Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 96


"Kau tahu, saat aku cerita padanya tentang aku yang melamar mu melalui pesan, dia malah menertawakan aku. Lalu aku pun menyumpahinya akan mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah. Dan kau tahu Sweety, akhirnya ia pun mengalaminya. Dia ... melamar Gladys melalui pesan inbox dan dm," ujar Rainero seraya terkekeh mengingat bagaimana teman sekaligus asisten pribadinya itu melamar gadis yang ia sukai.


"Hah! Yang benar saja. Kenapa mesti lewat inbox dan dm sih? Memangnya tidak ada cara lain yang lebih bagus apa?" tanya Shenina tak habis pikir.


"Bukan tanpa alasan, saat itu tiba-tiba Gladys memblokir nomor ponselnya. Setelah Axton meminta seseorang mencari informasi, ternyata Gladys dipaksa menikah dengan anak seorang rentenir. Mereka beralasan mendiang ayah Gladys memiliki hutang yang banyak pada mereka dan untuk menebusnya adik Gladys harus menikah dengannya. Tapi kau tahu sendiri, adik Gladys baru mulai kuliah. Mana mau Gladys mengorbankan sang adik, jadi dengan terpaksa Gladys menggantikan sang adik menikah dengan anak rentenir itu," papar Rainero menceritakan apa yang ia ketahui.


Shenina membelalakkan matanya saat mendengar penuturan Rainero, "benarkah? Tapi kenapa Gladys tidak menceritakan hal itu pada kita?"


Rainero mengedikkan bahunya, "mungkin dia malu atau tak mau membuatmu kepikiran tentang dirinya. Apalagi kau sedang hamil. Mungkin itu salah satu alasannya."


"Tapi bagaimana dengan Gladys, Suamiku. Bagaimana kalau ia benar-benar menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya, bahkan tidak dikenalinya itu?"


"Kita serahkan segalanya pada Axton. Aku yakin, Axton pasti bisa menyelamatkan Gladys. Asal kau tahu, Axton sebenarnya menyukai Gladys."


"Benarkah? Baguslah kalau memang seperti itu. Aku lebih mempercayai Axton menjadi pendamping Gladys daripada laki-laki yang tidak dikenalnya itu," harap Shenina tulus.


Flashback beberapa hari sebelumnya,


Axton yang entah mengapa hari itu tiba-tiba selalu kepikiran Gladys pun berusaha menghubungi gadis yang diam-diam telah mencuri hatinya itu. Tapi beberapa hari ini Gladys susah sekali untuk dihubungi. Lalu tiba-tiba saja nomornya benar-benar tidak bisa dihubungi dan Axton baru menyadari kalau nomornya telah diblokir.


"Ck, sial. Kenapa nomorku tiba-tiba diblokir?" Karena penasaran kenapa Gladys tiba-tiba menghilang, Axton lantas meminta seseorang untuk mencari tahu keberadaan Gladys. Hingga fakta tak terduga kalau seminggu lagi gadis yang ia sukai itu akan menikah, membuat Axton benar-benar frustasi.


"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan informasi mengenai tentang Gladys?" tanya Axton pada orangnya.


Lalu orang suruhan Axton pun menjelaskan tentang Gladys yang akan segera menikah.


Axton benar-benar resah. Ia berkali-kali mencoba menghubungi Gladys, bahkan ia menggunakan nomor baru, tapi lagi-lagi berakhir di blokir.


Hingga suatu waktu, Axton membuka laman sosial media miliknya hingga ia baru ingat dengan akun sosial media berlogo huruf F berwarna biru milik Gladys. Dilihatnya, masih ada riwayat terakhirnya saat memuji story foto Gladys yang sangat cantik saat mengenakan gaun Bridesmaids di pernikahan Shenina dan Rainero. Tanpa banyak basa-basi, ia pun langsung mengirimkan pesan pada Gladys.


[Gladys, menikahlah denganku!] tulis Axton.


Tapi pesannya tidak mendapatkan respon. Namun saat melihat status online, Axton yakin kalau Gladys telah membaca pesannya barusan. Ia pun bergegas menulis kembali pesan dan mengirimkannya.


[Gladys, kau mau kan menikah denganku?]


Namun sayang, saat pesan kedua terkirim, Gladys tiba-tiba tidak online lagi.


Tak putus asa, Axton lantas membuka aplikasi ig miliknya dan menulis sebuah pesan untuk Gladys.


[Gladys, kau mau kan menikah denganku?]


Semenit, 10 menit, bahkan satu jam pun berlalu, tapi Gladys tidak kunjung membalasnya. Hingga tiba-tiba saja saat di tengah malam, sebuah direct message masuk ke ponselnya. Saat ia periksa, ternyata itu merupakan pesan balasan dari Gladys.


[Maaf, tapi aku beberapa hari lagi akan menikah.]


[Apa kau mencintai laki-laki itu?]


Tulis Axton, tapi Gladys tidak membalas.


[Tidak membalas artinya tidak. Beri aku jawaban segera! Kalau kau menjawab iya, maka aku akan segera ke sana untuk menghentikan pernikahan itu, kemudian menggantikan posisinya sebagai calon suamimu. Bagaimana? Keputusan ada di tanganmu.]


[Kau sungguh-sungguh?]


[Percayalah padaku.]


Mendapatkan balasan itu, Axton senang bukan main. Maka malam itu juga, dengan meminjam pesawat pribadi milik Rainero, Axton pun segera terbang ke Bali. Karena ia menggunakan pesawat pribadi, mereka tidak perlu melakukan transit.


Setibanya di Indonesia atau lebih tepatnya pulau Bali, tanpa memedulikan rasa lelahnya, Axton pun segera menemui keluarga sang mempelai laki-laki. Axton tidak gentar sedikitpun menghadapi laki-laki yang ia ketahui ayah dari calon suami Gladys. Ia akan menyelesaikan masalah hutang piutang itu jika memang ada.


"Hutang ayah Gladys mencapai 500 juta rupiah, apa kau sanggup membayarnya?" tanya laki-laki paruh baya itu pongah.


Axton yang semenjak mengenal Gladys mulai belajar bahasa Indonesia pun paham dengan apa yang ia katakan. Dengan tersenyum miring, Axton menjawab, "hanya segitu?" ucapnya sambil menumpu satu tangannya di pegangan sofa.


Mendengar jawaban itu membuat jantung pria paruh baya itu ketar-ketir, khawatir Axton benar-benar bisa melunasi hutang ayah Gladys. Bukan tanpa alasan, ia sangat mengharapkan pernikahan ini terjadi. Tidak mungkin ia bisa menikahkan anaknya secara normal sebab keadaan mental anaknya memang sedikit terbelakang.


Putranya mengalami keadaan yang disebut down sindrom yang membuat tingkahnya masih seperti anak kecil meskipun usianya telah menginjak 30 tahun. Mana ada perempuan yang mau dengan putranya bila ia tidak menempuh jalan seperti ini. Bahkan Gladys dan keluarganya pun tak tahu. Mereka merahasiakan semua itu agar Gladys tidak dapat menolak putranya.


Lalu kini, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki warga negara asing mengatakan ingin melunasi hutang-hutang ayah Gladys, jelas saja membuatnya ketar-ketir.


"Ya, kenapa? Kau tak sanggup bukan membayarnya?"


Mendengar kalimat bernada meremehkan dari laki-laki itu membuat Axton tergelak. Kemudian ia meminta seorang pengacara yang sempat ia minta datangkan sebelum datang ke mari agar mempersiapkan sebuah surat perjanjian.


"Aku akan segera melunasinya, tapi sebelum itu, tanda tangani surat pernyataan ini!"


Awalnya laki-laki itu menolak, tapi berkat intimidasi Axton, laki-laki itupun terpaksa menyerah.


Hari H pernikahan.


Sepanjang pagi ini Gladys tampak murung. Semenjak komunikasinya dengan Axton 2 malam yang lalu, Axton tiba-tiba menghilang bagai ditelan bumi. Padahal pagi ini merupakan hari pernikahan dirinya. Tapi Axton tak juga memberikan kabar membuatnya putus asa.


"Mana janjimu? Kau bilang akan segera kemari, tapi buktinya apa? Kau justru menghilang. Kau pembohong," batin Gladys.


Tangannya meremas gaun pengantin yang ia kenakan. Harapannya benar-benar kandas. Padahal ia telah berharap Axton datang untuk menyelamatkannya dari pernikahan yang tidak ia inginkan ini. Tapi Axton justru menghilang, membuatnya tak kuasa untuk menahan sesak di dadanya.


"Kak, pengantinmu telah menunggumu di depan altar," ucap adik perempuan Gladys.


Gladys yang melamun sepanjang jalan menuju altar pun tersentak. Dengan wajah datar ia mendekati laki-laki yang berdiri membelakanginya itu.


Sorak sorak dan tepuk tangan menyambut kedatangannya. Semua orang tampak berbahagia, tapi yang ia rasa justru sebaliknya.


Dengan kepala menunduk, ia pun berdiri di belakang sang mempelai pengantin pria. Hingga sebuah suara menyentak gejolak batinnya.


"Hai calon pengantinku. Aku menepati janjiku untuk menggantikan posisinya sebagai calon pengantin pria mu," ujar laki-laki yang ada di hadapannya.


Mendengar suara itu, Gladys pun sontak mengangkat wajahnya. Matanya terbelalak hingga berkaca-kaca. Apalagi saat melihat selarik senyum menawan itu membuat Gladys tak mampu menahan debaran di dada.


"Axton, kau kah itu?" gumamnya dengan suara serak.


Axton tersenyum, "yes, i'm. I'm here waiting for you."


Gladys pun langsung berhambur ke pelukan Axton. Ia merasa senang, sebab laki-laki yang diharapkannya telah berdiri di hadapannya. Ia tak menyangka, laki-laki yang diam-diam ia sukai telah berdiri di tempat yang sama untuk mengambil janji suci bersama.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...