
Setelah mengalami waktu musim dingin ekstrem yang panjang, kelembapan di udara semakin menghangat. Salju sedikit demi sedikit mulai mencair. Selama menunggu musim semi, Tianlong Heyu tidak tinggal diam.
Pria itu membawa pasukannya menelusuri sekitar hutan terdalam dan beberapa.temoat yang tidak terjamah lainnya. Setiap kali menemukan binatang buas yang terinfeksi wabah mayat hidup, mereka membersihkannya dengan rapi.
Dengan begitu selama musim semi, tidak ada bahaya yang akan mengancam manusia atau hewan sehat lainnya.
Tianlong Heyu dan Chen Yelang datang bersama ke rumah Kakek Yi. Keduanya menunggang kuda dan ada satu kereta kuda barang di belakang. Beberapa pengawal juga dikerahkan untuk mengantarkan mereka ke ibu kota dengan selamat.
"Kakek, apakah kamu tidak akan pergi dengan Si'er ke sana?" tanya Chen Sisi ketika bersiap untuk pergi.
Kakek Yi menggelengkan kepala. "Tidak, Kakek masih sibuk di sini. Lagi pula, tak ada yang bisa aku lakukan di sana selain bermalas-malasan. Jangan khawatir, kakak laki-laki mu, Yu'er akan menjagamu selama di ibu kota. Kirim surat ke Kakek jika ada sesuatu yang mendesak," jelasnya penuh kesabaran.
Yu'er yang dimaksud tak lain adalah Tianlong Heyu. Chen Sisi masih enggan memanggilnya kakak laki-laki di masa depan. Namun pria tua itu telah membiarkannya terbiasa memanggil Tianlong Heyu dengan sebutan 'kakak laki-laki'.
Selama di ibu kota, status Chen Sisi adalah cucu perempuan Tianlong Ruyi. Tidak mungkin membiarkannya ditindas begitu saja. Belum lagi, Kakek Yi juga sudah mengirim surat pada kaisar tentang keberadaan Chen Sisi.
Kakek Yi memandang Tianlong Heyu yang sudah menunggu di halaman. "Ingat, jangan menindas cucuku. Si'er akan mencapai usia pernikahan dalam satu tahun lagi. Kamu tahu apa maksudku. Ayahmu mungkin akan merekomendasikan seseorang yang cocok untuk Si'er di masa depan." jelasnya.
"... Ya," kata Tianlong Heyu.
Chen Yelang ingin mengajukan diri sebagai pelamar tapi ditatap oleh Tianlong Heyu. Tatapan itu sangat mengancam dan dingin sehingga ia tidak berani mengatakan apa-apa.
Adapun Chen Sisi, dia sedikit malu. "Kakek!"
"Baiklah, baiklah, Kakek tidak akan menggodamu lagi. Kakek hanya berpikir pria seperti apa yang beruntung untuk menikahi cucu perempuan ku yang pandai segala hal. Terlalu murah bagi yang terpilih di masa depan."
Chen Sisi sama sekali tidak memikirkan pria seperti apa yang harus menjadi pendamping hidupnya di masa depan. Di zaman kuno ini, kebanyakan dari mereka suka memiliki selir. Bagi mereka, istri pertama yang melarang suaminya memiliki selir akan dianggap egois dan tak masuk akal.
Setelah berpamitan dengan pria tua itu, Chen Sisi pergi dengan rombongan Tianlong Heyu. Dia duduk di dalam kereta yang disiapkan oleh kakeknya. Dan salah satu penjaga gelap Tianlong Heyu menjadi kusirnya.
Ini pertama kalinya Chen Sisi pergi jauh dari rumah. Ada sedikit rasa gugup bercampur penasaran. Ia juga menyiapkan hadiah dan barang titipan Kakek Yi untuk kaisar setibanya di istana nanti.
Perjalanan ini akan memakan waktu yang cukup lama. Namun di bawah komando Tianlong Heyu, setidaknya bandit gunung tidakan berani merampok mereka atau menghalangi jalan.
Chen Sisi melihat pemandangan dari jendela bergorden kereta kuda. Semuanya hanyalah pemandangan pepohonan dan rumput.
"Nona Chen, perjalanan ke ibu kota akan memakan waktu seminggu." Chen Yelang memberi tahunya.
"Sangat lama?" Chen Sisi masih terkejut dengan hal tersebut.
Di zaman ini, tak ada alat transportasi cepat seperti mobil, kereta atau pesawat. Satu-satunya alat transportasi yang lebih cepat tentunya kereta kuda.
"Wajar saja, negara ini sangat luas dan besar." Chen Yelang bercanda dengannya.
"Lalu ... di mana kita akan tidur di malam hari?"
Pada malam hari, cuaca pasti lebih dingin. Jika tidak menemukan tempat penginapan, bermalam di kereta kuda memang pilihan terbaik.
Beberapa hari kemudian, suhu di udara semakin menghangat dan lebih banyak salju yang mencair. Beberapa pohon musim gugur yang gundul mulai bertunas kembali. Kemungkinan besar pada musim panas nanti, pemandangannya akan menjadi lebih indah.
Berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, pemandangan di sekitar mereka mulai didominasi oleh perumahan, perkebunan dan sawah. Jalan tanah berumput pendek yang mereka lalui cukup untuk dua kerata kuda berjalan sejajar.
"Kita sudah mulai dekat dengan perbatasan kota. Dalam dua hari, kemungkinan kita tiba di ibu kota. Nona Chen, apakah kamu lelah?" tanya Chen Yelang.
Chen Sisi keluar dari kereta kuda dan menggelengkan kepala. "Aku hanya duduk di kereta, cukup membosankan. Apakah kita akan menginap lagi?" tanyanya.
Tianlong Heyu mengangguk. "Hari terlalu sore. Kita akan melanjutkan perjalanan besok pagi sebelum matahari terbit. Kebetulan ini adalah kota kecil dengan banyak penginapan asing. Kita akan bermalam di sini."
Di depan mereka saat ini adalah sebuah penginapan dua tingkat. Bangunannya tidak terlalu baru atau tua. Dan tampaknya cukup sepi pengunjung.
Penjaga penginapan yang bertugas melihat tiga orang datang, matanya berbinar. Terutama saat melihat Chen Sisi yang cantik, ia memiliki pikirannya sendiri.
"Selamat datang, tiga tamu. Apakah ingin memesan kamar?" tanya penjaga penginapan bernama Wu Chang.
Wu Chang tidak mengetahui identitas ketiganya dan jarang melihat dunia. Melihat jika ketiganya memiliki wajah luar biasa, ia menjadi lebih bersemangat. Dilihat dari pakaian mereka, tampaknya keluarga bangsawan dari kota besar.
Chen Yelang yang maju untuk mengurus semuanya. "Beri kami tiga kamar dan makanan penuh hingga besok pagi," jawabnya seraya menyerahkan uang dalam tas kain yang diikat pria itu di pinggangnya.
Wu Chang memeriksa kantong uang yang besar itu dan menemukan beberapa tael emas di dalamnya. Ini cukup untuk menyewa seluruh kamar penginapan selama seminggu. Dan pria di depannya itu memberikan uang seperti membuang makanan, sangat kaya.
"Baik, baik, tidak masalah."
Wu Chang segera memanggil anak buahnya untuk mengantat mereka ke tiga kamar terbaik di penginapan. Dia juga meminta koki di dapur untuk memberikan makan malam dan makan pagi yang mewah nanti.
Pada malam harinya.
Chen Sisi, Chen Yelang dan Tianlong Heyu makan di ruangan yang sama. Koki memasak berbagai jenis hidangan ikan, daging ayam dan daging sapi. Sup kacang hijau penuh dengan aroma jahe merah serta sebotol anggur menjadi pelengkap.
Ketika Chen Sisi menyipinya, rasanya tidak buruk. Meski baginya masih banyak bumbu yang kurang. Namun di zaman ini, tidak banyak yang tahu tentang rempah-rempah. Sebagian dari rempah-rempah itu juga dikirim dari luar negara.
Tapi tiba-tiba saja Baiyue yang duduk di samping Chen Sisi memberi tahunya.
"Tuan, semua makanan ini telah dibius oleh obat tidur. Ini obat tidur tak berwarna dan berbau dengan kualitas yang tidak buruk."
Gerakan sumpit Chen Sisi saat makan langsung terhenti seketika. Dia langsung berwajah hitam dan marah pada kucing itu.
"Lalu kenapa kamu tidak memberi tahuku sejak awal? Kenapa baru bicara saat kami makan?" tanyanya dalam hati.
"... Aku berpikir kalian tidak akan pingsan. Paling tidak, hanya lemas. Tubuhmu juga tidak biasa. Tianlong Heyu jelas tidak masalah dengan obat sejenis ini, tapi ... Pria bernama Chen Yelang itu meragukan," jelas Baiyue sedikit bersalah.