Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 89


Setelah melihat Julian benar-benar menghabiskan air minumnya, Ambar pun segera bangkit sambil meraih pakaiannya yang berceceran di lantai. Lalu tanpa merasa malu apalagi canggung, Ambar melenggang begitu saja menuju kamar mandi. Julian sampai mengusap bibirnya menggunakan ibu jarinya. Meskipun sudah kepala 4, Ambar tetap saja terlihat memesona di matanya. Apalagi permainan ranjangnya selalu saja membuatnya puas.


Tak sampai 15 menit kemudian, Ambar pun keluar dengan penampilan yang telah rapi seperti semula. Baru saja Julian ingin menanyakan uang yang Ambar janjikan tiba-tiba saja tenggorokannya terasa sakit. Bukan hanya tenggorokan, tapi sekujur tubuhnya seperti mati rasa. Lidahnya tercekat dengan nafas memburu.


Julian seketika menatap tajam Ambar yang kini menyeringai ke arahnya.


"Kau ... apa kau memasukkan sesuatu ke dalam minumanku?" desisnya dengan tangan terkepal


Ambar terkekeh sambil berjalan santai menuju meja di sana untuk mengambil tasnya.


"Bodoh. Kau baru menyadarinya sekarang?" ejeknya santai.


"Kau ... kenapa? Kenapa kau begitu tega padaku? Bagaimanapun aku mantan suamimu sekaligus ayah anakmu. Apa kau ingin membunuhku?"


"Memang apa peduliku? Kau hanya mantan tak berguna. Bahkan Jessi pun tak pernah menayangkan dirimu, jadi untuk apa aku peduli. Justru aku ingin kau segera mati. MATI," tekan Ambar menyeringai. "Kau pikir kau akan mendapatkan uang dariku? Jangan harap! Sebelum kau mengancamku lagi untuk mengungkapkan rahasia itu, sebaiknya kau mati. Membusuklah kau di dalam neraka," desis Ambar dengan sorot mata tajam, tanpa belas kasihan sama sekali.


Nafas Julian kian tercekat. Bulir-bulir peluh telah mengucur deras dari setiap porinya. Bahkan tungkainya sudah begitu lemas hingga tak mampu menapaki bumi lagi. Ia terjatuh begitu saja di atas lantai marmer yang dingin dengan wajah yang kian pucat pasi.


"Ambar, tolong, tolong aku. A-ku belum mau mati," melas Julian seraya menyeret tubuhnya menuju Ambar yang tengah berjalan menuju pintu. Julian memeluk kaki Ambar dengan tatapan mengiba. Bukannya merespon dengan pertolongan, Ambar justru menendang Julian hingga tubuhnya membentur dinding. Kepalanya berdarah, tapi Julian terus berusaha meminta pertolongan.


"Ambar, maafkan aku. Aku benar-benar mohon maaf. Aku berjanji takkan mengganggu kehidupanmu lagi, tapi sebelum itu, tolong, tolong aku. Berikan aku obat penawarnya. Aku belum mau mati, tolong aku!" mohonnya dengan bibir yang bahkan mulai membiru.


Ambar tergelak kencang seraya menatap Julian dengan penuh cemoohan, "kau pikir aku semurah hati itu akan membantumu."


"Ambar, kau sungguh keterlaluan?" desisnya dengan nafas putus-putus.


Lagi-lagi Ambar tergelakbmasa bodoh.


"Whatever!"


"Ambar, kau pikir kau bisa melepaskan diri setelah ini! Aku pastikan, kau akan mengalami hal yang lebih menyakitkan dari yang aku alami. Aku bersumpah hidupmu akan segera hancur. Jangan kau pikir kau akan selamanya aman. Ingat, tak ada bangkai yang benar-benar bisa disembunyikan. Kau bersumpah, hidupmu akan segera hancur. HANCUR. Aaaargh ... "


Tiba-tiba Ambar menendang-nendang perut Julian karena tidak terima atas sumpah serapah yang Julian ucapkan untuknya.


"Kau pikir sumpahmu akan terwujud? Itu takkan pernah terjadi karena Tuhan selalu berpihak padaku. Mati saja kau. Dasar laki-laki menjijikan," desisnya sambil meludah ke arah Julian. Julian yang tubuhnya telah mati rasa tak dapat lagi bergerak. Hanya bibir dan bola matanya saja yang masih dapat ia gerakkan.


Dengan mengendap-endap, Ambar pun segera keluar dari apartemen kecil itu. Tanpa Ambar ketahui, ada seseorang yang tengah mengawasi kepergiannya dengan dahi berkerut. Apartemen itu merupakan apartemen biasa yang dibuat untuk kalangan bawah jadi sistem keamanannya hanya standar. Bahkan orang-orang bebas berlalu lalang tanpa perlu kartu akses untuk memasukinya.


Melihat gelagat Ambar yang tampak mencurigakan, seseorang yang tak lain adalah investigator swasta sewaan Rainero itu pun menghubungi rekannya untuk mengikuti Ambar. Setelahnya, laki-laki berpakaian serba hitam itu mendekati pintu apartemen Julian dan mengetuknya. Tapi setelah beberapa kali ia mengetuk, ia tak kunjung mendapatkan respon. Dengan perasaan was-was, ia pun segera memutar handle pintu yang ternyata tidak terkunci. Lalu dengan hati-hati ia memasuki apartemen Julian dan matanya terbelalak saat melihat Julian terkapar tak berdaya di lantai.


"Tolong, tolong aku!" lirih Julian yang sontak membuat laki-laki itu mendekat. Lalu ia segera menghubungi salah satu rekannya yang berada tak jauh dari lokasinya. Tak butuh waktu lama, temannya pun datang.


"Bantu aku bawa dia ke mobil. Sepertinya dia keracunan," ujarnya pada rekannya. Laki-laki tadi pun mengangguk dan segera membawa Julian ke mobil. Sementara itu, laki-laki bernama Bams itu tampak memerhatikan sekeliling kamar Julian. Hingga netranya menemukan sebuah kamera kecil yang terselip di antara barang-barang Julian. Bams pun segera mengambilnya berharap bisa menemukan sesuatu di dalamnya.


...***...


Ambar masuk ke dalam kamar dengan mengendap-endap, berharap sang suami sedang berada di dalam kamar mandi. Ambar melihat mobil Harold sudah terparkir di luar yang artinya suaminya itu telah pulang yang entah sejak kapan.


"Darimana saja kau, hah?" sentak Harold yang tiba-tiba telah berdiri di belakangnya.


"Su-suamiku, kau mengejutkanku saja," cicitnya gugup.


"Kenapa kau gugup? Kau pergi kemana? Aku menunggumu sudah sejak tiga jam yang lalu dan kau baru pulang sekarang?" desisnya. Mata Harold memicing saat melihat gaya berpakaian Ambar yang tampak berbeda dari biasanya. "Dan pakaianmu? Kenapa seperti itu?"


Ambar menelan ludahnya kasar, "ini ... sebenarnya aku kurang enak badan. Tadi aku berencana berobat ke dokter langgananku, tapi ternyata dia sedang tidak ada di tempat. Jadi ... jadi kau memutuskan pulang."


"Kalau hanya ingin memeriksakan diri ke dokter langgananmu itu, kenapa lama sekali?"


"Oh itu, tadi saat sedang antri ingin mendaftar, aku bertemu teman lama jadi kami mengobrol sampai lupa waktu. Maafkan aku. Kalau begitu, aku membersihkan diri terlebih dahulu," ujar Ambar sambil tersenyum tipis. Kemudian ia pun segera berlalu menuju kamar mandi.


Harold yang sedang lelah pun tidak begitu memusingkan keanehan Ambar. Ia justru langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


...***...


"Lapor tuan, ternyata kedatangan nyonya Ambar ke apartemen Julian untuk membunuhnya. Nyonya Ambar meracuni Julian dan kini ia sedang berada di rumah sakit," lapor Bams pada Rainero.


Rainero yang sedang bersiap pulang pun segera membaca pesan itu. Niat hati ingin segera pulang, tapi Rainero justru memilih menuju ke rumah sakit. Entah mengapa ia merasa firasat yang kurang baik.


[Sweety, aku pulang sedikit terlambat. Ada yang harus aku kerjakan terlebih dahulu.] Tulis Rainero pada pesannya untuk Shenina. Sebisa mungkin ia selalu mengabari bila ada yang hendak ia lakukan. Ia tak ingin istrinya menunggu dengan cemas di rumah. Meskipun rumah tangga mereka tergolong baru, sebisa mungkin ia memberikan perhatian yang cukup untuk sang istri. Ia juga terus berusaha menjaga komunikasi untuk meminimalisir kesalahpahaman yang bisa kapanpun terjadi.


Setibanya di rumah sakit, Rainero segera mencari keberadaan Bams. Setelah bertemu, Rainero pun segera menanyakan keadaan Julian.


"Dia dalam keadaan kritis. Sulit baginya untuk bertahan sebab racun yang wanita itu gunakan sangat berbahaya sebab mampu melumpuhkan seluruh syaraf dalam tubuh dan perlahan menurunkan kinerja jantung," papar Bams membuat mata Rainero terbelalak. Seumur hidup, baru kali ini ia bertemu seorang perempuan yang hatinya benar-benar jahat. Bahkan bisa dengan entengnya ingin melenyapkan nyawa mantan suaminya sendiri.


"Bos, aku menemukan sesuatu yang menarik tadi," ujar Bams.


Rainero yang penasaran pun meminta penjelasan. Tak lama kemudian, Bams mengirimkan sebuah email berupa video yang membuat Rainero makin terbelalak tak percaya.


"Benar-benar jalaang sejati. Tunggu saja, hari kehancuran mu akan segera tiba," sinis Rainero setelah melihat penggalan video itu. Rainero enggan melanjutkannya hingga selesai. Meskipun ia mantan Cassanova, tapi ia justru jijik menonton adegan panas orang lain. "Benar-benar menjijikan."


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...