
"Miss Sasya cantik, cih, apa-apaan itu? Kalau memang Miss Sasya - Sasya itu cantik, kenapa tidak lamar perempuan itu saja? Pakai telepon-telepon segala di pagi buta seperti ini, kurang kerjaan. Ngapain coba, telepon sepagi ini? Pasti mau modus. Iya, itu pasti," omel Roseline saat ingat nama yang tertera di layar ponsel Jevian tadi bernama Miss Sasya cantik.
Seketika hati Roseline dongkol bin kesal bukan main. Bahkan ia yang tadi semangat ingin menghabiskan sarapannya jadi kehilangan selera.
"Takut bener pembicaraannya di dengar orang lain sampai pake melipir segala. Hah, kenapa aku jadi kesal sekali seperti ini sih? Ck, tapi aku wajar kan marah? Bagaimana tidak marah, katanya mau nikah sama aku, tapi masih dekat-dekat dengan perempuan lain yang jelas-jelas punya rasa ke dia. Sudah punya calon istri masih suka modus ke perempuan lain. Mana nama kontaknya begitu lagi," sebal Roseline bersungut-sungut.
Maid yang sedang membereskan piring kotor di atas meja sampai menatap heran Roseline yang mengoceh-ngoceh tak jelas.
"Eh, Jefrey tadi mana ya?" beo Roseline saat menyadari kalau Jefrey sudah menghilang dari kursi tempat ia makan tadi.
"Ran, Jefrey tadi mana ya?" tanya Roseline pada salah satu maid di mansion itu.
"Tuan muda Jefrey tadi menyusul tuan Jevian, Nona," ujarnya.
"Oh ya? Terima kasih kalau begitu," ujar Roseline.
Roseline pun segera beranjak mencari keberadaan Jefrey. Namun saat Roseline menemukannya, hatinya justru makin panas sebab ia melihat Jefrey sedang duduk di pangkuan Jevian. Yang membuatnya panas, bukan karena ia duduk di pangkuan itu, melainkan apa yang keduanya lakukan. Ternyata mereka sedang melakukan panggilan video dengan seseorang yang sejak kemarin mengusiknya. Siapa lagi kalau bukan Miss Sasya.
"Siap Miss. Miss Sasya juga hati-hati di jalan. Sampai jumpa lagi di sekolah, Miss."
" ... "
"Mom, Mommy," panggil Jefrey sambil menggoyang-goyangkan lengannya.
"Ah, iya. Ada apa, Boy?" tanya Roseline gelagapan sebab ia baru sadar kalau mereka sudah selesai dengan panggilan videonya.
"Mommy melamun?" tanya Jefrey lagi.
"Ti-tidak," jawab Roseline terbata apalagi saat ia melihat Jevian tengah memandangnya lekat.
"Kau sedang melamunkan apa, hm?" tanya Jevian saat ia melihat Roseline membuang muka saat bertatapan dengannya.
"Bukan urusanmu," ketus Roseline membuat Jevian terkejut setengah mati sebab baru kali ini Roseline berbicara dengan ketus padanya.
"Aku ada salah?"
"Mommy sedang marah sama Daddy?"
Roseline menggeleng. Kemudian ia segera membalikkan badannya menjauh dari Jevian. Jelas saja laki-laki itu bingung.
"Seline, aku sudah harus berangkat ke kantor," ujar Jevian berharap Roseline menghentikan langkahnya.
"Mau pergi ya pergi aja. Memangnya apa urusannya denganku?"
Sontak saja mata Jevian membulat saat mendengar jawaban tersebut.
"Apa aku ada berbuat salah padanya?" gumam Jevian bingung sambil menggaruk kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya, Jevian pergi bekerja tanpa diantar oleh Roseline. Jelas saja hal itu membuat Jevian merasa tak nyaman. Bahkan sampai kantor pun ia tak henti-hentinya kepikiran. Ia bingung apa kesalahannya sampai-sampai Roseline bersikap acuh padanya.
Sementara itu di mansion, Roseline tak henti-hentinya memasang wajah masam. Walaupun Roseline tetap berusaha bersikap biasa saja pada Jefrey, tapi di hadapan yang lainnya ia bersikap lebih dingin.
Setelah menidurkan Jefrey, Roseline pun segera keluar kamar. Ia pun duduk di kursi tempat Jevian duduk sambil melakukan panggilan video pagi tadi. Ia memutar mata malas saat melihat tumpukan pesan dari Jevian. Ia tidak minat sedikitpun untuk membalas ataupun meresponnya. Entahlah, ia masih kesal.
Sementara itu, di kantor wajah Jevian ditekuk masam. Ia kesal. Sejak tadi ia tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Raganya boleh di perusahaan, tapi hatinya justru tertinggal di mansion. Ia bingung mengapa sikap Roseline tiba-tiba dingin padanya. Bahkan pesan-pesan dan panggilannya tidak ada yang direspon.
"Apa aku sudah berbuat salah? Tapi apa?"
Jevian mencoba mengingat-ingat. Pagi tadi semuanya tampak baik-baik saja hingga ...
"Apa mungkin? Hah, tapi kan ... Ck ... " Jevian lantas meraup wajahnya kasar. Entah tebakannya kali ini benar atau salah.
...***...
"Nona, ada tamu yang ingin menemui Anda," ujar salah satu maid di kediaman Jevian.
Dahi Roseline berkerut, "tamu? Siapa?" tanya Roseline bingung sebab di negara itu ia tidak memiliki teman sama sekali. Tak ada yang dikenalnya. Ah, jangankan di sana, di negara asalnya pun sama saja, ia tidak memiliki teman satupun. Oleh sebab itu, saat ia sedang bersedih ataupun banyak pikiran, semua ia telan sendiri.
"Saya sudah menanyakan namanya, tapi dia tidak memberi tahu. Dia bilang, katakan saja kalau ia teman dekat nona."
"Hah, teman dekat? Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, nona."
Dahi Roseline makin berkerut-kerut. Ia yang sedang malas dan kesal pun menolak menerima tamu tersebut.
"Suruh saja dia pulang. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun," ujar Roseline. Entah mengapa ia merasa tidak nyaman setelah tahu ada yang mencarinya.
Roseline sudah menduga satu nama, namun ia tidak tahu benar atau salah tebakannya.
Setelah mengatakan itu, maid itupun pergi untuk melakukan perintah Roseline. Meskipun Roseline berstatus pengasuh di mansion itu, tapi karena baik Jevian maupun Jefrey begitu menghormati Roseline jadi semua maid pun ikut menghormatinya selayaknya tuan rumah.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara kegaduhan. Sepertinya orang tersebut menolak untuk pergi.
"Rose, ini aku, Bastian. Rose, aku ingin bertemu. Rose, keluarlah!" pekik Bastian membuat Roseline terperangah saat mengetahui tebakannya sangat tepat. Namun ia pun heran, bagaimana ia bisa tahu dimana ia tinggal. Tapi setelah dipikir-pikir, ia saja bisa tahu hubungannya dengan Jevian, lantas tak perlu heran lagi kalau Bastian bisa menemukan keberadaannya.
Roseline mendengar kegaduhan itu cukup lama. Sepertinya Bastian berkeras ingin bertemu dengannya. Roseline bersikap acuh tak acuh. Terserahlah Bastian ingin melakukan apa yang pasti ia malas bertemu dengannya.
Sementara itu, di luar sana Bastian mengumpat kesal karena Roseline yang tidak kunjung keluar menemuinya.
"Siapa kau, Rose. Sepertinya kau ingin bermain-main denganku. Baiklah. Aku akan membuatmu keluar dari mansion ini sehingga kamu mau tak mau harus ikut denganku," ujar Bastian merasa yakin dengan rencananya setelah ini.
Kesal karena tidak dihiraukan Roseline sama sekali, Bastian pun meminta sopirnya selama di sana mengantarkannya ke perusahaan J Company. Untuk apalagi kalau bukan untuk bertemu Jevian.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...