
Beberapa hari kemudian, jumlah orang yang meminta makanan obat semakin berkurang. Ini membuat Chen Sisi sedikit lebih santai. Lagi pula bukan hal mudah untuk membuat semua makanan obat.
"Pundakku rasanya pegal sekali. Xiaosi, mungkinkah aku juga butuh sup tonik?" Chen Yelang akhirnya berbaring lelah di kursi panjang. Rambutnya sedikit acak-acakan.
Chen Sisi tersenyum datar. "Oh, bukan hanya butuh sup tonik, kakak juga butuh olahraga lagi. Lihatlah, otot perutmu mungkin sudah hilang gara-gara membantuku sepanjang tahun," jelasnya.
"Tidak mungkin!"
Chen Yelang sangat khawatir otot perut dan lengannya akan hilang. Dia tidak ingin menjadi pria berwajah putih kecil (pria cantik dan muda).
Tanpa sadar, Chen Yelang jatuh ke dalam jebakan Chen Sisi. Dia langsung terkejut dan kesal.
"Adikku, kamu sangat nakal." Chen Yelang tak berani memarahinya. Ia hanya sedikit tersipu.
Chen Sisi tertawa sebentar sebelum akhirnya berkemas untuk pulang.
"Kamu sudah mau pulang?"
"Ya, aku akan mandi dan istirahat sebentar. Tubuhku agak kurang nyaman," jelasnya.
"Benar, istirahatlah yang cukup. Serahkan di sini padaku."
Chen Yelang selalu merasa tidak nyaman karena ia sempat bertengkar dengannya tahun itu—di mana Kakek Yi mengorbankan diri untuknya. Ia bisa memahami perasaan adiknya. Kehilangan seseorang yang telah merawatnya sejak kecil, pasti ada sesuatu yang hilang di hatinya.
Namun, seberapa besar penyesalan yang dimiliki, Chen Yelang tak tahu harus membalasnya dengan cara apa. Ia hanya bisa melakukan semuanya sebisa mungkin. Membantu adiknya agar tidak terlalu lelah.
Setelah Tianlong Heyu menghilang dan Kakek Yi meninggal dunia, Chen Sisi sempat sakit cukup lama. Ayah dan ibu sangat khawatir saat itu.
Di saat Chen Sisi sedang berkemas dan bersiap naik kereta kudanya, seorang penjaga gelap datang untuk memberi tahu sesuatu. Penjaga gelap itu berbicara dengan suara pelan.
"Putri Chen ..." Penjaga gelap berbisik padanya.
Setalah mendengar informasi itu, Chen Sisi terkejut hingga jantungnya berdekat kencang.
"Apakah kamu yakin itu dia?" tanyanya takut hanya informasi palsu.
"Benar, itu memang pangeran. Dia sedang dalam perjalanan kembali. Tapi kali ini pangeran kembali diam-diam dan tidak ada orang lain yang tahu, bahkan kaisar sekali pun. Tapi ..." Penjaga gelap itu sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Tapi apa?"
Penjaga gelap masih terdiam, berpikir bahwa lebih baik untuk tidak mengatakannya.
"Tapi apa? Katakan!" Chen Sisi mendesaknya.
"Pangeran ... Dia ... Membawa beberapa wanita yang diselamatkan di perjalanan sebagai selirnya."
"Apa?!!"
Chen Sisi tertegun, seperti seember air es jatuh di atas kepalanya. Ia sudah menunggu pria itu kembali, berharap baik-baik saja dan pulang dengan selamat.
Namun Chen Sisi tidak pernah membayangkan jika Tianlong Heyu—yang dikabarkan hilang sebelumnya, akan kembali membawa beberapa selir. Semuanya adalah wanita yang diselamatkan di perjalanan?
Apakah semua ini lelucon?
Menyelamatkan mereka, apakah harus menjadi selirnya juga?
Bukankah pria itu berjanji tidak akan memiliki selir?
Chen Sisi menggertakkan gigi. Baiyue yang melihat wanita itu hendak marah, ia langsung menenangkannya.
"Sabarlah dulu! Pergi dan temui dia untuk meminta penjelasan."
Baiyue juga tidak menduga bahwa Tianlong Heyu akan kembali dengan beberapa wanita muda!
Apakah karena memiliki ingatan kehidupan sebelumnya, nafsu yang tak terpenuhi akhirnya dilampiaskan di kehidupan ini?
Jangan bercanda!
Dirinya, Baiyue—seekor kucing spiritual, pasti akan menendangnya dari ketinggian.
Mengkhianati tuannya adalah kesialan bagi pria itu! Tunggu saja!
Chen Sisi menahan emosinya, masih merasa tidak percaya semua ini benar.
Penjaga gelap itu menyeka keringat dinginnya. Sudah lima tahun berlalu, tapi aura wanita itu semakin menakutkan dari waktu ke waktu.
Lagi pula, kenapa pangeran harus membawa banyak wanita ke ibu kota. Bahkan jika ingin membesarkan selir, tidak bisakah membesarkannya di luar tanpa sepengetahuan Chen Sisi?
Jika Chen Sisi tahu apa yang dipikirkan penjaga gelap itu, mungkin akan langsung mengeksekusinya di tempat.
Sangat berani!
Karena Chen Sisi tampak sangat marah saat ini, penjaga gelap itu tidak ingin berdebat dengannya. Setelah memberi tahu tentang keberadaan Tianlong Heyu, wanita itu pergi menunggangi kudanya sendiri.
Baiyue mengikutinya tanpa ragu, meninggalkan penjaga gelap yang masih belum bereaksi.
Untungnya Chen Yelang sedang sibuk mengurus makanan obat yang tersisa. Ia tidak tahu jika wanita tidak langsung pulang ke rumah tapi pergi ke luar ibu kota.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Chen Sisi menunggangi kuda dan pergi ke arah yang dikatakan oleh penjaga gelap.
Sementara itu di jalanan sebelum memasuki perbatasan kota, beberapa kereta kuda bergerak santai di jalannya.
Mendengar suara ringkikan kuda yang berulang, para pengawal kebingungan. Mungkinkah seseorang datang untuk menjemput mereka?
"Pangeran ..." Salah satu pengawal melapor pada Tianlong Heyu.
"Ada apa?"
Pria yang ada di dalam kereta paling depan tampak duduk dan menopang kepala ke dinding kereta. Matanya terpejam seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
Walaupun sudah lima tahun berlalu, ia masih terlihat seperti sebelumnya. Tapi kali ini lebih dewasa lagi.
"Seseorang datang ke sini dan mencari Yang Mulia."
"Siapa?" Dia tampak malas.
"Seorang wanita muda."
"Wanita muda?"
Tianlong Heyu membuka mata dan tanpa sadar mengingat seseorang di benaknya. Jantungnya sedikit berdetak kencang. Namun di sisi lain, ia mengingat sesuatu yang membuat ekspresinya sedikit mengeras.
Ia mengepalkan kedua tangannya, berusaha untuk menenangkan diri.
"Aku mengerti. Aku akan menemuinya sendiri."
Tianlong Heyu tidak ingin para pengawal itu memikirkan hal lain. Mereka semua tidak mengenal wanita muda tersebut jadi ia tak perlu repot menjelaskannya.
Ia meminta kusir menghentikan kereta. Dengan begitu, kereta-kereta lain di belakang ikut berhenti. Tapi tak ada satu pun dari orang-orang di dalam semua kereta keluar untuk bertanya.
Cukup aneh.
Memang tak lama, suara ringkikan kuda semakin jelas. Dan akhirnya berhenti tak jauh di depan mereka.
Tianlong Heyu membuka topeng yang selama lima tahun terakhir ini telah menutupi wajahnya. Ia keluar kereta dan melihat sosok wanita muda menunggangi seekor kuda putih.
Wanita itu memakai gaun putih bersih yang terlihat elegan. Rambut hitam panjang melebihi pinggang, terurai seperti helaian benang sutra yang berkilau.
Wajahnya yang dulu kekanak-kanakan kini hilang dan tergantikan dengan kedewasaan. Sosoknya telah banyak menonjol di beberapa tempat.
Baik Chen Sisi dan Tianlong Heyu saling bertatapan untuk waktu yang lama. Namun tak ada satu pun dari mereka yang menyapa untuk melepaskan kerinduan.
"Si'er ..." panggil Tianlong Heyu mengambil inisiatif.
Melihat ekspresinya, ia harusnya menduga bahwa Chen Sisi tahu sesuatu. Tubuhnya sedikit tidak nyaman..
Adapun Chen Sisi, setelah melihat pria itu, hanya ingin memastikan satu hal. Apakah benar Tianlong Heyu membawa beberapa wanita sebagai selirnya.
Chen Sisi turun dari kudanya dan berjalan ke arah Tianlong Heyu. Walaupun Tianlong Heyu ingin memeluk dan menciumnya setelah sekian lama berpisah, ia masih menahan diri.
Ada sesuatu yang membuatnya harus menahan diri untuk mendekati Chen Sisi.