Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 80


Hari mulai terik, tapi Shenina dan Rainero tampaknya masih terlena dalam tidur mereka yang lelap. Padahal cahaya mentari telah menyusup melalui celah-celah gorden, tapi karena posisi mereka membelakangi jendela kaca, mereka tak sadar kalau hari sudah benar-benar siang.


Rainero tiba-tiba saja menggeliat, ia pun membuka mata dan tersenyum. Ternyata Shenina masih terlelap di dalam dekapannya. Wajah polos Shenina lagi-lagi membuat debaran di jantungnya menggila. Ada rasa bahagia yang tak terkira saat melihat wanita pujaan hatinya berada dalam pelukannya.


"Kau tahu apa yang paling aku syukuri dalam hidup ini?" gumamnya sendiri sembari menyisihkan rambut Shenina yang terjuntai di depan wajah ke samping telinga.


"Kau ... kau adalah hal yang paling aku syukuri. Kehadiranmu merupakan anugerah yang tak terhingga dari yang kuasa untukku. Kau bukan hanya pengobat lara jiwaku, tapi juga penghangat hidupku dan pengisi segala kekosongan dalam jiwa ini. Terima kasih sayangku karena telah hadir dalam hidupku."


Lalu tatapan Rainero beralih ke perut Shenina, "dan satu lagi yang pantas mendapatkan ucapan terima kasih dari Daddy, yaitu kalian. Seandainya kalian tidak hadir di perut mommy dan membuat Daddy merasakan apa itu sindrom cauvade, mungkin Daddy takkan pernah menyadari kesalahan Daddy. Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah hadir dalam perut Mommy. Terima kasih kalian telah menyadarkan Daddy kalau kalian itu milik Daddy. Dan maaf karena Daddy sempat mengabaikan keberadaan kalian. Daddy benar-benar menyesal. Daddy harap, kalian mau memaafkan Daddy. Daddy berjanji, Daddy takkan mengabaikan kalian lagi," ucapnya sambil mengusap perut buncit yang bagian moncongnya menyentuh perut Rainero.


Rainero bisa merasakan sebuah pergerakan halus di perut Shenina. Senyumnya kian sumringah. Pergerakan itu seolah jawaban atas permintaan maafnya.


Kandung kemih Rainero terasa penuh, ia pun dengan perlahan menarik tangannya dari bawah kepala Shenina. Setelah memastikan Shenina masih tertidur dengan lelap, Rainero pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Pagi ini tubuhnya terasa benar-benar segar dan fit. Seolah tak ada yang terjadi malam tadi. Namun sebuah helaan nafas panjang terdengar dari bibirnya setelah ia menuntaskan hajatnya.


"Huh, gara-gara masuk angin, gagal deh malam kedua. Ah, tetap saja ini malam pertama kan saat itu aku melakukannya tanpa sadar, belum menikah juga. Sedangkan ini, akan kami lakukan setelah menikah. Hah, rasanya tak sabar ingin membajak sawah Shenina. Apalagi dilakukan secara sadar, rasanya pasti sangat-sangat nikmat," gumamnya seraya membayangkan yang iya-iya.


Rainero pun segera keluar dari kamar mandi dan mengambil ponsel yang sejak semalam ia matikan. Atau lebih tepatnya setelah memberikan perintah pada Axton.


Saat hp nya mulai menyala, dilihatnya ada beberapa panggilan dari Axton. Rainero pun segera melakukan panggilan balik.


"Ya, Ton, ada apa?"


"Heh, sialan, aku telepon dari jam berapa, tapi baru sekarang kau telepon balik, dasar menyebalkan," omel Axton membuat Rainero reflek menjauhkan ponselnya.


"Aku baru bangun," jawab Rainero jujur membuat Axton mendengkus, paham alasannya.


"Berapa ronde?" tanya Axton tiba-tiba. Wajah Rainero seketika ditekuk, mana mungkin ia akan cerita kalau ia belum melakukan malam pertama. Yang ada Axton akan menertawakannya.


"Sudahlah, kau tak perlu tau. Bukan pelit, aku hanya kasihan padamu. Nanti kau iri. Pada siapa kau akan melampiaskan hasratmu kalau tiba-tiba kau jadi ingin merasakannya? Kau kan perjaka sejati. Aku beri nasihat padamu, cepat-cepatlah menikah, supaya kau tau rasanya terbang tanpa menggunakan sayap," ucap Rainero setengah mengejek.


Axton mencebikkan bibirnya, "buka pintu kamarmu!" ucapnya tiba-tiba.


"Hah, kau di depan kamarku?"


"Iya, sudah dari tadi."


"Kenapa tidak bilang, brengsekkk!" geram Rainero. Kenapa harus repot-repot bicara di telepon kalau orangnya ada di sini. Ia pun segera menutup panggilannya. Rainero yang tadi menelpon di balkon pun segera kembali ke kamar. Melihat Shenina masih tidur, ia pun keluar dari kamarnya dengan bertelanjang dada. Hanya sebuah bokser abu-abu yang menutupi asetnya saja yang masih melekat di tubuhnya.


Kamar yang Rainero booking merupakan tipe presidensial suite room. Ruangannya sangat luas dengan dua buah kamar di dalamnya. Terdapat ruang tamu yang dilengkapi sofa, juga ada kitchen bar.


Sesampainya di depan pintu masuk, Rainero pun segera membuka pintu. Axton pun segera mengedarkan tatapan menyelidik ke sekujur tubuh Rainero. Rainero bersikap acuh tak acuh dan segera membalikkan badannya.


"Rain," seru Axton yang segera menutup pintunya.


"Apa?" tanya Rainero dengan alis yang bertaut.


"Berbaliklah!" ujarnya seraya menarik pundak Rainero dan memutar tubuhnya. Mata Axton seketika terbelalak. "Oh my God, what's happened with you?" seru Axton saat melihat garis-garis merah menyala di punggung Rainero. Sangat kentara karena kulit putih Rainero membuatnya kian mencolok. "Dia penganut BDSM? Sadism and Masochism?"


Rainero mengerutkan keningnya, merasa bingung dengan apa yang barusan Axton katakan.


"Punggungmu? Kalian bercinta menggunakan kekerasan? Gila. Aku tidak menyangka kalau Shenina termasuk perempuan penganut gaya bercinta seperti itu?"


Rainero benar-benar tidak mengerti apa yang Axton katakan. Lalu Axton pun menyuruh Rainero melihat punggungnya sendiri di cermin. Rainero pun segera menuju cermin di kamar mandi. Dan matanya terbelalak saat melihat punggungnya yang bergaris-garis merah, namun terlihat aesthetic.


Sekeluarnya dari kamar mandi, Rainero terkekeh. Alhasil, ia pun menceritakan perihal malam pengantinnya yang menyedihkan. Ia tak mau Axton berpikiran negatif tentang Shenina. Meskipun pada akhirnya ia harus pasrah ditertawakan oleh Axton karena gagal melewati malam pertama akibat masuk angin.


"Tapi keren juga ya punggung digituin. Sangat aesthetic. Boleh tidak aku minta Shenina membuat garis-garis seperti itu juga di punggungku?"


Plakkk ...


Sebuah apel yang baru saja Rainero gigit mendarat sempurna di kepala Axton membuat laki-laki itu mengerang kesal.


"Kau pikir Shenina itu Kekasihmu? Minta saja Adisti atau Gladys melakukannya. Atau kalau perlu, kau pacari dan nikahin salah satunya supaya kau bisa bebas melakukan apapun termasuk meminta punggungmu digambar seperti milikku."


Rainero lupa apa nama kegiatan membuat punggungnya merah-merah semalam. Karena itu dia menyebutnya digambar karena memang punggungnya sudah seperti kertas kanvas yang digambar dengan begitu aesthetic oleh Shenina.


"Sepertinya idemu cukup bagus. Kalau begitu, aku akan mengajak Jevian menemanikuku mengajak mereka makan bersama."


"Jevian? ah, ya, semalam dia berdansa dengan Adisti. Tapi sepertinya Jevian memiliki saingan. Kau tidak lihat bagaimana ekspresi Mark saat melihat Jevian berdansa dengan Adisti? Kentara sekali kalau ia merasa cemburu," ungkap Rainero membuat Axton terkejut.


"Aku tidak melihat. Aku justru terlalu fokus dengan pasangan dansaku. Ah, aku lupa, semalam ada 3 pasang mata yang juga menatap kemesraan kalian dengan tatapan tak suka."


Rainero sudah bisa menebaknya, "maksudmu Justin, Anza, dan Bianca itu? Hah, apa peduliku. Asal mereka tidak bersikap macam-macam, tak perlu pedulikan mereka."


"Tapi biar begitu, kita tetap harus waspada, bukan?"


"Tentu saja. Oh ya, bagaimana hasil penyelidikanmu tentang nyonya Ambar dan putrinya itu? Apa kau dapat informasi mengenai kematian ibu Shenina?"


Axton menggeleng, "belum. Tapi kau tenang saja, aku sudah menempatkan orang-orang untuk mengawasi pergerakan mereka," ucap Axton. "Oh ya, tapi aku dapat satu informasi bagus untukmu."


"Apa itu?"


"Kau tahu, rumah yang mereka tempati itu dan juga minimarket yang Harold kelola merupakan warisan dari nenek Shenina untuk ibunya. Karena ibunya meninggal, bukankah hal waris jatuh kepada Shenina?"


"Benarkah? Jadi selama ini merupakan memanfaatkan dan menguasai harta warisan Shenina? Mereka memanfaatkan hartanya, tapi mereka mengabaikan Shenina. Bahkan untuk sekolah pun, Shenina harus bekerja keras agar tetap dapat melanjutkan pendidikannya. Ternyata mereka semua benar-benar bajingaan. Aku semakin tak sabar ingin menendang mereka dari rumah itu dan membuat mereka seketika jatuh miskin," ujar Rainero dengan tangan terkepal.


"Cepat cari sertifikat kepemilikan rumah dan minimarket itu. Apa yang menjadi milik Shenina, harus kembali menjadi miliknya. Mereka tidak berhak atas harta itu. Meskipun rumah dan minimarket itu nilainya sebenarnya tidaklah seberapa dibandingkan harta yang aku miliki, bahkan aku bisa memberikan yang jauh lebih besar pada Shenina, tapi tetap saja, hal itu akan menjadi sangat berarti bagi Shenina karena rumah dan minimarket itu adalah peninggalan mendiang ibunya. Shenina pasti akan sangat senang saat mengetahuinya, apalagi kalau kita berhasil mendapatkannya kembali," imbuh Rainero seraya memberikan tugas kepada Axton.


...***...


Sadism and Masochism adalah hubungan yang terjalin antara dua orang di mana salah satunya (sadist) mendapatkan kesenangan atau gairah ketika pasangannya merasa sakit atau menderita, sementara yang satunya (Masochist) justru senang ketika disakiti dah menderita.


Meski begitu, BDSM berbeda dengan kekerasan dalam hubungan atau kekerasan seksual. Jadi BDSM artinya hubungan menggunakan kekerasan seksual namun dilakukan atas persetujuan masing-masing pasangan.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...