
"Aku akan menyelesaikan sisanya ketika kembali ke istana Raja ku nanti," ujar Tianlong Heyu seraya merapikan pakaiannya sendiri.
Chen Sisi sedikit tidak senang. Pria itu pasti belum puas. Terbukti bahwa ... bahwa tubuh bawahnya masih tegang saat ini. Jika bukan karena matahari terbit dan janji untuk membuat sarapan enak, pria itu akan menyelesaikan selama beberapa dupa lagi.
Chen Sisi membersihkan diri dan segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Beberapa bahan telah disediakan oleh pelayan yang mendapat perintah kaisar. Jadi Chen Sisi tidak perlu repot mengumpulkan bahan.
Sarapan di pagi hari lebih baik tidak pedas dan cenderung segar. Seperti sup atau tumisan ringan. Orang-orang Asia Timur kebanyakan tidak suka makanan pedas.
“Biarkan aku membantumu,” kata Tianlong Heyu yang muncul di ambang pintu dapur.
“Tidakkah kamu sibuk?”
“Tidak.”
Chen Sisi melihat beberapa sayuran hijau, tahu putih dan ikan yang masih segar. Sepertinya enak jika membuat sup ikan.
Akhirnya bahan-bahan membuat sup ikan disiapkan. Lalu menghaluskan bumbu yang dibutuhkan seperti bawang putih, bawang merah, jahe dan kunyit.
Sepertinya istana kekaisaran juga memiliki bumbu lengkap yang dikirim oleh Daveer Singh.
Setelah ikan dibersihkan, lumuri dengan jeruk nipis, garam serta bawang putih yang dihaluskan. Diamkan selama satu batang dupa lebih dulu.
Selama menunggu ikan dimarinasi, Chen Sisi menyiapkan bahan lain untuk membuat masakan lainnya sehingga mempersingkat waktu memasak beberapa jenis hidangan. Ada cabe merah yang diiris, belimbing sayur serta beberapa irisan tomat merah.
Untuk pelengkapnya, tentu saja tahu putih yang telah dipotong dadu, kol, wortel dan sawi hijau.
“Agak pedas. Mungkin kamu tidak bisa makan banyak. Tapi aku suka makan pedas, jadi kali ini, mengikuti selera makanku,” ucap Chen Sisi yang merindukan masakan pedas.
Tianlong Heyu membayangkan sup ikan yang sedikit pedas. “Tidak masalah. Selama Si’er suka.”
Biasanya, ikan yang dibuat kuah tidak digoreng lebih dulu. Tergantung selera. Namun kali ini, Chen Sisi menggoreng ikannya setengah matang.
Setelah satu batang dupa berlalu, Chen Sisi menumis bumbu halus. Masukan daun salam hingga serai. Kemudian tambah air panas.
“Masukan ikan dan sisanya,” katanya pada Tianlong Heyu yang memegang piring berisi ikan goreng setengah matang.
Tianlong Heyu memasukkan semua ikan ke dalam wajan berisi kuah, lalu irisan cabe merah dan belimbing sayur, kaldu ayam, sedikit garam, gula dan merica. Tak lupa juga sayur dan tahu putihnya. Setelah hampir matang, irisan tomat dimasukan terakhir.
Aroma sup ikan yang segar dan gurih mulai tercium. Chen Sisi mengoreksi rasa dan meminta Tianlong Heyu mencicipi kuahnya.
“Ini enak.” Pria itu mengangguk puas.
“Baguslah kalau begitu.”
“Makanan ini belum ada yang membuatnya di ibu kota. Rasanya juga berbeda. Kapan kamu mempelajari hal-hal ini?” tanya Tianlong Heyu santai.
Seingatnya di kehidupan sebelumnya, Chen Sisi tidak memiliki bakat ini. Meski bisa memasak, itu semua masakan lokal atau daerah tertentu. Tapi tidak sampai masakan benua atau negara lain.
Apakah dia melewatkan sesuatu di kehidupan sebelumnya?
Mungkinkah karena ia dan Chen Sisi tidak bisa dekat satu sama lain, beberapa detail tidak terlihat?
Apapun alasannya, Tianlong Heyu tidak mau mempertanyakan masa lalu.
Bukankah sangat bagus sekarang?
Di masa depan, Tianlong Heyu percaya jika Chen Sisi bisa mengubah seluruh selera orang-orang negara Tiankong.
“Pagi ini, aku akan membuat beberapa sup untuk kamu coba. Biarkan Kaisar dan ratu juga mencobanya nanti. Tapi seharusnya mereka sudah sarapan bukan?” Chen Sisi ragu untuk menyiapkan banyak makanan.
“Siapkan saja. Jangan khawatir tentang ini, jika tidak habis, masih ada aku.” Tianlong Heyu tidak keberatan menghabiskan semua makanan yang dimasak olehnya.
Masakan gadis itu selalu enak dan membuat nafsu makannya jauh lebih baik. Tapi di samping itu juga dia mulai agak gemuk sekarang. Mau tidak mau, Tianlong Heyu harus berolahraga setiap bangun pagi agar ototnya tetap terjaga.
Jika tidak, Chen Sisi melihat tubuhnya yang tidak bagus dan mungkin terlihat tua. Bagaimana jika suatu hari nanti gadis itu berpaling pada wajah putih kecil yang mempesona?
Tianlong Heyu tak bisa membayangkan ini. Dia harus segera menikahi Chen Sisi ke istananya dan mengikatnya dengan baik di sisinya.
“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Chen Sisi saat melihatnya memiliki beberapa ekspresi berbeda setiap saat.
“Bukan apa-apa. Kalau begitu, aku menantikan hidangan sup lainnya.”
Chen Sisi tidak mau banyak berpikir tentang ekspresi pria itu. “Aku akan membuat sup jagung sosis.”
“Biarkan aku menyiapkan bahannya. Apa saja?” Tianlong Heyu siap untuk belajar memasak dengannya.
Chen Sisi menyebutkan semua bahan. Tianlong Heyu mengambilnya, ada sosis, jagung manis dan wortel. Untuk bahan lainnya, Chen Sisi menyiapkan bawang bombai serta bawang daun.
Tianlong Heyu memipil jagung, memotong sosis serta wortel dengan terampil. Lalu potong bawang bombai, bawang putih dan batang daun bawang.
Walaupun tangannya telah memegang pedang selama bertahun-tahun, memegang pisau masih bukan masalah besar. Hanya saja kekuatannya mungkin sedikit berlebihan hingga hampir membuat talenan terpotong menjadi dua.
Chen Sisi memanaskan mentega di wajan, menggoreng bawang bombai dan bawang putih sampai harum. Mentega itu dia dapatkan dari wilayah Asia Selatan oleh Daveer Singh. Aromanya sangat harum dan lebih gurih ketimbang minyak goreng biasa.
Setelah bawang bombai ditumis harum, Chen Sisi memasukkan air secukupnya dan didihkan.
“Masukan semua bahannya.” Chen Sisi melirik Tianlong Heyu.
Pria itu segera memasukkan semua sayur yang telah dipotong. Kemudian tambah bubuk kaldu, merica, serta gula. Chen Sisi mencicipi rasanya. Setelah dirasa pas dan matang, sayur sup jagung sosis pun selesai.
Chen Sisi segera mengusir pria itu dari dapur setelah semuanya selesai. lagi pula sisanya hanya tinggal menyiapkan nasi hangat serta hidangan sampingan lainnya. Bukan masalah sulit dan lama.
Setelah Tianlong Heyu meninggalkan dapur, dia pergi untuk berganti pakaian. Bi Yan dan Bi Shi melihat tuan mereka telah kembali ke halaman, segera muncul.
“Yang Mulia,” ucap Bi Yan.
“Ada apa?” tanya Tianlong Heyu datar.
“Kami telah menyisir area perbatasan dan menemukan beberapa korban wabah. Bukan hanya itu, beberapa binatang buas yang berubah menjadi mayat hidup juga telah memasuki kawasan pedesaan terpencil,” jelas Bi Yan sambil berkeringat dingin.
Bi Shi melanjutkan. “Kami juga menemukan ini.” Dia mengeluarkan sebuah kain hitam yang membungkus sesuatu.
Tianlong Heyu yang selesai berpakaian segera mengambil kain berisi sesuatu itu. Ketika membukanya, sebuah buku usang yang telah termakan usia menarik perhatiannya.
“Buku apa ini?” tanyanya.
“Kami tidak tahu. Buku ini kami temukan pada salah seorang pria berpakaian hitam yang tewas karena dimakan salah satu raja mayat hidup.”