Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 201 (S3 Part 43)


Prang ...


Cangkir yang Roseline pegang tiba-tiba saja terjatuh ke lantai lalu pecah berkeping-keping. Mata Roseline mengerjap, hingga panggilan Jefrey membuat lamunan Roseline tersentak.


"Mommy, mommy tidak apa-apa?"


Roseline mengulas senyum tipis. Meskipun hatinya tiba-tiba gelisah entah karena apa, ia tak mungkin menunjukkannya di hadapan Jefrey. Sebisa mungkin ia menunjukkan ekspresi bahagia agar Jefrey pun ikut merasakan kebahagiaannya itu.


"Mommy tidak apa-apa. Sebentar ya, mommy mau bersihkan pecahan gelas ini dulu. Tadi tangan Mommy licin jadi gelasnya jatuh dan pecah," ujar Roseline yang diangguki Jefrey.


Roseline pun segera mencari petugas kebersihan untuk meminjam sapu dan pengki untuk membersihkan pecahan gelas itu dan sebuah kantong plastik untuk menyimpan pecahan gelas agar tidak tercecer.


Setelah bersih, Roseline pun kembali duduk di samping Jefrey dan mengupaskan buah pear untuk santapan bocah cilik tersebut.


Sementara itu, orang yang mengikuti Jevian tadi tersenyum lebar saat melihat mobil yang Jevian kendarai telah menabrak sebuah batu besar yang ada di perbukitan itu.


Mobilnya kembali berhenti tak jauh dari mobil Jevian yang sudah mengepulkan asap tebal lalu memotretnya. Tak lupa ia kirimkan foto tersebut pada Tobey.


[Misi berhasil, Bos!]


[Bagus. Bayaranmu akan segera menyusul.] balas Tobey membuat laki-laki itu tersenyum lebar. Namun baru saja ia berniat menyalakan mobilnya lagi, tiba-tiba beberapa mobil polisi berhenti di depan mobilnya pun di sisi lainnya. Laki-laki itu mengerjap dengan tubuh kaku. Ia benar-benar tidak sadar kalau mobilnya sudah dalam keadaan terkepung.


Laki-laki itu ingin kembali menghubungi Tobey, tapi jendela kaca yang terbuka membuat petugas polisi dengan mudah menodongkan senjata api ke kepalanya. Tak ada pilihan lain selain menyerah. Daripada ia mati konyol karena mencoba memberontak pada petugas yang jumlahnya tidak sedikit.


Sementara itu, polisi yang sejak awal mengikuti mobil Jevian segera mendekati mobil yang mereka yakini akan segera meledak itu. Dengan segenap mereka memeriksa ke dalam mobil itu. Namun mereka justru tidak menemukan sosok Jevian di dalam sana.


"Sir, tuan Jevian tidak ada di dalam!" lapor salah seorang petugas pada sang atasan.


"Apa? Cepat temukan tuan Jevian di sekitar. Mungkin ia terpental atau sudah melompat lebih dulu," titahnya pada yang lain.


Mereka pun segera bergerak. Asap pekat kian membumbung tinggi. Semua petugas pun segera berlari sebab mereka yakin dalam hitungan detik, mobil akan segera meledak.


Dan seperti perkiraan mereka, mobil pun meledak dalam hitungan kelima. Beruntung semua sudah menjauh. Namun kecemasan belum mereda sebab mereka belum menemukan sosok Jevian.


Hingga teriakan salah seorang petugas membuat mereka pun gegas berlari.


"Sir, tuan Jevian ada di bawah sana!" pekik salah seorang petugas.


Mereka pun segera mendekat, dan benar saja mereka menemukan Jevian yang sudah terguling di undakan bukit yang menurun. Untung saja tubuh Jevian terhalang pohon pinus, bila tidak tubuh yang sudah dipenuhi luka akan masuk ke jurang yang jaraknya beberapa meter lagi dari sana.


"Cepat, turun ke bawah!"


Mereka pun bergegas turun dengan hati-hati untuk menyelamatkan Jevian yang ternyata kehilangan kesadarannya. Tak lama kemudian, ambulans yang sudah mereka hubungi pun tiba. Jevian pun segera dibawa ke rumah sakit.


...***...


Sudah hampir tengah malam, tapi Jevian tak kunjung pulang. Padahal ia tadi sempat menghubungi dan mengatakan sebentar lagi pulang.


Roseline merasa khawatir. Ia tak henti-hentinya memandangi jarum jam di dinding. Ada perasaan cemas menelusup. Apalagi ia sudah tahu kalau Matson mengalami kecelakaan karena faktor kesengajaan yang belum tahu siapa pelakunya.


Roseline menghampiri Jefrey yang tertidur lelap. Lalu ia membenarkan selimutnya hingga sebatas dada.


Roseline menghela nafas panjang. Ia benar-benar gelisah saat ini.


"Kau sebenarnya dimana? Kenapa belum pulang?"


Roseline beranjak dan meraih cardigan yang tergantung di capstok lalu mengenakannya. Ia ingin jalan-jalan keluar, menenangkan pikirannya yang entah mengapa begitu gundah gulana. Sepertinya perlahan rasa itu mulai hadir sehingga membuatnya begitu mengkhawatirkan Jevian.


Roseline duduk di taman seorang diri. Langit malam tampak begitu indah dengan taburan bintang di atasnya. Udara dingin menyeruak membuat Roseline mengeratkan cardigannya.


Saat sedang termenung, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Awalnya Roseline hendak mengabaikan, tapi karena panggilan itu kembali masuk hingga beberapa kali, Roseline pun segera mengangkatnya.


"Hallo."


"Jevian?"


"Hmmm ... Memanggil kau pikir siapa?"


"Ck ... Kau ini kemana? Kenapa sampai sekarang belum pulang? Dan ... Kenapa kau menghubungiku dengan nomor baru?"


"Maaf, apa kau menunggu kepulanganku? Apa kau merindukanku?"


Mendengar itu, Roseline berdecak, "jawab saja pertanyaanku, sebenarnya kau dimana?"


"Aku ... ada di rumah sakit."


"Jangan berbohong! Kalau kau di sini, kenapa kau tak kunjung kemari?" omel Roseline kesal, namun tetap dengan nada rendah sebab hari sudah larut. Ia tak ingin omelannya menimbulkan keributan di rumah sakit.


"Aku tidak bohong, mommy Jef. Aku benar-benar di rumah sakit. Hanya saja ... " Jevian menghela nafasnya. Roseline mengerutkan kening, menunggu kalimat lanjutan dari Jevian. "Hanya saja aku sedang berada di ruangan pasien."


"Apa? Bagaimana bisa? Apa kau sakit? Sakit apa? Diruang mana? Nomor berapa?" cecar Roseline yang justru membuat Jevian terkekeh pelan. Ia ingin terbahak, tapi luka ditubuhnya membuatnya harus mengontrol tawanya sendiri. Syukur-syukur masih bisa tertawa. Apalagi saat sesaat sebelum melompat dari mobil hingga tubuhnya jatuh menggelinding di undakan bukit yang sedikit curam karena di bawahnya ada jurang, sempat membuat Jevian nyaris putus asa. Membayangkan meninggalkan orang-orang yang terkasih membuatnya tak kuasa menahan gejolak di dalam dada. Beruntung ia masih terselamatkan. Luka-lukanya juga tidak begitu parah, membuatnya amat sangat bersyukur.


"Aku jadi bingung, yang mana dulu yang harus ku jawab."


Roseline terdiam. Benar juga. Bukankah meminta penjelasan bisa nanti setelah mereka bertemu.


"Ya sudah, beritahu dulu kau dirawat dimana dan kamar nomor berapa lewat pesan? Sebentar lagi aku akan menyusul ke sana setelah mencari perawat untuk dimintai tolong jaga Jefrey sebentar."


Roseline pun segera memutus panggilan itu setelah diiyakan oleh Jevian. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk datang. Roseline pun bergegas mencari perawat untuk dimintai tolong menjaga Jefrey selama ia melihat keadaan Jevian.


"Jevian, sebenarnya apa yang terjadi?" Roseline sampai menutup mulutnya saat melihat keadaan Jevian yang jauh dari kata baik-baik saja. Perban melingkari kepalanya. Ada selang infus yang terhubung di pergelangan tangannya, belum lagi gips yang melingkari lehernya, luka di sana sini membuat Roseline meringis melihatnya.


"Aku hanya kecelakaan biasa. Tak usah khawatir. Ah, tapi aku senang melihatmu khawatir seperti ini. Kau sudah seperti seorang istri yang mengkhawatirkan suaminya saja," seloroh Jevian yang kini sudah mulai kembali ke setelan pabrik. Memang sudah empat tahun terakhir ia kehilangan jati dirinya sendiri. Ia jadi laki-laki pendiam, datar, dan dingin. Padahal aslinya ia suka bercanda dan tersenyum. Tapi senyumnya menghilang sesaat setelah masalah menerpanya bertubi-tubi. Khususnya setelah masa lalunya dengan Adisti.


Roseline berdecak seraya menggelengkan kepalanya, "kau ini sudah terluka seperti ini, masih bisa bercanda. Dan kau pikir aku bodoh bisa kau bohongi dengan mengatakan kalau kau hanya kecelakaan biasa. Terlebih di luar ada polisi yang berjaga. Jangan suka membodohiku, karena aku tak suka," sungut Roseline yang sudah duduk di kursi yang ada di samping brankar.


"Maaf," cicit Jevian merasa bersalah. "Oh ya, aku ada satu kabar baik untukmu."


"Apa?" jawab Roseline masih dengan mode kesal.


"Aku sudah resmi bercerai. Jadi ... Maukah kau menikah denganku?" tanya Jevian membuat mata Roseline terbelalak.


'Apa aku tak salah dengar? Apa dia melamarku? Di rumah sakit?'


...***...


Keesokan harinya, Tobey baru 15 menit yang lalu tiba di perusahaannya. Hingga tiba-tiba asisten pribadinya masuk ke ruangannya dengan tergopoh-gopoh.


"Tuan, semua perusahaan yang bekerja sama dengan kita, membatalkan kontrak kerja sama secara serentak."


"Apa?" Tobey seketika menggebrak meja. Nafasnya naik turun. Belum selesai masalahnya karena beberapa proyek yang mangkrak akibat rekan bisnisnya memutuskan kerja sama, kini ditambah lagi dengan semua perusahaan memutuskan kontrak kerja sama mereka. Ia sudah bisa memprediksi kerugiannya kali ini bukan main-main. Bisa-bisa dalam hitungan jam, perusahaannya akan dinyatakan pailit. Tobey meremas rambutnya. Ia benar-benar shock. Ia bingung harus melakukan apa sekarang.


Belum selesai masalahnya, tiba-tiba seseorang masuk ke ruangannya dengan nafas tersengal. Tobey yang sedang murka, ingin rasanya mencekik mati orang itu. Namun apa yang orang itu sampaikan, seketika membuatnya menegang kaku.


"Tuan, di bawah banyak polisi. Mereka memaksa ingin menemui Anda," ujar seorang petugas keamanan perusahaan Tobey membuat pria paruh baya itu terbelalak dengan tubuh menegang.


"Polisi? Mau apa mereka?" tanyanya gugup.


"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi mereka meminta agar Anda segera keluar?"


Tobey seketika panik. Baru saja kemarin ia merasa senang sebab berhasil menyingkirkan Jevian, lalu apakah dalam semalam perbuatannya itu sudah terbongkar? Apa artinya, sebentar lagi ia akan menghabiskan masa tuanya di balik jeruji besi?


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...