
Tobey yang mendengar kalau banyak polisi yang datang dan mencarinya pun seketika panik. Ia lantas memerintahkan petugas keamanan untuk menghalangi mereka semua masuk dengan berbagai macam alasan.
"Bilang saja, saya sedang sibuk saat ini. Minta mereka tunggu saja di bawah. Halangi mereka jangan sampai naik ke mari tanpa pemberitahuan dari saya, mengerti!" titah Tobey dengan sedikit membentak. Ia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Ketakutan dan kecemasan sudah mendominasi. Ia tak ingin menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi. Untuk apa perjuangannya membangun dan membesarkan perusahaan sampai sebesar ini kalau akhirnya ia harus membusuk di penjara. Tidak. Ia tidak mau.
"Tapi tuan ... "
Tiba-tiba Tobey mengeluarkan sebuah senjata api dari balik punggungnya, "kau mau menuruti perintahku atau mati di sini sekarang juga?" desis Tobey dengan raut wajah mengerikan.
"Ba-baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi," ujar pria paruh baya itu gelagapan. Ia pun langsung memutar langkahnya untuk segera pergi dari sana.
Setelah penjaga keamanan itu pergi, Tobey kembali menyimpan senjata apinya di balik punggung yang tersembunyi di dalam jasnya. Lalu ia segera mengambil beberapa benda penting miliknya kemudian mengatakan sesuatu pada asisten pribadinya.
"Dan kau ... Kau tetap di sini. Jangan keluar sebelum mereka pergi. Bila mereka memaksa masuk dan mencari ku ke sini, katakan kau tidak tahu dimana keberadaan ku, kau paham!"
"Baik, Tuan," ujar asisten pribadi Tobey.
Setelah Tobey benar-benar pergi, sudut bibir asisten pribadi Tobey pun tampak tersenyum misterius.
Tobey yang tak ingin ditangkap pun segera masuk ke lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Di sana ada sebuah pintu menuju belakang perusahaan. Pintu itu dulu digunakan untuk dirinya pergi secara diam-diam kala banyak wartawan yang datang menodong jawaban saat ia terkena masalah. Dan kini pintu itu kembali berfungsi untuk dirinya yang hendak melarikan diri.
Tobey tersenyum penuh cemoohan saat membayangkan semua anggota polisi itu berhasil ia tipu.
"Tunggu saja aku datang sampai kalian menua. Kalian pikir semudah itu menangkapku? Bodoh."
Seperti biasa, Tobey yang tak ingin ditangkap akan segera menelpon pengacaranya untuk mengatur segala sesuatu agar ia tidak tertangkap.
Setelah pintu rahasia itu terbuka, Tobey pun segera masuk ke dalam mobil. Namun baru saja mobilnya keluar dari pintu, matanya seketika terbelalak sebab di depan pintu itu sudah berjajar mobil polisi yang sepertinya sudah mengendus rencana liciknya.
"Shittt!" umpat Tobey kesal.
"Berhenti di sana! Segera turun dan serahkan diri Anda, Tuan Tobey!" terdengar suara seruan dari salah satu anggota polisi. Tobey tentu saja tidak mau peduli. Ia memilih acuh tak acuh dan segera menekan persneling, lalu bersiap-siap untuk melajukan mobilnya secepat mungkin meninggalkan para petugas polisi tersebut.
"Pergilah kalian ke neraka!" serunya kencang sampai urat-urat di lehernya menyembul keluar.
Lalu Tobey melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menabrak salah satu mobil yang menghalangi mobilnya. Ia menabrakkan mobilnya begitu saja sehingga mobil polisi yang belum siap itu pun terdorong kemudian terguling di tengah jalan.
Brakkkk ...
Bruakkk ...
Dengan sudut bibir terangkat, Tobey pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Beberapa mobil di polisi di belakangnya pun segera mengejar. Adegan kejar-kejaran pun terjadi. Mereka sudah seperti para aktor yang sedang melakukan live shooting.
Kemampuan Tobey memang tak dapat diremehkan. Apalagi ia dulu memang tergabung dengan organisasi bawah tanah yang kerap berurusan dengan petugas kepolisian. Meskipun usianya sudah tak lagi muda, tapi kemampuan menyetirnya masih sangat baik. Padahal jalanan hari itu masih cukup ramai, tapi ia masih bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Suara tembakan di udara pun tak menghentikan laju kendaraannya. Ia justru menggeber-geber mobilnya seakan sedang mengejek mobil polisi di belakangnya.
"Hahaha ... kalian pikir bisa mengalahkan aku mantan sang raja jalanan?" serunya sambil tertawa terbahak-bahak. Ia benar-benar meremehkan mobil-mobil polisi di belakangnya.
Karena Tobey tak mengindahkan sama sekali peringatan mereka, polisi pun mulai melepaskan timah panasnya ke arah mobil.
Brakkk ...
Kaca mobil Tobey pecah, tapi hal itu tak kunjung membuatnya takut sama sekali. Ia justru kian melajukan mobilnya dengan arah random membuat petugas kesulitan untuk menembak ke arah mobil tersebut. Belum lagi posisi mereka yang masih berada di jalan raya membuat mereka tidak bisa melepaskan timah panas semaunya. Tentu keselamatan warga sipil menjadi prioritas mereka.
Namun seperti yang pepatah katakan, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Karena terlalu fokus dengan mobil polisi di belakangnya, Tobey sampai tidak menyadari ada mobil lain melaju dari arah sebaliknya. Dari sisi samping kemudi, tampak seseorang yang sudah mengarahkan AK 47 ke arah ban mobil Tobey. Sebenarnya bisa saja langsung ke kepala Tobey, tapi mereka tentu tidak melakukan itu. Kejahatan Tobey tidaklah sedikit. Bila ia langsung mati, bukankah itu terlalu indah baginya?
Dorrr ...
Selaksa timah besi terpental dan tepat mengenai ban depan mobil Tobey. Mata Tobey membeliak. Karena ban mobilnya yang pecah, membuatnya kehilangan keseimbangan.
Dor ...
Dan ...
Bruakkk ...
Mobil Tobey pun akhirnya menabrak pembatas jalan lalu terbalik dengan asap hitam mengepul dari mesin mobil.
Petugas yang tadi mengejar pun segera menghentikan mobil mereka dan membantu mengeluarkan Tobey yang sudah berlumuran darah dari dalam mobil.
Tobey ingin berlari, tapi kedua kakinya ternyata tidak bisa digerakkan sama sekali. Ia meraung, meminta dilepaskan, tapi siapa juga yang akan melepaskan penjahat dengan mudah. Tobey pun akhirnya ditangkap setelah terlebih dahulu dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan.
"Tidak. Lepaskan aku! Lepas! Jangan sentuh aku, sialan! Lepaskan aku! Kalian tidak tahu siapa aku? Aku Tobey, pemilik T Company. Katakan, berapa, kalian mau berapa, pasti akan aku berikan asal kalian lepaskan aku! Aku bilang lepaskan aku, brengsekkk!" teriak Tobey.
"Tutup mulutmu, Pak tua! Lebih baik kau patuh pada perintah kami atau kau mau mati kehilangan banyak darah, hah?" bentak salah seorang petugas yang merasa kupingnya pengang akibat teriakan Tobey.
Melihat tatapan garang petugas polisi tersebut tidak menciutkan nyali Tobey. Namun ia sadar, terus berontak hanya merugikan dirinya sendiri. Apalagi darahnya terus-terusan mengalir. Tubuhnya pun mulai terasa lemas. Belum lagi memikirkan kakinya yang bagian bawah seakan mati rasa, tapi bagian atas sakit tak terkira membuat mulut Tobey akhirnya bungkam.
"Kalian tunggu saja, setelah aku bebas, aku akan segera memberikan pelajaran pada kalian!" desisnya bernada mengancam.
Petugas tadi pun terkekeh, "itupun kalau kau bisa bebas, Pak tua. Bila tidak, kau pasti akan membusuk di dalam penjara!" ejek petugas tadi membuat Tobey mengetatkan rahangnya.
...***...
Tak ingin berjauhan dengan Jefrey pun merepotkan Roseline yang harus mondar-mandir ke kamar rawat inap dirinya dan Jefrey, Jevian akhirnya meminta petugas medis memindahkan dirinya ke kamar Jefrey. Kini kamar rawat yang seharusnya untuk satu orang itu justru dihuni oleh dua orang.
Jefrey yang melihat brankar ayahnya didorong ke ruangannya sontak membelalakkan mata.
"Daddy, kenapa daddy luka-luka? Daddy jatuh?" tanya Jefrey polos. Yang ia tahu, luka seperti itu didapatkan karena jatuh. Apa itu kecelakaan apalagi dicelakakan, ia tidak mengerti.
"Iya, Daddy terjatuh saat mengejar balon yang daddy beli untukmu terlepas dari tangan daddy," dustanya dengan memasang wajah sedih.
"Kenapa balonnya bisa lepas? Apa daddy memegangnya tidak kuat?" bukannya mengkhawatirkan keadaan ayahnya, Jefrey justru menanyakan balon tersebut.
"Iya, maafkan daddy ya!"
"Daddy seperti anak kecil, pegang balon saja tidak kuat. Berlari malah jatuh," ejek Jefrey yang sukses membuat Roseline tergelak. Jevian memasang wajah masam. Diejek anak sendiri lalu ditertawakan Roseline membuat cemberut.
"Jefrey tidak kasihan dengan daddy? Lihat, tubuh daddy luka semua."
"Tidak. Kan sekarang ada mommy yang urus daddy. Kalau dulu daddy harus mengobati luka daddy sendiri, tapi sekarang kan ada mommy. Jadi daddy tidak perlu khawatir. Mommy mau kan membantu merawat daddy?" tanya Jefrey dengan mata mengerjap polos.
Roseline menelan ludah.
Merawat?
Dipandanginya sekujur tubuh Jevian yang luka-luka membuatnya berpikir kalau merawat orang sakit tidaklah sesederhana itu.
Tapi untuk menolak?
Ia tidak bisa.
Roseline menghela nafas panjang, kemudian mengangguk membuat bukan hanya Jefrey yang tersenyum girang, tapi juga Jevian. Ia tidak bisa dapat menyembunyikan ekspresi bahagianya.
Meskipun lamarannya belum dijawab, tapi Jevian pastikan dalam waktu dekat Roseline akan menjadi istrinya.
Sungguh, like father like son. Sangat pandai memanfaatkan situasi dan kondisi.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...