
Tentu saja pernah. Waktu itu pada perburuan musim panas tahun lalu, Tianlong Heyu tidak kembali. Tapi dia dan sepupunya mengikuti perburuan musim panas. Tak ada yang bisa dimakan selain daging hewan buruan serta rumput yang tak dikenal.
Keduanya berpikir jika itu adalah sayuran. Tapi mungkin bukan. Setelah makan rumput yang dikira sayuran, keduanya sakit perut.
Pengalaman buruk itu, mereka tidak ingin mengalaminya lagi.
Mo Huazhu juga mengingatnya tapi pura-pura tidak tahu.
"Apakah ini sudah matang?" tanya Chen Yelang seraya menunjuk sate yang penuh aroma kecap.
"Matang. Angkat semua dan mati makan. Jangan lupa putar ruas bambu itu agar tidak gosong sebelah." Chen Sisi mengingatkan.
Mereka hanya bisa makan di alas daun pisang. Awalnya Chen Sisi ragu dengan kebersihan Tianlong Sina dan Tianlong Yuzhao. Tapi keduanya bahkan tak merasa jijik sama sekali.
Nasi liwet dan lauk pauk nya dibagi merata agar tidak rebutan. Tianlong Sina mulai menyumpit tumis pakis yang dicampur dengan nasi liwet. Kemudian matanya berbinar.
"Enak! Aku tidak tahu jika ada makanan seenak ini. Jika pakis dijual di restoran, pasti laku keras. Si'er, kamu harus menjualnya di masa depan. Aku akan datang setiap hari untuk membuang uang di restoran mu!"
Yang lain juga mengangguk. Tanpa diduga, Mo Huazhu, Chen Yelang dan Tianlong Yuzhao makan lebih lahap daripada gadis itu. Ketiganya seperti orang kelaparan.
Satenya juga enak, empuk dan gurih. Ada cita rasa manis pedas dan asam. Semuanya bercampur jadi satu. Dimakan dengan nasi liwet lebih enak. Tumis pakis juga enak!
Hanya Tianlong Heyu yang makan santai seperti biasanya. Malam ini waktunya istirahat. Mereka tak memiliki kegiatan apapun. Jadi Tianlong Heyu tetap menjaga etika makannya.
Nasi liwet memang tidak banyak karena Chen Sisi hanya memasaknya di panci, apa adanya. Jadi meski mereka masih lapar, masih ada daging bambu bakar yang kini mengeluarkan aroma harum.
Dalam sekejap, tumis pakis, sate dan nasi liwet habis.
"Saudara Kedelapan lebih beruntung karena Si'er tinggal satu atap. Kenapa Si'er tidak tinggal di istanaku saja? Ada banyak halaman yang bis ditempati."
Sebelum Chen Sisi mengatakan sesuatu, Tianlong Heyu menolak. "Tidak! Jangan bermimpi."
"Aku meminta pendapat pada Si'er, bukan Saudara Kedelapan!"
"Dia tidak akan menyetujuinya." Tianlong Heyu yakin.
Tianlong Sina tidak lagi berdebat. Dia tahu ini hanya dengan melihat ekspresi Chen Sisi. Kalau begitu, dia akan datang ke istana saudara kedelapan nya untuk makan masakan Si'er!
"Sepertinya sudah matang. Ayo angkat bambunya dan keluarkan isinya." Chen Sisi melihat jika waktunya sudah pas. Jika terlalu lama, bambu akan terlalu gosong dan makanan di dalamnya tidak terlalu enak.
Chen Yelang mengambil semua bambu bakar dan mengeluarkan isinya di atas daun pisang. Aroma daging dan jamur bercampur menjadi satu.
"Ini sangat harum! Aku lapar lagi!" Tianlong Sina tidak sabar untuk mengambil sumpit.
Total ada tiga ruas bambu yang dibakar. Masing-masing isinya penuh sehingga cukup untuk mereka makan. Rasanya tidak terlalu asin jadi tak butuh nasi untuk memakannya.
Tianlong Yuzhao sepertinya memikirkan sesuatu. "Nona Chen mampu memasak begitu enak. Jika aku memiliki istri seperti ini, tak perlu meminta koki untuk memasak. Tak perlu memiliki selir apapun. Cukup satu tapi berkualitas!" Dia tidak bercanda.
Masakan Chen Sisi memang enak. Berbeda dari makanan yang pernah dia coba selama ini. Kebanyakan memang masakan yang ringan tanpa cita rasa yang kuat. Belum lagi, gula sangat mahal sehingga restoran yang memakai gula saat memasak tidak terlalu banyak.
Mo Huazhu juga tertawa. "Tentu saja. Aku juga sama. Kebetulan Nona Chen sedang mencari calon suami. Sayangnya kamu tidak tinggal di tentara, ck!" Dia berdecak di akhir.
"Ketika restoran dibuka, pasti banyak para pemuda yang akan tertarik ada Nona Chen," kata Chen Yelang. Ia memandang Chen Sisi sedikit berarti.
Ini adik perempuannya. Bisakah dia tidak khawatir?
Chen Sisi terkejut mendengar keduanya memuji dia sampai lupa daratan dan lautan. Sudut mulutnya berkedut.
Setelah makan makanan berat, mereka mulai makan buah sebagai pencuci mulut.
Baiyue yang ada di dalam ruang gelang giok putih pun berkata pada Chen Sisi.
"Ada sesuatu di hutan ini, berhati-hatilah," katanya.
Chen Sisi sedikit terdiam. "Ada apa?" tanyanya dalam hati.
"Ini sekelompok ular zombie yang bersembunyi. Mengetahui ada manusia yang datang, mereka mulai berkeliaran untuk memangsa."
"Ular zombie?" Chen Sisi terkejut.
Makan ular juga enak, sayangnya menjadi zombie, pikirnya.
Ular hidup di tanah, pohon atau bebatuan. Mereka pandai bersembunyi. Bahkan kadang warna tubuh mereka sama dengan batu, dahan atau daun. Sulit untuk menemukannya jika tidak jeli.
Sekarang ular zombie yang bersembunyi keluar mencari mangsa baru.
"Kenapa ular-ular itu ada di sini? Bukankah mudah bagi mereka menyerang orang-orang di Istana Kekaisaran?" tanya Chen Sisi lagi.
"Aku tidak tahu. Bukankah mereka dikendalikan oleh ratu atau raja zombie? Mungkin mereka punya rencana tentang ini."
Bisa dikatakan, negara Tiankong ini lebih beruntung dibandingkan dengan negara lainnya. Tapi tidak tahu kenapa, semua hewan zombie di sini jarang menargetkan manusia. Kecuali jika manusia itu datang sendiri ke wilayah mereka.
Setidaknya berbeda dengan apa yang terjadi di luar perbatasan negara. Para binatang atau manusia yang terinfeksi wabah mayat hidup ini sangat luar dan suka mencari mangsa tanpa henti.
Bahkan ingin menerobos masuk.
"Apakah ada di dekat sini?" tanyanya lagi.
Baiyue di dalam ruang gelang giok putih menggelengkan kepala. Tubuhnya melayang di udara tanpa kesulitan.
"Tidak, jauh dari sini. Tapi berhati-hati saja. Malam ini mungkin tidak akan damai."
Memang tak lama setelah Chen Sisi berbicara dengan Baiyue di pikirannya, suara menjerit seorang wanita terdengar di kejauhan. Burung-burung yang hinggap di atas pohon sepertinya terganggu dan terbang menjauh.
Suasana yang awalnya santai dan tenang kini tegang.
"Siapa yang berteriak? Apa yang terjadi?" Tianlong Yuzhao seketika berdiri dan menoleh arah sumber suara yang jauh.
Tianlong Sina sedikit tertegun dan akhirnya tak bisa menahan diri untuk menggigil. "Ini ... Ini seperti suara putri perdana menteri keuangan yang disayang oleh pangeran keenam," katanya.
"Putri perdana menteri keuangan?" Chen Sisi penasaran.
"Ya, putri perdana menteri keuangan adalah selir saudara keenam. Dia juga selir kesayangannya. Dalam perburuan musim semi kali ini, saudara keenam membawanya berburu."
Pangeran Keenam? Bukankah itu putra mahkota? Pikir Chen Sisi.
Terdengar suara Baiyue lagi di pikirannya. "Sepertinya wanita itu yang digigit ular zombie."
Oh? Bukankah dengan begitu, keselamatan putra mahkota tidak terjamin?
Mo Huazhu mendengkus. "Pria itu tak bisa hidup tanpa wanita selama sehari. Ia bisa meniduri wanita di mana pun, bahkan di alam liar sekalipun. Ia membawa selirnya kali ini, mungkin untuk memenuhi hasrat tubuh bawahnya yang tak terkontrol."