lagi riasan cantik di wajahnya.


Mungkin setelah apa yang menimpanya semalam, pria itu menjadi lebih tercerahkan.


Tianlong Heyu duduk tak jauh darinya. “Untuk apa kamu datang ke sini?” tanyanya tanpa basa-basi.


“Aku merindukan masakan gadis itu. Maaf, Yuyu, tapi aku masih tidak bisa menahannya. Semalam aku cukup mabuk hingga lupa rasa makanan yang dimasak gadis itu seperti apa,” jawabnya jujur dan tidak sopan.


Sudut mulut Tianlong Heyu sedikit berkedut. Chen Sisi adalah koki pribadinya saat ini, bukan milik Mo Huazhu. Tapi karena sudah ada di sini, tidak sopan untuk mengusir orang. Dia memandang Mo Huazhu dengan sikap acuh tak acuh.


“Bagaimana dengan tubuhmu? Apakah baik-baik saja?”


“…” Mo Huazhu memikirkan apa yang terjadi padanya semalam.


Tendangan Chen Sisi sangat tepat dengan tubuh bawahnya. Dia masih ingat seperti apa rasanya dan mau tidak mau wajahnya sedikit terdistorsi. Ia ingat jika gadis itu tidak bisa diprovokasi.


Sebelum datang ke sini, ia sempat mampir ke rumah seorang dokter secara diam-diam. Hanya untuk memeriksa apakah tubuh bawahnya baik-baik saja. Untungnya, tak ada masalah apapun. Ia pun bisa menghela napas lega.


Tianlong Heyu mengungkitnya pasti sengaja ingin membuatnya kesal bukan? Mo Huazhu sudah terbiasa dengannya sehingga tidak banyak bicara.


“Untungnya keturunanku di masa depan masih terselamatkan.”


Tak lama kemudian seorang pelayan datang dan mengatakan jika sarapan sudah siap. Mo Huazhu menjadi orang yang pertama bangun dari duduknya. Ia sangat antusias untuk pergi ke ruang makan.


Sedangkan Tianlong Heyu lebih santai tapi tidak melambatkan langkahnya.


Sesampainya di ruang makan, Chen Sisi sudah menunggu seperti biasa. Dan dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Mo Huazhu yang menyebalkan. Bukankah itu pria yang mirip dengan wanita semalam?


Tampaknya pagi ini pria itu sedikit lebih nyaman untuk dipandang. Tapi ia masih memiliki kecurigaan jika Mo Huazhu menyukai pria.


“Nona Chen, kita bertemu lagi. Masalah semalam, tolong maafkan aku. Aku tidak memiliki niat bermain nakal, hanya saja tubuh Yuyu lemah saat dekat dengan wanita. Jadi ….”


Chen Sisi sepertinya mengerti apa yang ingin dijelaskan olehnya, lalu hanya mengangguk ringan.


Lalu perhatian Mo Huazhu tertuju ke meja makan yang menyajikan beberapa hidangan. Meski tidak sebanyak hidangan semalam, namun aromanya tak kalah enak.


“Apakah ini bubur?” tanyanya penasaran.


“Ya. Ini bubur ayam. Aku ingin memasak olahan mie, sayangnya kurang cocok dijadikan sarapan. Makanlah sesuatu yang mudah dicerna tubuh,” jawab Chen Sisi tidak keberatan menjelaskannya.


Ketiganya duduk. Chen Sisi diberitahu oleh Butler Sun sebelumnya jika Mo Huazhu datang menemui Tianlong Heyu. Jadi dia menambahkan semangkuk lagi untuknya.


Bubur putih dengan rempah ternyata menjadi sumber aroma enak tadi. Mo Huazhu melihat banyak topping di atasnya, mau tidak mau mencobanya dengan rasa ingin tahu. Ada suwir ayam goreng, kacang kedelai goreng, taburan seledri, telur rebus, kerupuk dan kecap manis di atasnya.


Ada juga sambal goreng yang disajikan terpisah. Dengan begitu, mereka bisa menambah sambal sesuai selera. Tentu saja Chen Sisi suka makan pedas dan menambah sambal lebih banyak. Tianlong Heyu tidak terlalu kuat makan pedas. Sedangkan Mo Huazhu cukup tambah sedikit saja.


Mo Huazhu mencoba suapan pertama. Buburnya lembut, ada rasa gurih, sedikit manis dan pedas. Belum lagi dimakan bersama dengan topping-nya, ia tak bisa menahan diri untuk makan sesendok demi sesendok.


“Nona Chen. Bubur ayam ini lebih enak daripada yang pernah aku makan di restoran atau di rumah. Apakah kamu tidak berniat membuka restoran di masa depan? Sangat disayangkan jika tidak membuka restoran,” puji Mo Huazhu tanpa ragu.


“Aku berniat membukanya di masa depan, tidak perlu terburu-buru,” kata gadis itu.


“Kalau begitu aku menantikannya. Tentu saja aku akan selalu datang untuk menjadi pelanggan setia. Jangan lupa, kamu bisa mengundangku ke sana untuk mempromosikan restorannya. Aku cukup terkenal di masyarakat. Demi Yuyu, aku akan melakukan promosi gratis,” jelas Mo Huazhu sangat percaya diri dengan pesonanya.


“…” Chen Sisi dan Tianlong Heyu menatapnya tidak yakin.


Akhirnya Chen Sisi penasaran dengan kegiatan Mo Huazhu setiap harinya. “Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan di gedung Bunga Peony?’ tanyanya.


“Ah? Apakah Yuyu tidak memberi tahumu?” Mo Huazhu tersenyum masam dan menyalahkan Tianlong Heyu. Lalu dia menjelaskan.


Sedangkan Tianlong Heyu yang mengambil pangsit rebus sama sekali tidak mengubah ekspresinya.


“Tempat berantakan tidak perlu diperhatikan,” ucapnya.


“Bagaimana bisa menjadi tempat yang berantakan? Kamu juga pergi ke sana beberapa kali untuk menikmati musik di masa lalu.”


Jelas jika Mo Huazhu tidak setuju dengan pendapatnya. Kapan kira-kira Tianlong Heyu datang ke tempatnya terakhir kali?


Lima tahun lalu Tianlong Heyu pergi ke perbatasan utara untuk menjaga benteng agar tidak dihancurkan oleh binatang atau manusia yang terinfeksi wabah mayat hidup. Selama itu, keduanya hanya berkirim surat saja.


Namun sebelum Tianlong Heyu pergi ke perbatasan, dia sempat datang ke Gedung Bunga Peony untuk menemukannya, mengucapkan sampai jumpa dan menikmati musik dan wanita penari yang dilatih dengan baik.


“Raja Perang yang dikagumi banyak orang ternyata juga datang ke tempat seperti itu?” Chen Sisi merasa tidak percaya.


Hah, bisakah pria berwajah gunung es itu pergi ke sana untuk menikmati pemandangan wanita penari?