
"Hai Dis," sapa Axton saat tiba di depan mansion Ranveer. Sebelum menikah, Rainero dan Shenina diminta tinggal di sana. Setelahnya, baru mereka diizinkan pindah menempati mansion Rainero. Lagipula beberapa hari ini, mansion Rainero akan direnovasi sesuai keinginan Shenina.
"Ah, hai juga Mister Axton. Anda mau cari Mas Bule ya?" Kini Adisti sudah sedikit fasih berbicara menggunakan bahasa Inggris meskipun masih sedikit terbata.
Axton mengangguk, "dia ada di dalam?"
Adisti mengangguk, kemudian melanjutkan memainkan ponselnya.
Axton pun melangkahkan kakinya menuju pintu, tapi baru beberapa langkah ia kembali mundur ke tempat semula.
"Oh ya Dis, kamu ada kabar tentang Gladys tidak?" tanya Axton dengan memasang wajah serius.
Adisti mengangkat wajahnya kemudian menggeleng, "usah beberapa hari ini Gladys tidak bisa dihubungi. Aku pun heran, tidak biasanya dia begitu. Mister kenapa tanya-tanya Gladys? Atau jangan-jangan ... cie ... cie ... Mister suka ya sama Gladys?" goda Adisti membuat mata Axton melotot tajam.
"Suka? Siapa? Tidak kok. Kami hanya berteman saja. Wajar kan aku mengkhawatirkan dia karena tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar?" kilah Axton dengan wajah memerah.
"Udahlah Mister, tidak perlu berkelit. Kalau suka bilang saja, sebelum diserobot orang lain, entar nangis kejer lho!" lanjut Adisti yang geli sendiri melihat wajah Axton yang memerah.
"Hah, sudahlah. Ngobrol sama kamu cuma buat sakit kepala," dongkol Axton yang segera masuk ke dalam mansion Ranveer.
Adisti tergelak melihat ekspresi Axton yang kesal. Namun tiba-tiba tawa itu berhenti dan berubah menjadi ekspresi datar saat melihat kedatangan seseorang.
"Tadi ketawa lebar banget, kenapa tiba-tiba diam? Sariawan?" goda Mark membuat mata Adisti mendelik.
"Bukan urusan loe!" ketus Adisti yang segera berdiri dan beranjak dari sana.
Melihat Adisti yang meninggalkannya begitu saja, sontak Mark pun melotot sana berusaha mengejar.
"Dis, kamu masih marah sama aku?" tanya Mark setelah berhasil mensejajari langkah Adisti.
"Tau ah, gelap," ketus Adisti tanpa menoleh sama sekali. Mark menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Adisti jadi berubah setelah ia meninggalkan Adisti begitu saja di sebuah mall. Saat Rainero memintanya mengajak Adisti jalan-jalan, ia pun menyanggupinya. Ia pun mengajak Adisti jalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan. Rencananya ia juga akan mengajak Adisti menonton film. Tapi saat di pusat perbelanjaan, ia bertemu mantan kekasihnya. Karena terlalu senang, Mark melupakan keberadaan Adisti dan pergi menemani mantan kekasihnya itu berkeliling pusat perbelanjaan.
Setelah mengantarkan mantan kekasihnya pulang, Mark pun baru teringat kalau ia telah meninggalkan Adisti di pusat perbelanjaan itu.
Mark panik. Apalagi Adisti tidak bisa dihubungi sama sekali. Ia mencari ke sana kemari, tapi tak kunjung menemukan keberadaan Adisti.
Mark benar-benar gelisah. Apalagi Adisti bukan warga di sana dan merupakan seorang pendatang baru, sudah pasti Adisti belum mengenal seluk beluk kota tersebut. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Adisti.
Setelah berjam-jam mencari, Mark tak kunjung menemukan Adisti. Mark putus asa. Ia pun segera pulang untuk melaporkan kebodohannya tersebut dengan sang atasan. Tapi setibanya di sana, ia melihat Adisti ternyata telah pulang dan sedang bercanda dengan beberapa pekerja di mansion Ranveer. Dengan perasaan kesal, bukannya minta maaf, Mark justru memarahi Adisti. Sejak saat itu, Adisti selalu menghindari Mark. Bahkan ia tak mau lagi berbicara dengan laki-laki blasteran Indonesia-Bolivia itu.
...***...
Hari ini Rainero mengajak Shenina pergi untuk membeli cincin pernikahan. Selepas makan siang, Rainero pun segera mengajak Shenina mampir ke salah satu toko perhiasan terbesar di negara mereka.
"Rain, bukankah aku sudah punya cincin yang kau berikan saat melamarku waktu itu, kenapa kita harus beli cincin lagi? Bukankah ini sama saja pemborosan?"
Shenina yang sangat tahu bagaimana sulitnya mencari uang merasa membeli cincin lagi sama seperti pemborosan dan ia tidak menyukainya.
"Itu tentu saja beda, Sweety. Kalau yang itu cincin lamaran, kalau yang ini cincin pernikahan. Kalau cincin lamaran aku yang memilihkan, kalau cincin pernikahan, aku ingin kau memilih sendiri sesuai dengan keinginanmu. Dan ingat, jangan anggap ini sebagai pemborosan sebab hartaku banyak. Bahkan sangat banyak. Untuk apa aku punya harta banyak kalau tidak bisa digunakan untuk membahagiakan calon istriku sendiri. Ini bukan sebuah pemborosan sama sekali," papar Rainero mencoba meyakinkan Shenina. Sesekali ia mengecupi punggung tangan Shenina membuat beberapa orang yang melihatnya jadi ikutan meleleh. Apalagi setelah pengumuman pesta pernikahan Rainero disebarluaskan, yang tidak mengenal Rainero pun jadi tahu sehingga saat melihat keberadaan Rainero dan Shenina, mereka pun jadi antusias mengabadikannya.
Shenina berdecak, namun senyum manis merekah di bibir merah mudanya, "sok kaya," cibir Shenina.
Rainero terkekeh lalu mengecup pipinya gemas, "kan emang faktanya aku kaya. Kau pun sebentar lagi akan jadi wanita kaya. Karena hartaku juga adalah hartamu. Apa yang aku miliki semua juga milikmu."
"Memang kau tidak takut aku membawa lari semua hartamu?" tanya Shenina dengan tatapan memicing.
"Tidak," jawab Rainero tegas. "Aku tidak takut kehilangan hartaku, tapi aku jauh lebih takut kehilanganmu dan anak-anak kita. Berjanjilah, kau akan selalu berada di sampingku dan takkan pernah meninggalkanku?" Rainero memasang wajah serius. Tak peduli tatapan banyak orang tertuju pada mereka, yang menjadi fokus Rainero justru hanya Shenina.
"Rain ... " Shenina menggenggam tangan Rainero erat. "Aku tidak bisa berjanji ... " ucapnya menggantung. Dada Rainero seketika terasa sesak. Ia khawatir Shenina memiliki niat untuk meninggalkannya suatu hari nanti. Apalagi ia tahu Shenina belum mencintainya atau bahkan mungkin Shenina masih mencintai mantan kekasihnya.
Melihat wajah tegang Rainero, Shenina terkekeh, "aku belum selesai bicara. Tidak usah tegang begitu," ejeknya. "Aku memang tidak bisa berjanji. Kau perlu ingat, usia manusia tidak ada yang tahu. Bisa saja aku pergi lebih dahulu dari dirimu, artinya aku pun terpaksa meninggalkanmu. Tapi selama nafasku masih berhembus, aku akan berusaha selalu mendampingimu, menemanimu, dan takkan meninggalkanmu. Justru sebaliknya, aku lah yang khawatir kau akan meninggalkanku. Entah apa jadinya aku kalau kau pun pergi meninggalkanku. Mungkin aku akan mati dalam kesepian dan kesendirian," ujar Shenina sendu.
Rainero mengeratkan genggamannya, "dan aku pastikan itu takkan pernah terjadi. Karena you are the one and only," ucapnya tegas.
Pelayan toko perhiasan yang berdiri di hadapan Rainero dan Shenina sejak tadi hanya bisa meringis. Keberadaannya bagai tak terlihat saja. Rainero dan Shenina justru sibuk memamerkan kemesraannya, membuat sang pelayan mengutuk kejombloannya.
"Jadi tuan, nona, cincin mana yang akan kalian pilih?" tanya pelayan toko itu menarik atensi keduanya. Mata Shenina terbelalak saat sadar mereka masih berada di dalam toko perhiasan. Rainero justru tersenyum geli saat melihat pipi Shenina telah bersemu merah karena malu.
Mereka lantas melanjutkan membeli cincin. Bukan hanya cincin, Rainero juga membelikan Shenina satu set perhiasan yang harganya sangat fantastis. Sungguh Shenina tidak pernah menduga akan memiliki calon suami seorang miliarder seperti Rainero.
Setelah membeli perhiasan, Rainero pun mengajak Shenina pergi ke sebuah butik. Karena perut Shenina makin membuncit, membuat pakaiannya banyak yang mulai menyempit. Untuk itulah, Rainero pun berinisiatif membelikan Shenina pakaian baru.
Untuk gaun pengantin, Delena telah lebih dahulu memesannya. Semua urusan pernikahan Delena yang menangani, atas titah Ranveer tentunya. Bahkan biaya pernikahan 100% ditanggung Ranveer. Rainero hanya ditugaskan membeli cincin pernikahan saja. Untuk urusan lain, biar jadi urusan orang tua. Bagaimana Shenina tidak bahagia. Ia yang dibuang ayahnya sendiri justru diangkat derajatnya oleh keluarga Sanches. Di sana, ia begitu dihargai dan diratukan. Shenina benar-benar bahagia.
Setelah membeli beberapa pakaian untuk Shenina, Rainero pun segera mengajak Shenina pulang. Namun, baru saja Rainero membukakan pintu mobil untuk Shenina, tiba-tiba saja ada sebuah pukulan menghantam pipi kanan Rainero hingga ia hampir terjatuh bila tidak berpegangan pada pintu mobil.
Bugh ...
"Dasar bajingaan!" teriak seseorang itu dengan nafas yang memburu dan amarah yang memuncak.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...