
Shenina kini telah dibawa ke rumah sakit. Sudah sejak sejam yang lalu ia mendapatkan penanganan, tapi hingga kini ia belum sadarkan diri juga. Dokter mengatakan pingsannya Shenina merupakan efek kelelahan serta kecemasan berlebih yang baru saja ia alami. Rainero benar-benar menyesalkan telah membuat Shenina mengalami hal seperti ini. Beruntung keadaan calon bayinya tidak apa-apa.
"Rain, sebaiknya kau obati dulu luka-luka mu itu. Bila tidak, akan terjadi infeksi," tukas Delena saat melihat luka di dai Rainero dan lengan kemeja Rainero yang tampak memerah karena rembesan darah. Pakaian yang Rainero kenakan tampak berantakan. Ada sobek di beberapa tempat, Delena yakin di balik pakaian yang Rainero kenakan terdapat luka yang tidak sedikit.
Kejadian tadi memang mengerikan. Delena bersyukur Rainero selamat. Rainero tadi sempat menceritakan apa yang terjadi padanya di bandara.
Flashback on
Saat itu, pesawat pribadi Rainero baru saja mendarat. Tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang begitu besar.
"Bos, kata orang-orang kita di luar, telah terjadi ledakan beruntun. Ada beberapa anak buah kita yang terluka. Keadaan di luar benar-benar kacau. Sebaiknya kita tetap di sini saja dulu sampai keadaan memungkinkan kita untuk pergi," ujar Mark setelah mendapatkan informasi dari orang-orang mereka.
"Ledakan beruntun? Bagaimana bisa? Apa telah terjadi penyerangan? Siapa yang melakukannya?" berondong Rainero yang sudah menegakkan punggungnya. Ia memperhatikan keadaan di luar melalui jendela kaca. Beruntung pesawat pribadi miliknya terbuat dari bahan anti peluru dan tahan api. Jadi mereka tetap baik-baik saja selama berada di dalam.
"Orang-orang kita juga tidak tahu, bos."
"Apa ada kemungkinan ini merupakan serangan dari musuh-musuh kita?"
"Sepertinya bukan, Bos."
Rainero masih berada di jendela kaca. Ia memperhatikan keadaan di luar. Lalu tak lama tampak orang-orang berlarian sambil menangis dan menjerit. Mereka berupaya menyelamatkan diri. Yang membuat hati Rainero teriris, ada orang tua yang berusaha menyelamatkan diri sambil mendekap anaknya, bahkan ada juga ibu-ibu hamil yang lari terengah membuat hati Rainero mencelos. Ia terbayang Shenina yang ada di posisi itu.
"Kita turun!" ucap Rainero tiba-tiba membuat Mark membeliakkan matanya.
"Apa Bos? Sebaiknya kita tetap di sini, Bos. Bahaya. Kita juga belum tentu bisa keluar dan menyelamatkan diri kalau kita keluar dari sini?" Mark belum paham maksud dan tujuan Rainero mengatakan akan turun.
"Lalu membiarkan mereka semua mati karena asap? Atau mati terbakar?"
"Maksudnya?"
"Mari kita bantu mereka menyelamatkan diri. Bawa mereka masuk ke mari. Pesawat kita cukup besar untuk menampung mereka." Rainero menggestur ke arah kerumunan yang berusaha bersembunyi di balik badan-badan pesawat. Jumlah mereka memang tidak begitu banyak jadi Rainero memperkirakan cukup untuk ditampung di dalam pesawatnya.
Mark yang paham pun mengangguk. Lalu ia mengambil masker dan menyerahkannya pada tuannya agar mereka tidak menghirup udara bercampur asap secara langsung.
Mereka pun bergegas turun. Di pesawat terdapat beberapa anak buah Rainero. Mereka pun ikut turun menyelamatkan orang-orang yang bersembunyi di balik badan pesawat Rainero. Tak lama kemudian terdengar kembali suara ledakan tak jauh dari tempat mereka. Ternyata tangki bahan bakar salah satu pesawat lah yang meledak. Akibatnya, Rainero yang baru saja hendak masuk ke pesawat, tiba-tiba saja terpelanting. Mark yang baru saja mengantar masuk orang yang terakhir sangat terkejut saat mengetahui Rainero terpelanting hingga hampir 10 meter. Mark pun bergegas berlari untuk menyelamatkan Rainero. Beruntung lukanya tidak terlalu parah jadi mereka pun bisa selamat.
Flashback off
"Tapi Mom ... "
"Tidak ada tapi-tapi. Jangan buat Shenina makin khawatir saat melihat keadaanmu seperti ini," tegas Delena.
Rainero yang patuh pun gegas meminta bantuan dokter untuk mengobati luka-lukanya. Tak lama Rose datang membawakan pakaian ganti untuk Rainero sesuai instruksi Delena. Setelah berganti pakaian, Rainero pun kembali ke kamar rawat Shenina dan mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di samping ranjang. Digenggamnya tangan Shenina dengan erat sambil menciumi punggung tangannya.
Entah harus senang atau merasa sedih, faktanya melihat bagaimana Shenina seakan begitu takut kehilangan dirinya tadi membuat perasaan Rainero bahagia. Hal ini menunjukkan kalau Shenina sebenarnya sudah mulai memiliki rasa padanya.
Sementara itu, di luar ruang rawat Shenina, tampak Delena sedang memeriksa ponselnya. Ponselnya berdering nyaring. Matanya terbelalak saat melihat siapa yang menghubunginya.
"Hallo, Dad," sapa Delena pada sang ayah mertua.
"Delena, apa benar Rainero menjadi salah satu korban pengeboman di Bali?" tanya Ranveer.
'Apa mungkin Reeves menceritakan kejadian itu?'
Ya, sebelumnya Delena telah menghubungi suaminya dan menceritakan perihal pengeboman di bandara yang Rainero menjadi salah satu korbannya. Tapi setahunya, ayah mertuanya itu sedang pergi ke luar negeri. Jadi tidak mungkin suaminya menceritakan apa yang terjadi di sini.
"Dad, da-dari mana Daddy tahu?" tanya Delena gugup. Ranveer merupakan sosok yang keras dan tegas. Meskipun dia sebenarnya sosok yang baik, tapi tetap saja bagi Delena menyeramkan.
"Tidak perlu banyak bertanya, jawab saja pertanyaan Daddy" tegas Ranveer membuat Delena menelan ludahnya.
"Benar, Dad. Rain ... "
"Sebenarnya apa yang anak itu lakukan di Bali, hah? Bukannya dia baru kembali seminggu yang lalu, kenapa dia ke sana lagi?"
Delena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "emmm ... itu Dad, dia ... "
"Kenapa bicara kamu jadi terbata begitu? Kau berada di mana sekarang?"
"Delena ... juga ada di Bali, Dad."
"Apa? Kau pun berada di Bali." Terdengar helaan nafas kasar dari mulut Ranveer. "Lalu Reeves?"
"Reeves sedang menyusul kemari," jawab Delena.
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan di sana? Mengapa kau pun sampai berada di sana? Apa yang kalian lakukan di belakang Daddy, hah?"
Delena bingung. Sebenarnya ada rasa takut di benak Delena menceritakan apa yang Rainero lakukan di sini. Bukan tanpa alasan, Delena takut ayah mertuanya tidak menyukai Shenina karena status sosialnya. Delena ingat dulu Reeves memiliki kekasih yang merupakan orang biasa, tapi Ranveer tidak menyetujui hubungan mereka.
Ranveer kemudian menjodohkan Reeves dengannya yang merupakan putri sahabat Ranveer sendiri. Butuh waktu cukup lama untuk Delena menaklukkan hati Reeves. Itupun terjadi setelah Delena mengalami kecelakaan saat hamil setelah bertengkar dengan Reeves. Delena melahirkan Rainero saat usia kandungannya baru berusia 7 bulan. Bahkan rahim Delena pun terpaksa diangkat akibat kecelakaan itu. Delena koma hingga 6 bulan lamanya. Sejak itulah, Reeves mulai menyadari kalau ia telah mencintai Delena dan tidak ingin kehilangan Delena. Saat Delena sadar, Reeves pun berubah menjadi lebih baik dan berusaha mencurahkan segenap cinta dan kasih sayangnya untuk Delena.
Delena menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Delena sedang membantu Rain mengejar cintanya," ujar Delana akhirnya.
"Apa? Rain telah memiliki kekasih?" terdengar suara Ranveer begitu bersemangat. "Dari keluarga mana perempuan itu? Berasal dari perusahaan apa orang tuanya? Perempuan itu seorang model, artis, atau pengusaha?" cecar Ranveer bersemangat.
Inilah yang Delena khawatirkan, bagaimana kalau Ranveer menolak mentah-mentah hubungan mereka? Tentu Delena tak tega melihat putranya kembali terpuruk hanya karena cintanya yang tak direstui.
"Dia ... "
"Ah, nanti saja ceritanya. Kalau Reeves telah tiba, ajak dia dan Rain temui Daddy di Angkasa Hotel, mengerti?"
"Hah? Angkasa Hotel?" Setahu Delena Angkasa Hotel berada di Indonesia dan salah satunya di kota yang sedang mereka datangi ini.
"Iya, Angkasa Hotel, Bali. Daddy pun sedang berada di Bali saat ini," pungkas Ranveer membuat mata Delena terbelalak.
"A-apa? Daddy juga di Bali?" seru Delena benar-benar terkejut.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...