Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Grandpa Yi Punishes Tianlong Heyu


Di dalam kereta, Chen Sisi tanya mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Hatinya menghangat entah kenapa. Baiyue yang ada di pangkuannya menggerakkan ekor berbulu lebatnya. Tampak bangga. Tentu saja ini berkat dirinya sendiri.


Setelah mengobrol sebentar, Tianlong Heyu akhirnya masuk kereta dan meninggalkan kediaman keluarga Chen.


Di perjalanan pulang, Tianlong Heyu merangkulnya dan mencium pipinya.


"Kenapa kamu tiba-tiba menciumku?"


Chen Sisi langsung memerah. Ia benar-benar tak menyangka pria yang selalu bersikap dingin dan menjauh dari wanita, kini mengambil inisiatif.


"Apa yang salah dengan mencium wanitaku sendiri?" Tianlong Heyu menggodanya. "Si'er, kita akan menikah di masa depan dan punya anak kita sendiri."


Gadis itu mendengkus. "Ini masih jauh. Jangan berpikir terlalu banyak."


Bahkan Baiyue memutar bola matanya. Kehidupan sebelumnya bahkan tidak punya kamar pengantin, apa lagi anak. Tidak heran jika pria itu begitu bersemangat saat ini.


Setibanya di Istana Raja Perang, ternyata Kakek Yi sudah menunggu cukup lama. Ekspresi pria tua itu sedikit tidak menyenangkan. Apa lagi ketika melihat Tianlong Heyu berinisiatif untuk memegang tangan Chen Sisi. Pria tua itu bahkan lebih marah.


Dia ingin melemparkan lobak yang dipegangnya. Tapi tidak mau menunjukkan citra yang galak di depan cucu perempuannya.


Ia sudah mengajar Kaisar Tian di ruang belajar kekaisaran. Membuat putranya yang tidak kompeten itu memar di sekujur tubuhnya. Sekarang tentu saja waktunya mengajar cucunya yang menipu kakek!


Ketika melihat Kakek Yi, Chen Sisi melepaskan Tianlong Heyu dan berlari kecil ke arahnya.


"Kakek, akhirnya kamu ada di sini. Si'er sangat merindukan Kakek," katanya bertingkah sepertinya biasanya.


Melihat cucu perempuannya yang enak dipandang, Kakek Yi akhirnya akhirnya tersenyum senang.


"Ya, Kakek datang untuk melihatmu. Humph! Anak bau itu sungguh tidak berperasaan. Aku memintanya untuk mencarikanmu calon suami. Ia sendiri bahkan memakan cucu perempuanku!" Kakek Yi sempat melihat Tianlong Heyu dengan ekspresi tidak senang.


Chen Sisi sedikit canggung. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun Kakek Yi menyerahkan lobak padanya.


"Si'er, Kakek sudah lama tidak mencicipi masakanmu. Buatkan makanan enak," katanya.


"Kakek, dari mana lobak ini berasal?"


"Kakek tak sengaja melihatnya di jalan tadi. Beli satu."


Kakek Yi memang tak sengaja membeli lobak. Awalnya dia ingin membeli yang lain. Tapi tidak tahu harus makan apa hari ini. Ia rindu dengan masakan gadis itu jadi memutuskan untuk pulang.


Untungnya, masalah di barak militer tidak terlalu serius. Tidak banyak orang yang terluka juga.


Chen Sisi mengerti jika kakeknya ingin mengobrol empat mata dengan Tianlong Heyu. Baru saja dia pergi ke dapur untuk memasak, suara-suara mencurigakan terdengar dari halaman depan.


Bi Shi dan Bi Yan memperhatikan di balik pohon rimbun, merasa merinding. Kakek Yi belum terlalu tua untuk memukul orang. Ia masih bisa mengangkat pedang dan membunuh musuh jika mau.


"Dasar anak nakal! Kamu bilang tidak suka Si'er sebelumnya tapi justru naik ke tempat tidurnya untuk mencuri ciuman! Jika hari ini aku tidak memberimu pelajaran, namaku pasti bukan Tianlong Ruyi!"


Tianlong Heyu tidak melawan meskipun menghindari beberapa serangan kakeknya. "Kakek, jika Si'er melihatku terluka, ia pasti akan sedih."


"Jangan meminta belas kasihan. Jika cucu perempuanku tahu, ia pasti akan memberimu obat. Dia sendiri belajar kedokteran. Tulang patah saja bisa dia obati!"


Sementara keduanya sibuk mengobrol dan memukul, Chen Sisi sedang memasak di dapur.


Gadis itu mencoba untuk membuat sempol ayam. Tapi karena malas untuk menggorengnya bersama tusukan sate, akhirnya ia pun mencoba membuatnya dalam bentuk bulat seperti bola.


Pertama, Chen Sisi menghaluskan daging ayam lebih dulu, campur dengan parutan wortel dan tepung tapioka. Kemudian tambah telur, bawang goreng serta daun bawang yang sudah diiris.


Setelah tercampur rata, tambahkan bawang putih, garam serta lada yang telah dihaluskan. Lalu campur lagi dengan adonan daging.


Barulah setelah itu, Chen Sisi membentuk bulatan daging. Ukurannya tidak besar karena khawatir tidak akan matang sampai ke dalam lapisan.


Setelah membentuk semua bulatan, bola daging dicampur ke dalam telur yang telah dikocok lepas, kemudian masukan ke tepung roti sampai rata dan goreng hingga kuning keemasan.


Di sisi lain, ia juga menyiapkan bahan lain untuk membuat yakitori ayam. Lagi-lagi bahannya adalah daging ayam. Chen Sisi membuatnya sederhana, tidak harus dari dada atau paha ayam.


"Moer, goreng semuanya nanti seperti yang aku lakukan sebelumnya. Aku akan mengurus daging ini dulu," katanya pada Moer yang setiap menemaninya.


"Jangan khawatir, Putri." Moer mengambil alih wajan yang sedang menggoreng bola-bola daging ayam.


Untuk membuat yakitori ayam, seperti sama seperti sate. Hanya saja kali ini, bumbunya agak beda.


Chen Sisi sudah memotong daging ayam menjadi ukuran yang sesuai. Lalu potong daun bawang yang hanya akan diambil bagian batangnya saja. Kemudian potong dadu paprika.


Setelah selesai memotong bahan utama, Chen Sisi segera membuat bumbu rendamannya. Tidak sulit. Cukup haluskan jahe, lada dan bawang putih. Campur dengan kecap asin, kecap manis, gula pasir serta garam.


Barulah potongan ayam tadi dicampur dengan bumbu tersebut, diamkan setidaknya selama setengah batang dupa (±15 menit).


Untuk menunggu daging ayam direndam dulu, Chen Sisi berniat untuk membuat satu hidangan lagi. Yaitu telur kukus yang juga mudah dan cepat.


Yang harus disiapkan pertama adalah tahu putih yang direbus sebentar, lalu tiriskan dan haluskan. Tambahkan telur secukupnya, irisan daun bawang, wortel serta garam. Namun Chen Sisi mengunakan sedikit kaldu ayam untuk ras ayang lebih gurih.


Baru setelah itu masukan ke mangkuk dan kukus sampai matang. Sangat mudah.


Di sisi lain, Moer sudah selesai menggoreng bola-bola daging ayam.


"Coba rasanya. Apakah enak?" Chen Sisi memberi bagian untuk gadis itu.


Moer tanpa ragu menggigit bola-bola daging ayam. Aromanya sudah tercium enak sejak awal. Dia juga lapar. Saat gigitan pertama masuk mulut, Moer langsung berbinar.


"Enak, enak!" Moer berulang kali mengangguk.


"Kalau begitu, kirim ke kakekku. Dia pasti ingin makan sesuatu sekarang."


Moer dengan senang hati mengantarkan makanan itu ke tempat Kakek Yi dan Tianglong Heyu berada. Keduanya berbeda di halaman belakang dan sedang bertarung. Melihat Moer datang, Kakek Yi yang awalnya ingin memukul Tianlong Heyu kembali, tiba-tiba saja santai.


"Pangeran, Yang Mulia, putri baru saja membuat bola-bola daging ayam." Moer memperlihatkannya pada mereka.


Kakek Yi tidak mau lagi memukul cucunya dan kini beralih ke makanan. "Biarkan aku yang mengambil alih."


Setelah itu, dia pergi ke gazebo dan makan sendiri. Tianlong Heyu tidak mau kalah dan menyusulnya.


Adapun Moer, tentu kembali ke dapur untuk membantu Chen Sisi.


Saat ini, Chen Sisi sedang menusuk daging ayam ke tusukan sate. Potongan daging dicampur dengan potongan paprika dan batang daun bawang. Lalu panggang di plat besi yang telah diolesi minyak.


Saat memanggang, olesi bumbu rendaman kembali perlahan-lahan hingga matang.


Telur kukus juga sudah matang. Barulah setelah itu, Chen Sisi berkumpul dengan keduanya.