Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Midnight Terror (3)


Sebelum Chen Sisi menyelinap memasuki halaman keluarga Yin, ayahnya tiba-tiba saja datang untuk bergabung. Melihat kedatangan Tuan Chen, dia terkejut.


“Ayah, kenapa kamu ada di sini?” tanyanya.


Tuan Chen menghampirinya dengan langkah tanpa suara. “Tentu saja Ayah harus pergi denganmu untuk melihat masalah ini. Nak, jangan membuat ayah dan ibu khawatir.”


Chen Sisi menyentuh hidungnya. "Justru karena aku tak mau membuat ayah dan ibu khawatir, jadi tidak berniat memberitahu kalian."


Ayahnya hanya mendengkus. Kemudian kembali fokus ada topik. "Apa kamu berniat untuk masuk?"


"Ya, di sini tidak terlalu jelas. Aku harus memeriksa sendiri."


"Kalau begitu, Ayah akan ikut denganmu. Kamu gadis, meski kuat jangan terlalu gegabah."


Tuan Chen mengkhawatirkan putrinya. Putrinya yang telah lama hilang baru saja ditemukan. Bagaimana mungkin dia tega membiarkannya mengurus semua itu seorang diri. Sebagai orangtua, Tuan Chen lebih bertanggung jawab melindungi keluarga.


Chen Sisi tidak menolak. Percuma saja menolak. Tuan Chen pasti tetap akan ikut. Paling tidak, Tuan Chen tak akan membiarkan masuk sama sekali.


Oleh karena itu, Chen Sisi hanya bisa mengangguk.


"Kita harus pergi sebelum lagi tiba agar ibumu tidak khawatir ketika dia bangun nanti."


"Jangan khawatir, aku juga harus segera kembali dan melanjutkan tidur. Namun sebelum itu, kita harus memastikan jika orang-orang yang terinfeksi wabah mayat hidup di keluarga Yin tidak berkeliaran."


Tuan Chen juga tahu ini dan keduanya pun memasuki halaman keluarga Yin diam-diam.


Suasana remang-remang dari lentera yang terpasang di beberapa dinding membuat keduanya lebih mudah untuk menentukan arah tujuan.


Chen Sisi berada paling depan dan Tuan Chen mengikutinya. Baiyue yang memimpin segera pergi ke arah yang diyakini.


Baiyue mengeong, memberi tahu Chen Sisi keberadaan Tuan Chen yang telah menjadi mayat hidup.


"Dia berada di dalam ruangan itu. Di antara yang lain, dia yang paling kuat."


Tuan Chen tak bisa mengerti apa yang dikatakan kucing itu. Hanya suara mengeong saja tidak cukup baginya untuk menebak-nebak.


Kaisar Tian berkata padanya dulu saat ia berkunjung ke istana, Chen Sisi bisa memahami bahasa kucingnya sendiri. Sehingga dia mengira Baiyue adalah kucing ilahi.


Meski benar, Tuan Chen tidak tahu. Jika dia tahu, mungkin akan pingsan setelah mengetahuinya.


Lagi pula di dunia ini, binatang spiritual itu tidak ada. Mereka telah menjadi legenda dan omongan dari mulut ke mulut.


"Si'er, apa yang dikatakannya?"


Chen Sisi memberi tahu ayahnya. "Dia bilang Tuan Yin ada di dalam ruangan itu. Lebih kuat dari pada mayat hidup lainnya di sini. Jadi berhati-hatilah, Ayah. Aku akan membuka pintunya dulu."


Sebelum Chen Sisi melangkah untuk membuka pintu, Tuan Chen menghentikannya.


"Tunggu!"


"Ada apa, Ayah?"


"Biar Ayah yang melakukannya. Kamu tetap di belakang Ayah."


Tuan Chen menunjukkan ekspresi seriusnya dan tidak memberikan kesempatan Chen Sisi untuk menolak.


Mau tidak mau, Chen Sisi berada di belakang ayahnya. Dia berjaga-jaga jika seandainya ada mayat hidup lain di dalam ruangan itu yang sedang menanti mereka.


Namun sebelum Tuan Chen membuka pintu ruangan, Baiyue langsung mengeong keras.


"Tuan, mayat hidup yang kuat itu bergegas ke arah pintu. Segera menghindar!"


Chen Sisi terkejut. Sebelum dia memiliki waktu untuk mencerna dan menarik ayahnya ke samping, pintu langsung didobrak dari dalam. Mau tidak mau, Chen Sisi segera menarik ayahnya untuk tengkurap.


Saat ini, jantung Chen Sisi berdebar kencang ketika memikirkan ayahnya baru saja hampir menjadi korban.


"Ayah, apakah kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Tuan Chen tertegun sebentar sebelum menyadari jika dirinya tengkurap saat ini. Ia mengatur ekspresinya agar tetap tenang dan tidak menakuti Chen Sisi.


"Ayah baik-baik saja."


Keduanya segera bangun dan memperhatikan sosok pria yang sesekali mengeluarkan suara geraman rendah. Itu adalah Tuan Yin yang telah berubah menjadi mayat hidup.


Tubuhnya kotor oleh darah, mulut penuh darah serta mata memerah. Kulitnya putih pucat dengan bercak-bercak menyerupai urat hitam menonjol di sekitar wajah dan leher.


Ini adalah mayat hidup tingkat tinggi yang ganas dan tak kenal ampun saat melihat mangsanya.


"Tuan, aku memiliki firasat buruk tentang ini. Ingatlah untuk membunuhnya sebelum dia melarikan diri."


Baiyue memperingatkan Chen Sisi. Ia tahu keseriusan masalah ini. Chen Sisi tidak menimpali perkataannya karena tidak ingin membuat Tuan Chen curiga. Namun ia mengingat hal ini di hatinya.


Tuan Yin yang telah menjadi mayat hidup awalnya memunggungi keduanya. Setelah melihat satu sama lain, Tuan Yin langsung berlari untuk menyerang ayah dan anak itu. Kuku-kukunya yang panjang dan runcing bersiap untuk mencakar.


“Dia cepat sekali!” gumam Chen Sisi.


Baik Chen Sisi dan Tuan Chen langsung menghindar ke arah yang berlawanan tepat sebelum Tuan Yin mengayunkan tangan berkuku panjangnya.


Setelah gagal menyerang, Tuan Yin tidak diam saja dan menyerang kembali. Dia menargetkan Chen Sisi sebagai mangsa yang lebih lemah ketimbang Tuan Chen.


Namun perkiraannya salah. Di saat Chen Sisi siap mengeluarkan pedangnya untuk menebas Tuan Yin yang telah menjadi mayat hidup, tiba-tiba saja mangsanya berubah. Tuan Yin dengan cepat berbalik dan menyerang Tuan Chen yang masih khawatir tentang Chen Sisi.


Kejadian tiba-tiba itu membuat Chen Sisi mengutuk dalam hatinya. Memang mayat hidup yang licik dan pintar!


“Baiyue!” teriaknya tanpa sadar.


Baiyue tahu apa yang harus dilakukan. Dia juga tak kalah gesit dari mayat hidup itu.


Meow!


Baiyue segera melompat ke atas kepala mayat hidup Tuan Yin dan mencakar kepalanya. Gerakan Tuan Yin terhenti karena gangguan kucing itu hingga berusaha menyingkirkannya.


Pada saat yang sama, Tuan Chen menarik pedang dari sarungnya dan menebas tubuh Tuan Yin tanpa ragu. Sayangnya insting mayat hidup tingkat tinggi sangat kuat. Ketika bahaya mendekat, dia langsung mundur dan melompat cukup jauh ke samping.


Akhirnya Tuan Chen gagal melukainya bahkan terkejut dengan tindakan makhluk itu.


Ini pertama kalinya Tuan Chen berhadapan dengan mayat hidup tingkat tinggi yang begitu pintar.


Baiyue sudah mendarat di depan Chen Sisi dengan perasaan kesal. “Huh, tidak kusangka dia begitu pintar. Sepertinya ini hasil perbuatan otak mayat hidup itu.”


“Zhen Zhu melakukan ini semua? Bisakah dia membuat mayat hidup tingkat tinggi memiliki insting seperti itu?”


“Tentu saja. Ini bukan hal rumit baginya.”


Keduanya berbicara sebentar sebelum akhirnya fokus lagi pada Tuan Yin. Namun sayangnya, Tuan Yin tidak berniat untuk melawan mereka dan melarikan diri—berniat untuk keluar pagar.


Ekspresi Tuan Chen dan Chen Sisi segera berubah. Keduanya mengejar Tuan Yin untuk menghentikannya.


“Ini buruk!”


Tuan Yin yang bergerak lebih cepat sudah melompat ke atas pagar dan menghilang tanpa menoleh ke belakang. Chen Sisi juga melompat untuk melihat ke arah mana Tuan Yin pergi.


“Xiaobai, bisakah kamu mengetahui ke arah mana dia pergi?”