Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Do You Like Her?


Setelah mengobrol selama setengah hari, ternyata waktu sudah siang. Tidak heran perut mereka mulai protes.


Ratu Mo mengajak mereka untuk makan bersama. Koki di istana sudah menyiapkan berbagai makanan.


Chen Sisi berniat untuk memasak lain waktu agar Ratu Mo bisa mencicipi masakannya sendiri.


Hidangan di istana tidak buruk. Setidaknya mungkin yang terbaik daripada di tempat lain. Tapi menurut Chen Sisi yang terbiasa dengan makanan banyak bumbu, rasanya masih agak sedikit hambar. Apa lagi dia suka makanan pedas.


Hanya ayam goreng yang disajikan tak kalah enaknya seperti ayam goreng zaman modern. Jadi Chen Sisi makan lebih banyak.


Ratu Mo tidak menerapkan adat makan istana yang berlebihan. Semuanya sopan dan sopan. Melihat kucing putih Persia itu makan, nafsu makan Ratu Mo juga meningkat.


Sayangnya setelah makan siang, Tianlong Heyu mengajaknya pulang. Tidak terlambat untuk datang lagi di masa depan.


"Si'er, pada acara jamuan musim semi, datanglah ke istana dan temui aku. Biarkan aku mengenalkan mu pada Nana, nanti," ucap Ratu Mo penuh kasih.


Nana adalah panggilan untuk Tianlong Sina. Gadis itu tidak ada di istana hari ini dan entah pergi ke mana dengan pamannya. Sayang sekali tidak berkenalan dengan Chen Sisi.


Menurut Ratu Mo, Chen Sisi adalah gadis yang baik. Tidak menyanjung seperti kebanyakan gadis di kamar kerja lainnya, lebih jujur dan apa adanya.


Jika Tianlong Sina bisa berteman dengan gadis seperti ini, Ratu Mo tidak akan khawatir putrinya dimanfaatkan.


"Jangan khawatir, akan ada kesempatan di masa depan. Lain kali, aku akan membawakan masakan yang kubuat untuk dicicipi. Jika rasanya enak, aku berniat membuka restoran," jelas Chen Sisi.


Ratu Mo tertawa senang. "Baik, baik. Aku dan Yang Mulia sangat iri pada ayah kaisar karena selalu menikmati makanan Si'er selama ini."


Setiap kali Kakek Yi mengirim surat ke istana selama musim dingin terakhir, semuanya bercerita tentang betapa enaknya makanan cucu perempuannya. Ini lebih enak daripada makanan di istana.


Karena itulah saat Chen Sisi dibawa ke ibu kota oleh Tianlong Heyu, Ratu Mo dan Kaisar Tian senang.


He he ... Selama di ibu kota, biarkan mereka mencicipi masakan gadis itu juga. Mereka ingin tahu seberapa enaknya masakan Chen Sisi hingga Kakek Yi pamer begitu banyak.


Mo Huazhu ditahan oleh Ratu Mo sehingga tidak mengikuti Chen Sisi pulang.


Tentu saja Mo Huazhu yang any ditahan oleh bibinya hanya bisa pasrah. Melihat Chen Sisi pergi diantar pelayan ke halaman depan, ia enggan.


"Bibi, kenapa kamu menahan ku? Aku juga akan pulang dan membawa uang dan memberikannya pada nona Chen." Mo Huazhu yang sudah kembali ke gazebo mau tidak mau mengambil salah satu kue kering.


"Jujurlah padaku, apakah kamu suka dengannya?" Ratu Mo tidak basa-basi.


"Suka?" Mo Huazhu terkejut dengan pertanyaan itu. Harusnya tidak, tapi ....


Apakah salah jika menyukainya? Dia belum pernah melihat gadis itu Chen Sisi di ibu kota. Tentu saja kecuali sepupunya yang suka berpakaian seperti seorang pria.


Ratu Mo tidak membiarkannya menjawab lebih dulu. "Jika kamu suka, tidak apa-apa. Tapi dia tampaknya lebih suka seorang tentara yang pemberani. Sialnya, kamu hanya seorang pengusaha."


"..." Mo Huazhu sudah kenyang ditusuk harga dirinya oleh bibinya sendiri.


"Dalam waktu dekat akan ada jamuan makan musim semi di istana. Beberapa talenta muda dan para putri bangsawan akan hadir. Cobalah undang beberapa tentara yang berbakat. Lihatlah, apakah Si'er nanti akan menyukainya."


Mo Huazhu mengangguk, menganggap ini sebagai permintaan kecil bibinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada keesokan harinya, Mo Huazhu datang lagi ke Istana Raja Perang untuk memberikan uang pada Chen Sisi. Taruhannya kemarin tidak diketahui oleh Tianlong Heyu.


Saat Mo Huazhu datang untuk memberikan uang, barulah saat itu dia mengetahuinya.


"Yuyu, aku tidak tahu jika nona Chen sangat berkata menjinakkan hewan. Bahkan Baibai yang telah bersama bibiku bertahun-tahun akan membelainya. Ini sangat tidak adil."


Mo Huazhu mengeluarkan beberapa tiket uang yang senilai dengan lima ribu tael emas.


Ketika Tianlong Heyu melihat jumlahnya, ia sedikit terkejut lalu menaikkan sebelah alisnya. Yang ini kecil baginya. Tapi mungkin besar di tangan Chen Sisi.


"Oh, dia bahkan bisa menangkap beberapa kelinci hidup-hidup tanpa kesulitan. Yelang sendiri hanya bisa menangkap atau ekor dengan kesulitan," ucap Tianlong Heyu tidak berniat menyembunyikannya.


"Begitu hebat? Ini pasti Karan dewa kucing." Mo Huazhu iri. Lalu merendahkan suaranya saat bicara. "Ngomong-ngomong, apakah dia bisa menemukan satu ekor kucing untukku? Aku mungkin beruntung jika memeliharanya."


Sudut mulut Tianlong Heyu berkedut. Tapi dia dengan tegas menolak. "Takhayul tidak dapat percaya. Dia hanya memiliki bau obat di tubuhnya sehingga para hewan jauh lebih nyaman ketika dekat dengannya."


Menurut Tianlong Heyu, Chen Sisi pandai obat-obatan. Memang ada aroma obat herbal dari tubuh gadis itu. Tapi tentu bukan aroma yang aneh, tapi lebih segar dan unik.


Tapi tidak mungkin dia mengatakan hal tersebut pada Mo Huazhu. Karena Tianlong Heyu tahu jika kucing putih yang dipelihara Chen Sisi bisa mengerti bahasa manusia. Bahkan Chen Sisi dan kucing itu tampak bicara satu sama lain.


Tianlong Heyu sangat ingin tahu lebih banyak tentang kucing itu. Namun tidak perlu terburu-buru.


"Benarkah? Ini bukan takhayul! Yuyu, jangan menipuku."


"Aku serius."


"..." Mo Huazhu melihat ekspresi Tianlong Heyu tidak ada yang salah, mau tidak mau menyerah.


Setelah memberikan tiket uang, Mo Huazhu tidak tinggal lama dan pergi untuk menyelesaikan urusannya. Sebelum pergi, dia memberi Tianlong Heyu tentang jamuan makan musim semi nanti.


“Tujuh hari lagi akan ada jamuan makan, jangan lupa untuk datang dan bawa nona Chen. Aku sudah mengundang beberapa talenta muda tentara yang mungkin cocok untuk gadis itu, jangan lupa beri tahu dia untuk bersiap-siap,” jelasnya.


Tidak menunggu Tianlong Heyu menjawab, dia sudah mengambil langkah seribu meninggalkannya sendiri.


Tianlong Heyu hanya mengerutkan kening dan kemudian pergi ke arah di mana Chen Sisi tinggal.


Terlihat ada asap yang mengepul dari halaman belakang. Dia pergi ke halaman belakang setelah bertanya pada pelayan yang bekerja di sana.


Chen Sisi sedang memanggang daging ayam yang gemuk. Sesekali, dia akan mengolesi permukaan daging dengan bumbu sederhana racikannya sendiri yang terbuat dari, kecap asin, kecap manis, merica bubuk, garam, sedikit penyedap rasa dan perasan jeruk limau.


Aromanya sangat menggugah selera padahal Tianlong Heyu baru saja selesai makan siang. Tapi gadis itu mungkin belum makan bukan?


“Kenapa kamu datang ke sini? Oh, omong-omong, apakah Mo Huazhu sudah datang mengantar tiket uang?” Chen Sisi mengipasi arang agar tetap menyala.