Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 93


Rainero dan Shenina telah tiba di depan pintu resort mereka. Setelah masuk, Rainero tiba-tiba saja membawa Shenina ke dalam gendongannya membuat Shenina memekik terkejut.


"Rain ... " pekik Shenina benar-benar terkejut.


Rainero terkekeh, ia lantas menyatukan bibir mereka. Shenina terbelalak dengan aksi sang suami, tapi ia yang paham kalau suaminya kini tengah menginginkannya lantas segera mengalungkan tangannya di leher Rainero dan mulai membalas ciuman itu tak kalah panas.


"Eungh ... " Shenina melenguh saat Rainero mengobrak-abrik isi mulut Shenina, membuat kepalanya pening. Hanya dengan cumbuan saja hasratnya telah menggelora. Mungkin ini yang dimaksud orang-orang kalau wanita hamil itu sensitif, bukan hanya perasaannya, tapi juga hasratnya. Keinginan disentuh lebih dalam membuat sebelah tangannya mulai bermain.


Sesampainya di depan kamar, dengan hati-hati Rainero mengulurkan tangannya untuk memutar handle pintu. Setelah pintu terbuka, ia pun segera membopong Shenina ke dalam dan merebahkan tubuhnya ke atas ranjang yang dilapisi bed cover berwarna biru muda itu.


Cumbuan mereka terlepas. Nafas keduanya terengah. Saling menatap penuh cinta dan damba.


"Siap memberikan hadiahku?" ujar Rainero dengan smrik di sudut bibirnya.


Shenina membelai pipi Rainero yang ditumbuhi bulu-bulu halus membuat kadar ketampanannya kian meningkat, "dengan senang hati," ujarnya yang langsung mendekatkan wajah dan menyatukan bibir mereka lagi.


Pagi menjelang siang yang panas, bahkan melebihi panasnya cuaca yang tiba-tiba diselimuti awan kelabu. Ya, tampaknya akan turun hujan sebentar lagi, tapi pergulatan panas di dalam kamar membuat mereka tidak menyadari.


"Baby, i'm coming," seru Rainero saat akan memulai penyatuan. Kehamilan nyatanya tidak mengurangi keindahan percintaan mereka. Yang ada justru percintaan itu kian panas dan membara. Meski begitu, Rainero tetap tidak berlaku semaunya. Ia tetap mengutamakan kenyamanan dan keamanan Shenina dan bayi-bayi mereka.


Sebagai hadiah pamungkas, Shenina kini mencoba memberikan service terbaik. Di sesi kedua dan ketiga, Shenina lah yang memimpin. Alhasil, setelah pergulatan itu mencapai titik tertinggi yang diharapkan, mereka pun menggelepar dengan peluh bercucuran. Nafas keduanya terengah, tapi mereka masih sanggup untuk saling melemparkan senyum penuh kepuasan.


Setelah beberapa saat, Rainero pun segera bangkit dan masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, ia telah keluar lagi dengan kain basah di tangannya. Lalu, dengan telaten Rainero membersihkan rumah Rainocondanya menggunakan kain basah tersebut. Hal sederhana, tapi sarat akan kepedulian dan kasih sayang. Bagaimana hati Shenina tidak luluh coba? The power of perhatian ternyata mampu melelehkan gunung sekeras apapun itu.


"Terima kasih, Suamiku," ujar Shenina setelah Rainero selesai melakukan sesuatu yang sebenarnya membuatnya malu, namun cukup menikmati.


"Tak ada kata terima kasih, Sweety. Ini kewajibanku. Karena kebahagiaan dan kenyamanan mu adalah prioritasku," tuturnya lembut setelah memberikan kecupan di dahi Shenina.


Sementara itu, tampak Harold masih mematung sambil terduduk lesu di teras rumahnya. Harold seakan kehilangan seluruh tenaganya. Fakta yang baru saja terkuak pagi ini benar-benar meluluhlantakkan kesombongan dan arogansinya.


Bagaimana mungkin, hampir 20 tahun ia menghabiskan hidup dalam tipu daya Ambar. Bagaimana mungkin, hampir 20 tahun ia dibodohi oleh wanita yang bergelar istrinya itu. Dan fakta yang lebih benar-benar membuatnya nyaris gila adalah Shena, mendiang istrinya itu tidak pernah bersalah. Padahal Shena berkali-kali mencoba menjelaskan, tapi ia tidak pernah mau mendengarkan. Ia terlalu percaya dengan apa yang ia lihat, padahal faktanya apa yang terlihat belum tentu itulah yang sebenarnya.


"Suamiku, sungguh, aku tidak mengenal laki-laki itu."


"Jangan mencoba berkilah! Dasar wanita murahan. Menyesal aku menikahimu."


"Suamiku, tolong dengarkan aku. Seharian ini aku tidak enak badan, jadi aku istirahat di kamar. Lalu ... "


"Berhenti berdua! Kau pikir aku percaya dengan pembelaan dirimu itu? Cih, jangan harap. Aku lebih percaya dengan apa yang aku lihat. Dan dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat laki-laki itu keluar dari dalam kamarmu. Bahkan sampai aku sudah kembali sejak beberapa waktu yang lalu pun tak membuatmu terbangun. Sepertinya kau begitu kelelahan sampai tidak menyadari kepulanganku. Bahkan mengenakan pakaian pun kau sampai tak sempat karena terlalu kelelahan, benar begitu bukan?"


Shena menggeleng cepat, tidak, Suamiku. Itu tidak benar. Bahkan aku tidak tahu mengapa aku sampai tidak berpakaian seperti ini. Setelah minum obat, aku ... "


"Berhenti bicara, pelacur! Bahkan sampai kau menangis darah pun aku takkan pernah mempercayaimu lagi."


Setelah mengucapkan itu, Harold keluar dari dalam kamar, meninggalkan Shena yang kini lirih ke lantai sambil terisak pilu.


Di depan kamar, ternyata telah berdiri Ambar dengan memasang wajah bersalahnya.


"Maafkan aku, tuan. Ini salahku. Aku seharusnya sejak awal mengatakan semua ini padamu, tapi ... tapi nyonya mengancam akan memecatku bila mengatakan padamu tentang ... perselingkuhannya. Anda tahu, aku memiliki seorang anak kecil seumuran Shenina. Aku membutuhkan pekerjaan untuk terus menghidupi dan menyekolahkannya," ujar Ambar dengan mata berkaca-kaca.


Harold merasa iba jadi ia tidak menyalahkan Ambar sama sekali. Sebaliknya, sejak itu hubungan mereka makin dekat. Bahkan melebihi hubungan antara majikan dan pembantu. Mereka bahkan segan-segan bermesraan di rumah itu, tanpa memedulikan perasaan Shena yang terluka.


Harold tergugu, membayangkan betapa sakit hati Shena kala ia tidak mempercayainya sama sekali. Bahkan ia dengan tega-teganya bermesraan di rumah yang mereka tinggali. Harold ingat bagaimana tatapan Shena yang penuh luka dan kecewa padanya.


Setelah menyakiti Shena, ia pun menyakiti putri kandungnya sendiri. Putri semata wayangnya. Sebab dari pernikahannya dengan Ambar, ia tidak dikaruniai keturunan. Entah siapa yang salah, ia tak tahu. Tapi hal itu justru membuatnya bersyukur, artinya ia tidak memiliki seseorang yang akan m


terus mengingatkannya pada sosok pengkhianat Ambar.


Awalnya, Harold tidak menaruh kebencian pada Shenina. Kebenciannya pada Shenina justru berawal dari provokasi Ambar. Ia mengatakan kalau laki-laki itu sering datang ke rumah. Bahkan ia tampak begitu menyayangi Shenina layaknya anak kandung. Lama-lama, pemikiran gila pun muncul di benaknya. Ia sampai berpikir kalau Shenina bukanlah anak kandungnya.


Kala itu, tak ada istilah test DNA untuk membuktikan kebenarannya. Lambat laun, Harold makin membenci Shenina karena menganggapnya anak hasil perselingkuhan Shena dengan laki-laki itu. Karena rasa benci yang terlanjur mendarah daging membuatnya benar-benar membutakan mata hati. Tak ada niat sedikitpun untuk membuktikan kebenaran tentang Shenina.


Dan kini, Harold benar-benar menyesali kebodohannya yang telah termakan tipu daya Ambar. Karena wanita itu dan kebodohannya, ia telah menyia-nyiakan dan menyakiti dua orang perempuan yang tidak bersalah.


Adalah kesempatan untuk dirinya menebus kesalahannya pada Shenina?


Tapi mengingat sorot mata penuh kebencian dan kekecewaan Shenina padanya menyurutkan niatnya. Harold terlalu malu untuk memohon ampun dan menunjukkan penyesalannya.


"Dad, kenapa daddy hanya berdiam diri di sini? Cepat susul, Mommy. Kasihan mommy. Aku yakin, mommy tidak bersalah. Ayo dad, jangan hanya diam!" sentak Jessica seolah fakta tak terduga yang barusan terungkap tidak ada artinya sama sekali. Seolah apa yang Ambar lakukan pada Shenina dan ibunya bukanlah apa-apa.


Harold mendongakkan kepalanya dan menatap nyalang Jessica. Rahangnya mengeras seketika apalagi saat menyadari wajah Jessica benar-benar perpaduan antara wajah Ambar dan Julian.


Harold pun berdiri menjulang di hadapan Jessica. Jessica yang terlalu fokus memikirkan sang ibu tidak menyadari arti tatapan ayah tirinya itu.


"Jadi kau mau apa? Apa kau ingin aku membebaskan jalaang itu? Iya? Jangan harap karena mulai saat ini dia bukan lagi istriku. Aku akan segera mengurus perceraian kami. Tak sudi aku memiliki seorang istri jalaang sekaligus pembunuh seperti ibumu itu," desis Harold dengan sorot mata tajam dan rahang mengeras.


"Dad, ini pasti hanya ... "


"Hanya apa? Jangan membela jalaang itu lagi di hadapanku. Oh ya, segera ambil barang-barangmu dan pergi dari hadapanku. Aku tak sudi memiliki anak dari seorang jalaang. Ah, aku lupa, bahkan kau pun seorang jalaang. Anak dan ibu ternyata sama saja. Sama-sama seorang jalaang. Menjijikan!" desis Harold dengan nada mencemooh membuat Jessica naik pitam.


"Tutup mulutmu pria tua bangka. Kau yang bodoh, kenapa kami yang kau salahkan. Asal kau tahu, istrimu itu memang pantas mati. Kau yang bodoh karena terlalu mudah dibodohi, malah kami yang disalahkan. Tunggu saja, aku takkan tinggal diam dengan apa yang kalian lakukan. Aku akan membalas perbuatan kalian. Kalau perlu, aku akan menghabisi nyawa Shenina agar terus hidup dalam penyesalan," sentak Jessica dengan tatapan nyalangnya.


"Kau ... " Harold mencengkeram erat rambut Jessika, "jangan pernah macam-macam pada Shenina. Bila itu sampai terjadi, maka aku tak akan segan-segan untuk menghabisimu!" balas Harold tak kalah kejam. Ia lantas menghempas kasar cengkraman tangannya membuat Jessica terhuyung dan jatuh ke lantai.


Dengan bara kebencian yang menggelora, Jessica pun mengambil barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam mobil. Lalu ia pun segera pergi dari sana dengan membawa api dendam yang entah akan terbalaskan ataukah jadi boomerang untuk dirinya sendiri.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...