
Tianlong Heyu menatap Chen Sisi. “Apakah serigala itu sama seperti yang terakhir kali kamu lihat?”
“Ya, itu sama. Sedikit lebih besar.” Gadis itu mengangguk.
Akhirnya Bi Shi dan Bi Yan memastikan jika kawanan serigala bermata merah itu adalah binatang buas yang terkena wabah mayat hidup. Dengan banyaknya serigala yang terkena wabah tersebut, tidak tahu ada berapa banyak hewan atau manusia yang telah terinfeksi.
Sepertinya bukan hanya di luar perbatasan saja wabah itu menjadi semakin ganas. Tanpa disadari, wabah mayat hidup juga diam-diam berkembang di dalam perbatasan.
“Tapi … bagaimana mereka tetap berada di tempat-tempat tersembunyi tanpa berniat untuk mencari mangsa lain dan menyerang kawasan padat penduduk?” tanya Bi Shi.
Chen Sisi melihat Baiyue yang terus menggeram pada sekelompok serigala itu. Percaya atau tidak, beberapa serigala yang tertekan dengan aura Baiyue sedikit ragu untuk maju atau mundur. Dia tidak menyadari jika Tianlong Heyu memperhatikannya untuk sementara waktu. Matanya sedikit menyipit. Sepertinya, Chen Sisi tahu sesuatu ….
Tianlong Heyu mengeluarkan pedang dari sarungnya dan bersiap untuk membersihkan semua serigala yang terkena wabah. Lagi pula, ia tak akan membiarkan serigala yang terinfeksi wabah dibiarkan hidup. Jika diketahui oleh kelompok tertentu atau bahkan sampai ke telinga kaisar, pasti menimbulkan sedikit keributan.
“Kita akan mencari tahu tentang hal itu nanti. Lebih baik menyelesaikan masalah yang ada,” kata Tianlong Heyu.
Bi Shi dan Bi Yan juga menyiapkan pedang untuk bersiap membunuh mereka. Hanya Chen Sisi yang tetap santai. Serigala zombie yang berusaha untuk menembus array yang dibuat Baiyue. Tianlong Heyu memiliki ilmu tenaga dalam sehingga masih bisa merasakan adanya suatu energi tertentu di sekitarnya.
“Hancurkan kepalanya dan mereka akan langsung mati,” kata Chen Sisi.
“Ya.” Bi Shi dan Bi Yan mengangguk lalu segera beraksi.
Mereka langsung mengarahkan pedang ke kepala serigala zombie di saat para serigala itu berusaha untuk memasuki array. Karena lengah, beberapa di antara mereka terbunuh dengan mudah. Melihat rekannya yang telah meninggal, serigala zombie yang lain langsung waspada dan lebih marah. Bahkan serigala yang lebih besar dari mereka seketika melolong ke langit selama beberapa detik.
Ini tidak bagus! Serigala itu pasti memanggil kawanan nya yang lain. Bi Shi dan Bi Yan tidak percaya jika semua serigala itu seperti sudah tahu ada kehadiran mereka di sana.
Tengah malam yang dingin dan salju masih turun cukup lebat. Chen Sisi memakai jubah berbulunya, memikirkan cara agar bisa membunuh semua serigala zombie tanpa dicurigai Tianlong Heyu dan dua bawahannya. Ia bertanya pada Baiyue yang masih mengeong penuh permusuhan.
Baiyue sama sekali tidak khawatir. “Jangan khawatir. Kamu tidak perlu melakukan apapun. Pria di sampingmu sudah cukup untuk menghabisi kawanan serigala jelek itu,” katanya di benak gadis itu.
“Dia? Menghadapi semuanya? Apakah kamu serius?” Chen Sisi merasa tidak percaya di dalam hatinya.
Tianlong Heyu bisa mengatasi semua serigala itu seorang diri? Chen Sisi masih tidak yakin sama sekali. Lagi pula, ia memang tidak pernah melihat Tianlong Heyu bertarung dengan binatang buas sebelumnya. Setidaknya belum menyaksikannya melawan begitu banyak serigala.
Diam-diam Chen Sisi meliriknya, memikirkan sesuatu yang lain. Apakah Tianlong Heyu memang mampu melakukannya? Ada banyak serigala zombie yang mulai berdatangan. Sekarang mereka terkepung.
Jika bukan karena array yang dibuat Baiyue, mereka mungkin sudah bertarung secara brutal sejak lama.
Gadis itu bertanya dengan ragu. "Apakah ... kamu bisa mengatasinya?"
Tianlong Heyu tersenyum tenang dan memegang pedang yang telah digunakannya untuk membunuh ribuan musuh di medan perang. Pedang yang telah bermandikan darah musuh itu seperti memiliki rohnya tersendiri, sedikit diselimuti aura kematian.
Walaupun Tianlong Heyu berkata demikian Chen Sisi tidak berpendapat sama dengannya. Wabah mayat hidup ini jelas ada yang mengendalikannya. Pikiran semua makhluk hidup yang terinfeksi sebenarnya dikendalikan oleh ratu atau raja mereka.
Tapi Chen Sisi tidak bisa memberi tahu Tianlong Heyu tentang hal tersebut. Ia sendiri masih belum yakin dan harus mencari tahu lebih dulu.
"Tetap saja ... hati-hati." Chen Sisi masih khawatir.
Pria itu terkekeh dan tanpa sadar ingin menggodanya sedikit. "Apakah kamu mengkhawatirkan ku?"
Siapa tahu, Chen Sisi terkejut ketika melihatnya sedang memperhatikannya dengan mata sedikit menyipit. Dia sedikit malu sekaligus kesal.
"Siapa yang mengkhawatirkan mu?" cibir Chen Sisi. "Aku hanya khawatir akan mengobatimu lagi di cuaca dingin seperti ini. Jangan sok narsis deh!"
Di kalimat terakhir, Chen Sisi menggunakan bahasa negara kelahirannya di zaman modern. Tentu saja Tianlong Heyu tidak mengerti apa yang diucapkannya di kalimat terakhir.
Awalnya pria itu ingin menanyakan artinya. Namun Bi Shi dan Bi Yan sudah kewalahan saat melawan mereka, membuatnya mengesampingkan masalah lain.
"Tunggu di sini, semuanya akan selesai dalam waktu setengah batang dupa (±15 menit)."
Tianlong Heyu segera maju dan bergabung dengan keduanya. Dengan gerakan pedangnya yang terlatih, ia berhasil menebas sepuluh kepala serigala zombie yang menyerangnya.
Berdiri di tempat, Chen Sisi sedikit terkejut sekaligus takjub dengan gerakan pedang Tianlong Heyu. Benar-benar raja perang yang telah berjuang selama bertahun-tahun. Gerakannya sangat tajam dan semuanya adalah teknik membunuh lawan.
Baiyue yang telah duduk di samping Chen Sisi merasa bangga di hatinya. Tentu saja pria itu tidak buruk. Jika tidak, bagaimana bisa memimpin pasukan di barak?
Tak butuh dari setengah batang dupa, hampir semua serigala zombie berhasil dibunuh oleh Tianlong Heyu. Serigala zombie yang lebih besar mundur beberapa langkah setelah melihat betapa ganas serangan manusia itu. Sepasang mata merahnya tampak menelisik sosok Tianlong Heyu. Tak lama setelah itu, serigala zombie tersebut melarikan diri.
Sebelum benar-benar menghilang di kegelapan hutan, serigala itu sempat melihat Chen Sisi. Gadis itu sedikit tidak nyaman dengan tatapannya dsn bertanya pada Baiyue.
"Apa maksudnya? Aku bahkan hanya diam dan tidak menyinggung serigala itu," katanya bingung.
"Sepertinya apa yang dia lihat telah disampaikan pada ratu atau raja zombie di suatu tempat. Kamu dan pria itu ditandai olehnya."
"Tanda ? Tanda apa?" Dia semakin bingung.
"Tentu saja tanda untuk menyerangmu di waktu berikutnya. Hati-hati lah di masa depan dan selalu waspada ketika melihat orang lain atau seseorang yang mendekatimu. Tidak tahu apa yang akan dilakukan raja atau ratu zombie. Mereka licik dan bisa menyamar menjadi manusia tanpa ketahuan," tutur kucing putih Persia seraya menggerakkan ekornya ke kanan dan ke kiri.
Chen Sisi menggertakkan gigi. Dia bukan buronan tapi diperlakukan sebagai musuh tanpa berbuat apa-apa. Bukankah dunia per-zombie an sudah mulai berubah?
"Apa yang kamu pikirkan?"