Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Visit of Daveer Singh


Di gazebo, Kakek Yi ternyata sedang rebutan bola-bola daging ayam dengan Tianlong Heyu. Namun mereka tidak rakus, menunggu Chen Sisi kembali.


"Si'er," kata Tianlong Heyu seraya menunjukkan ekspresi sedikit tidak berdaya.


"Ada apa? Kenapa belum memakannya?" Chen Sisi melihat piring bola-bola daging ayam yang masih cukup banyak, mengerutkan kening.


"Tunggu kamu," jawabnya lembut.


Kakek Yi mendengkus. Ia mencium aroma sate dan telur kukus saat ini. "Apa yang Xiaosi buat?"


"Ini telur kukus dan sate ayam. Hari ini Si'er tidak membuat sup apapun. Kakek bisa makan sup nanti malam," katanya.


"Kamu sudah membuka restoran. Kakek ingin coba makan di restoranmu nanti."


"Tidak masalah."


Chen Sisi juga menyiapkan tiga mangkuk nasi. Sate ayam lebih enak dimakan dengan nasi hangat. Sate yang lembut dan juicy nyaman untuk dikunyah. Bumbu satenya meresap ke dalam daging, empuk dan gurih.


Seraya makanan Kakek Yi membahas tentang hubungan keduanya.


"Sejak kapan kalian bersama? Bukankah kalian tidak saling menyukai sebelumnya?"


Meski Kakek Yi bukan orang yang romantis, dia bisa melihat interaksi Chen Sisi dan Tianlong Heyu saat bertemu sebelumnya. Keduanya tampak canggung dan enggan. Belum lagi ia tahu Tianlong Heyu memiliki racun bunga busuk di tubuh. Wanita mana pun yang mendekat atau menyentuh, pria itu akan jatuh sakit.


Inilah kenapa Tianlong Heyu tidak pernah dekat dengan yang namanya wanita selama di ibu kota atau barak militer. Terkadang Kakek Yi sudah siap mental untuk menghadapi cucunya yang hidup sampai tua tanpa istri dan anak.


Namun mengetahui bahwa Tianlong Heyu tidak merasakan gejala apapun saat bersentuhan dengan Chen Sisi, saat itulah Kakek Yi berpikir ... Alangkah bagusnya jika keduanya menikah.


Hanya saja kesombongan Tianlong Heyu membuat Kakek Yi berpikir dua kali. Jika Chen Sisi menikah dengan pria yang memandang rendah wanita, pasti tidak akan bahagia. Itulah kenapa ia meminta Tianlong Heyu untuk menemukan pria tentara yang cocok untuk Chen Sisi.


Siapa tahu ... Akhirnya menjadi seperti ini.


"Ini aku yang mulai," ungkap Tianlong Heyu saat melihat Chen Sisi sedikit canggung. "Sebenarnya aku sendiri tidak suka ketika Kakek bilang untuk mencarikan Si'er calon suami. Pada waktu itu aku tidak tahu perasaan suka apapun sehingga merasa aneh ketika memikirkannya."


Ia menceritakan banyak hal yang berkaitan dengan pertarungan batinnya selama ini. Mulai dari membiarkan Chen Sisi menjadi koki pribadi hingga menemukan rahasia-rahasia kecilnya. Semua itu sangat menyenangkan ketika melihat wajah kecilnya yang penuh amarah.


Mendengar semua cerita itu, Kakek Yi bahkan lebih kesal. "Kamu benar-benar memiliki kamar dengan Xiaosi. Tidakkah kamu tahu bahwa setelah ini, kamu tidak bisa mundur?"


Tianlong Heyu hampir tersedak sate ayam yang sedang dimakannya. "Aku hanya memiliki Si'er, tidak ada yang lain. Tentu saja tidak mungkin mundur!"


Kemudian Kakek Yi menatap Chen Sisi yang makan diam-diam. "Xiaosi, apakah kamu tidak dipaksa olehnya? Katakan saja pada Kakek, jangan takut! Jika dia mengancammu dengan keluarga Chen, Kakek pasti akan menendangnya dari barak militer dan istana kekaisaran!"


Gadis itu tercengang. Kakek Yi benar-benar akan melakukan itu hanya untuknya?


Ia tahu bahwa lelaki tua itu mencintainya sebagai cucu perempuan. Tidak ada hubungan darah tapi dibesarkan dengan baik sejak kecil. Ia belajar obat-obatan, memasak dan seni bela diri. Kakek tidak pernah menganggapnya lemah hanya karena dirinya terlahir sebagai seorang anak perempuan.


Tentu saja, Chen Sisi merasa hangat di hatinya.


"Tidak, Kakek. Heyu tidak memaksaku sama sekali. Kakek juga tahu tentang keahlianku. Aku bisa menusuknya dengan jarum perak beracun jika dia ingin melakukan sesuatu tak pantas padaku. Hanya saja karena menurutku Heyu tidak buruk ...."


"Ah?" Chen Sisi terkejut. Jadi memang seperti itu ....


Ia merasa bahwa Tianlong Heyu sedang menatapnya saat ini. Ketika diam-diam melirik, pria itu memang sedang menatap Chen Sisi dengan penuh arti. Wajahnya tiba-tiba saja memerah. Sebelumnya tidak pernah seperti ini. Tapi kenapa rasanya ... Ia pernah melihat tatapan itu?


Sementara itu, Baiyue yang diam-diam duduk di samping Chen Sisi memiringkan kepalanya sedikit.


"Tuan, apakah kamu mengingat sesuatu?" tanyanya dalam pikiran gadis itu sehingga Tianlong Heyu tidak bisa mendengarnya.


"Tidak, kurasa tidak. Hanya saja tatapan pria itu tampak familiar," jawabnya membatin.


Mungkinkah Chen Sisi juga mulai mendapatkan ingatan kehidupan sebelumnya sebelum dia bergerak? Baiyue berpikir keras tentang ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada sore harinya, Chen Sisi mengajak Kakek Yi pergi ke restoran yang kini masih ramai pengunjung. Koki yang dipekerjakan oleh Tianlong Heyu sungguh luar biasa. Mereka bisa beradaptasi dengan makanan baru dengan baik.


Para koki hanya perlu menambahkan bahan-bahan dan penyedap rasa tambahan. Sementara bumbu rahasia telah Chen Sisi buat di rumah sehingga tak akan ada yang bisa mencuri resepnya.


"Kakek, bagaimana menurutmu dengan tempat ini?" tanyanya saat mengajak Kakek Yi berkeliling.


Lelaki tua itu mengangguk dan mengucapkan kata 'bagus' tiga kali. Itu artinya sangat puas.


"Tempat ini sangat bagus. Ada kursi dan meja di luar restoran dengan dekorasi yang elegan. Xiaosi, kamu benar-benar luar biasa. Kakek tidak menyesal membiarkan mu pergi ke ibu kota. Mungkin sudah waktunya bagimu untuk tinggal di sini," jelasnya.


"Tidak, Kakek. Aku pasti akan kembali dengan Kakek." Chen Sisi lebih suka tinggal dengan Kakek Yi.


"Nak, kamu punya keluarga di sini. Sudah waktunya bagimu kembali ke keluarga Chen. Tidak perlu khawatir dengan apapun, kamu tetap cucu Kakek."


"Si'er tidak pernah mempermasalahkan identitas. Si'er hanya suka tinggal dengan Kakek."


"Baiklah, baiklah. Terserah kamu saja."


Namun Kakek Yi sangat senang karena gadis situ akan menemaninya lagi di masa depan. Di saat keduanya mengobrol, dua kereta kuda dengan hiasan yang cukup mencolok berhenti di depan restoran.


Chen Sisi melihat kereta yang dikenalnya, ia menebak siapa datang. Ketika seorang pria keluar, penampilannya menarik perhatian mereka. Belum lagi, karena pria itu memikirkan kulit agak kecoklatan yang tampak heroik.


"Si Cantik ... Kita bertemu lagi," sapa Daveer Singh melempar senyum pada Chen Sisi.


"Tuan Daveer, selamat datang di Restoran Musim Semi." Chen Sisi kembali menyapa.


Daveer Singh datang dengan beberapa orang yang dekat dengannya. Lalu dia melihat seorang lelaki tua di samping Chen Sisi. Mau tidak mau berpikir siapa orang ini. Rasanya agak akrab. Kemudian seorang teman di belakang membisikkan sesuatu padanya.


Ekspresi Daveer Singh berubah menjadi lebih sopan. Ia sedikit membungkuk ke arah Kakek Yi. "Daveer Singh memberi hormat pada Yang Mulai."


Kakek Yi tidak repot-repot dengan sopan santun. "Baiklah, bangun. Aku sudah tua dan hormat ini tidak diperlukan."