Koki Cantik Sang Raja

Koki Cantik Sang Raja
Can Only Be Touched By Her


Chen Sisi sedikit terkejut dan tidak bereaksi untuk sementara waktu. Dia kurang yakin dengan apa yang ditanyakan Tianlong Heyu. Baiyue sendiri menatap Tianlong Heyu. Apakah pria itu baru saja mengerti apa yang dikatakannya pada Chen Sisi.


“Tuan, mungkinkah pria itu bisa mengerti ucapanku? Jelas hanya kamu yang bisa mengerti. Kamu adalah tuanku sendiri. Tapi dia …” Baiyue agak ragu.


“Tapi aku adalah apa?” Tianlong Heyu mengerutkan kening.


Kali ini Baiyue yakin jika Tianlong Heyu bisa mengerti ucapannya. Ia hampir berteriak dan melompat dari tempatnya duduk. Sial. Pria itu benar-benar bisa mengerti ucapannya.


“Tuan, dia benar-benar mengerti! Sepertinya kamu terlalu banyak memberinya mata air spiritual untuk membersihkan racun di lukanya!” Baiyue merasa telah melakukan kesalahan besar saat ini.


Chen Sisi juga sedikit bingung saat ini. melihat Tianlong Heyu dan Baiyue secara bergantian.


“Kamu mengerti apa yang dikatakan Xiaobai?” tanyanya hati-hati.


“Ya. Aku tahu dia mengutukku sekarang.”


Sekarang Tianlong Heyu tahu kenapa Baiyue selalu menatapnya tidak suka. Kucing itu sepertinya selalu mengutuk dan memarahi dia di belakang punggungnya. Hanya karena dia tidak mengerti ucapannya?


Baiyue berteriak kaget sekarang hingga dia pingsan. Ini semua tidak ada dalam rencananya sama sekali. Harusnya Tianlong Heyu tak bis mengerti ucapannya.


"Xiaobai?! Xiaobai!" Chen Sisi mencolek kucing itu.


Baiyue tidak benar-benar pingsan. Dia hanya merasa sedikit pusing. Otak kecilnya tak bisa menahan keterkejutan besar. Kucing itu mengeong kecil dan perlahan bangun.


"Seharusnya tidak seperti ini. Seharusnya tidak seperti ini," gumamnya.


"Bangunlah! Dan racik obatnya untukku!" Chen Sisi kesal hingga dia menggenggam ekornya.


"Meow!! Kamu majikan yang tidak berperasaan!" Baiyue akhirnya sadar sepenuhnya ketika merasakan sakit di ekor.


Chen Sisi memutar bola matanya. Lalu dia kembali ke sisi Tianlong Heyu. "Apa yang kamu rasakan sekarang? Pusing? Mual?"


Tianlong Heyu mengesampingkan masalah kucing itu. "Semuanya aku rasakan. Aku ingin makan," jawabnya lemah.


"Oh, aku belum membuat sarapan untukmu. Kupikir kamu tidak akan bangun sepagi ini. Kalau begitu kamu tunggu di sini. Karena kamu bisa mengerti perkataan Xiaobai, mengobrolah dengannya dulu."


Chen Sisi bersiap untuk pergi ke dapur. Namun sebelum itu dia ingin memberi tahu Bi Yan dan Bi Shi tenang kondisi Tianlong Heyu. Tanpa diduga, Chen Yelang datang untuk mengetahui kondisinya.


"Pangeran, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Chen Yelang mengkhawatirkannya. "Apakah orang-orang itu datang lagi untuk membunuhmu?"


Karena Chen Yelang datang, Chen Sisi bisa lebih tenang. Dia pergi ke dapur.


Tianlong Heyu menggelengkan kepala. "Kali ini bukan aku targetnya, tapi Si'er."


"Si'er? Nona Chen?!" Chen Yelang tertegun sebelum akhirnya menyadari masalah ini. "Bagaimana bisa? Siapa yang melakukan ini?"


"Siapa lagi jika bukan wanita tua itu," jawab Tianlong Heyu langsung tersenyum dingin. Tapi kemudian dia batuk.


Chen Yelang mengkhawatirkan kondisinya saat ini dan menyesal karena telah bertanya terlalu awal.


"Baiklah, jangan pikirkan ini lebih dulu. Kamu harus istirahat. Bagaimana dengan lukamu?"


"Masih ada sisa racun. Si'er akan mengeluarkan sisanya nanti."


"Bagus, bagus kalau begitu."


Keduanya mengobrol dan Baiyue hanya menjadi pengamat. Karena kucing putih itu bisa bicara, Tianlong Heyu tidak mengungkapkan banyak informasi. Ia khawatir kucing putih itu akan mengadu pada Chen Sisi.


Sementara itu, Chen sisi sedang sibuk membuat bubur di dapur. Ini adalah bubur ayam ala negara T di zaman modern.


Beras dimasak menjadi lunak. Ketika dirasa pas, Chen Sisi menambahkan garam, kaldu jamur, kecap asin, ebi, jahe serta merica. Aduk semuanya sampai rata dan masak dalam api kecil. Tidak banyak porsi yang dibuat sehingga prosesnya juga cukup cepat.


Setelah bubur matang, Chen Sisi menatanya dalam mangkuk. Tambahkan suwiran daging ayam, potongan daun bawang, bawang merah goreng serta sedikit kecap asin.


Bubur pun siap. Sudah cukup terlambat bagi Chen Sisi mengantarkan sarapan. Ketika dia kembali ke kamar, Tianlong Heyu dan Chen Yelang sedang mengobrol.


"Saudara Kedelapan, sarapanmu sudah selesai. Makanlah bubur yang mudah dicerna," katanya.


Chen Yelang mencium aromanya. "Wangi sekali."


"Apakah kamu sudah sarapan? Masih ada bubur di dapur."


Chen Yelang buru-buru menggelengkan kepala. Meski dia tertarik untuk mencicipi, ia tidak mungkin merebut sarapan Tianlong Heyu. Pria itu agak tidak bisa dijelaskan saat ini. Lihatlah tatapan Tianlong Heyu padanya. Seperti cheetah yang khawatir makanannya direbut!


"Tidak, tidak! Aku sudah sarapan. Aku datang ke sini selain menjenguk Pangeran, juga ingin memberi tahu sesuatu. Keluargaku akan mengadakan jamuan makan sederhana untuk beberapa orang terdekat. Aku mengundang kalian berdua untuk datang. Ini hanya cara makan sederhana, tidak perlu formal," jelasnya karena khawatir Chen Sisi tidak mau datang.


"Kapan?" tanya Tianlong Heyu.


"Ini beberapa hari lagi. Kamu rawatlah diri sendiri sampai sembuh hingga bisa ikut pada hari jamuan nanti. Aku juga mengundang Mo Huazhu dan putri Sina untuk datang. Tak lupa pangeran Yuzhao juga." Chen Yelang menatap Chen Sisi. "Nona Chen, ibuku berharap kamu datang. Dia ingin melihatmu."


"Ibumu ingin melihatku? Kenapa?"


"Mungkin dia teringat dengan adikku yang sudah lama meninggal." Ketika mengatakan ini, Chen Yelang sedikit enggan. Jelas adiknya masih hidup di depannya.


"Oh ... Kalau begitu, terserah Saudara Kedelapan saja." Chen Sisi menatap Tianlong Heyu.


"Kalau begitu beres! Aku akan pergi memberi tahu Mo Huazhu tentang ini."


Chen Yelang pergi setelah berpamitan. Setelah pria itu pergi, Tianlong Heyu akhirnya bisa sarapan.


"Makanlah dulu sebelum minum penawarnya nanti." Chen Sisi ingin menyiapkan meja kasur untuk menaruh bubur di atasnya.


Tapi pria itu mengerutkan kening. "Tubuhku lemah, bahkan sulit mengangkat sendok bolak-balik. Kamu suapi aku," katanya.


"Hah?" Chen Sisi tidak salah dengar. "Suapi? Kamu yakin? Aku akan meminta pengurus rumah tangga untuk menyuapimu. Bukankah kamu akan berpikir jika aku sengaja mencari kesempatan untuk melayanimu?"


Tiba-tiba saja Tianlong Heyu batuk. "Hanya kamu yang bisa menyentuhku. Bagaimana bisa membiarkan pengurus rumah tangga melakukannya?" Ia sebenar merasa sedikit bersalah atas perkataan kasarnya di masa lalu.


Baiyue memutar bola matanya. "Sengaja mencari perhatian! Dasar pria!" gumamnya.


Tanpa diduga, Baiyue merasa seluruh bulu di tubuhnya mengembang. Ia melihat tatapan tajam Tianlong Heyu padanya. Sial! Dia lupa jika pria itu bisa mengerti ucapannya saat ini.


Chen Sisi tidak berdebat dengannya. Ia hanya bisa duduk dan menyuapinya. Lagi lula memang benar jika Tianlong Heyu terlalu lemah saat ini.


"Maaf, gara-gara aku, kamu terluka seperti ini," ucapnya masih sedikit tidak nyaman.


"Bukan masalah besar. Kakek memintaku untuk menjagamu, tentu saja aku akan menempati janji. Bubur ini enak," katanya.


"Aku khawatir kamu tidak bisa menghabiskannya. Jadi tidak mengambil banyak di mangkuk."


"Kalau begitu bawa sisanya ke sini. Aku ingin memakannya lagi nanti."


Chen Sisi sedikit ragu. "Apakah kamu yakin bisa menghabiskannya?"


"Masakanmu enak. Tidak mungkin jika tidak bisa menghabiskannya." Pria itu tersenyum lembut, tampak tidak berdaya. "Sudahkah kamu sarapan?"


"Aku sarapan lebih awal darimu."