Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 159 (S3 Part 2)


Sepulangnya dari rumah sakit, Jevian termenung seorang diri. Tak ada teman apalagi saudara yang bisa dijadikannya tempat berbagi cerita. Semua masalah terpaksa ia hadapi seorang diri. Sungguh sangat miris.


Jevian lantas mengeluarkan ponselnya. Kemudian ia membuka galeri yang berisi banyak foto Adisti yang ia ambil secara diam-diam. Diusapnya wajah cantik Adisti dengan tatapan sendu, namun penuh cinta.


"Dis, aku harus apa? Aku harus bagaimana? Apakah aku harus menerima permintaan daddy? Tapi ... aku tidak mencintainya. Aku harus apa, Dis? Aku harus bagaimana? Aku ... masih sangat mencintaimu?" lirih Jevian nelangsa.


Ia tergugu. Air matanya berdesakan turun membanjiri wajahnya. Jevian merasa hidupnya benar-benar hancur dan tak berarti lagi.


Matanya terpejam erat. Ia harus mengambil keputusan sesegera mungkin.


2 Minggu kemudian,


"Rain, lihat ini!" Axton mendekat ke arah Rainero yang sedang memeriksa beberapa berkas yang tergeletak di atas meja. Rainero sontak mengangkat wajahnya dan menatap Axton yang baru saja masuk ke ruangannya secara tergesa.


"Ada apa?" tanya Rainero heran. Apalagi saat Axton masuk dengan tablet di tangannya dan berjalan tergesa.


"Lihat ini!"


Rainero pun segera melihat layar tablet yang diberikan Axton dan membaca kabar yang tengah diberitakan hari itu.


Dahi Rainero seketika mengernyit, "ini ... kau juga baru tahu?" Tampak raut keterkejutan di wajah Rainero. Hal yang sama juga tampak di wajah Axton.


Axton mengangguk, "setelah pertemuan di pernikahan Mark dan Adisti, aku benar-benar kehilangan kontak. Aku sempat mencoba menghubunginya, tapi nomornya sudah tidak aktif lagi."


Terdengar helaan nafas kasar di mulut Axton. Ia tak habis pikir dengan jalan keluar yang dipilih sahabatnya itu. Ia rela menjalani pernikahan bisnis demi menyelamatkan perusahaan keluarganya.


Ya, portal berita yang barusan Axton dan Rainero baca memang memberitakan tentang investasi yang akan dilakukan pengusaha bernama Tobey di perusahaan keluarga Jevian sekaligus pengumuman acara pertunangan Jevian dan putrinya yang bernama Evelyn yang akan diadakan 2 Minggu lagi. Sedangkan resepsi pernikahan akan diadakan selang satu bulan setelah acara pertunangan.


Jelas saja Rainero dan Axton terkejut. Apalagi mereka berdua tahu bagaimana kiprah Tobey di dunia bisnis yang tak segan-segan mengambil jalan pintas untuk mendapatkan tujuannya. Bahkan terkadang ia tak sungkan-sungkan menyingkirkan orang-orang yang diduga dapat menghalangi jalannya. Memang tak banyak yang tahu sebab Tobey selalu bermain aman dan apik. Tapi tidak untuk Rainero. Ia sangat tahu sebab mereka pernah berseteru karena SC Company berhasil memenangkan tender proyek yang yang cukup besar.


Tobey sudah melakukan berbagai cara untuk memenangkan tender tersebut tetapi gagal. Alhasil, ia pun mencoba menggagalkan dan menghancurkan proyek yang sedang Rainero jalankan dengan menyabotasenya, namun rencana busuk Tobey berhasil mereka gagalkan. Pelaku yang merupakan orang suruhan Tobey berhasil mereka ringkus, tapi sayang mereka gagal untuk memenjarakan Tobey karena kekurangan bukti pun orang-orang suruhan Tobey menutup mulutnya dengan begitu rapat.


"Aku tidak mengerti, mengapa ia sampai memilih jalan itu. Padahal kau sudah menawarkan bantuan padanya, tapi ia justru menolaknya mentah-mentah," kesal Axton.


"Tapi kita tidak bisa menyalahkan Jevian sepenuhnya. Aku mengerti, ia pasti merasa malu menerima bantuan kita setelah apa yang orang tuanya lakukan pada Adisti."


"Tapi tetap saja, cara yang dilakukannya ini salah." Axton masih tidak terima dengan jalan yang Jevian pilih.


"Sudahlah, Axton. Lebih baik kita doakan saja semoga Jevian baik-baik saja."


"Yah, semoga saja." Akhirnya Axton hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia pun mendoakan agar pernikahan yang Jevian jalani dapat berakhir baik-baik saja.


Sementara itu, di tempat lain, tampak Jevian sejak tadi hanya diam saja semenjak pengumuman kerja sama perusahaan miliknya dan milik Tobey serta pengumuman pertunangannya dengan Evelyn atau lebih sering disapa Eve.


Helaan nafas kasar ia hembuskan entah untuk yang ke berapa kalinya. Seminggu yang lalu ia berusaha memperjuangkan perusahaannya dengan tangannya sendiri. Ia mencoba membujuk para investor agar kembali menanamkan modal mereka di perusahaannya, tapi tak ada yang bersedia. Hingga akhirnya, seminggu yang lalu, setelah ayahnya sempat kembali kritis, ia pun akhirnya terpaksa mengambil keputusan dengan menerima bantuan Tobey dengan syarat mau menikah dengan putrinya, Evelyn.


"Hai sayang," sapa Eve yang tiba-tiba saja masuk ke ruangan Jevian membuat laki-laki itu tersentak dari lamunannya.


"Eh, hai, Eve."


Cup ...


Tiba-tiba saja Eve mendekat dan mencium pipi Jevian membuat laki-laki itu menegang.


Eve terkekeh melihat ekspresi Jevian yang sudah seperti seorang perawan yang dicuri ciuman pertamanya.


"Maaf mengganggu waktumu. Aku hanya ingin mengantarkan makan siang untukmu. Semoga kau suka," ujar Eve sambil meletakkan wadah makanan dan mulai menghidangkannya.


Jevian tersenyum canggung. Ia pun segera duduk di kursi sambil memperhatikan Eve yang dengan cekatan menghidangkan makan siangnya.


"Ayo Sayang, silahkan makan."


"Tak perlu sungkan," ujarnya sambil memperhatikan Jevian yang sedang menyantap makanan yang ia bawakan.


"Kau tidak makan?" Meskipun Jevian terpaksa menerima pernikahan itu, sebisa mungkin Jevian memperlakukan Eve dengan baik.


Eve menggeleng cepat, "belum. Nanti saja setelah kau makan."


"Kenapa begitu?"


"Sebab aku ingin memperhatikan ekspresi calon suamiku saat makan."


Ukhuk ... Ukhuk ...


Jevian sontak terbatuk-batuk mendengar kata-kata Eve. Eve pun segera menyodorkan gelas berisi air minum pada Jevian. Jevian pun menerimanya dan segera meminumnya hingga bersisa setengahnya saja.


"Oh ya Jev, kau mau pernikahan kita temanya apa?" tanya Eve.


Bila biasanya perempuan yang ditanya seperti itu, maka ini sebaliknya.


"Aku terserah kau saja."


Bagaimana Jevian bisa menentukan, sedangkan ini bukan pernikahan yang ia inginkan.


"Benar? Kau tidak memiliki keinginan apa gitu?"


Jevian menggeleng.


"Oke. Oh ya, besok kita ke toko perhiasan ya. Aku ingin memesan cincin pertunangan dan cincin pernikahan kita yang spesial. Dan malamnya aku ada pertemuan dengan teman-temanku. Mereka ingin bertemu dengan kita. Kau temani aku ya."


Jevian hanya bisa mengangguk saja meskipun sebenarnya enggan. Apalagi Eve sudah menentukan sesuatu begitu saja tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu. Dari situ, Jevian mengambil kesimpulan ia tidak memiliki hak untuk menentukan sesuatu. Segalanya mesti menurut keputusan mereka. Bahkan hari pertunangan dan pernikahan saja, mereka menentukan sendiri tanpa memintanya pendapatnya terlebih dahulu.


Namun apa boleh buat, memang itu merupakan salah satu bagian dari kesepakatan mereka agar Tobey bersedia membantu perusahaannya dari ambang kehancuran. Ia harus tunduk dan patuh pada setiap keputusan yang Tobey ambil.


Keesokan harinya, selepas membeli cincin, Eve langsung membawa Jevian menuju butik langganannya. Ternyata Eve sudah memesan beberapa stel pakaian yang salah satunya akan dikenakan Jevian pada pertemuan dengan teman-teman Eve malam itu.


"Wah, kau memang sangat tampan, Sayang. Rasanya aku sudah tak sabar menikah denganmu. Ayo, kita ke apartemenku dulu. Kita berangkat dari apartemenku saja, tidak masalah kan!" ucap Eve yang langsung menggamit tangan Jevian menuju mobilnya tanpa menunggu jawaban Jevian terlebih dahulu.


Pertemuan malam itu sukses besar. Semua teman-teman Eve memberi mereka selamat. Tak sedikit yang memuji keserasian mereka sebagai pasangan. Jevian yang tampan rupawan sungguh serasi bersanding dengan Evelyn yang cantik.


Pertemuan itu dilakukan di sebuah restoran mewah. Namun saat hendak pulang, Jevian melihat seseorang yang sangat dirindukannya. Jevian sempat mematung sejenak saat melihat Adisti tengah mendorong kursi roda Mark. Sepertinya Mark sudah keluar dari rumah sakit dan mereka pun menikmati makan malam di tempat yang sama dengan mereka.


"Sayang, kamu liatin apa sih?" tanya Eve sambil bergelayut mesra di lengan Jevian. Jevian tersenyum kemudian menggeleng.


"Aku tidak melihat apa-apa kok. Ayo kita segera pulang sekarang," ajak Jevian.


"Aku pulang ke apartemen mu ya."


"Hah?"


"Aku mau tidur di apartemen mu."


"Tapi ... "


"Ayolah, Sayang, bukankah kita juga sebentar lagi akan menikah jadi tidak masalah kan kalau aku tidur di apartemen mu?"


Akhirnya, lagi-lagi Jevian hanya bisa pasrah dengan keputusan Eve.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...