
Chen Sisi dan Tianlong Heyu berangkat. Kali ini, Daveer Singh, Chen Yelang bahkan Tianlong Sina mengantar keduanya menuju gerbang keluar ibu kota.
Melihat kedua kuda yang ditunggangi keduanya semakin menjauh hingga tak terlihat lagi, Tianlong Sina mendesah tidak berdaya.
“Rasanya perpisahan ini sedikit lebih berat daripada biasanya. Perasaanku … tidak jelas,” ucapnya.
“Mungkin karena situasi kali ini berbeda. Nasib negara ini dan ibu kota tergantung bagaimana kondisi di perbatasan. Jika kondisi di perbatasan bisa dikendalikan, maka penyebaran obat penawar juga akan membuahkan hasil positif,” jelas Daveer Singh.
“Kuharap semuanya akan berjalan lancar.” Chen Yelang masih mengkhawatirkan adiknya yang mungkin tak akan memiliki waktu istirahat yang cukup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di suatu tempat gelap dan terpencil, aura kegelapan yang kuat menguar. Bahkan beberapa mayat hidup yang telah terbelenggu oleh rantai terlihat lebih ganas dan kuat daripada mayat hidup biasa.
Zhen Zhu yang kini menguasai tubuh Tianlong Zhaobin, merasa lebih nyaman dan percaya diri daripada sebelumnya.
"Bagaimana perkembangannya sekarang?" tanyanya pada salah satu bawahan tepercaya.
Tentu saja bawahannya juga mayat hidup dengan kecerdasan yang lebih baik. Layaknya seperti Yin Shuang di masa lalu, bawahan tepercaya Zhen Zhu yang satu ini juga sama.
Bawahan Zhen Zhu yang bernama Mora setengah membungkuk saat melaporkannya pada Zhen Zhu.
“Ibu kota tampaknya telah tenang setelah kita menarik pasukan mayat hidup. Seperti yang dikhawatirkan tuanku, manusia bernama Tianlong Heyu itu telah berhasil menekan serangan dari pihak kita begitu cepat."
Kabar terbarunya, Tianlong Heyu sedang melakukan perjalanan ke perbatasan. Kali ini pria itu tidak pergi sendirian melainkan bersama wanita bernama Chen Sisi.
Bukan hanya itu saja, pria itu juga menikah di kuil.
Zhen Zhu yang telah terbiasa dengan tubuh Tianlong Zhaobin tertawa marah. "Pasangan itu benar-benar luar biasa!"
Ini bukan pujian, melainkan ejekan.
Tianlong Heyu dulu jatuh dalam jebakannya. Ia pikir semuanya akan berjalan sesuai rencana di mana pria itu akan menjadi tubuh barunya.
Siapa yang tahu, alih-alih masuk dalam jebakannya, ia justru dalam skema yang dibuat Tianlong Heyu.
Bukan hanya menculik semua wanita mayat hidup yang ia siapkan untuk melahirkan keturunannya, tapi juga menghancurkan barang penelitian penting.
Zhen Zhu bangkit dari duduknya dan pergi ke salah satu ruangan. Mora mengikutinya dengan patuh seolah-olah sudah terbiasa dengan kesibukan tuannya.
"Dalam waktu dekat, aku akan menguasai dunia kuno ini dan menciptakan peradaban baru para zombie. Dengan begitu, masa depan ras manusia akan menjadi budak kita," jelas Zhen Zhu yang dalam suasana hati baik.
Setelah memasuki ruang bawah tanah yang gelap dan luas, keduanya melihat benda—tidak, lebih tepatnya mesin raksasa.
Keterbatasan alat dan bahan di zaman kuno membuat Zhen Zhu tak bisa menggunakan banyak energi alami. Dia menggunakan kekuatannya sendiri untuk menggerakkan mesin ciptaan.
Mesin raksasa itu terbuat dari logam, perak, emas bahkan baja. Tidak sulit menemukan semua bahan itu di zaman ini. Hanya saja kecerdasan orang zaman kuno belum sampai ke tahap di mana teknologi maju berkembang.
Beberapa bahan harus dia dapat sendiri dari alamnya, mengekstrak serta membentuknya sendiri.
Zhen Zhu sudah mengerjakan semua itu sejak pertama kali datang ke negara ini.
"Tuanku ... Benda ini ..." Mora bingung dengan mesin raksasa itu. Ini pertama kali dia melihatnya.
Mesin aneh itu memiliki lubang besar di tengah, yang terbuat dari logam dan perak. Ada juga dua tiang mirip antena. Belum lagi, lubang besar terlihat mengeluarkan sedikit percikan listrik.
"Ha ha ha ... Ini adalah benda yang akan membuka pintu dimensi."
Zhen Zhu tidak berniat untuk ketinggalan zaman meski dia hidup di zaman apokaliptik. Ia juga harus menciptakan sesuatu untuk menarik bangsanya dari dunia lain ke tempat ini.
Syukurlah, setidaknya tidak semua orang zaman kuno itu begitu kuno. Mereka punya cara unik tersendiri untuk mengatasi beberapa masalah.
Anehnya, Zhen Zhu merasa heran dengan para dewa yang diagungkan ras manusia.
Kenapa para dewa itu harus mengabulkan keinginan manusia ketika manusia itu beribadah padanya.
Sungguh menggelikan.
"Pintu dimensi? Tuanku, apakah ini ... akan bekerja?" Mora sedikit ragu.
"Jangan khawatir, ini akan bekerja. Ketika Tianlong Heyu datang, sudah waktunya untuk menumbangkan raja perang."
Zhen Zhu ingin menguasai dunia zaman kuno. Itu artinya dia harus menaklukkan beberapa negara sebagai pendukungnya.
Hanya negara Tiankong yang sulit dihadapi. Apa lagi dengan orang berdarah dingin dan tak kenal takut seperti Tianlong Heyu.
Oleh karena itu, Zhen Zhu harus melenyapkan Tianlong Heyu lebih dulu. Dengan kematiannya, itu artinya tidak sulit untuk mengambil alih negara ini.
Apa yang dipikirkan Zhen Zhu memang cukup jelas terjadi ke kehidupan sebelumnya. Hanya saja waktu itu, semuanya berjalan sesuai rencana awal.
Adapun di kehidupan sekarang, Tianlong Heyu telah mendapatkan ingatan masa lalunya. Jadi bagaimana mungkin jatuh ke tangan yang sama dua kali?
"Ini sudah waktunya mengeluarkan benda ini."
Zhen Zhu tak bisa menahan perasaan kesal. Zaman kuno yang terbelakang ini sungguh menyebalkan. Bahkan untuk mengeluarkan benda ini saja, membutuhkan tenaga yang besar.
Ia tertawa ketika memikirkan rencananya akan berhasil. Dia tidak tahu jika Baiyue —kucing itu akan mengacaukan rencananya, mungkin Zhen Zhu bisa tersedak sampai mati.
Adapun Mora, dia hanya bisa menunggu apa yang dilakukan tuannya dengan benda besar tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Chen Sisi dan Tianlong Heyu tiba di perbatasan Utara dua hari kemudian. Itu sudah hari tercepat mereka sampai karena menunggangi kereta kuda.
Belum lagi, Chen Sisi membawa semua barangnya di ruang gelang giok putih. Jadi kereta kuda tidak terlalu berat.
Hanya ketika sampai di sana, Chen Sisi mengeluarkan semua barangnya diam-diam agar tidak dicurigai prajurit lain.
Ketika Tianlong Heyu tiba, beberapa prajurit menyambutnya dengan hormat. Termasuk para jenderal dan wakil jenderal yang mengorbankan waktu serta tenaga untuk keamanan perbatasan.
"Raja!"
"Yang Mulia!"
Mereka tidak sabar untuk melaporkan apa yang terjadi selama dua hari terakhir.
Tianlong Heyu tidak terganggu oleh mereka. Dia meraih tangan Chen Sisi dan memperkenalkan kepada mereka semua secara resmi.
"Si'er dan raja ini sudah menikah. Kalian bisa istirahat malam ini untuk memulihkan tenaga," ucapnya.
Kabar tersebut membuat semuanya terkejut sekaligus senang. Raja mereka yang dingin dan penyendiri akhirnya menikah!
Para jenderal langsung mengucapkan selamat sambil memikirkan anggur yang baik di malam hari. Tapi mereka tidak lupa dengan tugas penting.
"Yang Mulia, putra mah—maksud saya ... Zhen Zhu dan pasukannya telah menyiapkan banyak hal aneh selama ini," lapor salah seorang jenderal tua yang memakai baju zirah.