
Seorang perempuan tampak menyeka peluhnya yang sudah membasahi dahinya. Sudah berbagai perusahaan yang ia masuki, tapi tak ada satupun yang memberinya pekerjaan. Saat melihat CV-nya, awalnya mereka antusias, tapi setelah menelusuri informasi lebih lanjut lagi, lagi-lagi ia ditolak.
Ya, ia tahu, masa lalunya lah yang menjadi pokok permasalahan. Apa yang telah ia lakukan beberapa tahun membuat nama baiknya benar-benar hancur. Apalagi kesalahan yang ia buat begitu fatal dan melibatkan salah satu orang penting di negaranya. Meskipun mereka memaafkannya, bahkan atasannya dahulu bersedia membantu bila ia ingin mencari pekerjaan, tapi ia merasa malu. Amat sangat malu untuk menunjukkan wajahnya di depan wanita baik itu. Jangankan untuk meminta tolong, untuk sekedar bertemu saja ia merasa sangat malu.
"Apa sebaiknya aku pergi dari negara ini? Ya, sepertinya itu lebih baik. Terus berada di sini juga hanya membuatku merasakan sesak. Aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi di sini. Baiklah, sepertinya aku memang harus membuka lembaran baru di tempat yang baru. Semoga saja di tempat yang baru, aku bisa menjemput bahagia ku," ucapnya berusaha untuk menguatkan diri.
Setelah itu, perempuan itu pun segera bangkit dari tempat ia duduk untuk beristirahat. Ia lantas segera pulang untuk membereskan barang-barangnya. Setelah selesai, ia memasak mie instan dan menyantapnya sembari mencari destinasi negara yang akan dijadikannya tempat untuk membuka lembaran baru.
Setelah menemukannya, ia pun segera memesan tiket pesawat secara online. Ia mendapatkan jadwal penerbangan malam hari. Ia sudah biasa bepergian dengan pesawat sebelumnya jadi hal tersebut tidak memusingkannya sedikit pun. Paling yang akan membuatnya pusing hanyalah mencari tempat tinggal setelah tiba disana. Mungkin ia akan menyewa sebuah apartemen kecil atau sebuah flat di sana.
Beruntung gajinya selama bekerja dengan atasannya terdahulu ia simpan dengan baik. Gajinya cukup besar jadi cukuplah untuk biaya hidupnya selama belum mendapatkan pekerjaan. Semoga saja ia bisa segera mendapatkan pekerjaan setibanya di sana.
Hari belum terlalu sore, jadi perempuan itu memilih beristirahat sejenak untuk mengumpulkan energi guna memulai petualangannya di negeri seberang.
...***...
Seminggu telah berlalu, hasil MRI jantung akhirnya keluar. Dan sesuai dugaan dokter, Jefrey didiagnosis mengalami kebocoran jantung. Untuk mengatasinya tentu saja harus melalui tindakan operasi. Jelas saja Jevian khawatir. Anak sekecil itu harus menjalani operasi yang tidak main-main. Dadanya akan dibedah untuk melakukan transplantasi katup jantung. Katup jantung Jefrey akan diganti dengan katup jantung sintesis sesuai kondisi pasien.
Membayangkannya saja membuat hati Jevian hancur, entah bagaimana bila ia menyaksikannya sendiri. Jevian rasanya tak sanggup berpijak di bumi lagi. Namun ia tidak memiliki pilihan lain. Ia hanya bisa mempercayakan segalanya pada tim medis. Semoga mereka bisa membantu Jefrey agar dapat bertahan hidup lebih lama lagi darinya.
"Jadwal operasi belum bisa dipastikan, tuan. Sebab kami masih harus berkoordinasi dengan tim terkait. Operasi ini termasuk operasi besar jadi harus dibahas dengan matang. Belum lagi kita harus menyediakan katup sintetis yang sesuai dengan jantung anak Anda. Jadi kami harap Anda bersabar," ujar dokter bedah yang akan melakukan pembedahan terhadap jantung Jefrey.
"Tapi berapa lama lagi? Saya takut ... "
"Berdoalah. Kami hanya bisa berusaha, tapi yang menentukan tetap sang pencipta. Semoga putra Anda bisa selamat dan sehat kembali seperti sedia kala," ujar dokter tersebut.
Setelah bertemu dokter, Jevian kembali ke kamar Jefrey. Saat sibuk memandangi wajah pucat putranya, Jevian tiba-tiba mendapatkan telepon dari Tobey.
Dengan malas, Jevian pun mengangkatnya.
"Halo."
"Apa kau sudah gila, Jevian? Apa kau mau perusahaanmu itu benar-benar aku hancurkan, hah?" pekik Tobey yang amat sangat marah saat pengacara Jevian datang untuk menyerahkan berkas perceraian.
Jevian tersenyum sinis, "apa Anda kira aku hanya bercanda? Aku tidak segila itu untuk menjadikan masalah hidup dan mati putraku sebagai bahan bercanda. Apa kau bertanya mengapa aku berkata seperti itu? Itu karena anakku memang sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan semua terjadi akibat ulah anakmu. Saat di dalam perut, ia masih saja mengonsumsi alkohol, merokok. Entah apa lagi yang dilakukannya. Lalu sekarang akibat kecerobohannya, anakku hampir saja meregang nyawa. Kau pikir saja, apa pantas perempuan seperti itu aku pertahankan?"
Tobey terdiam. Tapi sisi egois Tobey tetap mendominasi.
Namun Jevian tidak gentar sama sekali. Rasa khawatirnya justru lebih besar ke arah Jefrey yang sedang terfokus pada Jefrey.
"Terserah kau mau melakukan apa, lakukan saja sepuas hatimu." Setelah mengucapkan itu, Jevian pun segera menutup ponselnya kasar. Terserah bila ia dikatakan tak sopan. Jevian dalam fase benar-benar muak dengan Eve maupun ayahnya.
Tok tok tok
Baru saja Jevian menutup panggilan itu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangan Jefrey dirawat. Dengan perasaan kesal luar biasa, Jevian pun segera membuka pintu tanpa mengintip lagi siapa yang datang mengunjungi anaknya.
Mata Jevian terbelalak saat melihat siapa yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
"Kau ... Untuk apa kau datang kemari, hah?" desis Jevian saat melihat seorang wanita cantik sedang berdiri di hadapannya saat ini.
"Aku hanya ingin melihat keadaan anakku, apa salah?" tanya Eve dengan memasang wajah sedih. Bila dulu Jevian mudah sekali iba pada perempuan itu, namun tidak saat ini.
"Anak? Memangnya sejak kapan kau menganggap putraku sebagai seorang anak?" sarkas Jevian.
Dalam hati Eve mendengkus. Jevian benar-benar berubah pikirnya.
"Jevian, mau bagaimana pun, Jefrey tetaplah anakku. Ada darahku yang mengalir di dalam tubuhnya. Kau tidak bisa melarang ku untuk bertemu dengan anakku sendiri," ucap Eve sendu.
Apa yang Eve lakukan sontak mengundang tanda tanya pengunjung rumah sakit yang melewati mereka.
Tak ingin mengundang keributan, Jevian akhirnya terpaksa membawa Eve menemui Jefrey.
Di dalam ruangan, Eve terpaku melihat keadaan Jefrey. Eve pun segera mendekati brankar Jefrey dan menangis tersedu-sedu.
Dahi Jevian berkerut. Bagaimana tidak ia merasa heran. Selama ini, tak pernah sekalipun Eve khawatir apalagi bersedih saat melihat keadaan Jefrey yang tidak baik-baik saja. Namun hari ini, Eve tersedu?
"Jefrey, maafkan Mommy. Maafkan Mommy yang kurang perhatian padamu. Jefrey, mommy janji, mulai hari ini, Mommy akan lebih perhatian padamu. Mommy juga akan menemanimu di sini. Bertahanlah, Sayang. Kau pasti kuat. Kau pasti sembuh. Mommy dan Daddy akan selalu ada untukmu," ujarnya seraya terisak.
"Jevian, maafkan atas keegoisan ku selama ini. Mulai hari ini aku akan berusaha menjadi Mommy yang baik untuk Jefrey. Mari kita hentikan perselisihan ini. Mari kita perbaiki hubungan kita dan mulai lembaran baru. Kau mau kan?"
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...