
Jam kerja Adisti sudah hampir habis. Kasir pengganti pun telah bersiap untuk rolling tugas. Adisti segera membereskan pekerjaannya, kemudian segera beranjak untuk menuju ruang ganti. Ia akan berganti pakaian dulu sebelum pulang. Mengganti seragam khas restoran Luxurious dengan pakaian yang dipakainya sebelumnya.
"Adisti, ada titipan nih!" ujar salah seorang rekan kerjanya. Perempuan bermata sipit itu pun mengulurkan sebuah paper bag ke arah Adisti membuat gadis itu kebingungan.
"Apa ini?" tanyanya tak mau langsung menerimanya begitu saja.
"Dah, terima aja. Dari pacar kamu itu."
"Pacar? Yang mana?"
"Ya ampun, kayak punya banyak pacar aja. Itu lho, sopirnya tuan Rainero," ujar perempuan itu.
Mata Adisti membulat lalu segera meraih paper bag itu dengan tersenyum kecil.
"Terima kasih ya!"
Temannya pun mengangguk, "eh, ngomong-ngomong kok makin hari makin ganteng aja sih dia? Udah 11 12 sama tuan Rainero," sambung temannya itu sebelum Adisti benar-benar berlalu. Adisti bingung harus merespon apa jadi ia memilih segera berlalu ke kamar ganti untuk melihat isi paper bag itu.
Di dalam kamar ganti, Adisti segera memeriksa isi paper bag itu. Matanya membulat saat mengetahui isinya adalah sebuah gaun berwarna biru laut yang sangat cantik. Lalu Adisti juga menemukan selembar kertas di dalamnya.
[Pakailah gaun ini! Ku tunggu. ❤️]
Adisti menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat ini. Ia memang tahu kalau Mark ingin menjemputnya, tapi haruskah dengan mengenakan gaun tersebut?
Terdengar helaan nafas kasar dari bibir Adisti. Ia merasa ini terlalu berlebihan, tapi menolak pun rasanya keterlaluan. Ia yakin Mark pasti akan tersinggung bila ia menolaknya. Apalagi kemarin malam Mark telah membantunya terbebas dari berondongan hinaan keluarga Jevian. Dengan berat hati, Adisti pun segera mengenakan gaun tersebut. Tapi sebelum itu, ia mencuci wajahnya terlebih dahulu. Setelah mengenakan gaun, ia memulas sedikit bedak dan lipstik di bibirnya agar terlihat lebih segar. Adisti tidak suka berdandan berlebihan. Ia paling hanya mengenakan bedak dan lipstik, hanya itu saja baginya sudah cukup. Terbiasa hidup sederhana membuatnya tak suka melakukan hal yang berlebihan termasuk make up.
Setelah memastikan semuanya pas, Adisti pun segera keluar dari kamar ganti menuju depan restoran dimana Mark telah menunggunya.
Mark yang sejak tadi duduk di salah satu kursi yang ada luar restoran sambil ditemani secangkir latte seketika menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Mark pun menoleh dan seketika tersenyum lebar dengan mata berbinar. Meskipun penampilan Adisti terkesan sederhana, tapi tetap saja begitu cantik hingga membuatnya terpukau.
"Mark. Hello, Mark ... " panggil Adisti sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Mark. Mark pun tersentak dengan wajah tersipu, salah tingkah.
"Ah, ka-kau sudah siap rupanya," ujar Mark tergagap.
"Cih, sok gugup. Baru liat perempuan kayak aku aja gugup, gimana kalau ketemu perempuan cantik secantik Miss universe, bisa-bisa ileran udah kayak anak kecil yang liat es krim," ejek Adisti membuat Mark geram dan menyentil dahinya.
"Bukannya anak bayi ileran karena liat susu ibunya?" ujar Mark sambil tersenyum aneh.
Mata Adisti melotot, "dasar mesyum."
"Lah, kan emang kenyataannya begitu."
"Tau darimana kamu? Jangan-jangan diam-diam kamu udah punya anak sama kekasih kamu waktu itu?" tuding Adisti dengan mata melotot.
Mark jadi ikut melotot saat mendengar tudingan Adisti, "heh, enak aja. Sembarangan kalau ngomong."
"Lah, bisa aja. Siapa sih nggak tahu gimana gaya pacaran orang sini."
"Ya nggak gitu juga kali, Dis.Tenang saja, aku main aman kok. Kalaupun aku mau punya anak, cuma sama kamu aja. Atau kamu mau segera punya anak sama aku? Kalau mau, ayo!" goda Mark membuat mata Adisti melotot.
"Enak aja. Ogah."
Mark terkekeh, "ya udah, yuk ikut aku."
"Emang kita mau kemana?" tanya Adisti saat mereka telah berdiri di depan mobil Mark. Kali ini Mark tidak menggunakan mobil Lexus-nya, tapi mobil Audi R8 berwarna merah menyala membuat mata Adisti sampai terbelalak. "Ini ... Mobil kamu?" lanjut Adisti saat melihat mobil di hadapannya.
"Apa ini nggak berlebihan?"
"Kenapa kamu mikir begitu?"
"Ini ... Ah aku nggak mau masuk. Aku ngeri kalo masuk mobil terlalu mewah seperti ini. Kalo malam itu okelah karena aku nggak nyadar, kalo ini ... "
Mark berdecak, "udah, masalah mobil aja dibuat ribet. Mending sekarang masuk dan duduk."
Mark mendorong tubuh Adisti agar masuk ke dalam mobil.
"Tapi ... "
"Nolak, aku cium, ayo pilih mana?"
Mata Adisti terbelalak, "kamu itu ya, nggak ngancam aja main sosor seenaknya, apalagi ngancam, bisa habis bibir aku kamu makan," omel Adisti. Ya, dia merasa bibirnya seakan ingin dimakan Mark karena laki-laki itu suka menghisap kuat bibirnya, bahkan sampai nyaris bengkak.
Mark tergelak, "namanya juga ciuman, ya begitu."
"Ciuman itu dilakukan dua orang karena suka sama suka, bukan satu orang yang main sosor seenaknya kayak kamu."
Adisti terus mengomel tanpa sadar ia telah duduk dan di dalam mobil. Bahkan Mark telah memasangkan seat belt miliknya.
"Ya udah, kalau begitu kita rekan ulang aja ciumannya, bagaimana? Tapi kali ini kita lakukan bersama biar nggak dibilang main sosor seenaknya. Kamu mau ciuman sesungguhnya kan?"
Sontak saja Adisti menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya membuat Mark makin tergelak. Lalu ia menyalakan mobilnya dan keluar dari pelataran parkir restoran. Tak lupa ia memberikan karcis masuk area restoran kepada petugas, barulah mobilnya melenggang membelah jalanan menuju tempat tujuannya.
"Oh ya Mark, kenapa aku mesti pakai gaun ini sih? Udah kayak mau ngedate aja."
"Memang mau ngedate."
"Hah?" Adisti hanya bisa melongo mendengar penuturan Mark yang menurutnya sekali saja seenaknya saja.
Tak lama kemudian, mobil Mark masuk ke gerbang sebuah hotel mewah. Mata Adisti terbelalak. Rasa gugup menghinggapinya. Bahkan saat Mark sudah turun tepat di depan hotel, Adisti masih bergeming di tempatnya dengan jantung yang berdebar.
"Mark, ngapain kamu bawa aku ke sini?" tanya Adisti khawatir.
"Menurutmu?" Mark menyeringai membuat Adisti kian gugup bukan kepalang.
Adisti lantas menggeleng tegas, "nggak, aku nggak mau ikut kamu. Antar aku pulang sekarang!" tegas Adisti.
Tapi Mark justru bergeming di tempatnya, "kenapa?"
"Kamu masih pake tanya kenapa? Kamu pikir aku sama seperti kekasih-kekasihmu sebelumnya, hah? Nggak, aku nggak mau ikut kamu ke dalam. Kita belum menikah jadi kita tidak boleh melakukannya. Aku nggak mau berakhir seperti mereka, habis manis sepah dibuang. Cepat antar aku pulang. Kalau kamu nggak mau, biar aku pulang sendiri!" Adisti gadis yang tegas. Ia juga perempuan berprinsip. Ia takkan melewati norma batasannya. Apalagi ia memegang teguh adat ketimuran tempat dirinya berasal. Kalau sebatas ciuman, oke, ia masih menoleransi, tapi lebih dari itu? Big no! Ia tak mau melakukannya. Ia hanya ingin melakukannya dengan suaminya kelak.
Mark, " ... "
...***...
Ternyata kisah para figuran di cerita ini panjang juga ya? Belum termasuk cerita Theo-Rhea. Padahal rencana akhir bulan tadi udah othor tamatin, eh malah jadi panjang lagi gara-gara kisah mereka yang belum usai. Mau dibuat buku baru, entar ribet ACC kontrak. Dah lah, sambung di sini aja nggak papa ya! Selang seling sama cerita tokoh utama yang emang belum benar-benar kelar. Untuk Theo dan Rhea kayaknya di last chapter aja. 🤣😂
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...