Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Looks like Mrs. Chen


Chen Sisi sendiri menyiapkan bumbu sesuai dengan jenis makanan. Ia berniat untuk memasak jamur dan pakis. Pertama, dia akan membuat tumis pakis. Chen Sisi menyiapkan bawang merah, bawang putih, cabai rawit, merica, tomat, kunyit serta penyedap rasa.


Sebagian bumbu dihaluskan. Chen Sisi juga membawa cobek sehingga mudah menghaluskan bumbu yang diinginkan.


Tianlong Sina hampir melongo dengan semua barang yang dibawa gadis itu. Ini dapur berjalan!


“Si’er, apakah kamu berniat pindah rumah? Bahkan jika kamu diusir dari rumah, tampaknya tak perlu khawatir dengan hidup di alam liar,” candanya.


Chen Sisi tersenyum, siap menumis. “Hidup di alam liar juga harus nyaman.”


Chen Yelang kembali dengan daging yang sudah dibersihkan. “Omong-omong, apa yang akan dilakukan dengan jamur ini?” tanyanya seraya menatap jamur yang ada di alas daun pisang.


“Oh, mudah dimasak. Dibuat dengan cara dibakar dalam batang bambu juga enak.”


“Dibakar dalam batang bambu? Apakah kamu serius?”


“Tentu saja. Tebanglah bambu yang tidak terlalu tua atau tidak terlalu tebal, lalu bersihkan isinya. Bawa ke sini,” kata Chen Sisi pada Chen Yelang.


“Baiklah,” Chen Yelang mengangguk. Ia tidak menolak sama sekali.


Melihat Chen Yelang pergi, Tianlong Yuzhao ragu sejenak dan akhirnya mengikuti.


Chen Sisi tidak peduli dengan keduanya. Dia sudah menumis bumbu hingga harum dengan minyak yang agak banyak, kemudian tambahkan air secukupnya untuk membuat pakis lunak saat dimasak. Jangan lupa tambahkan gula serta penyedap rasa lainnya.


Terakhir. Irisan tomat segar ditambahkan.


“Si’er untuk membantumu memasak lebih cepat, katakan apa saja yang harus kami lakukan lagi?” tanya Tianlong Sina.


Chen Sisi berpikir sejenak. “Bumbui daging yang sudah dipotong dengan kunyit bubuk, merica bubuk, perasan jeruk nipis dan garam, diamkan saja agar bumbu meresap. Untuk jamur, suwir kasar dan bumbui dengan garam dan micin secukupnya.”


“Oh, Saudara Kedelapan, bantu aku menunjukkan mana saja kunyit bubuk dan merica bubuk. Yang mana micin?”


Mo Huazhu mengejek sepupunya. “Kamu jelas tidak tahu apa-apa tapi ingin membantu dengan percaya diri. Yang ada hanya akan merusak cita rasa. Biarkan aku yang melakukannya,” katanya.


“Humph! Kenapa baru saja sekarang membantu?”


“…” Mo Huazhu curiga jika Tianlong Sina sengaja menyindirnya karena malas.


Tianlong Heyu melihat daging yang sudah dipotong itu diberi bumbu. “Apa kamu berniat membuat sate?”


“Ya. Aku lupa memberi tahu Chen Yelang untuk membuat tusukan juga.”


Tianlong Heyu tidak berkata apa-apa. Dia mengeluarkan belatinya dan mulai memotong kayu yang tersedia sedikit demi sedikit. Membuat tusukan sate dari kayu juga tidak buruk. Chen Sisi tahu pria itu mulai bekerja, tidak lagi mengatakan apa-apa.


Setelah tumis pakis selesai, daging yang diberi bumbu marinasi juga siap untuk disusun dalam tusukan. Chen Sisi hanya perlu menunggu Chen Yelang dan Tianlong Yuzhao kembali dengan ruas bambu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini, Chen Yelang yang memotong salah satu batang bambu dihampiri oleh Tianlong Yuzhao. Pangeran Ketujuh itu tampaknya ragu untuk bicara.


“Katakanlah jika ada sesuatu.” Chen Yelang meliriknya.


“Yelang, apakah ini hanya perasaanku saja atau bukan. Kenapa aku merasa Chen sisi mirip dengan ibumu?”


Chen Yelang menghentikan aktivitasnya sementara. Dia terkejut. “Kamu juga merasakannya?”


Tianlong Yuzhao mengangguk. “Tentu saja. Aku tahu ibumu karena ratu Mo dan ibumu dulu teman bukan? Belum lagi aku juga pernah melihat ibumu. Chen Sisi ini mirip dengannya.”


Kehilangan adik perempuannya tahun itu, membuatnya merasa sangat dingin. Ia pikir adiknya sakit dan meninggal tapi ternyata diculik. Saat itu dia mungkin masih kecil. Apa yang dikatakan orangtuanya tidak ia curigai.


Tapi sekarang dia yakin jika Chen Sisi pasti adik perempuannya.


Kali ini Tianlong Yuzhao yang terkejut. “Kamu tahu ini? Jadi, adikmu tidak meninggal karena sakit tapi diculik?”


Chen Yelang mengangguk dan melanjutkan kerjaannya.


“Lalu kenapa kamu tidak membahas ini dengan gadis itu? Aku dengar dari ibu ratu jika dia dibesarkan sebagai cucu oleh kakek.”


“Waktunya belum tepat. Aku juga harus memastikan apakah dia benar-benar adikku atau bukan. Jangan sampai mengenali orang yang salah. Jika suatu hari kami mengenali yang salah dan yang asli kembali, urusannya tidak kecil.”


Ini juga yang dikatakan oleh Tianlong Heyu. lebih baik memastikan lebih dulu perlahan dan tidak perlu terburu-buru. Tapi masalahnya Chen Sisi akan berusia 15 tahun dalam waktu dekat. Usia pernikahannya akan segera tiba.


Jika Chen Sisi adalah adik kandungnya yang selama ini hilang tapi melewatkan pernikahan layak dari keluarga, ibunya mungkin akan sangat sedih.


"Harusnya adikmu memiliki tanda lahir atau sebagainya bukan?"


"Ya. Aku tidak tahu pasti, tapi ibuku bilang dia memilikinya di punggung."


"Tanda lahir seperti apa itu?"


"Aku lupa." Chen Yelang menyesal karena tidak memiliki ingatan yang baik.


Dia harus bertanya saat pulang dari perburuan. Tapi tidak akan bertanya pada ibunya. Tanyakan saja pada pelayan yang sudah lama ada di rumah.


Keduanya tidak mengobrol lama agar Chen Sisi tidak marah. Setelah memotong satu ruas bambu yang pas, keduanya kembali. Tentu saja mereka pergi ke sungai untuk membersihkan isi ruas bambu.


"Ini bambunya. Nah, apa lagi sekarang?" Chen Yelang meletakkan satu ruas bambu itu di depan mereka.


"Tidak ada lagi. Duduklah dan bantu jaga apinya dengan baik."


Chen Sisi mengambil alih ruas bambu itu, memasukkan jamur yang sudah dibumbui, potongan daging kecil-kecil agar matang sempurna saat bambu dalam proses pembakaran. Potongan daging itu sudah diberi bumbu olehnya, jadi tentu saja pasti enak.


"Proses memasak dengan bambu ini memakan lebih banyak waktu. Mari panggang sate nya dulu dan makan tumis pakis. Aku sudah lapar," kata Chen Sisi.


"Aku juga lapar. Bau makanan ini sangat enak. Aku tidak pernah mencium aroma makanan sewangi ini sebelumnya." Tianlong Sina sudah hampir ngiler.


Mo Huazhu mendengkus. "Ini bukan pertama kalinya kamu mengatakan hal serupa."


"Diam!" Tianlong Sina memelototi sepupunya.


Chen Sisi tertawa. Keduanya seperti kucing dan anjing. Dia menggelengkan kepala dan mengecek apakah nasi liwetnya matang atau belum.


"Ini sudah matang."


Aroma dari nasi liwet membuat mereka tambah lapar. Terutama Tianlong Heyu. Nasi liwet itu dicampur dengan potongan cabai rawit, bawang merah, sedikit minyak dan santan. Agar menambah rasa sedikit gurih, Chen Sisi juga menggunakan penyedap rasa, sedikit saja.


Sate dibolak-balik agar matang merata. Tianlong Yuzhao mengambil alih pekerjaan Mo Huazhu yaitu mengolesi sate dengan bumbu kecap.


"Si'er, aku khawatir malam ini kita makan enak. Tapi besok kita makan rumput." Tianlong Sina tak bisa membayangkan jika besok mungkin hanya makan ubi panggang.


"Tidak akan. Ada banyak bahan makanan. Aku juga membawa banyak bumbu. Kenapa harus makan rumput? Pernahkah kamu makan rumput?"


"..." Tianlong Sina terdiam.