Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Midnight Terror (4)


Baiyue berdiri di samping Chen Sisi, Matanya memperhatikan sekitar. Aura mayat hidup Tuan Yin terus berpindah-pindah dengan cepat. Sulit baginya untuk memastikan arah pastinya.


Kemungkinan terburuk dari masalah ini, ibu kota akan dilanda wabah besok dan orang-orang istana pasti akan panik. Mungkinkah sudah tepat bagi Chen Sisi membuat makanan obat penawar dalam jumlah besar?


“Tuan, apapun yang terjadi, Ingatlah untuk tetap tenang. Malam ini, banyak orang yang tidak akan bisa tidur nyenyak.”


Memang tak lama setelah Tuan Yin menghilang di kegelapan, teriakan seseorang terdengar menggema di kejauhan. Lalu diikuti oleh teriakan serta jeritan ketakutan lainnya.


Chen Sisi kembali ke sisi ayahnya yang sudah berwajah pucat. Mungkin karena syok dengan kejadian malam ini.


“Ayah, kita harus membakar rumah ini. Tak ada satu pun di antara penghuni rumah di kediaman Yin yang selamat.”


Chen Sisi mengambil keputusan seperti yang diarahkan Baiyue. Memikirkan apa yang terjadi, Tuan Chen setuju untuk membakar rumah. Tapi nanti dia harus melapor pada Kaisar Tian atas kejadian ini.


“Kalau begitu, Ayah pergi saja ke istana dan melapor pada Yang Mulia. Aku sendiri akan mengurus sisanya di sini. Jangan khawatir, mereka tak akan bisa menyakitiku.”


“Kalau begitu … berhati-hatilah.” Tuan Chen tidak lagi keras kepala untuk menemaninya di sini. Masalah ini semakin serius sekarang.


Sebelum Tuan Chen pergi, Chen Sisi mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru muda.


“Ayah, minumlah ini lebih dulu agar aroma darah di tubuhmu tak akan bisa dikenali oleh mayat hidup.”


Chen Sisi sudah menduga jika mayat hidup pasti sudah menyebar di jalan-jalan dan pasukan istana kekaisaran bergerak untuk mengamankan sisanya.


Perjalanan menuju istana kekaisaran tidak memakan waktu sedikit sehingga Tuan Chen harus berkuda agar lebih cepat.


Setelah Tuan Chen pergi, Chen Sisi juga sibuk dengan urusannya sendiri. Dia menangani sisanya—membakar seluruh bangunan kediaman keluarga Yin.


Sebelumnya, dia sudah memastikan tidak ada orang yang selamat sebagai manusia di dalamnya.


"Xiaobai, aku merasakan firasat buruk saat ini," ucapnya.


"Firasat buruk? Semuanya berjalan sesuai rencana." Kucing putih Persia itu tidak terlalu memikirkan kegelisahan tuannya.


Meski begitu, Baiyue tahu bahwa Chen Sisi terlihat seperti orang yang sedang tidak enak badan.


Chen Sisi menyentuh dadanya, perasaan itu semakin kuat namun tidak tahu apa yang akan terjadi.


"Entahlah, tapi yang pasti, aku merasa tidak nyaman."


"Kalau begitu mari kita selesaikan masalah di sini dan kembali. Aku yakin besok akan menjadi hari paling buruk untuk negeri ini. Kamu harus menyiapkan banyak hal untuk mengobati banyak orang."


Baiyue hanya bisa mengalihkan perhatian Chen Sisi ke hal-hal lain agar tidak terlalu kepikiran. Gadis itu juga mengangguk. Mungkin dia terlalu takut menghadapi hari di mana negara Tiankong mengalami bencana.


Sepanjang perjalanan, keduanya mengobrol dengan suara pelan.


"Zhen Zhu jelas bukan orang dari masa ini, sama sepertiku. Tapi sepertinya dia berasal dari zaman yang lebih maju?" Chen Sisi memiliki tebakan liar.


Salahkan dirinya karena jarang membaca cerita tentang apokaliptik. Dia tidak banyak tahu tentang menangani masalah mayat hidup.


Baiyue juga sebenarnya terkejut. Di kehidupan sebelumnya, dia hanya tahu bahwa penyebaran wabah mayat hidup bukan berasal dari zaman ini. Seseorang sengaja mengubah sejarah.


Meski di kehidupan kali ini, Chen Sisi dan Tianlong Heyu hampir mengubah sejarah yang sebelumnya rusak, Baiyue masih ragu akan satu hal.


Bisakah semuanya berjalan dengan baik dan mereka memiliki akhir yang bahagia?


Jika tidak ada cara lain untuk mengatasi akar dari wabah mayat hidup ini, Baiyue hanya bisa menggunakan cara terakhir sebagai pengorbanan ....


Bagaimana pun juga, baik Chen Sisi dan Tianlong Heyu adalah orang yang bereinkarnasi.


Chen Sisi sepertinya samar-samar mendengar Baiyue mengatakan sesuatu. Dia menatapnya dengan bingung.


"Apa yang baru saja kamu katakan?"


Baiyue kembali tersadar dan mengeong pelan. "Bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan ikan apa yang akan kumakan besok."


"..." Apakah kamu hanya memikirkan ikan? Pikir gadis itu.


Melihat seluruh bangunan keluarga Yin yang terbakar hebat, Chen Sisi memutuskan untuk kembali lebih dulu.


Tidak mudah untuk menemukan Tuan Yin yang telah menjadi mayat hidup. Mungkin saja Zhen Zhu sengaja mengendalikan Tuan Yin untuk membuatnya lengah.


Fakta bahwa Zhen Zhu tahu tentang kekebalan Chen Sisi terhadap wabah tersebut, pasti membuatnya berpikir dua kali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Benar saja, setelah Kaisar Tian menerima laporan tentang wabah mayat hidup menyebar di ibu kota, ia hampir pingsan.


Jika bukan kasim kepercayaan ada di sampingnya, mungkin sudah jatuh terduduk di lantai.


"Apa yang kukhawatirkan akhirnya telah tiba. Aku tahu, cepat atau lambat, semua ini pasti akan terjadi," ucapnya pelan, masih tertegun.


Kasim kepercayaan di sampingnya menjadi khawatir. "Yang Mulia, mohon tenanglah. Kesehatan Yang Mulia itu penting," katanya sopan.


Kaisar Tian duduk kembali di tempatnya semula meski wajahnya masih sedikit pucat.


Tuan Chen yang melaporkan masalah tersebut, lebih berhati-hati saat mengatakan semuanya.


"Yang Mulia, karena Tuan Yin telah berkeliaran setelah terkena wabah itu, orang-orang di ibu kota mungkin ..." Dia tak bisa mengatakannya lebih jauh.


Kaisar Tian menutup matanya sejenak dan menghela napas lelah. "Putrimu telah belajar memasak makanan obat-obatan yang bisa melawan benih-benih mayat hidup pada tubuh seseorang. Mari kita gunakan cara ini lebih dulu."


"Putriku— dia membuat obat itu?" Tuan Chen terkejut.


"Benar. Dia berkata bahwa ini untuk berjaga-jaga jika masalah ini semakin besar. Dan sepertinya aku harus meminta putrimu untuk membantu masalah ini sampai yang kedelapan (Tianlong Heyu) kembali," jelasnya.


Tuan Chen yang masih terkejut hanya bisa mengangguk pelan. Dia memang tahu Chen Sisi sedang membuat makanan obat. Tapi dia tidak pernah berpikir bahwa masakannya akan digunakan untuk melawan orang yang terkena wabah tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidak seperti biasanya, ketika pagi tiba, suasana di ibu kota tidak setenang atau seceria biasanya. Ada banyak kekhawatiran di mana-mana.


Orang-orang yang masih selamat, tidak berani keluar rumah atau menginjak halaman. Mereka masih dilanda mimpi buruk tentang apa yang terjadi tengah malam tadi.


Chen Sisi sendiri sudah bersiap pergi ke restorannya untuk membuat obat.


Nyonya Chen khawatir dia akan mengalami masalah di perjalanan, hingga akhirnya menangis di pelukan Tuan Chen.


"Bu, aku hanya pergi ke restoran untuk membuat obat. Bukan pergi ke medan perang," katanya agak tidak berdaya.


Nyonya Chen meraih tangannya, menggenggamnya dengan erat. "Nak, kita baru saja bertemu tak lama. Tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana jika tiba-tiba ... Jika tiba-tiba kamu menjadi —"


Apa yang akan dikatakannya segera dipotong oleh Tuan Chen. "Tidak mungkin. Dia kebal terhadap ini. Jangan khawatir, aku juga berpatroli di sekitar ibu kota. Kamu tetaplah di rumah dengan tenang. Apakah kamu sudah minum obat yang diberikan Si'er?" tanyanya.


Nyonya Chen mengangguk. "Tentu saja. Bagaimana mungkin aku tidak meminumnya. Bahkan jika itu racun, aku rela meminumnya untuk putriku."


"..." Agak berlebihan, batin Tuan Chen dan Chen Sisi.