
"Ini untuk membuat kuah bakso. Kamu akan tahu rasanya nanti," jawab Chen Sisi.
"Ini makanan enak lagi. Si'er, aku akan menunggu di luar. Tak ada yang bisa kulakukan di sini juga." Tianlong Sina tidak mau mengganggu keduanya. Jika tidak, Tianlong Heyu mungkin akan menendangnya ke luar Istana Raja Perang sebelum berhasil makan.
"Kamu juga." Tianlong Heyu melirik Mo Huazhu.
Mo Huazhu ingin tinggal dan melihat prosesnya. Namun dia diseret Tianlong Sina sebelum bisa bicara. Akhirnya, suasana di dapur kembali tenang.
"Apakah ini sudah halus?" Tianlong Heyu memastikan.
Chen Sisi memeriksanya. "Ya, sudah cukup. Ini lebih baik daripada yang kubayangkan."
Sebelum itu, Chen Sisi memeriksa rebusan tulang sapi lebih dulu. Seharusnya masih cukup lama. Jadi dia membentuk bulatan bakso lebih dulu, masukan ke dalam wajan berisi air panas yang disiapkan Tianlong Heyu sebelumnya.
Bakso dibentuk bulatan sedang dan kecil. Aromanya saja sudah tercium wangi.
Tianlong Heyu memperhatikan jika bakso mulai mengambang di dalam wajan. Setelah adonan selesai dibentuk, hanya perlu menunggu baksonya matang.
Setelah bakso selesai direbus dan ditiriskan, Chen Sisi akhirnya bisa fokus dengan rebusan tulang sapi. Airnya sudah banyak menyusut sehingga Chen Sisi langsung menambah kaldu sapi, garam secukupnya, lada dan garam. Kini, aroma air rebusan semakin tercium.
"Ini benar-benar wangi. Restoran mu akan ramai jika membuat makanan seperti ini." Tianlong Heyu memujinya.
"Tentu saja." Chen Sisi merasa senang. Waktu menghasilkan uang semakin dekat!
Setelah kuah selesai dibuat, Chen Sisi menyiapkan bihun, rendam dengan air panas sebentar dan tiriskan. Kemudian rebus tauge serta sawi hijau.
Semuanya selesai, tinggal disajikan saja.
"Karena Nana dan Mo Huazhu ada di sini, mari bawa semuanya ke gazebo. Lebih luas di sana." Chen Sisi memiliki ide ini.
Tianlong Heyu enggan tapi hanya bisa mengangguk. Kedua pengganggu itu sungguh merepotkan.
Moer juga mendapatkan bagian dan sangat senang hingga memakannya sambil meneteskan air mata. Rasanya sangat enak.
Keempatnya berkumpul di gazebo. Chen Sisi menyiapkan empat mangkuk ukuran sedang. Masing-masing diisi dengan bihun, bakso, sawi hijau dan tauge. Lalu siram dengan kuah bakso yang harum. Tambahkan taburan bawang goreng, seledri dan perasan jeruk nipis. Ia juga menyiapkan sambal seandainya mereka ingin rasa pedas.
Rasa gurih kaldu sapi yang segar langsung menggoyang lidah.
"Si'er! Ini sangat enak!" Tianlong Sina tak bisa berhenti makan. Dia suka makanan pedas sehingga menambah banyak sambal.
Mo Huazhu mengangguk. "Sebenarnya aku sudah makan, tapi setelah mencicipi ini, rasanya aku ingin makan lebih banyak." Dia tertawa senang.
"Apakah ini air rebusan tulang sapi tadi?" tebak Tianlong Sina.
"Benar. Bagaimana menurutmu?"
"Rasanya sangat enak. Benar-benar rasa daging sapi."
"Tentu saja. Bisa menggunakan daging ayam atau sejenisnya jika ingin membuat air kaldu. Hanya tinggal merebusnya lebih lama saja untuk membuat aroma dan rasanya keluar."
"Koki di istanaku juga harus bisa membuatnya." Tianlong Sina cemburu pada Tianlong Heyu saat ini.
Semangkuk bakso tidak cukup untuk mereka. Untungnya Chen Sisi membuat banyak. Mereka membuatnya sendiri kali ini setelah mengetahui apa saja yang harus ditambahkan.
Karena hari sudah cukup sore, mereka mungkin tak perlu makan malam nanti. Namun berbeda dengan Chen Sisi yang harus makan nasi. Ia tak bisa tenang jika belum makan nasi.
Mo Huazhu dan Tianlong Sina pergi sebelum gelap. Keduanya sangat puas hari ini karena bisa makan enak.
Sedangkan Chen Sisi membersihkan diri dan istirahat sebentar. Tianlong Heyu sudah kembali ke halamannya untuk mengurus pekerjaan.
"Ya, tentu saja. Tapi aku tidak lupa tentang zombie-zombie itu. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Untuk saat ini masih stabil. Pangeran pertama itu sungguh teliti dalam bertindak sehingga semua mayat hidup yang bersembunyi enggan untuk keluar."
Namun cepat atau lambat, perang manusia dan mayat hidup akan terjadi di masa depan. Tapi karena Tianlong Heyu telah mendapatkan mimpi tentang kehidupan sebelumnya, harusnya sudah tahu apa yang harus dilakukan.
"Rasanya aku tidak mau makan lagi malam ini. Aku mengantuk ketika aku kenyang." Chen Sisi masih bergerak untuk membuat sesuatu malam ini.
Dia benar-benar mengantuk hingga tanpa sadar ketiduran. Baru saja memejamkan mata kurang dari setengah dupa, Baiyue membangunkannya. Kucing putih Persia itu sudah ada di kasurnya dan menepuk wajahnya berulang kali.
"Xiaobai, apa yang kamu lakukan?" Dia sangat kesal hingga langsung terbangun.
"Bangun cepat! Sekelompok orang datang ke arah sini. Aku merasa mereka tidak ramah!" Baiyue berteriak padanya.
"Sekelompok orang? Siapa?" Chen Sisi masih belum bisa fokus.
"Siapa lagi? Tentu saja orang yang ingin membunuhmu!"
Baiyue tidak bercanda kali ini. Sekelompok pembunuh bayaran yang mahir, mungkin bukan tandingan Chen Sisi. Bukan tidak bisa mengalahkan mereka, hanya saja terlalu banyak. Jika satu atau dua masih bisa. Ini lebih dari sepuluh.
Kelompok pembunuh bayaran bukan kawasan serigala. Mereka jelas lebih licik.
"Apa??! Kenapa ingin membunuhku?!"
Kali ini kesadaran Chen Sisi terkumpul penuh. Dia buru-buru bangun. Belum sempat meraih outer gaun, suara pedang beradu sudah terdengar di luar.
Seseorang masuk kamar. Chen Sisi waspada hingga ingin melempar jarum perak beracun. Tapi ketika mengetahui jika itu adalah Tianlong Heyu, ia lega.
"Kamu di sini. Apa yang terjadi di luar?" tanyanya.
"Pembunuh yang diutus oleh Ibu Suri Meng. Mereka menginginkan nyawamu. Itu saja." Tianlong Heyu tidak banyak berkata. Dia meraih Chen Sisi untuk ikut dengannya.
"Tunggu. Aku belum memakai outer."
Chen Sisi tentu saja akan melepaskan baju luar saat tidur. Saat ini gaunnya tidak berlengan, memperlihatkan bahu hingga lengan atasnya.
Tianlong Heyu sedikit canggung. Namun pendengarannya sangat tajam hingga dia langsung menarik Chen Sisi ke tempat tidur. Gadis itu kaget. Tapi ia merasa ada sesuatu melesat sangat cepat melewati mereka sebelumnya.
"Itu ..." Chen Sisi menebak.
"Panah beracun!" Tianlong Heyu memberitahunya.
Panah beracun yang dilepas dari luar ruangan jelas ditunjukkan untuk Chen Sisi. Sekarang panas itu menancap di tiang tempat tidur.
Posisi keduanya cukup ambigu saat ini. Chen Sisi berada di pelukan Tianlong Heyu. Keduanya sangat dekat. Tianlong Heyu sedikit pusing ketika mencium aroma lembut dari tubuhnya. Tangan yang menyentuh punggung Chen Sisi sedikit tidak jujur.
Chen Sisi menegang dan dia menatap Tianlong Heyu, tampak kesal. "Tianlong Heyu! Apakah kamu sengaja menggodaku?!"
Tianlong Heyu tidak menjawab. Beberapa pembunuh bayaran menerobos ke kamar dan tampaknya tahu keberadaan keduanya. Pria itu berbisik padanya.
"Tunggu di sini." Tianlong Heyu siap dengan pedangnya.
Ia mendorong Chen Sisi ke samping, menghalangi pandangan para pembunuh bayaran.
Tianlong Heyu turun dari tempat tidur dan langsung bertarung dengan para pembunuh bayaran. Baiyue yang diabaikan oleh para pembunuh memanfaatkan waktunya untuk mencakar mereka.
Cakaranku sangat beracun! Kalian pasti akan mati, pikirnya.