Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Isn't it a Little Low?


Butler Sun tersenyum pada tuannya. "Jangan khawatir, Yang Mulia, nona Chen tampaknya sangat menyukai halaman itu. Namun dia bertanya, bisakah halaman ditanami sesuatu?"


Kepala pelayan itu tahu jika Chen Sisi akan tinggal di istana tuannya selama beberapa bulan ke depan. Setidaknya sampai kembali ke barak militer. Belum lagi Chen Sisi terlihat sangat baik dan murni, tidak menyembunyikan kekagumannya pada Tianlong Heyu.


Alih-alih menunjukkan kekaguman dan mencoba menarik perhatian tuannya, Chen Sisi terlihat jijik dan kesal ketika menatap Tianlong Heyu. Di usianya yang akan mencapai usia lima belas tahun dalam waktu dekat, gadis itu sebenarnya membenci tuannya.


Tianlong Heyu melihat Butler Sun sedikit terganggu. "Apa yang kamu pikirkan?" tanyanya tenang.


Butler Sun sadar dari pikirannya dan langsung meminta maaf pada tuannya. "Tidak, bukan apa-apa. Pelayan ini hanya berpikir jika hubungan raja dengan nona Chen tampaknya kurang baik?"


"Bagaimana bisa tidak baik? Kami bicara santai dan bergaul seperti biasanya." Tianlong Heyu tidak tersenyum sama sekali tapi menaikkan sebelah alisnya. "Menjadi koki pribadiku selama di sini, bukankah itu bagus untuknya? Ada banyak gadis bangsawan yang ingin dekat dengan raja ini, tapi dia memandang raja ini seperti penjahat."


Kemudian Tianlong Heyu terkekeh ketika memikirkannya. Keputusannya untuk menjadikan gadis itu sebagai koki pribadi sebenarnya sedikit terburu-buru. Tapi mau bagaimana lagi, waktunya untuk kembali ke ibu kota sangat mendesak.


Butler Sun yang mendengar hal itu mau tidak mau menyentuh dadanya dengan ekspresi tidak berdaya. Tidak heran Nona Chen sangat kesal ketika membicarakan tentang tuannya, ternyata ini masalahnya. Butler Sun membatin.


"Yang Mulia, bukankah keputusan ini sedikit ... membuat reputasi nona Chen sedikit rendah?" tanyanya berhati-hati.


"Rendah?" Tianglong Heyu mengerutkan kening. "Tidak, lagi pula aku tidak membatasi dirinya. Dia bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Raja ini tidak akan mengekangnya. Jika tidak, kakek pasti akan memukulku dengan tongkat lagi. Karena dia ingin memperbaiki halaman itu, maka lakukan saja. Raja ini tidak peduli pada halaman itu menjadi tempat hantu sekalipun."


Perkataanya ringan tapi sebenarnya memberikan izinnya.


Istana raja perang sangat luas dan ada banyak halaman untuk tamu. Tempat Chen Sisi berada cukup jauh dari rumah utama Tianlong Heyu. Pertama untuk menghindari kecurigaan. Kedua, Chen Sisi bukan selir atau istrinya. Dengan jaminan Kakek Yi, Tianlong Heyu tidak khawatir dengan reputasinya sendiri.


Butler Sun menghela napas lega dan akhirnya pergi untuk memberi tahu Chen Sisi. Tianlong Heyu tidak menghentikannya dan sibuk mengurus pekerjaannya lagi.


Sudah musim semi tapi baik di barak militer maupun di istananya, kesibukan tidak pernah berhenti.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Butler Sun pergi ke halaman tempat Chen sisi berada dan menyampaikan pesan Tianlong Heyu. Setelah itu, Butler Sun pergi. Tak lupa dia mengirim beberapa pelayan untuk melayani semua kebutuhannya.


Ini bukan aturan tapi memang seharusnya. Belum lagi Chen Sisi adalah cucu yang diangkat oleh pensiunan kaisar, mereka tidak bisa lalai.


Setelah mendapatkan persetujuan Tianlong Heyu, Chen Sisi lega. Ini bukan pekarangan rumahnya sendiri jadi tidak bisa bertindak semena-mena.


"Putri Chen, jika ada sesuatu yang bisa kami bantu, katakan saja pada kami." Salah satu pelayan yang lebih tua menunjuk sikap sopan dan hormat di depan Chen Sisi.


Chen Sisi tidak terbiasa dengan panggilan putri itu. Dia bilang putri raja. "Panggil saja aku, Nona Chen. Aku tidak terbiasa dengan panggilan besar seperti itu," jelasnya santai.


Para pelayan saling menatap dan akhirnya mengangguk. "Ya, Nona Chen," jawab mereka serempak.


Untungnya Kakek Yi mencintai cucu perempuannya dan memberikan banyak tael perak padanya. Bukan hanya itu, jika kurang, minta saja pada Tianlong Heyu tanpa malu. Kakeknya mengajari dia untuk tidak terlalu peduli dengan Tianlong Heyu yang berwajah dingin.


"Apakah ada tempat penjualan bunga dan sayuran di ibu kota?" tanyanya pada pelayan-pelayan itu.


"Ya, Nona Chen. Apakah Nona membutuhkannya untuk mengisi halaman?"


"Benar. Kalau begitu, merepotkan kalian untuk pergi dan membelinya. Aku tidak bisa pergi. Besok, kemungkinan besar akan pergi ke istana untuk memberikan beberapa barang dari kakek untuk kaisar," jelas Chen sisi sama sekali tidak terlalu sopan. Lalu dia menyentuh kantong uang kecil yang tergantung di pinggangnya. "Kakek bilang minta saja uangnya pada Tianlong Heyu. Dia kaya."


"..."


Para pelayan yang mendengarnya merasa takut ketika diminta mengambil yang dari Tianlong Heyu. Nona Chen tampaknya memiliki dendam pada tuan, batin mereka.


Kucing putih Persia yang mengikuti Chen sisi sepanjang waktu juga mengeong setuju. "Tuan, keberanianmu meningkat," ucapnya.


"Berkulit tebal itu cukup menyenangkan." Chen Sisi merasa tidak merasa buruk untuk meminta uang pada pria itu. Lagi pula ini juga perintah kakeknya.


Peras saja beberapa perak dari pembendaharaan pria itu. Dia tidak akan menjadi miskin dalam semalam.


Baiyue hanya menatapnya dengan tatapan tidak jelas. Para pelayan melihat kucing itu tentu saja merasa lebih baik lagi. Orang yang memelihara kucing sangat jarang. Intinya, kucing dianggap spiritual oleh orang-orang di negara ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelum waktu malam, Chen Sisi sudah pergi ke dapur untuk memasak. Ini perintah Tianlong Heyu yang ingin dibuatkan sup jagung manis serta beberapa sup.


Chen Sisi tidak merasa masakan itu sulit dibuat. Asalkan semua bahannya lengkap, ia bisa memasak kapan saja. Tentu saja beberapa bumbu yang dia bawa dari rumah juga digunakan.


Di dapur, aroma sup jagung manis tercium hingga ke luar. Para koki istana raja perang yang terbiasa memasak merasa aroma manis ini berbeda. Mereka tanpa sadar ingin makan sesuatu.


"Tidak heran jika yang mulia ingin membiarkan nona Chen memasak. Dari aroma makanan ini saja, aku yakin rasanya juga enak."


Salah satu koki paruh baya yang telah menjadi koki di sana selama beberapa tahun itu merasa sedikit iri.


Chen sisi baru berusia empat belas tahun. Tapi keahlian memasaknya luar biasa. Semua koki di sana tidak pergi sama sekali. Semua gerakan rapi Chen sisi saat memotong sayuran, daging, mengulek bumbu hingga mengaduk panci pun terlihat indah. Tampak sudah terbiasa.


Untuk membuat sup jagung, bahan yang digunakan tidak terlalu sulit. Masih butuh gula dan susu kental manis.


Kemudian Chen Sisi juga memasak tiga jenis hidangan sup. Belum lagi waktu makan malam masih cukup lama. Cukup bagi para juru masak untuk menyiapkan semua hidangan yang diinginkan tuannya.


Chen Sisi menatap para koki yang menonton dengan antusias. Sudut mulutnya berkedut. Kenapa orang-orang itu menatapnya seperti itu?