Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
The owner of the Peony Flower Building


Dalam waktu lebih dari satu jam, semua masakan sudah siap. Para pelayan menyajikan semua makanan di atas meja makan. Tianlong Heyu masih berada di ruang belajar dan pelayan tidak berani mengetuk pintunya.


Lagi-lagi, tugas ini jatuh pada Chen Sisi. Dia baru saja menyegarkan diri setelah bergulat dengan panci dan wajan di dapur.


"Kenapa mereka begitu takut pada pria itu?" gumam Chen Sisi sedikit kesal.


Ia tidak mau pergi mengetuk pintu ruang belajar Tianlong Heyu. Bukan tanpa alasan atau takut padanya, tapi karena jaraknya cukup jauh dari halamannya.


Dia pria itu pasti sengaja tidak datang lebih awal hanya karena ingin dijemput bukan?


Anak bangsawan benar-benar manja!


Chen Sisi mencibir dan pergi ke halaman ruang belajar Tianlong Heyu. Sepanjang jalan, dia bergumam tidak jelas. Dan suasana hatinya juga tidak baik.


Penjaga gelap Bi Shi dan Bi Yan melihatnya datang dengan ketidaksenangan terpancar jelas di wajahnya, mau tidak mau berdoa untuk tuannya. Siapa yang menyinggungnya lagi kali ini.


Sesampainya di depan ruang belajar, ada dia penjaga di sana. Mungkin karena ruang belajar merupakan tempat yang penting sehingga harus dijaga dengan baik.


"Panggil tuanmu dan biarkan dia makan malam." Chen Sisi malas untuk mengetuk pintu.


Salah satu penjaga itu tidak mau mengetuk pintu ruang belajar tuannya. Kali ini ada seseorang yang mengunjungi Tianlong Heyu. Karena keduanya belum keluar sejak masuk tadi, mungkin pembicaraannya belum selesai.


Namun ini sudah malam dan waktunya makan malam. Tianlong Heyu jarang melewatkan makan.


Seorang penjaga muda itu bicara dengan sopan pada Chen Sisi. "Putri Chen, silakan ketuk. Penjaga ini tidak berani."


"Kenapa kalian begitu pengecut? Sebelumnya pelayan tidak mau mengetuk pintu dan sekarang kamu juga tidak mau? Apakah dia begitu menakutkan?" Chen Sisi mau tidak mau protes.


"...."


Penjaga muda itu terlihat malu tapi tidak mengatakan apapun. Lupakan saja, siapa yang menjadikan Tianlong Heyu sebagai raja perang yang berwajah serius.


Karena penjaga itu tidak berani mengetuk pintu, akhirnya Chen Sisi tanpa ragu mengetuk pintu.


"Masuk!"


Suara dingin dari dalam ruangan tanpa sadar membuat dua penjaga pintu ruang belajar kedinginan di punggungnya. Keduanya berharap raja mereka tidak marah karena ketidaksopanan Chen Sisi.


Kedua penjaga membuka pintu ruang belajar dan membiarkan Chen Sisi masuk tapi sayangnya gadis itu tidak berniat masuk sama sekali. Dia hanya berdiri di ambang pintu, menatap seisi ruangan. Kemudian tatapannya jatuh pada dua pria yang duduk berhadapan di meja belajar.


Tianlong Heyu menyesap tehnya dengan wajah tanpa ekspresi. Ada banyak buku dan gulungan laporan penting di atas meja. Chen Sisi sama sekali tidak penasaran dengan apa yang dilakukannya.


Sementara di seberang Tianlong Heyu ada seorang pria berjubah brokat putih dengan pola awan yang elegan. Kulitnya putih dan sangat tampan. Setidaknya ini pria tampan yang bisa dikatakan cantik. Senyum pria itu seperti angin musim semi berembus ketika melihat Chen Sisi datang.


Sudut mulut Chen Sisi sedikit berkedut. Dia tidak peduli dengan wajah putih kecil itu. Pasti seorang playboy yang punya banyak selir di rumah. Siapa yang peduli dengannya?


"Sudah waktunya makan malam," katanya.


"Ya." Tianlong Heyu meletakkan cangkir tehnya yang sudah kosong. Lalu menatap pria di depannya. "Makan malam dulu sebelum kembali."


"Oh, Yuyu, kamu masih perhatian padaku seperti sebelumnya."


Pria berjubah brokat putih itu membuka kipas bulunya, menghalangi setengah wajah dan terkekeh. Dia tampak malu-malu tapi sebenarnya hanya sengaja menggoda.


Tianglong Heyu sudah terbiasa dengan orang itu. Dia tidak marah. Berapa lama dia mengenalnya? Meski jarang bertemu setelah dia pergi ke barak militer, keduanya masih sering bertukar surat.


Di mata Chen Sisi, pria berjubah brokat putih itu terlihat agak feminin. Memikirkan beberapa kemungkinan lain di benaknya, dia merinding. Pria itu tidak menyukai Tianlong Heyu bukan? Lengan yang dipotong? (BL).


Ya, pria berjubah brokat putih itu bernama Mo Huazhu, pemilik gedung Bunga Peony. Terkenal karena kebiasaannya merias hampir menyerupai wanita. Membuat orang lain salah paham jika dia tidak normal.


Mau tidak mau, dia menatap Mo Huazhu dengan tatapan gunung es. "Ubah cara bicaramu di masa depan. Jangan menakuti orang!"


ni pertama kalinya Mo Huazhu dikritik seperti itu. Tampaknya karena gadis yang dibawa pulang?


"Yuyu, kamu tidak pernah bicara sedingin itu padaku," godanya lagi.


Kali ini Tianlong Heyu benar-benar ingin membelah kepalanya. Dia ingin tahu apakah otak pria itu salah posisi.


Mo Huazhu melihatnya semakin berwajah dingin kemudian terbatuk ringan. Tentu dia tidak mau tunduk padanya. Dia secara tidak sengaja melirik Chen Sisi yang menatapnya dengan jijik.


"..." Ada apa dengan tatapan gadis itu? Batin Mo Huazhu sangat bingung.


Dia telah berdandan dengan baik hari ini hingga para wanita di jalan tersipu ketika melihatnya. Tapi Chen Sisi justru jijik melihatnya. Ya, itu ekspresi jijik di matanya.


Tianglong Heyu bangkit untuk pergi makan malam. Mo Huazhu mengikutinya seperti ekor.


"Nona ini sangat cantik. Kalau boleh tahu, siapa namamu, Nona? Namaku Mo Huazhu, sahabat Yuyu. Gedung Bunga Peony adalah milikku. Jiak ada waktu, datanglah ke sana untuk bersenang-senang," ucap Mo Huazhu memperkenalkan diri.


Chen Sisi tidak mau dekat-dekat dengannya. Pria itu memakai sachet (wewangian) yang digantung di pinggangnya. Aroma bunga persik cukup menyengat.


Sepertinya tidak ada bedanya antara wanita penghibur di rumah bordil itu.


"Aku tidak bertanya." Chen Sisi tidak takut menyinggungnya.


"..."


Mo Huazhu yang sudah tersenyum paling sempurna mau tidak mau hampir tersandung kakinya sendiri. Senyumnya retak hingga hampir kehilangan citranya yang lembut.


Gadis itu sungguh tidak berperasaan. Mulutnya sangat beracun, batinnya.


Tunggu!!


Bukankah Tianlong Heyu sebenarnya memiliki masalah ketika dekat dengan wanita?


Bahkan jika racun bunga sihir busuk di tubuhnya mulai kehilangan banyak efek sekarang, apakah benar-benar tidak masalah?


Mo Huazhu ingin mengujinya. Jarak Chen Sisi dengan Tianlong Heyu tidak terlalu jauh. Para dewa tahu. Tianlong Heyu akan merasa sesak napas dan tidak nyaman ketika dekat dengan lawan jenis kurang dari dua kaki (±60 cm).


Tapi sekarang tampaknya baik-baik saja atau sengaja menahan diri agar harga dirinya tidak jauh?


Untuk mengujinya, Mo Huazhu berjalan lebih lambat dari keduanya sehingga berada di belakang mereka.


"Maafkan aku, Nona Chen."


Mo Huazhu tiba-tiba saja meminta maaf, membuat Chen Sisi bingung.


Tanpa ragu, dia menarik lengan Chen Sisi sehingga terhuyung ke sisi Tianlong Heyu.


"..!!??"


Chen Sisi kaget dan tidak menyangka jika Mo Huazhu akan begitu berani membuat masalah dengannya!