Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 111


"Jaga bicara Anda, Nyonya! Jangan pernah sekali-kali Anda menghina calon istriku kalau kau tak ingin merasakan akibatnya!" sentak seorang pria yang datang tiba-tiba mengalihkan atensi semua orang padanya.


Ibu Jevian mengerutkan keningnya, "siapa kau? Kenapa ikut campur urusan kami?" sentak ibu Jevian dengan tatapan meremehkan sebab laki-laki yang menginterupsi perdebatan mereka tampak mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam pun celana bahan hitam. Yang membuat ibu Jevian menatapnya remeh sebab pakaian yang laki-laki itu kenakan terlihat pakaian biasa. Bukan pakaian bermerek. Ibu Jevian yakin, kalau laki-laki itu merupakan pria biasa. Dari kalangan di bawahnya, meskipun wajahnya rupawan bak keturunan orang berada.


"Bukankah aku sudah bilang kalau aku adalah calon suami Adisti. Jadi aku minta Anda tidak bicara sembarangan tentang dirinya kalau kau tidak mau menanggung akibatnya," desis Mark tampak tenang. Namun auranya begitu kuat membuat nafas orang-orang di sekitarnya nyaris tercekat.


Ibu Jevian pun merasakan hal yang sama, tapi ditilik dari pakaian yang Mark kenakan, ia kembali mengangkat dagunya dengan tatapan mencemooh.


"Mark, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Adisti setelah sekian detik terpaku melihat kedatangan Mark.


Mark menyeringai lalu meraih tangan Adisti dan menggenggamnya tanpa menyahuti kata-kata perempuan itu.


Jevian yang melihat itu, tampak tak suka. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa sebab mereka memang hanya sekedar berteman, tak lebih.


"Ah, aku pernah melihatnya. Aku tahu, dia itu sopir tuan muda Sanches. Benar, dia sopir tuan muda Rainero," ujar ibu Rachel membuat seringai cemooh makin melebar di bibir ibu Jevian.


"Oh, jadi kau calon suami perempuan miskin ini? Kalian memang cocok sekali. Yang satu pelayan restoran, yang satu sopir. Kombinasi yang pas. Sama-sama miskin. Sama-sama kacung," ujarnya sambil terkekeh.


Para wanita kaya yang tadi mengerubungi mereka pun ikut menertawakan Adisti dan Mark.


"Mom, sudah, hentikan semua ini," sergah Jevian yang tak habis pikir dengan sifat dan sikap sang ibu yang masih saja suka merendahkan orang lain.


"Sudahlah Jevian, kenapa kau harus membela mereka? Mommy yakin, perempuan inilah yang menggodamu, bukan? Atau jangan-jangan mereka bekerja sama untuk menjebak mu. Untuk mengeruk harta bendamu. Jangan bodoh, Jevian. Orang miskin seperti mereka, pasti memiliki rencana busuk dengan mendekatimu," seolah belum puas menghina, ibu Jevian terus memberondong Adisti dan Mark dengan tuduhan-tuduhan tak mendasar.


"Maaf Nyonya, aku bukanlah perempuan yang gila akan harta seperti yang kau katakan. Bahkan jujur, aku tak sedikitpun tertarik pada putramu. Kami murni berteman. Aku sadar diri, aku tidak sebanding dengan kalian, tapi aku pun punya harga diri, jangan pernah menghinaku karena aku takkan tinggal diam. Kalian pikir harta yang kalian miliki akan dibawa mati? Bisa jadi hari ini, besok, atau lusa, harta kalian yang kalian bangga-banggakan itu habis tak bersisa. Jangan sombong jadi manusia. Selagi masih menginjak tanah yang sama dengan manusia lainnya, maka kita semua sama,," jawab Adisti tegas.


Rahang ibu Jevian mengeras saat mendengar kata-kata Adisti yang seolah menggurui dirinya.


"Tutup mulutmu, jalaang! Kau pikir kau siapa berani bicara seperti itu padaku, hah!" sentak ibu Jevian dengan emosi yang memuncak.


"Kau yang tutup mulut busukmu itu, Nyonya! Berani-beraninya kau bicara seperti itu pada calon istriku?" sentak Mark tak kalah keras hingga suaranya begitu menggelegar. Semua bahkan sampai terdiam mendengar sentakan Mark yang dipenuhi aura kemarahan.


"Kau yang tutup mulutmu! Berani-beraninya kau mengeluarkan suara keras di sini. Dasar sopir tak tahu diri!" balas Ibu Jevian tak mau kalah.


"Mom, berhenti! Apa Mommy tak malu berdebat seperti ini di hadapan semua orang!" raung Jevian dengan wajah merah padam.


"Kenapa Mommy harus malu? Seharusnya mereka yang malu karena masuk ke tengah-tengah kita. Dasar orang miskin tak tahu malu."


"Kenapa ribut-ribut di sini?" tiba-tiba ada suara seseorang yang menginterupsi. Lalu muncullah beberapa pria dan berdiri di samping Jevian dan ibunya. "Jevian, Mommy, ada apa ini? Kenapa kalian berdebat?" tanyanya lagi. Laki-laki yang merupakan ayah dari Jevian itu lantas menoleh ke arah Adisti dan menggertakkan gigi, "kau ... " Namun belum sempat ia mengeluarkan suaranya, mata pria itu seketika terbelalak. "A-Anda, bukankah Anda tuan muda Marquez? Benar bukan? Anda ... putra dari tuan Alvernon?" tanya ayah Jevian dengan jantung berdegup kencang.


Mark melingkarkan tangannya di pinggang Adisti. Adisti sampai tersentak, tapi ia mempertahankan raut wajahnya agar terlihat tenang.


"Selamat malam tuan Austin. Ternyata Anda masih mengenaliku. Berapa tahun kita sudah tidak bertemu, hm? 2, 3, ah 4 tahun yang lalu. Saat Anda memohon agar daddy-ku berinvestasi di perusahaanmu yang ... hampir bangkrut," desis Mark membuat semua orang terkejut, termasuk Jevian dan ibunya.


"Siapa yang mau datang ke pesta yang penuh dengan kekejian seperti ini?" potong Mark sinis membuat jantung Austin kebat-kebit. "Pesta sekumpulan manusia yang suka pamer harta dan hanya bisa memandang rendah orang-orang di bawahnya? Cih, sungguh menjijikan!" lanjutnya membuat semua orang terdiam seribu bahasa.


Mereka memang sering mendengar nama keluarga Alvernon, tapi mereka tidak mengenal sosok tuan muda keluarga kaya raya dari negeri sebelah itu. Namun sama seperti keluarga Sanches, keluarga itu memiliki banyak anak perusahaan di beberapa negara.


"Maaf tuan, apa maksud Anda?" tanya Austin gugup.


Mark menyeringai, "tanyakan saja pada istri Anda tercinta. Apa pantas kalian menghina seseorang hanya karena status sosialnya berada di bawah kalian? Apa karena kalian kaya jadi kalian berhak merendahkan dan menghina orang lain? Aku tak menyangka keluarga Anda benar-benar busuk tuan Austin. Aku sudah memperingatkan istri Anda sejak awal agar berhenti menghina calon istriku. Tapi apa? Dia justru makin merendahkannya dan aku ... takkan pernah memaafkan itu. Sudah cukup kesombongan kalian. Mulai hari ini, aku akan menarik semua investasi di perusahaan kalian. Itulah konsekuensi yang harus kalian tanggung atas kelakuan tidak terpuji keluarga ini pada calon istriku," ucap Mark penuh penekanan dan intimidasi.


Mata Austin, istrinya, serta anggota keluarga lainnya terbelalak. Bagaimana bisa Mark menarik investasinya di perusahaan mereka hanya karena masalah seperti ini, pikir mereka.


"Ini tidak adil," sergah Austin saat Mark ingin mengajak Adisti segera pergi dari sana. "Anda tidak bisa melakukan itu. Anda sungguh tidak profesional. Ah, iya, bukankah kau bukan CEO Alv Company jadi kau tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti ini," imbuh Austin lagi, merasa kesal karena Mark seolah memojokkannya hanya karena gadis seperti Adisti.


"Oh, benar. Anda benar sekali," ucap Mark membuat Austin menyeringai. Ya, memang tampuk kekuasaan masih berada di tahan tuan besar Alvernon jadi Mark tidak bisa mengambil keputusan sepihak begitu saja. "Tapi asal Anda tahu, sejak tahun lalu Padre telah memintaku menggantikannya. Tapi ... karena aku masih ingin bersenang-senang, aku jadi menolaknya. Namun, setelah hari ini, sepertinya aku akan segera menerima tampuk kekuasaan itu. Jadi ... bersiap-siaplah," ucapnya dengan alis terangkat ke atas. "Ayo baby, mari kita segera pergi dari sini!" Mark tersenyum lembut ke arah Adisti.


Sejak tadi Adisti masih kebingungan dengan apa yang ia alami. Tapi saat Mark mengajaknya segera pergi dari sana, Adisti hanya bisa pasrah. Toh untuk apa juga berlama-lama di sana. Hanya membuat tensi naik karena menahan amarah yang bergejolak.


Austin, istrinya, serta orang tua Rachel yang tadi ikut memojokkan Adisti hanya bisa menganga dengan perasaan tak karu-karuan. Bagaimana kalau Mark benar-benar mencabut investasi perusahaan mereka. Meskipun masih ada perusahaan lain yang berinvestasi di perusahaan mereka, tapi mereka hanya investor skala kecil. Berbeda dengan Alv Company yang merupakan perusahaan berskala multinasional dengan aset yang tak main-main.


Berbeda dengan orang tuanya yang memikirkan nasib perusahaan mereka, Jevian justru khawatir melihat Mark membawa Adisti begitu saja.


"Adisti, jangan pulang dulu!" Jevian berlari ke arah Adisti dan segera menghadangnya.


"Mau apa kau? Segera menyingkir dari hadapan kami?" desis Mark yang kesal karena Jevian tidak bisa benar-benar membela Adisti di dalam sana.


Jevian melirik sinis Mark. Tapi ia tidak menanggapi kata-kata Mark sebab yang menjadi fokusnya saat ini hanyalah Adisti.


"Adisti, kau datang denganku jadi biarkan aku yang mengantarkan mu pulang," ajak Jevian, tapi Adisti justru menggeleng.


"Maaf Jevian, aku akan pulang dengan Mark. Lebih baik kau segera kembali ke dalam. Sebaiknya setelah ini kita menjaga jarak. Aku tak ingin lagi berurusan denganmu apalagi keluargamu itu. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini. Maaf telah membuat kekacauan di pesta ulang tahun keponakanmu. Selamat tinggal," ujar Adisti datar membuat dada Jevian mencelos.


Mark tersenyum penuh kemenangan. Lalu ia menuntun Adisti agar masuk ke dalam mobil Lexus LS 500 miliknya. Mata Adisti sempat terbelalak saat melihat mobil itu. Bahkan sampai sekarang ia belum mempercayai apa yang ia dengar di dalam tadi. Mark adalah seorang tuan muda dari keluarga kaya raya sama seperti Rainero? Sungguh sesuatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Kalau ia benar-benar kaya raya, lalu kenapa ia memilih menjadi sopir Rainero? Apa Mark memiliki tujuan tertentu, pikirnya. Adisti tak tahu, Mark termasuk orang kaya gabut. Dia akan melakukan apa saja yang dianggapnya menyenangkan, termasuk menjadi sopir Rainero.


Apakah Rainero dan Axton tahu? Tentu saja tahu. Ah, lebih tepatnya baru tahu belum lama ini. Semua karena ketidaksengajaan saat Rainero memiliki pertemuan dengan CEO Alv Company. CEO Alv Company yang merupakan ayah dari Mark sendiri yang memergoki anaknya menyopiri Rainero. Jelas saja mereka semua terkejut. Tak menyangka kalau Mark rela menjadi sopir hanya karena malas memimpin perusahaan ayahnya sendiri.


...***...


Udah panjang ya! Jadi kalo nggak double up, nggak papa kan! πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„


...HAPPY READING πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°...