Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 68


Malam ini akan diadakan makan malam di kediaman Ranveer. Tujuannya tentu saja untuk memperkenalkan Shenina sebagai anggota baru keluarga Sanches sekaligus calon istri Rainero.


Sejak pagi kediaman Ranveer telah riuh karena kesibukan Delena untuk mempersiapkan segalanya sebaik mungkin. Apalagi ini merupakan hari cukup istimewa dan ia ingin hari ini pun berkesan bagi Shenina yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


"Mom, ada yang bisa Shen bantu?" tawar Shenina saat turun ke dapur.


Delena yang sedang menginstruksikan chef langganannya untuk menyiapkan hidangan apa saja pun menoleh ke arah Shenina.


"Hai sayang, tidak perlu repot-repot. Semua sudah ada yang mengerjakan. Kau tinggal duduk manis saja. Ingat, kau itu sedang hamil. Kau tidak boleh capek, okey!" ujar Delena sambil tersenyum sumringah. "Oh iya, ini perkenalkan, dia chef Hendric. Dia merupakan salah satu chef kebanggaan di restoran Mommy. Dan dia juga sudah biasa menjadi juru masak setiap keluarga kita mengadakan acara maupun pesta seperti ini," jelas Delena.


Shenina lantas menyapa Chef Hendric dengan ramah, "hai Chef, perkenalkan, saya Shenina," ujarnya sambil mengulurkan tangan.


Chef Hendric pun mengulurkan tangannya menyambut tangan Shenina.


"Hendric. Kau cukup panggil aku Hendric," ujar Hendric. "Nyonya, calon menantu Anda ternyata benar-benar cantik. Pantas saja putra Anda sampai tergila-gila padanya," pujinya dengan senyum merekah.


"Ekhem ... " Tiba-tiba Rainero telah berdiri tak jauh dari posisi mereka. Melihat tatapan kagum Hendric pada Shenina jelas saja membuatnya kesal. "Sweety, kau sedang apa di sini?" tanya Rainero setelah terlebih dahulu mencium pipi Shenina membuat Delena tersenyum geli. Ia sadar kalau putranya itu sedang memamerkan kemesraannya dengan Hendric yang sempat terpesona dengan kecantikan Shenina.


"Aku hanya ingin membantu Mommy, ternyata tidak ada yang bisa aku kerjakan," adunya membuat Rainero terkekeh.


"Kau mau jalan-jalan?" tawar Rainero membuat mata Shenina seketika membulat ceria.


"Jalan-jalan? Mau. Ajak Disti juga ya?"


Rainero justru menggeleng, "tidak. Cukup kita berdua."


"Tapi kan kasihan Disti, dia sendirian. Dia kan belum punya teman di sini."


"Soal itu gampang. Aku akan meminta Mark mengajaknya jalan-jalan, bagaimana?" tawar Rainero.


"Udah, pergi aja. Ibu hamil itu harus selalu bahagia supaya ibu dan baby nya senang," timpal Delena yang membuat Shenina akhirnya mengangguk.


...***...


Kini Shenina sudah berada di dalam mobil Rainero. Sebenarnya Rainero masih bingung ingin mengajak Shenina kemana sebab selama ini ia hanya sibuk bekerja jadi ia tidak memiliki destinasi jalan-jalan. Bahkan saat sedang Delianza saja, ia jarang mengajak wanita itu bepergian. Justru sebaliknya, Delianza lah yang sering mengajaknya pergi ke sesuatu tempat.


"Kita mau kemana?" tanya Shenina akhirnya.


Rainero menggaruk kepalanya, "sebenarnya aku pun bingung. Kau ada tempat yang ingin dikunjungi atau ada sesuatu yang mau kau beli?" tanya Rainero, tapi Shenina menggeleng. "Emmm ... aku sudah bilang belum, kalau setelah menikah aku akan mengajakmu tinggal di mansion ku sendiri?"


Shenina menggeleng, "kau punya mansion sendiri?"


Rainero mengangguk, 'kau mau mampir?"


Shenina mengangguk antusias. Rainero pun tersenyum lebar. Rainero pun segera melajukan mobilnya menuju mansion miliknya. Tak butuh waktu lama, mobil Rainero telah tiba di depan sebuah gerbang berwarna emas yang menjulang tinggi.


Shenina menatap kagum saat mobil itu telah memasuki area mansion. Apalagi saat kakinya telah berdiri tepat di depan mansion yang sudah seperti istana itu.


"Bukannya selama ini kau tinggal di apartemen?"


"Ayo masuk!" ajak Rainero sambil menggandeng tangannya. Saat memasuki mansion, para pelayan pun menyambut kedatangan Shenina dengan ramah, sama seperti saat ia baru datang ke mansion Ranveer.


Mansion itu sangat megah dan indah. Bila mansion Ranveer bernuansa klasik, maka mansion Rainero bernuansa modern. Tapi bangunan itu sama-sama megah dan mengagumkan.


Rainero mengajak Shenina berkeliling. Bahkan ia juga mengajak Shenina ke kandang Albert, alligator peliharaannya dan beberapa hewan peliharaan Rainero lainnya.


"Rain, apa kau tidak takut?" tanya Shenina sambil bergidik ngeri. Apalagi saat Rainero melemparkan ayam mentah ke dalam kolam. Beberapa alligator itu pun saling berebut makanan. Mereka mencabik-cabik ayam itu dan melahapnya hingga hanya menyisakan kubangan berwarna merah.


Rainero terkekeh, "kenapa? Kau takut?"


Shenina mencebikkan bibirnya kesal, sudah tahu pake nanya pikirnya.


"Ya udah, kita masuk yuk! Sebentar lagi Axton datang. Ada berkas yang harus aku bahas dengan Axton. Selagi aku mengerjakannya, kau bisa berkeliling atau menungguku di ruang tengah, bagaimana? Kau tidak apa-apa?"


Shenina mengedikkan bahunya, "tidak masalah. Asal jangan lupa sediakan aku makanan dan minuman. Aku lapar," ujar Shenina membuat Rainero gemas dan langsung mencuri ciuman di bibir Shenina.


"Rain," gemas Shenina karena kebiasaan Rainero yang suka asal sosor.


Rainero hanya terkekeh tak memedulikan wajah cemberut Shenina.


"Hai Shen, senang bisa bertemu denganmu lagi," ujar Axton.


"Hai juga, Ax. Senang juga bertemu denganmu," sahut Shenina santai, tapi cukup membuat Rainero mendelik kesal.


"Tak perlu basa-basi. Ayo cepat ke ruanganku," delik Rainero membuat Axton tersenyum mengejek.


"Dulu saja menolak, tapi sekarang ... " Axton menggelengkan kepalanya, "bucin parah." Axton tergelak, tapi Rainero masa bodoh karena memang kenyataannya seperti itu.


Saat Rainero sedang membahas masalah pekerjaan di ruang kerjanya, tiba-tiba kediaman Rainero kedatangan tamu. Shenina yang sedang menyantap pancake yang baru saja dihidangkan pelayan pun mengerutkan keningnya.


"Kau ... " gumam Shenina terkejut melihat kedatangan seseorang dari masa lalu Rainero itu.


Perempuan itu tersenyum mengejek, "ternyata kau ada di sini. Baguslah jadi aku tidak perlu repot-repot mencarimu lagi karena ada yang ingin aku bicarakan padamu."


Shenina memutar bola matanya jengah, ia yakin, yang wanita itu ingin bicarakan pasti tak jauh-jauh hubungannya dengan Rainero. Begitulah kalau mantan gagal move on, biarpun telah menikah pun masih ingin mengejar-ngejar laki-laki yang masih dicintainya itu.


"Apa? Apa yang ingin kau bicarakan? Bukankah kita tidak ada urusan sama sekali?" ujar Shenina santai sambil terus memakan pancake miliknya.


Wanita yang tidak lain adalah Delianza itu tersenyum miring. Kebetulan sekali pikirnya ia bisa bertemu dengan Shenina. Padahal awalnya ia hanya ingin melepaskan rindunya dengan duduk-duduk di taman mansion itu.


Dulu saat ia masih menjalin hubungan dengan Rainero, ia memang kerap datang ke mari. Entah hanya sekedar untuk melepas lelah, makan malam, atau sekedar menghabiskan waktu berdua dengan Rainero.


"Ada, tentu saja ada yang harus kita bicarakan. Ini tentang kau yang hanya tempat pelampiasan Rainero. Sebelum kau menyesal, lebih baik kau tinggalkan Rainero sebab yang ia cintai hanyalah aku."


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...