
"Eungh ... "
Roseline melenguh saat merasakan sesuatu menjalar di tubuhnya. Tubuhnya menggelinjang saat sesuatu yang hangat bermain-main di tubuhnya. Hingga sesuatu yang hangat, lembut, dan lembab melingkupi salah satu aset kembarnya membuat lenguhan itu kian mengeras. Perlahan, Roseline lantas membuka matanya. Matanya menyipit, saat pendar cahaya masuk ke netranya. Matanya lantas kian terbuka dan membulat saat menyadari apa yang tengah melingkupi salah satu aset kembarnya itu.
"Jev, kau ... Ah ... "
Jevian tersenyum dalam diam. Ia sedang asik bermain di atas aset kembar sang istri yang begitu. Bibir dan tangannya bergerak aktif. Seolah begitu menikmati maha karya yang super indah di depannya.
Bila pernikahannya dengan Eve dahulu Eve lah yang selalu lebih dulu bergerak aktif, maka kali ini sebaliknya. Dulu ia tidak pernah menikmati setiap percintaannya. Semua terasa hambar. Jevian sampai berpikir apa mungkin ia memiliki kelainan sehingga ia tidak tertarik sama sekali dengan keindahan tubuh Eve. Namun berbeda dengan Roseline, tanpa digoda pun ia sudah tergoda. Bahkan Jeviconda-nya saja sudah berdiri tegak seperti menara yang menjulang tinggi. Tentu saja ia merasa senang, artinya ia masih normal. Ia laki-laki normal. Ia menyukai sesuatu yang memang sepantasnya ia sukai.
"Jev, apa kau tidak merasa lelah?"
Roseline melirik ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 3 dini hari. Padahal setelah bertempur di sore hari, menjelang malam pun mereka mengulangi kegiatan yang sama. Dengan semangat menggebu, jantung bertalu-talu, gairah membara, mereka pun kembali mengarungi samudra kenikmatan. Jeviconda sudah menemukan pawangnya, otomatis ia takkan menyia-nyiakan keindahan yang telah sah menjadi miliknya.
Kini Jevian sudah dalam posisi mengungkung tubuh Roseline yang belum berbalut apapun. Hanya selimut putih yang semalam menutupi, lalu sekarang sudah tak ada lagi setelah Jevian melemparnya asal ke lantai.
"Tidak. Aku tidak lelah, bahkan mungkin takkan pernah lelah melakukannya. Sekarang hal ini adalah kegiatan favoritku. Jadi ... Siap-siaplah untuk aku terkam kapanpun dan ... dimanapun."
Blusss ...
Jevian berhasil melesakkan Jeviconda-nya ke dalam goa kenikmatan Roseline yang basah. Mereka pun kembali berpacu dengan gairah. Tak peduli kalau jam masih menunjukkan waktu dini hari, tapi semangat mereka tetap menggebu.
...***...
Untuk pertama kalinya Jevian dan Roseline bangun kesiangan. Itupun karena perut keduanya terasa keroncongan. Nyatanya kerja kerasnya semalaman membuat energi mereka terkuras habis sehingga saat mereka terbangun, perut mereka telah meronta perih ingin di isi.
"Sarapan sudah siap. Ayo cuci muka! Atau mau mau aku gendong ke kamar mandi, hm?" goda Jevian yang sudah mandi. Hanya handuk putih yang menggantung di pinggang. Bulir-bulir bening mengalir di dada bidang dan pundak kokoh Jevian membuat perempuan yang resmi melepas kegadisannya sore kemarin itu menelan ludahnya sendiri.
"Ti-tidak. Aku bi- awww ... "
Roseline tiba-tiba meringis. Aset sensitifnya terasa perih. Padahal semalam terasa baik-baik saja. Perih itu hanya dirasa saat miliknya pertama kali dijarah, tapi setelahnya hanya kenikmatan yang terasa. Namun pagi ini, ternyata perih itu baru dirasa. Bahkan rasa perih ini lebih perih dari luka saat ia tertusuk tempo hari.
Jevian merasa bersalah. Ia tidak tahu kalau efek bercinta untuk pertama kali itu seperti ini. Pengalaman pertamanya tidak seperti ini. Saat itu ia sadar dirinya bukanlah yang pertama bagi Evelyn jadi saat melakukannya dengan Roseline, ia lupa. Ia justru bergerak liar membuat perempuan di sampingnya ini sampai kepayahan. Alhasil, pagi ini Roseline kesulitan untuk bergerak karena area inti yang terasa perih.
"Sakit? Sini, aku periksa!"
Mendengar Jevian mengatakan ingin memeriksa area intimnya membuat Roseline melotot, "no! Tidak perlu. Begini saja, tolong siapkan air hangat untukku berendam," pinta Roseline.
"Baiklah. Tapi sini aku bantu kau ke kamar mandi."
Tanpa menunggu jawaban, Jevian sudah lebih dulu membawa Roseline ke dalam gendongannya menuju kamar mandi. Ia mendudukkan Jevian di tepi wastafel. Setelahnya, ia mengisi bathub dengan air hangat. Kemudian ia kembali membantu Roseline masuk ke dalamnya.
Sementara itu, di belahan bumi yang lain, tampak seorang laki-laki tengah mengerjapkan matanya. Perempuan yang sejak dua hari yang lalu membersamainya pun membulatkan matanya senang. Ia pun segera menekan tombol di atas headboard ranjang. Tak lama kemudian dokter dan perawat pun masuk untuk memeriksa laki-laki tersebut.
"Bagaimana keadaan suami saya, dok?"
"Keadaan suami Anda sudah cukup baik. Tapi ... Sepertinya Anda membutuhkan bantuan dokter spesialis kejiwaan. Sepertinya suami Anda dalam keadaan psikis yang tidak baik-baik saja."
Ya, dokter tersebut bicara bukannya tanpa alasan. Sejak sadar, tatapan mata Bastian kosong. Ia terus memandang ke depan. Tapi apa yang dilihatnya tak jelas. Yang ada hanya kekosongan. Semua semangat pun kebahagiaannya seakan lenyap tersapu gelombang yang sempat menenggelamkannya dua hari yang lalu.
"Bas, kau mendengarku?" panggil Morra lirih. Tapi Bastian tidak merespon sama sekali.
"Bas, ini aku, istrimu. Apa kau tidak merindukanku?" lirih Morra lagi.
"Rose," gumam Jevian saat Morra menyebut dirinya istri Bastian.
"Bas, sadarlah, istrimu itu adalah aku, Morra, bukan Rose. Ikhlaskan Rose berbahagia dengan yang lain, Bas. Tidakkah kau mau melirikku sedikit saja. Dan tidakkah kau ingat dengan anak-anakmu? Mereka membutuhkanmu. Jangan lupakan kami! Kami merindukanmu. Kami sangat menyayangimu, Bss. Aku mohon, sadarlah! Ingat kami, aku mohon!" lirih Morra yang sudah tergugu dengan air mata yang jatuh berderai.
Di saat Bastian sedang depresi, di tempat lain ayah Bastian sedang digelandang petugas polisi atas kasus penggelapan dana. Ayah Bastian yang bekerja di pemerintahan tertangkap tangan sedang berusaha melenyapkan barang bukti kecurangannya selama ini. Alhasil, ayah Bastian pun tidak bisa lagi mengelak saat bukti-bukti sudah dikantongi petugas kepolisian beserta tim penyidik. Ternyata perbuatannya sudah lama terendus dan bukti-bukti sudah terkumpul, ia pun segera ditangkap untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Dad, daddy," pekik ibu Bastian saat melihat suaminya digelandang masuk ke dalam mobil kepolisian.
Ibu Bastian mengejar mobil itu sampai terjatuh, tapi mobil itu tetap melaju. Ayah Bastian menoleh ke belakang. Matanya memanas. Kini tibalah saatnya untuk menebus segala kesalahannya. Ayah Bastian sungguh menyesali apa yang telah terjadi pada keluarganya. Kekayaan dan kekuasaan yang selama ini ia sombongkan ternyata tiada berarti lagi. Putranya depresi. Dirinya ditangkap polisi. Entah bagaimana kondisi istrinya setelah ini. Apalagi istrinya itu mengidap penyakit jantung. Ayah Bastian sungguh merasa menyesal telah menjadi sombong. Karenanya rumah tangga dan masa depan putranya berantakan. Lalu kini hidupnya pun sepertinya harus dihabiskan di balik jeruji besi.
Kini ia sedang menuai akibat atas segala perbuatannya. Sungguh ia amat sangat menyesal.
'Maafkan daddy, Bas! Maafkan, Daddy.'
Ayah Bastian menangis tergugu seorang diri. Meratapi sesuatu yang sudah percuma.
...****...
Ini nih yang buat othor gk berani buat bab hot-hot pop. Baru yang biasa kayak gitu aja udah dapat surat cinta, apalagi kalau yang hot-hot pop, bisa-bisa langsung dihapus. 😂
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...