
Beberapa jam sebelumnya, setelah orang-orang yang membawa Roseline paksa menyuruh sang sopir Jefrey pergi, ia pun gegas melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Khawatir orang-orang jahat tersebut membatalkan niat mereka membebaskan ia dan Jefrey. Ia memacu mobil menuju jalanan yang cukup ramai untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Sepanjang perjalanan Jefrey terus menangis. Anak itu tantrum. Sang sopir sampai kebingungan sendiri sebab Jefrey terus berteriak mommy, mommy, dan mommy.
Hingga di jalan yang tidak begitu ramai, sopir itu pun menepikan mobilnya. Perjalanan masih kurang lebih 30 menit lagi, tak tega rasanya ia membiarkan bocah kecil itu terus-menerus menangis seperti itu. Apalagi ia tahu, jantung tuan mudanya belum 100% pulih, ia tak mau karena kejadian ini sang tuan kecil kembali sakit. Meskipun ia hanya seorang sopir, tapi ia pun menyayangi Jefrey sama seperti yang lainnya.
"Nak, jangan nangis ya! Tenanglah! Mommy pasti tidak apa-apa," ujar sopir itu berusaha menenangkan Jefrey yang menangis kencang. Sang sopir itu sebenarnya bingung, ia memang sudah berusia di atas 30 tahun, tapi ia tidak pernah berurusan dengan anak kecil sebab ia terlahir sebagai anak tunggal. Setelah menikah pun ia tidak dikaruniai seorang anak jadi ia benar-benar bodoh dalam menangani anak kecil seperti ini.
"Mommy, mommy, tolong mommy. Jefrey mau mommy," Raung bocah itu sambil sesenggukan. Wajahnya sudah basah. Bukan hanya karena air mata, tapi juga lelehan dari mulut dan hidung. Matanya sembab, hidung memerah. Wajah Jefrey terlihat begitu menyedihkan.
"Tuan kecil, jangan menangis lagi, ya. Nanti tuan kecil sakit lagi. Mommy dan Daddy pasti sedih liat tuan kecil sakit lagi."
Segala upaya sopir itu lakukan, tapi Jefrey tak kunjung menghentikan tangisannya.
Hingga tiba-tiba ponselnya berdering. Jantung sang sopir seketika berdentum-dentum. Yang menghubunginya adalah tuan besarnya. Siapa lagi kalau bukan Jevian.
Sebenarnya sudah sejak tadi Jevian hendak menghubungi Roseline sebab jam ini merupakan jam pulang sekolah Jefrey. Seperti biasa, ia akan menghubungi Roseline dan Jefrey untuk menanyakan kabar dan aktivitas mereka. Tapi setelah mencoba menghubungi Roseline beberapa kali, panggilannya tak kunjung diangkat. Bahkan tiba-tiba saja ponselnya tidak aktif setelah ia mencoba menghubungi untuk kesekian kalinya.
Jevian juga mencoba menghubungi ke mansion, tapi kepala pelayan mengatakan kalau Roseline belum pulang membuat Jevian khawatir seketika. Oleh sebab itu, ia mencoba menghubungi sopir yang khusus mengantar jemput Jefrey ke sekolah.
"Halo," ucap sang sopir gugup.
Baru saja Jevian ingin berucap, tapi ia sudah lebih dulu mendengarkan raungan Jefrey. Tak pernah selama ini ia mendengarkan raungan sepilu itu dari Jefrey. Bahkan saat Eve acuh tak acuh dan tak memedulikannya, Jefrey tidak meraung. Hanya tersedu. Itupun tidak berlangsung lama, setelah melihat kehadirannya, Jefrey akan segera tersenyum meskipun sesenggukan belum hilang dari mulutnya.
Lalu kini, untuk pertama kalinya Jevian mendengar putranya meraung. Ia terkejut bukan main. Tidak mungkin Jefrey meraung tanpa alasan, apalagi ia selalu menggunakan kata 'mommy'.
"Jefrey kenapa? Kenapa ia menangis seperti itu? Sebenarnya apa yang terjadi? Dimana Seline?" cecar Jevian membuat sang sopir makin gugup bukan main. Seharusnya sejak tadi ia mengabari Jevian, tapi ia harus mencari aman terlebih dahulu dan menenangkan Jefrey. Tapi ternyata, seakan mereka memiliki ikatan batin yang kuat, Jevian lebih dulu menghubunginya.
"Tuan, Jefrey menangis."
"Saya sudah tahu kalau Jefrey menangis, yang saya tanyakan mengapa Jefrey menangis? Sebenarnya apa yang terjadi dan di mana mommy-nya?" desak Jevian yang panik bukan main. Saat ini ia sudah berada di bandara. Ia akan segera naik ke pesawat untuk kembali pulang. Sebelum berangkat, Jevian ingin sekali menghubungi anak dan calon istrinya, tapi bukannya kabar baik yang ia dapatkan, justru raungan Jefrey lah yang menyambutnya.
Dengan perasaan gugup, sopir itupun segera menjelaskan apa yang barusan terjadi pada mereka.
"Begini tuan, saat hendak pulang tadi, tiba-tiba ada beberapa mobil menghadang mobil kami. Mereka berisi orang-orang berpakaian serba hitam. Mereka memaksa nona Seline turun dak ikut mereka. Awalnya nona Seline melawan, tapi tiba-tiba mereka menarik tuan kecil dan mengancam nona Seline akan menyakiti tuan kecil kalau nona Seline tidak mau ikut mereka. Dengan terpaksa nona Seline pun ikut mereka entah kemana," paparnya gugup membuat Jevian membeliakkan matanya.
"Apa? Jadi Seline diculik?"
"Iya, tuan."
"Lalu kalian dimana? Mengapa kau tidak segera mengabari aku?" sentak Jevian kesal karena sopirnya tidak segera mengabarinya terlebih dahulu.
"Maaf, Tuan, tadi saya sedang mencari tempat aman, takut-takut kalau orang-orang jahat itu berubah pikiran dan berniat mencelakakan tuan kecil. Karena tuan kecil terus menangis, saya mencoba menenangkan tuan kecil terlebih dahulu, tapi tuan kecil tak mau berhenti menangis juga sampai sekarang."
" Ya sudah, berikan ponselnya pada Jefrey. Biar saya coba menenangkannya."
Menurut, sopir itu pun mengatakan pada Jefrey kalau ayahnya menelpon. Jefrey Oun segera meraih ponsel dan berteriak kencang pada sang ayah.
"Daddy, mommy, Dad, mommy, tolong mommy. Mommy diambil orang-orang jahat, Dad. Tolong Mommy! Daddy dimana? Cari mommy, Dad. Jefrey mau mommy," raung Jefrey membuat dada Jevian bergemuruh. Merasa sedih juga khawatir.
"Jefrey tenang ya, Sayang. Daddy janji, daddy akan segera mencari mommy dan membawa mommy pulang. Tapi Jefrey jangan nangis lagi, ya. Nanti mommy ikut sedih kalau tahu Jefrey menangis seperti ini," ujar Jevian mencoba menenangkan sang putra. Dengan patuh, Jefrey pun berusaha menghentikan tangisannya. Meskipun sulit, bahkan ia masih sesenggukan, tapi setidaknya ia sudah tidak meraung lagi membuat Jevian merasa tenang.
Setelah berhasil menenangkan Jefrey, Jevian yang awalnya sudah duduk di bangku pesawat pun bergegas berlari sebelum pintu tertutup. Jevian sampai sempat berdebat sebab ia diminta segera duduk, tapi ia justru kekeh ingin keluar hingga akhirnya Jevian pun dibiarkan keluar dari dalam pesawat.
Karena sopir hotel telah pulang, Jevian pun segera memanggil taksi yang kebetulan baru masuk ke area bandara. Ia meminta sopir taksi itu mengantarkannya ke gedung SC Company.
Brakkk ...
"Jevian, kenapa kau tiba-tiba ada di sini? Bukankah kau bilang akan pulang siang ini?" tanya Rainero bingung.
"Rain, tolong aku! Bantu aku, aku mohon!" melas Jevian membuat dahi Rainero mengernyit.
"Kau kenapa?" tanya Axton lebih dulu. Ia masuk ke sana setelah mendengar suara pintu yang dibuka kasar. Ia pikir pasti telah terjadi sesuatu.
"Roseline diculik. Aku tidak tahu siapa yang menculiknya. Aku mohon, Rain, tolong bantu aku mencari tahu siapa dan dibawa kemana Seline. Aku mohon!" melas Jevian lagi. Rainero dan Axton saling pandang dengan wajah terkejut.
"Beritahu aku posisi terakhir Rose!" pinta Rainero tanpa banyak basa-basi lagi.
Jevian pun membuka ponselnya dan menunjukkan posisi terakhir Roseline sesuai yang diinformasikan sopirnya sebelumnya. Rainero pun segera meminta tim IT sekaligus hacker kepercayaannya untuk meretas cctv di area tersebut.
Dalam waktu 30 menit, akhirnya mereka mendapatkan rekaman saat Roseline akan diculik. Mereka juga meretas jalan yang dilalui mobil yang menculik Roseline tersebut begitu juga tujuannya.
"Pelabuhan?" gumam Rainero. Ketiga orang itu kebingungan kemana orang-orang itu akan membawa Roseline. "Coba cari tahu kemana tujuan kapal itu berlayar?" pinta Rainero pada timnya.
Laki-laki pun mengangguk kemudian segera menarikan jari-jemarinya dengan terampil di atas papan keyboard. Kode-kode acak yang tidak Rainero, Jevian, dan Axton mengerti pun muncul di layar. Kemudian dalam hitungan menit, mereka akhirnya tahu kemana tujuan kapal tersebut.
"Negara A. Kapal itu sedang berlayar menuju kemari. Lebih tepatnya pelabuhan AV," tukas hacker tersebut.
"Kira-kira siapa yang menculiknya? Apa kau mengenal salah satu dari mereka, Jev?" tanya Axton.
Jevian menggeleng, "aku tidak mengenal mereka satupun."
"Sepertinya mereka orang suruhan. Tapi siapa yang menugaskan mereka menculik Rose dan kenapa? Apa kau tahu sesuatu, Jev?" tukas Rainero.
Jevian awalnya bingung, namun saat ia mengingat ada satu orang yang begitu menguntungkan Roseline, ia pun terbelalak seketika.
"Bastian. Aku yakin, bajingaan itulah yang membayar para penculik itu."
"Bastian?"
"Ya, dia mantan kekasih Seline. Dia begitu terobsesi pada Seline. Oh ya, bisa aku minta tolong satu lagi?" ucapnya pada Rainero.
"Apa?"
Jevian lantas mengotak-atik layar ponselnya. Lalu ia menunjukkan tangkapan layar wajah Bastian dari rekaman cctv di kantornya beberapa hari yang lalu.
"Tolong cari informasi mengenai laki-laki ini beserta alamat tempat tinggal dan keluarganya!" ujarnya seraya menyodorkan ponsel.
Rainero pun mengangguk. Ia lantas meminta tim IT nya mencari informasi mengenai Bastian melalui fitur scan wajah. Tak butuh waktu lama, semua informasi mengenai Bastian pun tampil. Jevian sangat berterima kasih pada Rainero. Setelah mendapatkan informasi, ia pun bergegas pergi untuk melakukan sesuatu.
"Tunggu, Jevian!" sergah Rainero saat Jevian hendak keluar dari ruangannya.
"Ya."
"Axton, minta orang-orang kita antar kemanapun Jevian pergi. Kawal ia. Pastikan keselamatan Jevian dan Rose terjaga."
Axton pun mengangguk dan segera melakukan tugasnya.
Jevian yang mendengar itu, merasa amat sangat terharu. Ia pun segera berbalik dan memeluk Rainero sebagai ungkapan terima kasih. Setelahnya, Jevian pun bergegas pergi sebab orang-orang Rainero telah menunggu di basemen kantor.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...