Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 194 (S3 Part 36)


"Tuan, bagaimana kita bisa keluar kalau wartawan masih mengerumuni pintu gerbang? Padahal siang ini kita sudah harus mendaftarkan Jefrey kembali ke rumah sakit," ujar Roseline cemas. Jevian yang baru saja menutup panggilannya dengan Matson pun tampak berpikir. Ia pun bingung. Kalau mereka memaksakan diri keluar, kemungkinan besar mereka akan dihadang para wartawan sehingga mobil mereka sulit keluar atau mereka akan membuntuti kemanapun mereka pergi. Tentu saja hal itu akan mengganggu kenyamanan mereka terutama Jefrey.


Siang itu memang Jefrey harus dibawa ke rumah sakit untuk melakukan serangkaian pemeriksaan dan persiapan agar operasi yang akan berlangsung 3 hari lagi itu berjalan lancar, tanpa hambatan sama sekali. Namun karena keberadaan para wartawan yang jumlahnya tidak sedikit itu membuat Jevian harus berpikir keras untuk mencari jalan keluar. Sayangnya, kediamannya tidak memiliki pintu belakang jadi mereka tidak bisa pergi lewat pintu belakang.


"Mau tenanglah. Kita pasti bisa keluar dengan aman," ujar Jevian seraya menepuk pundak Roseline. Gadis itu sampai membeku dengan debar aneh di dadanya. Namun hanya dengan hitungan detik, ia kembali menetralkan rasa aneh itu. Ia tersenyum tipis, kemudian segera berlalu untuk mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke rumah sakit.


Menjelang siang, meskipun berita tentang Eve telah tersebar luas, tapi ternyata para wartawan belum mau beranjak dari depan gerbang kediaman Jevian. Mereka menunggu sang tuan rumah keluar agar mereka bisa meminta konfirmasi mengenai berita yang tengah beredar luas.


Bila sejak semalam hingga pagi ini berita tentang perselingkuhan Jevian yang menjadi tranding topik, maka menjelang siang ini justru berita mengenai Eve yang memiliki hubungan tak biasa dengan seorang perempuan lah yang menjadi tranding topik.


Namun saat ini Eve belum tahu sama sekali. Ia justru masih menikmati kemenangan yang ia pikir sudah berhasil ia genggam.


"Tuan," panggil Matson yang baru saja datang.


Jevian mengangguk, "laksanakan sesuai perintahku tadi!" ujar Jevian yang langsung diangguki Matson.


Ia pun langsung masuk ke salah satu kamar tamu. Tak lama kemudian, ia sudah keluar dengan memakai pakaian Jevian. Matson menyerahkan pakaian yang ia tadi pakai ke Jevian. Untuk pertama kalinya hari ini mereka akan bertukar peran.


Setelah semuanya siap, Matson yang berpakaian seperti Jevian pun segera masuk ke dalam mobil Jevian. Sedangkan Jevian masuk ke mobil Matson, diikuti Roseline dan Jefrey di belakangnya.


Tak lama kemudian, Jevian pun melajukan mobilnya ke depan gerbang. Saat di depan gerbang, Roseline membungkukkan sedikit badannya sambil mendekap erat Jefrey. Tujuannya adalah agar tidak ada yang melihat keberadaannya.


Dibelakangnya, tampak Matson melajukan mobil Jevian. Melihat mobil Jevian hendak keluar, mereka pun segera mengambil tempat untuk menghentikan Jevian setelah lebih dulu membiarkan mobil Matson yang dikendarai Jevian berlalu dari sana.


Terdengar riuh wartawan meminta Matson yang mereka pikir adalah Jevian turun dari mobil. Bahkan mereka tak segan-segan mengetuk-ngetuk pintu dan kaca mobil Jevian berharap agar Jevian segera turun dan memberikan konfirmasi, tapi Matson tetap bertahan di dalam mobil. Tak lama kemudian, tampak pihak keamanan pun mulai bergerak untuk meminta para wartawan itu membiarkan mobil Jevian lewat. Mereka sepertinya lebih mengutamakan segera mendapatkan berita daripada adab, alhasil mereka memukul-mukul kaca mobil sekuat tenaga membuat ada bagian kaca yang retak.


Para keamanan pun segera menarik mereka menjauh. Saat celah mulai tercipta, Matson pun dengan cepat melajukan mobilnya keluar dari sana.


***


Siang itu Eve pergi keluar hendak mencari Lynda. Sudah beberapa hari Lynda tak kunjung bisa dihubungi. Eve pun diam-diam pergi ke apartemen Lynda yang ia belikan dulu. Namun setibanya di sana, Eve tidak menemukan Lynda sama sekali. Bahkan apartemen itu ternyata telah berganti kepemilikan tanpa sepengetahuannya.


"Sial, Lynda kemana sih?" gumam Eve sambil memijat pelipisnya.


Tak ada tempat yang bisa ia kunjungi lagi, Eve pun berinisiatif jalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Ia sekalian ingin menjual salah satu koleksi perhiasannya sebab ia sudah tidak memiliki uang sama sekali saat ini.


Setibanya di pusat perbelanjaan, Eve memasang wajah menyedihkan. Ia yakin, berita yang viral sejak semalam membuat banyak orang mengenali dirinya. Jadi ia tidak bisa berjalan pongah seperti biasa. Ia pun memasang ekspresi menyedihkan persis seorang wanita yang teraniaya.


Namun sesuatu yang tak terduga terjadi, hampir semua orang yang melihatnya justru menatapnya dengan pandangan aneh. Bahkan ada yang dengan terang-terangan menunjukkan ekspresi jijik padanya.


Namun tiba-tiba senyum kemenangan yang tadi terbit berubah menjadi sebuah keterkejutan. Wajahnya pias. Tangannya bergetar. Apalagi setelah ia mengklik salah satu video yang dengan jelas menunjukkan wajahnya di dalam sana.


"I-ini ... Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa? Bukankah aku selalu bermain aman selama ini? Bahkan tak ada satupun orang yang mengenalku tahu tentang ini," gumamnya dengan perasaan berkecamuk.


Ia menoleh ke sekitar, tampak orang-orang memandanginya sambil berbisik-bisik. Kini ia paham, kenapa sikap semua orang justru berbanding terbalik dengan harapannya.


Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Bukan Jevian yang hancur, tapi dirinya. Tampak jelas tatapan mencemooh orang-orang membuat Eve tak tahan lagi. Ia pun segera pergi dari sana sambil menutup wajahnya. Ia malu. Benar-benar malu.


...***...


Prang ...


"Aaaargh ... " Eve memekik tiba-tiba saat sebuah vas bunga melayang di hadapannya dan tepat mengenai dinding di belakang tubuhnya hingga akhirnya vas bunga itu pecah berkeping-keping.


"D-dad," sebuah Eve dengan nada bergetar karena ketakutan.


"Anak sialan! Menyesal aku memiliki anak sepertimu. Seharusnya ku biarkan saja kau mati dulu. Seharusnya bukan istriku yang mati saat itu, tapi kau. Sungguh dia sudah menyia-nyiakan nyawanya untuk anak tidak berguna seperti. Shittt!" raung Tobey saat melihat Eve kembali ke rumah.


Tubuh Eve bergetar hebat. Ini kali kedua ia melihat ayahnya bersikap kasar seperti ini. Tobey memang memiliki sifat arogan dan dingin, tapi ia begitu menyayangi putrinya sehingga selalu saja memberikan apa saja yang Eve inginkan. Namun kali ini ia benar-benar marah. Harga dirinya seakan tercoreng. Wajahnya bagai dilempar kotoran. Tobey yang mengutamakan harga diri dan kehormatan jelas saja murka. Mau ditaruh dimana mukanya saat ini? Ia yakin semua orang yang mengenalnya pasti saat ini sedang menggunjingnya. Membayangkannya, membuat Tobey benar-benar murka.


"Bukankah aku sudah memperingatkan mu berkali-kali, tinggalkan dia, tapi kau tetap saja menjalin hubungan dengan perempuan sialan itu. Lihat sekarang, karena ulahmu, mau ditaruh dimana mukaku, hah? Apa kau tidak pernah memikirkan itu? Aku memberikanmu segalanya, tapi ini balasanmu?" pekik Tobey yang kini sudah meringsek Eve dan mencengkeram rambutnya kuat.


"Dad, ampun! Ampuni aku! Aku mohon," lirih Eve dengan suara bergetar hebat.


"Ampun? Apa gunanya kata ampun sekarang ini, hah? Sekarang bereskan semua barang-barangmu dan pergi dari sini. Anggap saja, kau tidak pernah memiliki ayah. Mulai saat ini, kau bukan anakku lagi. PERGI!"


"Dad ... "


"PERGI ATAU KAU INGIN AKU MENYERET DAN MELEMPAR MU KELUAR?" raung Tobey tanpa penolakan.


Dengan tubuh bergetar, Eve pun segera menuju kamarnya dan membereskan semua barang-barangnya yang sekiranya berharga dan bisa dijual. Setelahnya, ia kembali ke tempat sang ayah tadi, tapi ternyata Tobey sudah tidak berada di sana. Eve merasa hancur. Ia tidak menyangka ayahnya akan berbuat sekejam ini padanya. Dengan gontai, Eve pun keluar dari rumahnya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...