Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Evening Food


Pelayan Ibu Suri Meng berkata jika Tianglong Zhaobin sudah meninggalkan istana kekaisaran lebih cepat. Selir kesayangan yang dibawanya ke penjamuan juga pulang dengan kereta terpisah.


Ibu Suri Meng sudah menebak ke mana pria itu pergi. Pasti rumah harum (pelac*ran) lagi. Ia membesarkan cucu ini dengan hati-hati tapi pada akhirnya menjadi gila wanita.


Apa salah dia di kehidupan sebelumnya? Ia gagal mendidik Kaisar Tian menjadi seperti yang diinginkannya. Dan kini dia juga gagal membesarkan seorang cucu.


Benar saja, anak yang lahir dari seorang pelac*r, ujung-ujungnya juga tidak baik.


"Anak ini terobsesi dengan wanita. Aku khawatir saat dia menjadi kaisar di masa depan, hidupnya hanya akan berada di halaman belakang!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Chen Sisi dan Tianlong Heyu sudah kembali ke istana. Gadis itu pergi ke halamannya sendiri. Malam ini tak perlu membuat makan malam karena sudah kenyang saat di perjamuan istana.


Namun Chen Sisi terbiasa makan di malam hari. Bahkan jika tidak makan nasi, ia bisa makan sesuatu yang lain.


"Tunggu," kata Tianlong Heyu.


Chen Sisi menoleh. "Ada apa?"


"Ingat untuk memberi tahuku jika kamu akan memasak sesuatu malam ini," jawabnya.


"Bagaimana kamu tahu akan memasak sesuatu malam ini?"


"Bukan dirimu jika tidak melakukannya."


Chen Sisi yang kebiasaan kecilnya dilucuti, sedikit malu. Dia tidak tahu kenapa Tianlong Heyu ingin melihatnya memasak, namun mungkin karena rasa penasarannya saja.


Gadis itu mengangguk dan tidak banyak bicara dengannya. Lalu pergi untuk memikirkan masak apa malam nanti.


Baiyue mengikutinya dengan gembira. "Tuan, pria itu sangat perhatian denganmu."


"Bukankah karena dia suka makanan yang kumasak? Wajar saja dia begitu memperhatikanku."


"..." Bukan itu maksudku, batinnya.


Chen Sisi tidak lagi memperhatikan Baiyue. Dia segera kembali ke halamannya sendiri. Tak ada televisi atau ponsel di zaman ini. Dia merasa bosan. Chen Sisi memilih tidur sebentar untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Perjamuan istana ini menguras seluruh tenaganya. Walaupun hanya duduk dan sesekali berkeliling istana, Chen Sisi merasa semuanya merepotkan.


Kenapa orang-orang kuno suka sekali mengadakan acara seperti itu?


Baru beberapa saat dia merebahkan diri di kasur, gadis itu tertidur. Baiyue naik ke tempat tidur dan meringkuk di sampingnya. Dia masih memikirkan cara bagaimana agar keduanya memiliki hubungan yang lebih dekat.


Dengan temperamen Chen Sisi dan Tianlong Heyu, mungkin butuh bertahun-tahun agar keduanya bisa saling menyukai!


"Kenapa tugas ini begitu sulit bagiku? Kupikir semuanya akan baik-baik saja. Leluhur sungguh tidak berperasaan bukan?" gumamnya.


Baiyue bangkit dan mendekati wajah gadis itu. Lalu kembali ke tempatnya semula. Lupakan saja. Ini bukan waktunya untuk memberi petunjuk.


"Daripada memulai dari gadis ini, lebih baik mulai dari pria itu saja." Baiyue memutuskan untuk mendatangi Tianlong Heyu saat tengah malam nanti.


Chen Sisi tidur selama dua jam lamanya. Saat bangun, hari sudah malam. Dia bangun dengan keadaan linglung. Sepertinya dia baru saja bermimpi sesuatu tapi tidak jelas.


Dalam mimpi itu, dia melihat seorang pria dengan jubah perang. Tapi ia tidak bisa melihat wajahnya seperti itu.


"Si'er, maafkan aku," kata pria itu lemah.


Chen Sisi memikirkannya saat ini. Suaranya agak beda tapi rasanya familiar.


"Tuan, kamu sudah bangun," kata Baiyue langsung merenggang tubuhnya yang kaku. "Ada apa denganmu, Tuan?"


"Tidak ada. Hanya saja aku bermimpi aneh tadi. Mungkin aku terlalu lelah," jawab gadis itu tidak mau memperhatikan lagi.


Baiyue mengeong ringan. Tapi tidak bertanya.


"Aku ingin makan seblak malam ini." Gadis itu merindukan cita rasa pedas. Makanan di istana hanya sedikit pedas, bahkan cenderung gurih.


Baiyue pergi ke halaman Tianlong Heyu atas perintah Chen Sisi. Kucing itu berlari kecil, menghampiri Tianlong Heyu yang tengah sibuk membaca gulungan surat.


Meow! Baiyue memanggilnya, menggoyangkan ekornya dengan tenang. Dia bisa masuk karena Tianlong Heyu sudah memberi tahu penjaga sebelumnya.


Pria itu menoleh, menatap kucing putih yang juga melihatnya. "Apakah tuanmu memanggil?"


Baiyue berputar satu kali, menunjukkan jawabannya. Tentu saja, jika tidak, aku tidak akan repot datang padamu, pikirnya.


Tianlong Heyu menggulung kembali surat di tangannya lalu pergi ke halaman Chen Sisi. Gadis itu ternyata sedang ada di dapur samping, menyiapkan berbagai bahan masakan.


"Apa yang kamu masak malam ini?" tanyanya tanpa berbasa-basi.


"Aku akan membuat seblak," jawabnya tanpa melihat pria itu. Chen Sisi sibuk menyiapkan berbagai isian untuk seblaknya.


"Seblak? Makanan apa itu?" Tianlong Heyu menaikkan sebelah alisnya.


Gadis itu memiliki banyak resep yang tak terduga. Bahkan tak pernah dia makan sebelumnya. Mungkin belum pernah ada orang yang membuatnya.


"Ini makanan yang dominan dengan bawang putih dan kencur. Kamu belum pernah coba, aku akan membuatnya malam ini. Lalu kenapa kamu datang ke sini? Mungkinkah kamu ingin memasak juga?"


"Tidak, lihat saja kamu memasak."


"..." Apakah kamu menjadi juri dadakan? Pikir gadis itu.


Terserah saja, dia tidak peduli.


Chen Sisi sudah menyiapkan aneka sayuran hijau seperti caisim, sawi dan kubis. Lalu isian penting lainnya seperti telur, kerupuk mentah, bakso kecil dan sayap ayam. Tak lupa, tambahkan sosis.


Untuk bahannya ada bawang merah, bawang putih, cabai rawit, tomat, ketumbar bubuk, kencur, seledri, daun bawang, gula, penyedap rasa dan garam.


Semuanya disiapkan Chen Sisi. Sebagian bumbu diulek dengan baik.


"Karena kamu di sini, bantu aku mencuci sayuran dan memotongnya kecil-kecil." Chen Sisi tidak ragu memerintahnya.


Tugas ini tidak sulit jadi dia menyelesaikannya dengan cepat. Chen Sisi sudah memanaskan air lebih dulu untuk merebus sayap ayam. Lalu dia menyiapkan wajan, menumis bumbu hingga harum, tambahan potongan sosis dan bakso.


Kemudian air ditambahkan, secukupnya saja. Aroma bumbu seblak tercium agak kuat hingga Tianlong Heyu hampir tak kuat menahan kerutan di dahinya.


"Apakah kamu yakin ini makanan? Kenapa begitu aneh?" tanyanya tidak yakin.


Gadis itu memutar bola matanya. "Kamu akan tahu nanti," katanya.


Chen Sisi memasukkan sayao ayam yang telah direbus, lalu sayuran dan telur. Tidak perlu lama untuk memasak seblak. Dalam waktu singkat, makanan telah jadi.


Karena Tianlong Heyu tidak terlalu suka makanan pedas, cabai rawit yang dipakainya tidak banyak. Ia hanya bisa menambahkan bubuk cabai sebagai penggantinya secara opsional.


Khawatir Tianlong Heyu tidak akan suka, ia hanya memintanya mencicipi sedikit lebih dulu.


Keduanya makan di halaman depan. Beberapa lentera dan obor terpasang di halaman sehingga cahayanya cukup untuk menerangi taman.


Ini musim semi yang hangat. Suhunya tidak terlalu dingin di malam hari.


"Cobalah. Kamu mungkin belum pernah memakan ini sebelumnya. Lagi pula, makanan seperti ini lebih disukai para wanita ketimbang pria."


Tianlong Heyu menatap mangkuk berisi seblak itu. Pertama, dia memilih mencicipi kuahnya. Kuahnya agak kental, mirip seperti tekstur olahan kari. Mungkin karena kocokan telur yang ditambahkan saat dimasak.


Rasanya gurih, agak pedas, dominan rasa bawang putih dan kencur. Tianlong Heyu sempat mengerutkan kening lalu mengangguk.


"Tidak masalah. Ini enak. Mungkin jika dijual di restoran, peminatnya tidak banyak."


"Aku tidak berniat menjualnya di masa depan. Ini hanya karena aku sedang ingin mencoba sesuatu yang baru saja." Gadis itu menggelengkan kepala.