Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Is She Undead?


Yin Shuang sekarang hanya bisa berbaring di tempat tidur. Tidak ada satu pun pelayan yang boleh masuk. Bahkan dijaga ketat oleh bawahan Tuan Yin.


Nyonya Yin tidak tahu kenapa putrinya menjadi sakit parah sejak awal. Bahkan dokter kekaisaran tak sanggup menyembuhkannya. Namun Tuan Yin selalu pergi menemui Ibu Suri Meng diam-diam, meminta obat untuk meredakan rasa sakit putrinya.


Nyonya Yin tak banyak bicara selama putrinya baik-baik saja. Sekarang pun juga sama.


“Kamu kembalilah dulu. Aku akan pergi untuk mengambil obatnya lagi. Lain kali, hal ini tidak boleh terjadi. Jika tidak, Ibu Suri Meng tidak akan melepaskan keluarga Yin kita. Apakah kamu mengerti apa maksudku?” Tuan Yin memperingatkannya.


Wanita itu mengangguk dan segera keluar dengan bantuan pelayan. Tuan Yin mengembuskan napas kasar setelah pintu ruang belajar ditutup. Dia sangat kesal hari ini. Jika pelayan tidak membawa Yin Shuang kembali setelah menabrak kereta Tianlong Heyu kemarin, akibatnya pasti tidak akan terduga.


Belum lagi setelah tiba di rumah sekalipun, Yin Shuang sudah terlihat cukup buruk. Selama seseorang memperhatikan kulit Yin Shuang dengan jelas, pasti akan menemukan kesalahannya di awal.


Setelah Nyonya Yin keluar dari ruang belajar, ia diam-diam pergi ke halamannya lebih dulu. Lalu meminta bantuan pelayan kepercayaannya untuk membawanya ke halaman Yin Shuang.


Meski sudah diperingatkan untuk tidak datang ke sana, Nyonya Yin sangat khawatir dengan kondisi putrinya.


Untuk mengalihkan perhatian para penjaga yang menjaga sekitar kamar Yin Shuang, pelayan Nyonya Yin membuat keributan. Di saat penjaga teralihkan untuk memeriksa, Nyonya Yin masuk kamar dengan cepat.


“Shuangshuang, apakah kamu baik-baik saja?”  Nyonya Yin mendekati tempat tidur putrinya.


Pemandangan di tempat tidur terhalang oleh tirai kasa putih. Nyonya Yin menyingkap tirai kasa dan melihat putrinya yang terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur. Namun ketika melihat kulit putri di wajah putrinya yang mengerikan, Nyonya Yin menjerit ketakutan.


Teriakan itu membuat para penjaga dan pelayan langsung berbondong-bondong untuk masuk dan mencari tahu.


“Nyonya! Nyonya, apa yang terjadi?” Pelayan pribadinya datang tergesa-gesa.


Melihat Yin Shuang yang ada di tempat tidur memiliki warna kulit yang buruk seperti mayat, yang lain juga terkejut. Tidak mungkin Yin Shuang menjadi seperti ini.


“Ahh! Apa … apa yang terjadi pada Nona Muda sebenarnya?” Pelayan lain juga sangat terkejut.


Yin Shuang sebenarnya setengah sadar dan tidak sabar. Tubuhnya sangat kesakitan hingga rasanya sangat haus. Ia menatap ibunya yang ketakutan saat melihatnya, tidak ada apa-apa yang dipikirkan selain memanggilnya dengan lembut.


“Ibu …. Ibu … aku kesakitan. Tubuhku sakit. Tolong aku, Bu,” kata Yin Shuang agak serak tapi menakutkan.


Nyonya Yin sudah menangis dan berwajah pucat, hampir jatuh ke lantai jika tidak ditahan oleh pelayan terdekatnya. Bagaimana bisa putrinya menjadi seperti ini? Bukankah sebelumnya baik-baik saja?


Nyonya Yin mencoba untuk melihat putrinya lebih dekat namun tiba-tiba saja Yin Shuang bangun dan meraih ibunya dengan kuat. Nyonya Yin berteriak ketakutan lagi ketika gadis itu menggigit lengannya dengan keras hingga berdarah.


Para pelayan sangat ketakutan hingga tak berani mendekat. Adapun penjaga sudah pergi memanggil Tuan Yin untuk masalah ini. Tak lama ketika Tuan Yin datang, Nyonya Yin sudah jatuh lemas ke lantai dengan tubuh gemetar dan tampak aneh.


Adapun Yin Shuang, tentu saja ingin bangkit dan menghampiri yang lainnya. Aroma orang-orang di sekitarnya membuat Yin Shuang ingin mencakar dan menggigit.


“Siapa yang meminta Nyonya untuk ke sini? Bukankah aku sudah berkata untuk tidak membiarkan siapapun masuk ke sini??!!” Tuan Yin meneriaki mereka hingga wajahnya memerah karena marah.


Pelayan hanya bisa jujur tentang keinginan Nyonya Yin untuk melihat keadaan Yin Shuang diam-diam. Tuan Yin lebih marah lagi dan akhirnya menggunakan pedang penjaga untuk membunuh Nyonya Yin yang sedang menunjukkan reaksi aneh.


Apa yang dilakukan Tuan Yin membuat mereka sekali lagi berteriak ketakutan hingga ingin menangis. Mereka menebak-nebak. Mungkinkah Yin Shuang terinfeksi wabah mayat hidup dan menulari Nyonya Yin?


Sayangnya tak ada satu pun pelayan yang dibiarkan hidup malam ini. Tuan Yin terpaksa melakukan ini untuk meminimalisir informasi yang mungkin bocor di masa depan.


“Bereskan mayat mereka dengan hati-hati. Ingat untuk menguburnya dengan benar. Jangan sampai ketahuan siapapun!” Tuan Yin merasa malam ini sangat kacau padahal hujan sedang turun.


Malam ini, ia harus pergi ke tempat Ibu Suri Meng untuk meminta obat. Ia harus menyelamatkan Yin Shuang bagaimana pun caranya. Lagi pula, Yin Shuang masih berguna untuk Ibu Suri Meng.


Mereka tak menyadari keberadaan seekor kucing putih di salah satu sudut, memperhatikan dengan saksama. Matanya sedikit menyipit. Siapa lagi jika bukan Baiyue yang kembali mencari tahu di rumah Yin.


Malam ini ia mendapatkan informasi berguna dan segera kembali ke kediaman Raja Perang untuk melapor. Tapi dia tidak melihat Chen Sisi berada di kamarnya. Lalu pergi ke halaman Tianlong Heyu.


“Huh! Gadis itu mulai sering datang ke sini sekarang. Tampaknya hubungan keduanya baik-baik saja,” gumamnya.


Namun baru saja masuk ke ruangan tempat tinggal Tianlong Heyu, suasananya sangat sepi. Pelayan dan penjaga tak terlihat. Ini agak aneh. Namun ketika berjalan lebih jauh, kucing putih Persia itu mendengar suara ambigu Chen Sisi dari arah kamar.


Mendengar suara ini saja sudah membuat Baiyue menebak apa yang terjadi dalam kamar. Ia mendengus dan berbalik pergi. Sial! Apakah pria itu tak ada habisnya untuk menghabiskan malam dengan gadis itu?


“Siapa yang tahu jika pria itu sangat cab*l untuk menyentuh gadis yang belum mencapai usia pernikahan. Benar saja, pria itu binatang buas.”


Lupakan saja. Dia akan menemukannya besok. Malam ini, biarkan keduanya menikmati waktu yang bahagia.


Tentu saja di kamar Tianlong Heyu saat ini, keadaan di tempat tidur sudah tenang. Tianlong Heyu menarik selimut dan menyelimuti tubuh keduanya lalu mengecup kening Chen Sisi. Gadis itu sangat kelelahan hingga langsung tertidur setelah selesai.


Tianlong Heyu tersenyum dan memeluknya. “Si’er ….”


Keesokan harinya ….


Chen Sisi baru bangun saat hari sudah mulai siang. Pria itu sudah tidak ada di sampingnya tapi baru saja mandi. Melihatnya sudah bangun, Tianlong Heyu duduk di sampingnya dan memberikan kecupan selamat pagi.


“Bukankah ini sudah siang?” Suara Chen Sisi agak serak. Ia sangat marah pada pria itu. Apalah Tianlong Heyu ini baji*gan sebelumnya?


Pria itu hanya tersenyum dan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan. “Bangunlah dan aku akan membantumu mandi.”


“Tidak perlu!” Chen Sisi menggertakkan gigi.