Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Like an Old Acquaintance


Ratu Mo tertawa dan kesal ketika mendengar kata-kata Mo Huazhu. Lalu lihatlah ekspresi Chen Sisi yang kaget dan bingung. Kemungkinan besar gadis itu sendiri tidak tahu tentang hubungannya.


“Yah, kamu masih nakal seperti biasanya. Jangan menggodaku yang sudah mulai tua. Lihatlah Putri Chen sampai tak bisa berkata-kata.” Ratu Mo terkekeh dan menggelengkan kepala.


Keponakannya masih sama seperti sebelumnya. Dia suka menggoda dan bermain-main meski Ratu Mo tahu itu hanyalah rutinitas kecil menghilangkan kebosanan.


“….”


Kenapa rasanya Ratu Mo sedang menggodanya? Chen Sisi memang tak tahu harus berkata apa.


Mo Huazhu terbatuk ringan dan tidak lagi menggoda bibinya. “Bibi, kamu tidak tahu. Gadis ini sangat galak hingga keponakanmu ini hampir saja kehilangan keturunannya di masa depan,” candanya lagi.


“Nakal! Kamu memang pantas mendapatkannya.” Ratu Mo tidak membela dan justru berterima kasih pada Chen Sisi.


“….”


Mo Huazhu yang tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, mengeluh dalam hatinya. Tapi dia tidak mau lagi melanjutkan topik basa-basi tersebut.


"Bibi, bisakah aku menunggangi kuda ini?" tanyanya.


"Jika kamu bisa, maka naiklah. Aku akan bicara dengan Putri Chen."


Ratu Mo segera membawa Chen Sisi ke gazebo yang tak jauh dari sana. Sikapnya tidak seperti ratu, melainkan seorang bibi yang hangat pada keponakannya.


Keduanya duduk dan pelayan Ratu Mo menyajikan teh serta makanan ringan berupa kue kering berbagai bentuk bunga. Dengan cepat, Ratu Mo melupakan Mo Huazhu yang sibuk memuji kuda.


"Putri Chen tidak perlu gugup. Aku tidak memakan orang." Ratu Mo bisa melihat betapa gugupnya gadis itu sekarang.


Ia tidak merasa jika Chen Sisi bukan gadis yang belum melihat dunia. Dari sorot matanya saja bisa tahu jika gadis itu berpengetahuan luas akan sesuatu.


Chen Sisi telah berperang batin selama beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas lega. Ia mencoba untuk tidak merasa gugup di depan Ratu Mo. Lagi pula, ini ratu, ibu negara, bukan wanita biasa di kamar kerja.


"Tidak apa-apa," ucapnya.


Ratu Mo mengangguk. "Kalau begitu, bisakah aku memanggilmu Xiaosi atau Si'er?"


"Kakek sering memanggilku Si'er."


"Si'er lebih baik. Kalau begitu aku akan memanggilmu begitu. Tidak perlu berhati-hati denganku. Sebenarnya, seorang ratu tidak sejahat yang kamu bayangkan."


Chen Sisi terkejut. "Bagaimana Ratu tahu?"


Ratu Mo tertawa setelah meminum seteguk teh. "Ini bukan pertama kalinya aku mengajak seseorang untuk mengobrol. Dan semua reaksi mereka hampir sama denganmu."


Bahkan jika Chen Sisi memecahkan cangkir di depannya, ia tidak akan peduli. Ratu Mo bukan orang yang suka dengan kekuasaan. Awalnya dia menikahi kaisar ... saat itu masih seorang pangeran. Keduanya jatuh cinta dan berniat untuk menikah lalu hidup bahagia.


Tapi siapa tahu, kaisar berniat pensiun dan menunjuk pangeran sengaja putra mahkota. Tidak ada waktu untuk penundaan hingga pernikahan yang meriah di awal menjadi awal penobatan putra mahkota.


Tak lama setelah itu, putra mahkota menjadi kaisar muda dan dirinya sendiri menjadi Ratu Mo.


Ini di luar dugaan.


Meski demikian ... ada banyak rintangan di istana, terutama selir dan para menteri yang mendorong putri mereka menjadi bagian Harem.


"Ibu suri?" Chen Sisi tidak tahu kenapa Ratu Mo mengatakan ini padanya.


"Ya, berhati-hatilah dengan ibu suri. Selama ini, dia ada di balik semua kematian beberapa selir di istana, tak terkecuali ibu Yuyu." Suara Ratu Mo menjadi lebih pelan.


Untuk memastikan tidak ada yang menguping, ia meminta semua pelayan pribadinya untuk pergi lebih dulu. Ini pembicaraan empat mata.


Ibu Suri saat ini bukan ibu kandung Kaisar Tian, melainkan seorang selir yang kebetulan pada masa itu merawat kaisar semasa kecil. Ibu Kaisar Tian meninggal saat berusia sepuluh tahun. Sejak saat itu, seorang selir yang tidak dicintai pensiunan kaisar merawatnya dengan baik.


Di permukaan mungkin tidak mendapati apa yang mencurigakan. Tapi Ratu Mo tahu jika semuanya tidak sesederhana itu. Jika tidak, selir yang mengurus Kaisar Tian tidak akan menjadi ibu suri.


Namun sekarang ibu suri ini tidak diizinkan meninggalkan halaman. Halaman tempat tinggalnya dijaga oleh orang-orang Kaisar Tian. Bukan tanpa alasan, tapi ibu suri ini memiliki kecenderungan ingin mengatur Harem dan selir mana saja yang harus melahirkan anak.


Tapi Kaisar Tian tidak mau aturan tak masuk akal itu dibuat. Jika ada yang melahirkan keturunannya, maka rawatlah. Tidak ada salahnya. Meski sekarang ada beberapa putra dan putri, cukup untuk mengisi silsilah Istana Kekaisaran.


"Jangan khawatir, ibu suri ini tidak akan menyentuhmu. Dia sangat cuek terhadap rakyat jelata dan hanya mementingkan diri sendiri. Yuyu bisa hidup berkat ayah kaisar, ini bagus."


Ratu Mo masih memiliki kesan tentang Kakek Yi. Selain pandai obat-obatan, Kakek Yi juga pernah berada di barak militer. Prestasinya tak terbatas dan menjadi pemimpin negara yang luar biasa.


Sayangnya Kakek Yi pensiun lebih awal sebagai kaisar setelah memperingati kematian ratunya saat itu. Cinta suami dan istri saat itu sangat lengket.


"Ratu Mo tidak perlu khawatir, aku juga tidak akan sering datang ke istana. Hari ini datang karena barang yang dititipkan kakek," jelas Chen Sisi meyakinkan.


Ratu Mo tampak tidak puas. "Kenapa tidak datang? Datanglah dan kamu bisa bermain dengan putriku, Sina. Anak ini sedikit sulit diatur dan usianya sama denganmu," ucapnya.


Ratu memiliki seorang putri, Tianlong Sina. Gadis ini suka sekali berkeliaran di luar, makan, bermain ke berbagai tempat hingga dikejar seekor harimau saat berburu di hutan. Temperamennya hampir seperti laki-laki, membuat Ratu Mo khawatir dengan otak putrinya.


Apakah dia melahirkan bayi yang salah sebelumnya?


Bercerita tentang Tianlong Sina, Chen Sisi juga sangat penasaran. Jika Ratu Mo sangat baik, mungkin putrinya juga tak berbeda jauh. Setidaknya dari cerita Ratu Mo, putrinya terdengar seperti gadis yang berpakaian pria.


Setelah bercerita ini dan itu, Ratu Mo akhirnya memperhatikan wajah Chen Sisi secara saksama. Rasanya familiar tapi tidak tahu apa yang berbeda.


"Kenapa rasanya aku melihat kenalan saat melihat wajahmu?"


Chen Sisi terkejut lagi. "Kenalan?"


"Ini mirip dengan seorang kenalan. Tapi sudah lama tidak aku lihat." Ratu Mo mengerutkan kening.


Chen Sisi mirip dengan seseorang yang dikenakannya. Tapi dia lupa siapa namanya.


Aku belum terlalu tua tapi kenapa begitu pelupa? Batin Ratu Mo.


Mau tidak mau, Chen Sisi yang mencoba mencicipi kue kering memikirkan masalah ini. Ratu Mo bukan orang pertama yang mengatakan demikian, tapi juga Chen Yelang.


Dan hari ini juga saat Chen Yelang datang ke istana, ayah pria itu menatapnya dengan ekspresi terkejut. Ini seperti melihat seseorang yang dikenal sebelumnya.


Tapi siapa itu?


Lagi pula menurut ingatan Chen Sisi, orang tua pemilik asli sudah meninggal dalam bencana. Mungkinkah orangtuanya yang tidak pernah ia ingat itu memiliki kenalan di ibu kota?