
Chen Yelang pergi dengan linglung dan tanpa disadari sudah berada di halamannya sendiri. Ia menuangkan secangkir teh dan menyesapnya dalam satu kali tegukan. Dalam pikirannya selalu berkata jika adiknya masih hidup.
Lalu dia teringat dengan Chen Sisi yang selalu merasa familiar ketika melihatnya. Ini bukan hanya perasaannya tapi memang mungkin saja … Chen Sisi adalah adiknya bukan?
Adiknya, Chen Yuyu, tidak meninggal tapi diculik!
Chen Yelang pusing ketika memikirkan ini. Ia memiliki tersangka dalam hatinya tentang orang-orang yang dikatakan ayahnya. Seseorang di istana sepertinya terlibat dalam penculikan adik perempuannya.
Ia tidak bisa menyalahkan orangtuanya atas kejadian ini. Perairan di istana sangat dalam hingga siapapun yang memasukinya mungkin sulit untuk keluar.
Teringat akan seseorang yang bisa ditanyai, Chen Yelang meninggalkan rumah dan pergi ke Gedung Bunga Peony.
Di bangunan tiga lantai yang luas itu, Chen Yelang mencari Mo Huazhu. Pelayan yang berjaga di meja depan pergi ke lantai tiga untuk melapor lebih dulu sebelum akhirnya diizinkan naik.
“Tumben kamu datang ke sini. Jenderal muda negara kita layak menyandang nama Chen.” Mo Huazhu yang duduk di kursi malas menuangkan teh untuk keduanya.
Chen Yelang sedikit gelisah dan duduk tanpa bicara. Dia langsung meneguk teh tanpa permisi.
Mo Huazhu sudah terbiasa dengan tamu yang seperti itu. Orang-orang yang datang ke sini jelas memiliki masalahnya sendiri.
“Ayo cerita, apa masalahmu hingga datang ke tempatku tanpa paksaan,” ucapnya langsung terkekeh dan memegang secangkir teh.
“Adikku mungkin masih hidup.”
Mo Huazhu yang awalnya menyesap teh seketika tersedak. “Apa? Adik yang mana?”
“Tentu saja adik perempuanku. Aku hanya punya satu adik, itu Yu’er.”
“Adikmu yang meninggal tahun itu? Bagaimana bisa orang mati bisa hidup lagi?”
Chen Yelang kesal. “Adikku tidak meninggal karena sakit tapi diculik.”
“Apakah kamu serius? Dari mana kamu tahu ini?” Mo Huazhu tidak lagi bercanda.
“Aku tak sengaja mendengar percakapan orangtuaku.”
Mo Huazhu menatapnya dengan aneh. “Aku tidak tahu jika kamu suka menguping.”
“…” Bisakah kamu serius sedikit? Pikir Chen Yelang.
Mo Huazhu terbatuk kecil dan kembali lebih serius. “Jika adikmu masih hidup, dia harusnya seusia dengan sepupuku.”
Tanpa diduga, Chen Yelang kembali melempar kejutan lain untuknya.
“Mungkin Chen Sisi adalah adikku.”
Mo Huazhu masih mencerna masalah ini dan akhirnya terkejut hingga hampir berdiri dari tempat duduknya.
“Gadis itu? jangan bercanda!”
Tapi ketika ratu Mo membicarakan tentang Chen Sisi kemarin, Mo Huazhu berpikir lagi. Ratu Mo berkata bahwa Chen Sisi mirip dengan seseorang yang dikenalnya tapi tidak tahu siapa. Usia Ratu Mo dan Nyonya Chen tidak beda jauh dan keduanya berteman sejak masa gadis dulu.
Jadi … mungkinkah benar jika Chen Sisi adalah putri yang hilang dari keluarga Chen?
“Jadi kedatanganmu ke sini sebenarnya ….”
“Aku ingin tahu apakah bibimu terlibat dalam hilangnya Yu’er di masa lalu,” kata Chen Yelang menyampaikan maksud kedatangannya.
Karena Mo Huazhu adalah keponakan ratu, tentu saja pasti lebih dekat bukan?
“Tidak mungkin!” Mo Huazhu buru-buru membela bibinya. “Bibiku bukan orang seperti itu. Bahkan saat kemarin nona Chen datang dan bersama kami, bibiku bilang dia mirip seorang kenalan. Hubungan bibiku dan ibumu selalu baik, tidak ada alasan untuk menculik adikmu. Belum lagi, bibi hanya memiliki anak perempuan dan itu Sina. Tidak ada ancaman takhta.”
Di istana kekaisaran, hanya ada dua orang yang harus diwaspadai. Pertama adalah Ibu Suri dan yang keduanya tentu saja putra mahkota.
Putra mahkota saat ini adalah anak salah seorang selir yang dipilih oleh Ibu Suri. Bukan hanya itu, tapi juga dibesarkan secara pribadi. Tentu saja akan mengembangkan karakter yang sama.
Anehnya lagi, ibu selir putra mahkota meninggal karena sakit.
Tapi meski demikian, Kaisar Tian tidak banyak bertanya atau bertindak. Acuh tak acuh saja untuk saat ini. Lagi pula tak ada yang berani berbuat sesuatu pada Kaisar Tian selama Kakek Yi masih hidup.
Ibu Suri hanya tak bisa berhadapan dengan satu orang yaitu Kakek Yi atau pensiunan kaisar. Jika ada yang salah dengan Kaisar Tian dalam bentuk apapun, Ibu Suri akan menjadi orang pertama yang disalahkan.
Oleh karena itu, seberapa inginnya Ibu Suri berbuat sesuatu pada Kaisar Tian, ia hanya bisa menahan diri. Sebagai gantinya, Ibu Suri pasti akan mengganggu orang lain dengan tangan hitam di kegelapan.
“Aku akan bertanya pada bibiku tentang ini. Jika benar adikmu adalah Chen Sisi, maka mudah untuk saling mengenali.”
Mo Huazhu berjanji untuk membantu. Kenapa tidak? Dia juga ingin tahu tentang ini.
"Terima kasih." Chen Yelang merasa lebih baik di hatinya.
"Jangan sungkan. Kamu adalah sahabat Yuyu. Bagaimana mungkin aku tidak membantu? Tapi ... bisakah kamu membantuku dengan satu hal?" tanyanya dengan nada sedikit pelan.
"Apa itu?" Chen Yelang curiga. Nada bicara Mo Huazhu mencurigakan baginya.
"Bisakah kamu membawaku setiap kali pergi ke istana Yuyu? Aku ingin mencicipi semua jenis makanan yang dibuatnya. Tak ada niat lain."
"Apakah kamu suka adikku?" Chen Yelang sangat curiga.
"..."
Belum dikonfirmasi jika Chen Sisi adalah adikmu, jangan terlalu percaya diri, batin Mo Huazhu tak bisa mengatakannya secara langsung. Dia tidak ingin menyakiti perasaannya.
Akhirnya Chen Yelang berjanji selama Mo Huazhu mencari tahu dari mulut Ratu Mo lebih cepat.
"Tapi ... kaisar memiliki ratu lain selain bibimu. Mungkinkah dia yang terlibat?"
Suara Chen Yelang menurun ketika mengatakannya ini. Lagi pula dinding selalu memiliki telinga.
Mo Huazhu juga menyadari masalah ini. Ratu Mo adalah orang yang dicintai Kaisar Tian dan pada dasarnya jarang mengurus Harem. Orang yang mengurus halaman dalam adalah Ratu Hefei.
Sebenarnya Ratu Hefei tidak jahat menurutnya. Ia memiliki anak laki-laki yang merupakan pangeran ketujuh saat ini, Tianlong Yuzhao.
Tianglong Yuzhao suka berdagang dan memiliki usahanya sendiri. Ia tidak berniat memperebutkan kursi negara. Belum lagi, para pengusaha atau pedangan dilarang memasuki pengadilan.
Tidak mau menunda, pada sore harinya, Mo Huazhu datang ke istana untuk menemukan bibinya. Wanita itu sedang minum teh dengan gembira bersama Ratu Hefei yang jarang terlihat sebelumnya.
"Oh, ini Huahua yang datang. Duduklah dan minum teh sore bersama," sapa Ratu Hefei.
Meski Ratu Hefei adalah istri kedua, usianya lebih tua dibandingkan Ratu Mo. Jika keduanya bersama, rasanya seperti adik-kakak yang terawat baik.
"..." Mo Huazhu sangat tidak menyukai nama panggilan ini.
Kenapa Ratu Hefei sering menyebutnya Huahua? Dia bukan anjing Chihuahua.
Ratu Mo melihat ekspresi keponakannya yang terdistorsi, mau tidak mau tertawa ringan. "Kakak, jangan memanggilnya begitu. Kamu juga tahu betapa tidak sukanya dia dengan nama panggilan itu," jelasnya.
"Kenapa tidak? Bukankah nama Huahua sangat bagus? Cocok dengan citranya di Gedung Bunga Peony selama ini." Ratu Hefei sudah terbiasa dengan panggilan ini, jadi tidak pernah mengubahnya.
Sudut cukup lama dia tidak berkumpul dengan Ratu Mo apa lagi bertemu dengan Mo Huazhu. Hari-hari nya dia habiskan di istana dalam dan mengatur Harem. Urusan perasaan Kaisar Tian, ia tidak peduli. Lemparkan saja pada Ratu Mo.