
Chen Sisi menggelengkan kepala. Dia terlihat tidak banyak berharap dengan semua ini. Setidaknya begitulah di mata semua orang. Segera, seorang wanita paruh baya dan beberapa pelayan datang untuk menemukan tanda itu.
Chen Sisi masuk ke dalam bersama mereka. Tak lama kemudian, salah seorang pelayan keluar dengan tergesa-gesa.
“Ada apa?” tanya Kakek Yi. “Apakah tanda itu ada?”
Pelayan itu mengangguk. “Ya, Yang Mulia. Nona Chen memiliki tanda lahir bulan sabit di punggungnya.”
Nyonya Chen langsung bergegas masuk untuk melihatnya sendiri kemudian terdengar tangisan pecah di dalam. Kakek Yi tidak banyak bicara dan menghela napas.
“Bahkan jika Xiaosi telah tumbuh sejak kecil bersamaku, aku lupa dengan tanda lahir itu,” gumamnya namun beberapa orang di sekitar mendengarnya.
Adegan itu langsung menggemparkan orang-orang yang menghadiri upacara pertunangan mereka. Fakta bahwa Chen Sisi adalah anak perempuan keluarga Chen mulai tersebar luas.
...
Hal ini juga sampai ke telinga Ibu Suri Meng yang berada di Istana Dingin. Wanita tua itu sangat marah hingga memecahkan vas bunga yang ada di sampingnya.
"Sampah! Semuanya sampah!" Suaranya agak serak namun masih jelas seperti sebelumnya.
Para pelayan pribadi yang setia padanya hanya bisa tertunduk. Mereka takut akan dihukum olehnya.
Ibu Suri Meng memiliki mata-mata yang selama ini mengintai ibu kota. Tak terkecuali tentang keberadaan Tianlong Heyu dan keluarga Chen.
"Aku tidak menyangka jika anak itu begitu peka!" Ibu Suri Meng meminum secangkir tehnya yang mulai mendingin.
Siapa yang tahu, Chen Yelang yang tampaknya tak pernah mencolok—begitu terang-terangan untuk mengatakan tentang identitas Chen Sisi.
Mungkinkah semua ini sudah direncanakan sejak awal? Apa ada yang salah di hari pertunangan itu?
Ketika Chen Sisi kembali ke keluarga Chen, berarti para peramal itu juga akan segera mengetahuinya. Ia terlalu lengah karena masalah ini.
“Kali ini tidak ada cara lain selain diam lebih dulu. Jika tidak, orang-orang itu akan curiga padaku. Termasuk pria tua itu!”
Ketika Ibu Suri Meng memikirkan Kakek Yi, jejak kekejaman melintas di wajahnya. Gara-gara pria itu di masa lalu, ia hidup dalam keadaan seperti ini.
“Tianlong Ruyi! Jika aku tidak bisa mendapatkan negara ini, maka aku akan menghancurkannya!” gumamnya.
Tak lama kemudian, sebuah bayangan hitam muncul di ruangan itu. para pelayan dan Ibu Suri sendiri tidak terkejut dengan keberadaan seorang pria yang tiba-tiba muncul itu.
Melihat pria berjubah hitam yang muncul, Ibu Suri Meng mengusir semua pelayan dari ruangannya.
“Kamu akhirnya di sini,” katanya.
“Sepertinya kamu mengalami kesulitan. Apakah perlu kubantu kali ini?”
Pria berjubah hitam itu memiliki mata merah dan sedikit bercak kehitaman di sebagian wajahnya. Sekilas, ia seperti manusia normal pada umumnya. Namun jika melihat lebih dekat lagi, kulitnya sangat pucat seperti mayat.
“Zhen Zhu, kali ini mungkin aku harus mengandalkan mu …” Ibu Suri Meng menyipitkan mata. Dia harus segera mempercepat rencananya.
Tianlong Heyu semakin tak bisa dikendalikan. Apa lagi setelah racun bunga busuknya terselesaikan, ini sudah di luar bayangannya sendiri. Pasti ada hubungannya dengan gadis itu. Lagi pula di masa lalu, Chen Sisi diramalkan akan mengubah negara.
*
Identitas Chen Sisi langsung diumumkan satu hari setelah pesta pertunangan berakhir. Pada hari itu, Chen Sisi akhirnya bisa kembali ke keluarga Chen melalui pintu depan—bukan diam-diam seperti sebelumnya.
Nyonya Chen dan Tuan Chen bisa menghela napas lega ketika melihat putri mereka akhirnya bisa kembali. Chen Yelang senang bahwa rencana adiknya begitu sempurna hingga tidak ada satu pun yang curiga.
“Adikku, kamu sangat luar biasa. Dari mana kamu mendapatkan ide ini sebelumnya? Bahkan opera saja tidak sebagus ini.”
Nyonya Chen memelototi putranya dan menggampar lengannya. “Kamu sangat bangga bukan? Kamu terlihat seperti orang gila kemarin.”
"Kamu masih bisa bercanda!" Nyonya Chen yang sebelumnya menangis kini menjadi kesal karena putranya.
Tuan Chen menengahi mereka. "Baiklah, semuanya sudah berakhir sekarang. Si'er ada di sini sekarang, jangan menangis lagi."
Chen Sisi tidak tahu harus menghibur mereka seperti apa sebelumnya. Dia akhirnya membahas tentang gelang giok putih yang menjadi identitas keluarga Chen.
"Ibu, Ayah, bukankah kalian bilang jika gelang giok putih adalah harta keluarga sebelumnya?"
Akhirnya pertengkaran itu berhasil dialihkan.
"Ya, ya, itu benar. Gelang itu telah turun temurun sejak dulu. Ibu mendapatkannya dari nenek Chen dulu," jelas Nyonya Chen dengan penuh kasih sayang.
Ketika Chen Sisi lahir, gelang itu telah diberikan padanya. Namun karena terlalu besar untuk dipakai, mereka menyelipkannya di antara kain.
Siapa tahu, pada hari yang tak terduga, bayi kecil mereka menghilang. Tidak ada jejak sama sekali hingga membuat Nyonya Chen pingsan.
Karena tidak ingin ada rumor tentang hilangnya putri mereka, akhirnya sepakat untuk mengumumkan kematiannya.
Chen Yelang tidak tahu masalah ini sampai akhirnya kembali dan harus menerima kenyataan itu.
Siapa tahu tahun ini, mereka menemukan putri yang telah lama hilang. Keluarga Chen tidak pernah menyerah mencarinya selama ini. Namun dilakukan secara diam-diam.
Nyonya Chen dan Tuan Chen telah berulang kali meminta maaf pada Chen Sisi karena tidak menemaninya selama ini.
Untung lah Chen Sisi bertemu dengan orang yang baik hingga bisa tumbuh dewasa sampai sekarang.
Belum lagi, sekarang Chen Sisi adalah cucu angkat Pensiunan Kaisar dan identitasnya juga seorang putri kekaisaran.
"Si'er, kami sudah lama menyiapkan halaman yang baru untukmu. Kali ini lebih indah daripada sebelumnya. Ibu yakin kamu akan menyukainya."
Di sini, Chen Yelang segera membusungkan dadanya. "Tentu saja. Bukankah aku yang mengurusnya?"
Nyonya Chen memelototinya lagi. Anak ini, sama sekali tidak memikirkan reputasi ibunya!
"Bu, kenapa menatapku seperti itu?"
"Lupakan saja!" Nyonya Chen benar-benar ingin memukulnya kali ini.
Dasar anak tidak peka!
Chen Sisi melihat betapa kesal ibunya terhadap Chen Yelang. Sepertinya mengerti apa yang dimaksud. Tapi dia tidak berniat untuk mengekspos mereka.
"Kalau begitu, aku akan pindah dalam beberapa hari."
"Kenapa tidak hari ini saja?"
Nyonya Chen tidak mau putrinya terlalu dekat dengan Tianlong Heyu walaupun sudah bertunangan sekalipun. Dia ingin menghabiskan waktu dengan putrinya.
Tianlong Heyu sudah memanfaatkan putrinya selama ini dan kini tidak boleh dimanfaatkan lagi. Ia tahu putrinya sudah memiliki kamar dengan pria itu. Tapi ia khawatir masalah lain akan datang.
Chen Sisi menggelengkan kepala. "Bu, kamu juga tahu bahwa itu tidak mungkin. Masih ada yang harus ku selesaikan di sana. Belum lagi kembalinya aku ke sini pasti sudah membuat musuh waspada."
Apa yang dikatakannya benar. Keluarga Chen tak bisa begitu saja membawa Chen Sisi kembali ke keluarga kelahirannya. Belum lagi, masalah ini juga harus diberitahukan ada Kaisar Tian.
Tuan Chen akhirnya mengangguk. "Kalau begitu ... Ayah akan menghadap kaisar dan meminta membawamu pulang ke rumah."
Chen Sisi berpikir, sepertinya ini bukan masalah.