Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Cooking In The Palace


Chen Sisi dan Kaisar Tian mengobrol cukup lama. Keduanya melewatkan makan malam. Chen Sisi ingin memasak sesuatu untuk makan malam meski waktunya sudah lewat.


Kaisar Tian tidak akan melewatkan kesempatan ini. Dia juga memanggil Ratu Mo dan Ratu Hefei untuk makan bersama.


Kedua ratu itu sudah makan. Ratu Mo tidak mau makan lagi tapi karena ajakan Ratu Hefei, mau tidak mau dia setuju. Belum lagi putrinya—Tianlong Sina berkunjung ke halamannya.


Ratu Hefei adalah pecinta kuliner. Ketika tahu jika Chen Sisi yang akan memasak secara pribadi, dia sangat antusias.


Baik dia maupun Tianlong Sina sama-sama pecinta kuliner.


Kaisar Tian tentu tidak keberatan ketika Tianlong Sina bergabung.


"Aku curiga jika anak kita ditukar." Ratu Mo bercanda dengan Ratu Hefei.


Tianlong Sina sangat mirip dengan Ratu Hefei, menyukai berbagai jenis makanan.Jika karena wajah mereka tidak mirip, Ratu Mo sudah lama mencurigai seseorang ingin berkomplot melawannya.


"Ibu Ratu, bagaimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu? Aku suka makan karena ayah juga suka makan." Tianlong Sina mengeluh.


Ratu Mo memutar bola matanya.


Kaisar Tian, walaupun terlihat galak dan serius di permukaan, dia sebenarnya adalah pria konyol yang suka ceroboh saat memegang pedang.  


Di masa lalu, Kaisar Tian suka bermain-main dengan pedang dan membuat Ratu Mo khawatir. Barulah setelah naik ke atas dan mengurus banyak hal, keseriusan di wajahnya semakin meningkat dari hari ke hari.


Karena itu di mata para menteri dan rakyatnya, Kaisar Tian adalah orang yang serius dan galak.


Setelah tiba di halaman belakang istana, Kaisar Tian ada di sana dan memberi makan ikan-ikan koi kesayangannya.


Para pelayan memegang lentera untuk penerangan di sekitar. Ketika rombongan ratu tiba, mereka sedikit mundur dan mundur untuk memberi ruang.


"Apa yang kamu lakukan di malam hari? Memberi makan ikan?" Ratu Mo merasa heran dengan kebiasaan ini.


"Ikan-ikan ini pasti juga lapar."


Ratu Mo memutar bola matanya lagi. Ini hanya alasan saja, batinnya.


"Di luar dingin. Mari pindah ke ruang samping."


Kaisar Tian menyerahkan mangkuk pakan ikan pada salah satu pelayan dan mengajak mereka pergi ke ruang samping.


Istana kaisar sangat luas dan besar.Tentu saja lebih megah dari istana mana pun. Semuanya lengkap dan hanya perlu memanggil pelayan jika menginginkan sesuatu.


Sementara itu, Chen Sisi yang ada di dapur istana saat ini, sibuk membuat makan malam. Dibantu oleh koki istana yang berpengalaman, Chen Sisi menyelesaikan beberapa hidangan dengan cepat.


Chen Sisi membuat nasi goreng hati ampela yang sebenarnya dia belum pernah buat selama tiba di zaman ini.


Belum lagi, orang-orang di zaman ini kebanyakan makan mi dan roti atau setidaknya bubur alih-alih nasi. Oleh karena itu, nasi menjadi makanan pokok yang menarik bagi pelanggan di restoran Chen Sisi selama ini.


Bukan karena tidak ada nasi atau beras di zaman ini, hanya saja harganya lebih mahal. Kebanyakan orang akan mengonsumsi olahan tepung gandum. Bahkan ada dua tipe tepung, halus dan kasar.


Hanya keluarga kelas atas yang menikmati tepung halus dan putih. Tepung kasar dan kurang enak dikonsumsi rakyat jelata karena harganya lebih murah dan mudah didapat.


"Apakah ada nasi?" tanyanya pada salah satu koki.


"Ya, Putri Chen."


"Kalau begitu tolong siapkan untuk lima porsi."


Kemudian Chen Sisi menyiapkan hati dan ampela ayam yang telah dibersihkan. Kemudian rebus hingga sekiranya matang, potong kecil-kecil setelahnya.


Setelah itu, Chen Sisi menghaluskan bawang putih dan bawang merah. Potong cabai merah serta cabai hijau.


Baru kemudian, tumis bumbu halus dan potongan cabai tadi hingga harum. Tambahkan telur yang telah dikocok lepas sebelumnya, aduk rata. Lalu tambah potongan hati serta ampela. Aduk lagi.


Barulah tambahkan nasi, garam, penyedap rasa serta lada. Chen Sisi sengaja membawa kecap manis dan beberapa bumbu lain di keretanya. Hingga ketika dia membutuhkan bahan yang kurang, hanya perlu meminta pelayannya untuk mengambil bahan tersebut.


Terakhir, tambahkan kecap manis, saus tomat serta bawang goreng. Setalah koreksi rasa, Chen Sisi membaginya menjadi lima piring. Aromanya yang harum membuat para koki menelan ludahnya tanpa sadar.


Siapa tahu nasi terlihat sangat enak jika digoreng dengan daging.


Chen Sisi menambahkan potongan tomat, serta acar mentimun yang segar. Rasanya tidak bisa dikatakan pedas karena Chen Sisi hanya memasukkan potongan kecil cabai sebelumnya.


Menu terakhir, Chen Sisi membuat bakwan kembang kol.


Tepung terigu, sagu serta tepung beras dicampur. Tambahkan juga bumbu halus yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, merica, garam, bubuk penyedap rasa serta gula pasir secukupnya


Barulah tambahkan santan. Aduk semuanya sampai tercampur rata. Kocok telur dan tambahkan juga ke dalamnya.


"Tolong potong kembang kol, wortel dan batang daun bawang untukku," kata Chen Sisi pada koki yang ada.


"Ya."


"Putri Chen, apakah bunga kol ini bisa digoreng dengan tepung?" Salah satu koki senior bertanya dengan keingintahuan.


"Tentu saja. Rasanya enak sekali. Apalagi jagung manis, bayam, daun singkong, kol serta sayur lainnya bisa dijadikan bakwan. Kamu bisa coba rasanya nanti. Kuncinya adalah bumbu yang tepat akan menghasilkan cita rasa dan aroma yang menggugah selera jelas," Chen Sisi yang sangat bersemangat membagikan pengetahuannya.


Ketika berbicara tentang masakan, ia sangat antusias hingga mengajari mereka cara membuatnya.


Setelah kembal kol, wortel dan batang daun bawang dipotong, Chen Sisi memasukkan semuanya ke adonan tepung tadi.


Tepung sagu dan tepung beras yang dipakai Chen Sisi jarang tersedia di negara ini. Di bahkan harus pura-pura mengambilnya dari kereta. Walaupun sebenarnya semua tepung itu dia keluarkan dari ruang gelang giok putih.


Sementara tepung terigu sendiri terbuat dari gandum yang tidak sulit didapat di negara ini. Istana sendiri memilikinya. Namun pada zaman ini, tepung tersebut masih dinamakan tepung gandung, bukan tepung terigu.


Jadi ketika Chen Sisi menyebutkan tepung terigu, mereka semua kebingungan.


Mau tidak mau Chen Sisi harus mengakui jika segala sesuatu di zamannya berbeda dengan di zaman kuno ini.


Setelah adonan bakwan selesai dibuat, Chen Sisi langsung menggorengnya dalam ukuran yang tidak terlalu besar atau kecil.


Goreng sampai kuning keemasan sebelum akhirnya diangkat.


Para koki langsung mencicipinya dan memuji rasanya yang sangat enak. Mereka pertama kali memakan sayuran yang digoreng dengan tepung seperti ini.


Bahkan Chen Sisi juga memberi tahu mereka bahwa daging ayam bisa digoreng dengan tepung yang telah dibumbui.


Setelah menyelesaikan masakannya, Chen Sisi kembali ke sisi Kaisar Tian berada bersama pelayan yang menyajikan makam malam.


"Yang Mulia Kaisar pasti sudah menunggu lama." Chen Sisi menginstruksikan pelayan menyajikan semuanya.


Aroma makanan yang menggugah selera membuat Tianlong Sina dan Ratu Hefei tak sabar untuk makan.Adapun Ratu Mo, ia juga tertarik dengan aromanya.


Meski sudah makan malam, Ratu Mo tak bisa menggoda keinginan untuk mencicipinya.