
Dengan wajah kesal, Ambar pun mulai mengemas barang-barangnya. Sebenarnya ia enggan meninggalkan rumah itu, tapi ia pun takut kalau Rainero dan Shenina benar-benar merealisasikan ucapannya. Bahkan dengan ayahnya sendiri saja ia tega, apalagi dirinya, pikir Ambar.
"Mom, jadi kita benar-benar pindah?" tanya Jessica yang sudah menghempaskan bokongnya di tepi ranjang sang ibu.
Ambar mendengkus, "mau bagaimana lagi? Memangnya kita mampu melawan mereka? Mereka benar-benar keterlaluan. Padahal sudah kaya raya, tapi masih saja serakah. Semoga mereka bangkrut lalu jatuh miskin, maka mommy akan jadi orang pertama yang menertawakan mereka," dengus Ambar kesal.
"Daddy juga bodoh, kenapa tidak bertindak. Bukankah Daddy yang lebih berhak atas rumah ini? Minimarket juga, tapi malah kayak pasrah saja. Daddy kan bisa nuntut."
"Bagaimana pria tua itu bisa menuntut, kalau surat kuasa pemindahan kepemilikan rumah dan minimarket ada pada dia. Jalaang itu sepertinya sudah benar-benar berhasil mempengaruhi suaminya agar membantunya menghancurkan kita. Lihat saja, seberapa lama sih dia akan berada di sisi pria itu? Mommy yakin, tak akan lama lagi juga dia akan segera dibuang. Kau tahu sendiri bagaimana kelakuan orang-orang kaya, habis manis sepah dibuang," cibir Ambar.
"Mommy benar. Apalagi sebelahnya menurut orang-orang tuan muda Sanches itu seorang cassanova. Laki-laki seperti itu mana bisa dipercaya. Selingkuhannya pasti ada dimana-mana. Seperti kata Mommy, sebentar lagi juga dia akan dibuang. Kalau sampai itu benar-benar terjadi, aku pun akan jadi orang pertama yang menertawakan nasibnya yang sial sejak lahir," ujar Jessica seraya terkekeh.
Ambar pun mengaminkan dalam hati sambil tergelak. Namun tawanya tiba-tiba saja surut saat ponselnya berdering nyaring. Wajah bahagianya seketika berubah kesal saat melihat nama pemanggil yang terpampang di layar segi empat itu.
"Siapa Mom?" tanya Jessica saat ekspresi wajah sang ibu tiba-tiba berubah.
"Ah, bukan siapa-siapa. Sepertinya hanya orang iseng. Oh ya, barang-barangmu sudah beres? Cepat kemas semuanya, jangan sampai ada yang tertinggal. Hari ini merupakan hari terakhir kita berada di sini. Jangan sampai orang-orang Shenina tiba-tiba datang dan mengusir kita dan mengambil barang-barang berharga kita. Ingat, sumber keuangan keluarga kita sudah tidak ada. Entah Daddy-mu akan mencari uang dengan cara apa. Apalagi selama ini daddy hanya bekerja di minimarket, pengalaman kerjanya sudah tidak berlaku lagi. Ditambah usia yang telah tua, tidak mungkin dia akan bisa bekerja di luar sana. Jadi jangan sampai kita mengalami kerugian karena barang-barang kita disita jalaang itu," ujar Ambar panjang kali lebar seraya mengintip layar ponselnya yang terus berkedip karena panggilan dari Julian yang tak kunjung berhenti. Untung saja ia sempat mengaktifkan mode senyap, kalau tidak, Jessica bisa curiga.
Jessica mengangguk walaupun rasanya enggan, "tapi Mom, kita akan tinggal dimana?" tanyanya penasaran sebab mereka tidak memiliki tempat tinggal lain.
Ambar mengedikkan bahunya, "mommy pun tidak tahu. Sudah, bereskan saja barang-barangmu. Daddy juga sedang berusaha mencari tempat tinggal untuk kita. Semoga saja sepulang ini, Daddy-mu telah mendapatkan tempat tinggal yang baru."
Jessica menghela nafas, kemudian segera berlalu dari kamar sang ibu.
Saat Jessica telah benar-benar keluar dari dalam kamarnya, Ambar pun segera menutup pintu dan menguncinya.
"Kau bisa sabar tidak sih?" sentak Ambar saat panggilan telah ia angkat.
"Tidak perlu marah-marah, aku hanya ingin menagih janjimu," balas Julian tak kalah sengit.
Ambar menggertakkan giginya, "kirim saja alamat tempat tinggal mu. Sebentar lagi aku akan kesana," ucapnya sambil menyeringai. Ia telah memiliki rencana setelah ini.
"Wow, kau ingin mampir ke tempat tinggal ku? Ah, senang sekali aku mendengarnya. Kau pasti sudah sangat merindukan hentakanku, bukan? Baiklah, aku akan segera mengirimkan alamat tempat tinggalku. Ku tunggu," tutup Julian dengan seringai menggoda.
Ambar menutup panggilan itu dengan kesal. Dia tak henti-hentinya mengumpat karena harus dipertemukan lagi dengan mantan suaminya yang brengsekk.
"Apa lagi, hah?" sentak Ambar saat lagi-lagi mendapatkan panggilan yang ia pikir itu adalah Julian.
"Ambar, kenapa kau tiba-tiba marah denganku, hah? Apa kau sudah gila?" sentak Harold membuat Ambar terkesiap.
"Su-suamiku ... maaf, aku pikir ... kau orang iseng. Soalnya tadi ada orang yang tidak dikenal terus-terusan menghubungiku," dusta Ambar gugup.
Harold menghela nafas kasar, "aku sudah menemukan rumah untuk tempat tinggal kita sementara. Besok pagi kita akan segera pindah, jadi bersiaplah," pungkasnya sebelum menutup panggilan itu.
...***...
Di lain tempat, tampak Rainero sedang bertemu dengan salah seorang investigator swasta sewaannya.
"Jadi laki-laki itu mantan suami ibu tiri Shenina?"
"Benar tuan."
Rainero mengangguk, "tapi apa tujuannya muncul kembali?"
"Mereka tidak sengaja bertemu kembali. Kebetulan Julian ini sedang mengalami masalah keuangan. Kegemarannya berjudi membuatnya terlilit hutang yang tidak sedikit dengan beberapa orang. Sepertinya dia ingin memanfaatkan nyonya Ambar untuk mendapatkan uang agar bisa membayar hutang-hutangnya. Dia mengancam Nyonya Ambar dengan sesuatu yang sayangnya saya belum tahu apa itu. Sepertinya itu merupakan suatu rahasia besar. Kalau tidak, bagaimana bisa nyonya Ambar menyetujui memberikan Julian ini uang yang jumlahnya tidak sedikit itu," papar sang investigator menurut analisisnya.
Rainero mengangguk, ia pun sepemikiran dengan sang investigator.
"Terus awasi laki-laki itu. Siapa tahu kita bisa mendapatkan informasi berharga dari dirinya," ujar Rainero.
Sang investigator mengangguk. Lalu ia pun segera berlalu untuk menjalankan tugasnya.
Siang harinya, Ambar pun mencoba menemui Julian di tempat tinggalnya. Melihat kedatangan Ambar, Julian tersenyum lebar. Ia pun segera mempersilahkan Ambar masuk ke dalam apartemen kecil miliknya. Apartemen itu tampak begitu berantakan, membuat Ambar menggelengkan kepalanya.
Melihat wajah mantan istrinya yang masih cantik seperti yang dulu, membuat libido Julian seketika naik. Ia pun segera menerjang Ambar dengan sebuah ciuman yang panjang dan liar. Ia pikir Ambar akan menolak, tapi nyatanya Ambar pun membalas cumbuannya tak kalah liar. Julian menyeret Ambar masuk ke dalam kamarnya. Tanpa Ambar ketahui, Julian mengaktifkan sebuah mini kamera yang menyoroti langsung pada kegiatan panas mereka. Julian bermaksud merekam aktifitas panas mereka untuk dijual.
Julian tersenyum dalam hati, selain ia akan mendapatkan uang dari Ambar, ia juga mendapatkan kehangatan dan uang tambahan dari hasil menjual video panas mereka. Apalagi ia tahu bagaimana gaya bercinta Ambar yang memang terkesan liar dan berani. Tentu hal ini sangat menguntungkan baginya.
Dan benar saja seperti dugaannya, Ambar tidak berubah. Ia masih sama liarnya seperti Ambar di masa muda. Aktivitas pun selesai. Keduanya terkapar tanpa sehelai benangpun.
Julian tersenyum senang, "ternyata kau masih sama. Permainanmu benar-benar menakjubkan," pujinya, tapi Ambar diam membisu.
Julian beranjak ke kamar mandi. Saat Julian menghilang dari balik pintu, Ambar pun segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memasukkannya ke dalam minuman Julian. Ambar tersenyum lebar setelahnya.
"Kau pikir aku akan memberikan apa yang kau mau, heh? Itu takkan mungkin terjadi. Kau pikir kau bisa memanfaatkanku? Sebelum itu terjadi, maka kau akan lebih dahulu membusuk di neraka," desisnya menyeringai.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Ambar kembali membaringkan tubuh polosnya. Julian yang merasa haus, segera mengambil air minum di atas nakas dan menenggaknya hingga tandas. Ambar tersenyum lebar, sepertinya semuanya akan berjalan sesuai rencana.
...***...
Teruntuk kak Wiwin Ji, makasih koinnya. Untuk kakak-kakak yang rajin kasih hadiah dan klik nonton iklan, makasih banyak. Dan untuk kakak-kakak yang baca, like, serta komen, juga makasih banyak-banyak. Love you all. ❤️❤️❤️
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...