
Di sebuah hotel mewah, seorang pria dewasa berdarah Cina asli duduk di kursi santai seraya melihat layar ponselnya. Dia memakai jubah mandi longgar berwarna putih dan rambutnya basah.
Karena baru saja selesai berenang, pria itu menikmati waktu santainya dengan kenyamanan pikiran.
"Yuyu, rapat sore ini akan berlangsung pukul lima."
Suara asisten sekaligus sekretarisnya terdengar ketika datang dari dalam ruangan. Ia mengobrol dengan bahasa Cina yang fasih. Melihat bahwa bos sekaligus sepupunya itu sedang tersenyum aneh ketika melihat layar ponsel, dia merinding.
"Yuyu ... Apakah kamu sedang jatuh cinta?" tanya Mo Huazhu hati-hati.
"Oh ..." Pria yang duduk di kursi santai itu meliriknya setelah menyingkirkan ponsel. "Besok malam aku akan kencan. Atur ulang jadwal rapat buat besok."
"Jadi begit—apaaa??!!" Mo Huazhu yang semula relax tiba-tiba saja terkejut. "Kencan?! Yuyu, kamu serius? Wanita Indonesia mana yang membuatmu terpikat?"
Pria yang bersantai di kursi itu tak lain adalah Tianlong Heyu. Wajahnya tak berbeda jauh dengan penampilannya di zaman kuno. Hanya rambutnya dipangkas pendek, kulitnya lebih putih dan terawat dengan baik.
Sejak datang ke dunia modern ini, Tianlong Heyu harus membiasakan diri dengan identitas barunya sebagai putra dan pewaris tunggal keluarga Tianlong di Cina.
"Kamu akan tahu nanti, atur saja."
"..."
Mo Huazhu yang masih mencerna semua ini buru-buru pergi untuk memanggil bibinya—ibu Tianlong Heyu.
Setelah Mo Huazhu pergi, seekor kucing putih muncul entah dari mana. Dia mengeong ke arah Tianlong Heyu. Siapa lagi jika bukan Baiyue.
"Kamu puas sekarang?" Baiyue memutar bola matanya.
Sebelum negara Tiankong mengulang waktu ke masa lalu, Tianlong Heyu dan Baiyue memiliki perjanjian. Pria itu akan ada di mana pun Chen Sisi berada. Bukan permintaan yang sulit tapi Baiyue harus mendapatkan persetujuan dari ilmuwan gila itu.
Karena itu, butuh waktu bagi Baiyue untuk mengaturnya.
Tianlong Heyu tampak puas. "Tentu saja. Lalu kenapa kamu masih di sini? Tidak kembali?"
Baiyue yang kini marah. "Ilmuwan gila itu punya peliharaan baru!! Dia menendangku pergi dan tidak lagi peduli padaku. Jadi aku ikut ke sini. Tidak buruk tinggal di dunia yang kuno ini!"
Menurut Baiyue, abad 21 masih terbilang kuno di matanya.
"Bagus. Aku akan mengantar mu kembali pada Si'er."
"Huh!" Kucing putih Persia itu mendengus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Chen Sisi berdandan, memakai gaun selutut yang menampilkan lekukan tubuhnya. Malam ini adalah kencan butanya yang kesekian. Siska membantunya memilih gaun dan penata rias mendandaninya.
"Kak Sisi, kamu sangat cantik! Kencan malam ini pasti berhasil."
Chen Sisi yang siap untuk pergi melihat jam lagi. "Baiklah, aku berterima kasih padamu. Kamu bisa kembali dan istirahat malam ini."
Siska mengangguk. Dia memang lelah hari ini setelah menemani Chen Sisi membuat episode baru di episode memasaknya.
Chen Sisi pergi diantar oleh sopir pribadinya. Dia pergi ke sebuah restoran sesuai janji yang disepakati. Karena dia seorang koki yang tampil di layar televisi, tentu saja pasti akan dikenali banyak orang. Untungnya, keamanan di restoran telah diatur oleh pihak lain.
Ketika tiba di sana Chen Sisi diarahkan ke lantai dua oleh manajer restoran. Ini mengejutkannya.
"Nona Sisi, lantai dua telah dipesan. Silakan naik," ucap manajer dengan hati yang menangis.
Ini pertama kalinya restoran mereka menerima banyak yang untuk melayani pelanggan super kaya demi wanita pujaan hatinya.
"Dipesan?" Chen Sisi bingung.
Manajer muda itu mengangguk. "Ya, dipesan untuk Nona Sisi. Pacar Anda sangat perhatian."
"..." Aku belum punya pacar, pikirnya. Namun Chen Sisi memang terkejut. Pria yang berkencan dengannya tampaknya sangat kaya.
Chen Sisi baik ke lantai dua dan menunggu di meja yang disiapkan. Pelayan menyediakan segelas jus untuknya serta minuman beralkohol. Karena dia menganut kepercayaan para dewa, tentu saja alkohol bukan minuman yang dilarang baginya.
Ia hanya duduk selama lima menit sebelum akhirnya seekor kucing putih Persia menghampirinya. Kucing itu mengeong hingga hampir mengejutkannya.
Baiyue menatapnya dengan enggan. "Senang bertemu denganmu lagi, Nak."
Chen Sisi meletakkan tasnya dan segera berjongkok untuk menyentuh Baiyue yang sangat ia rindukan. Kucing ini melakukan sesuatu yang tak terduga sebelumnya, membuat ia menangis begitu banyak.
"Bukankah aku masih tuanmu?" Chen Sisi bingung. Karena ruang gelang giok putih masih berfungsi, jadi dia tahu.
"..."
Baiyue tidak bisa menyangkal. Jadi dia mengubah kata-kata nya. "Tuan senang bertemu denganmu," ucapnya enggan.
Chen Sisi yang senang akhirnya teringat sesuatu. "Lalu di kehidupan itu ...."
Sepertinya kucing itu tahu kekhawatiran tuannya. "Jangan khawatir, semuanya berjalan ke jalurnya yang semula. Sejarah tidak lagi berubah ke arah yang salah."
"Begitu, ya ..." Chen Sisi sedikit kesal.
Dengan begitu, Tianlong Heyu juga berjaya di masa itu bukan?
Ketika memikirkan ini, suara langkah yang tenang dan mantap terdengar. Suara langkah itu semakin dekat ke arahnya. Chen Sisi mengira itu seorang pelayan yang sedang menyiapkan hidangan untuknya.
Namun ketika suara langkah itu terhenti, Chen Sisi melihat pria dengan sepatu kulit mengilat berdiri di antara dia dan Baiyue. Ini jelas seorang pria dengan setelah jas mahal dan celana formal.
Mau tidak mau, Chen Sisi mendongak untuk melihat sosok jangkungnya. Kemudian, dia tertegun.
"Kamu ..." Chen Sisi tidak tahu harus berkata apa. Pria di depannya mirip dengan sosok Tianlong Heyu dengan potongan rambut pendek ala modern.
Melihat lagi Baiyue, sepertinya dia menyadari sesuatu. Mungkinkah ....
Tianlong Heyu memegang buket bunga mawar merah dan tersenyum pada Chen Sisi.
"Si'er, mungkinkah kamu sudah melupakan raja begitu cepat?" Suara nya tidak berubah sama sekali, membuat wanita itu langsung memerah.
Chen Sisi berdiri dan memastikan jika itu memang pria yang dikenalnya. "Ini benar-benar kamu!" katanya dalam bahasa Cina.
Tianlong Heyu menyerahkan buket bunga itu padanya. Setelah Chen Sisi menerima bunga, ia memeluk pria itu dengan erat.
"Heyu, kupikir aku tidak akan bertemu lagi denganmu."
Tianlong Heyu juga memeluknya. "Mana mungkin. Kita tidak akan dipisahkan oleh apapun. Lagi pula, kamu adalah koki pribadiku."
"Nakal!" Chen Sisi menggodanya.
Setelah puas saling berpelukan, Tianlong Heyu langsung mencium bibirnya. Chen Sisi terkejut dengan serangannya yang tiba-tiba. Pada saat yang sama, Mo Huazhu muncul dengan penampilan yang sedikit kusut.
Melihat sepupunya berciuman dengan seorang wanita, Mo Huazhu hampir berteriak. Sial! Sepupunya normal! Dia pria normal!
Mo Huazhu mengira bahwa Tianlong Heyu akan kesepian seumur hidupnya. Selama 35 tahun lamanya, Tianlong Heyu akhirnya akan menikah!
Tianlong Heyu tidak peduli dengan keberadaan sepupunya yang menjadi lampu tambahan saat ini. Setelah puas mencium wanita itu, dia mengeluarkan kotak beludru merah dari saku jasnya dan berlutut.
"Si'er, maukah kamu menikah denganku?"
Chen Sisi tertegun dengan perubahan yang tiba-tiba. Dia memperhatikan Mo Huazhu serta beberapa pelayan restoran memperhatikan untuk mendukung hubungan mereka.
Jantung Chen Sisi berdebar kencang. Ia bahkan tidak menyadari jika Siska juga hadir di antara mereka, melakukan siaran langsung untuk para penggemar.
Setelah menghirup napas dalam-dalam, Chen Sisi mengangguk.
"Ya."
Seketika, sorakan semua orang terdengar. Bahkan potongan kertas warna-warni ditembakkan ke udara.
Tianlong Heyu memasangkan cincin lamaran itu ke jari manis tangan kanan Chen Sisi. Kemudian mencium punggung tangannya. Keduanya kembali berpelukan dan lamaran itu disiarkan secara langsung, baik dari pihak Chen Sisi maupun Tianlong Heyu.
...TAMAT...