Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Make Beef Meatballs


“Ada banyak keajaiban para dewa di dunia ini. Biksu Tua ini tidak mampu melampaui langit dan surga. Gadis itu memiliki garis takdirnya tersendiri dan ini masih ada hubungannya dengan Pangeran. Jika Pangeran tak mampu mengikuti garis takdir, maka kesempatan akan hilang dan takdir berubah sepenuhnya,” imbuh Biksu Tua itu lagi.


Ini dimaksudkan agar Tianlong Heyu tak bertanya pada Chen Sisi tentang identitas sebenarnya. Cukup tahu jika sebagian jiwa gadis itu berasal dari era modern yang maju dan berkembang.


Tianlong Heyu terdiam, memikirkan masalah ini. Identitas Chen Sisi di zaman itu tak perlu diketahui. Ini bukan tempatnya. Tapi memikirkan kehidupan sebelumnya, bisakah dia memilikinya kehidupan layak dengan Chen Sisi?


"Apa yang harus kulakukan?"


Biksu Tua itu mengelus janggut panjangnya. "Jika Pangeran suka, maka katakan saja. Tidak perlu menahan diri. Jika tidak, burung yang dibesarkan akan terbang ke sarang lain seandainya tidak dirawat dengan baik."


"Terima kasih." Tianlong Heyu mendapat pencerahan hari ini.


Ia suka Chen Sisi? Mungkin seperti itu. Belum lagi, dia dan Chen Sisi memiliki cerita menyedihkan di kehidupan sebelumnya. Sekarang ia kembali, tentu saja banyak yang berubah. Dia tidak ingin kehidupan sebelumnya terulang kembali.


Tianlong Heyu meninggal kuil setelah selesai melakukan do’a. Chen Sisi hanya bisa mengikutinya dengan bingung. Tatapan Tianlong Heyu padanya agak halus. Seperti ada rencana lain yang akan dilancarkan. Ia harus waspada di masa depan.


Sayangnya Tianlong Heyu tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu.


"Apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat lebih dulu?" tanyanya santai.


Chen Sisi memikirkannya. Sekalian mereka hendak pulang, lebih baik membeli sesuatu dulu.


"Aku ingin membeli daging sapi. Kenapa tidak membuat bakso saja nanti?"


"Bakso?" Tianlong Heyu menaikkan sebelah alisnya. "Terserah." Ia meminta kusir segera pergi ke pasar untuk menemukan tukang jual daging.


"Apakah ada penggilingan daging di sini?"


"Penggilingan daging? Untuk apa menggiling daging?"


Chen sisi terkejut. Tidak ada? Pikirnya. Lupakan saja. Dia tidak mau banyak mengungkapkan informasi saat ini. Namun tentu saja dia sedikit kecewa. Jika tidak ada penggilingan daging, maka dia hanya bisa mencincang dan menumbuk daging hingga halus. Agak merepotkan.


"Lupakan saja. Aku akan melakukannya di rumah. Belum saja daging sapinya."


Mereka pergi ke pada dan menemukan penjual daging sapi. Chen sisi membeli satu kilo daging sapi, lalu beli juga tulang sapi besar. Namun penjual daging tidak membutuhkan tulang sapi sehingga dia memberi harga murah untuknya.


"Kenapa kamu membeli tulang? Ini bahkan tak bisa dimakan," kata Tianlong Heyu bingung.


Jika bukan karena dia mendengar penjelasan biksu tua di kuil sebelumnya, mungkin tidak akan peduli dengan tulang sapi. Tapi Chen Sisi memiliki jiwa orang modern. Tianlong Heyu penasaran dengan makanan di era maju kehidupan yang akan datang.


"Tentu saja untuk membuat kuahnya. Menggunakan tulang asli akan membuat rasa dan aroma kuah bakso menjadi lebih enak."


Setibanya di rumah, Chen Sisi membawa semua bahan ke halamannya. Ia siap untuk membuat bakso sapi yang enak. Lagi pula, hari sudah siang. Mereka hanya makan sedikit di perjalanan.


Tanpa diduga, Tianlong Heyu mengajukan diri untuk membantunya. Baiyue yang melihat ada perubahan halus pada diri pria itu pun langsung senang.


"Tuan, setujui saja dia. Tidak apa-apa untuk menambah asisten koki sukarela," ucap Baiyue yang sudah berada di sampingnya.


Baiyue mengeong beberapa kali dan mengelus betis Chen Sisi dengan kepalanya. Di mata Tianlong Heyu, kucing itu seperti sedang membujuk.


Chen Sisi terdiam sebentar lalu mengangguk pada pria itu. "Baiklah kalau begitu."


Keduanya pergi ke halaman Chen Sisi. Banyak bumbu di dapur. Tianlong Heyu ids mencium aroma rempah-rempah dari sana.


"Apakah ada es batu?" tanya gadis itu.


"Tidak banyak. Ambil saja segelas."


Tianlong Heyu meminta Moer untuk pergi k gudang es yang sengaja dibuat agar es tidak mencair. Setidaknya dia menggunakan giok es untuk memperhatikan suhu. Moer pergi menjalankan perintah.


Sementara itu, Tianlong Heyu sudah mengumpulkan kayu bakar dan membuat api, lalu panaskan air dalam wajan atas permintaan Chen Sisi.


Sedangkan gadis itu sendiri menyiapkan daging sapi yang dibelinya tapi. Lalu mencincangnya dengan rapi. Setelah itu, tumbuk sehalus mungkin.


"Biarkan aku saja." Tianlong Heyu mengerutkan kening.


"Apakah kamu bisa melakukannya?"


"Ini hanya menumbuk daging sampai halus bukan? Tidak masalah bagiku."


"Baiklah." Chen Sisi menyerahkan tugas itu padanya.


Dia sendiri menyiapkan bahan lain seraya menunggu daging sapi dihaluskan.


Chen Sisi menggoreng bawang putih dan bawang merah. Setelah melihat daging ditumbuk halus dalam cobek batu yang cukup dalam, bawang putih dan bawang merah goreng ditambahkan. Moer sudah kembali dengan segelas es batu.


"Putri, ini es batunya."


"Ya." Chen Sisi mengambil alih es batu.


Setelah menambahkan bawang goreng, Chen Sisi memasukkan tepung tapioka secukupnya. Mulai dari garam, lada, gula pasir, putih telur, sedikit kaldu sapi dan baking powder serta es batu.


"Tumbuk semuanya dengan hati-hati hingga tercampur rata."


Tianlong Heyu melihat semua bahan dimasukan, cukup terkejut. Ternyata banyak bahan yang harus digunakan untuk membuat makanan yang enak. Gadis ini telah bekerja keras, pikirnya.


Baiyue hanya menunggu di luar karena khawatir bulunya akan rontok.


Tianlong Heyu menumbuk dengan serius hingga kedatangan Mo Huazhu dan Tianlong Sina lolos dari perhatiannya. Adapun keduanya, terkejut melihat raja perang yang selalu memegang pedang dan anak panah di barak militer, kini menumbuk ... sesuatu.


"Yuyu, apa yang kamu lakukan?" tanya Mo Huazhu tak bisa menahan diri untuk bertanya.


"Seperti yang kamu lihat." Tianlong Heyu mengerutkan kening saat melihat keduanya. "Kenapa kalian di sini?"


"Kakak Kedelapan, kamu benar-benar ingin makan enak dan melupakanku!" Tianlong Sina kesal. "Tentu saja datanglah dan bermain dengan Si'er. Tadi pagi aku datang ke sini. Penjaga bilang kalian pergi ke kuil."


Tianlong Heyu tidak berkata apa-apa lagi. Namun dia cukup kesal dengan keduanya. Awalnya dia bisa makan dengan tenang tanpa gangguan. Sekarang ada dua orang tambahan. Bagaimana mungkin dia senang?


Masakan gadis itu akan dibagi lagi dengan mereka. Ia juga tidak bisa egois.


Dapurnya cukup luas sehingga Tianlong Sina dan Mo Huazhu bisa masuk. Namun tetap diam di pinggir untuk tidak menghalangi Chen Sisi memasak.


"Kenapa kalian tidak menunggu di luar? Terlalu berasap di sini. Pakaian kalian juga akan kotor nanti." Chen Sisi melihat Tianlong Sina memegang kipas dan memakai pakaian laki-laki. "Kenapa kamu berpakaian seperti itu?"


"Uh ... Aku datang ke Gedung Bunga Peony dan minum dengan sepupu. Ada banyak wanita cantik di sana." Tianlong Sina sedikit malu.


Saat ini, Chen Sisi sudah memanaskan air berisi tulang sapi besar di dalam wajan. Lalu tutup wajan untuk membuatkan uap tidak banyak keluar dan memaksimalkan perebusan tulang.


"Si'er, kenapa kamu memasak tulang?" tanya Tianlong Sina penasaran.