Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 143 (S2 Part 12)


Tap tap tap


Terdengar derap langkah kaki terburu di sepanjang koridor rumah sakit. Mereka adalah Theo dan Rhea.


Karena terlalu terburu, hampir saja Rhea terjatuh karena tersandung kakinya sendiri. Namun dengan sigap, Theo menahan tubuhnya agar tidak sampai terjatuh.


"Hati-hati!" peringat Theo yang hanya diangguki oleh Rhea. Nafas Rhea tampak memburu, sebab ia sudah tak sabar lagi melihat keadaan sang ibu yang menurut dokter yang tadi menghubunginya kalau ibunya pingsan. Sepertinya ia belum bisa menerima kenyataan dan terlalu shock sehingga ia pun kehilangan kesadaran.


Theo membantu Rhea agar kembali berdiri tegap. Lalu mereka pun kembali berjalan. Namun saat di perjalanan, Theo tiba-tiba terpaku. Iris matanya menangkap keberadaan sosok laki-laki yang telah merebut sang kekasih dari sisinya. Sepertinya ia sedang berjalan mungkin menuju kamar rawat sang mantan kekasih. Kaki Theo tiba-tiba bergerak ingin mengikuti langkah kaki laki-laki itu. Siapa tahu ia bisa mengetahui kamar rawat inap Shenina. Ia ingin sekali menemuinya, namun seruan seseorang mengurungkan langkahnya.


"Theo," panggil Rhea saat menyadari Theo tidak berada di sisinya.


Theo pun mengurungkan niatnya tersebut. Ada yang lebih penting saat ini. Ada seseorang yang lebih membutuhkannya saat ini. Setidaknya, itulah yang ia tanamkan dalam pikirannya saat ini.


Theo pun gegas menyamakan langkah kakinya. Mereka melanjutkan perjalanan menuju kamar dimana ibu dari Rhea berada.


"Mommy," panggil Rhea lirih saat melihat selang infus menancap di punggung tangan sang ibu. Matanya terpejam. Wajahnya pucat pasi membuat hati Rhea teriris.


"Apa yang terjadi dengan mommy saya, Sus?" tanya Rhea pada seorang suster yang baru saja masuk ke ruangan itu.


"Tekanan darah mommy Anda sangat rendah. Terlalu shock dan kurangnya istirahat sepertinya menjadi pemicu pingsannya mommy, Nona."


"Tapi mommy akan baik-baik saja kan?" Rhea khawatir, ibunya terlampau shock sehingga ikut pergi meninggalkannya. Theo yang sejak tadi selalu mendampingi, mengusap punggung Rhea untuk menenangkannya.


Suster itu mengangguk, "mommy Nona hanya butuh istirahat dan suasana yang tenang. Untuk masalah yang lain, tidak ada. Tolong jaga pikiran mommy Anda agar ia bisa lebih menenangkan pikirannya."


Selepas mengucapkan itu, suster itu pun segera berpamitan untuk keluar.


"Kau tetaplah di sini, temani mommy. Biar urusan Daddy, aku yang selesaikan," ujar Theo lembut sambil mengusap punggung Rhea.


"Theo," panggil Rhea lirih.


"Hmmm ... "


"Terima kasih sudah mau mendampingiku. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku ... "


"Ssst ... Tak perlu berterima kasih. Bagaimanapun aku adalah menantu keluarga ini. Sudah kewajibanku melakukannya," tukasnya.


Mendengar jawaban itu, entah kenapa Rhea sedikit kecewa. Ia harap Theo mengatakan itu karena dia suaminya.


Ah, Rhea, jangan terlalu banyak berharap. Dia sudah bersikap lebih baik dan mau mendampingi mu seperti ini pun seharusnya kau berterima kasih. Dia tidak meninggalkan mu di saat titik terendah mu pun seharusnya kau bersyukur. Setidaknya saat ini kau tidak sedang benar-benar sendiri.


Tak lama kemudian, Theo pun segera mengurus kremasi dan pemulangan jenazah. Jenazah ayah Rhea akan dibawa pulang terlebih dahulu sebelum dimakamkan.


Setelah mengurus segala proses administrasi, Theo pun segera kembali ke ruangan sang ibu mertua. Ia membuka pintu secara perlahan karena khawatir menganggu Rhea dan ibunya. Siapa tahu Rhea pun ikut terlelap di sana.


Namun ternyata dugaannya salah. Yang nampak di dalam sana justru sebaliknya. Ada gemuruh tak biasa di dada Theo saat melihatnya.


Ya, di dalam sana ada Ael yang sedang memeluk Rhea seraya menenangkannya. Tampak punggung Rhea bergetar yang artinya Rhea kembali menangis saat ini.


Namun yang membuatnya kesal adalah kenapa Rhea harus memeluk laki-laki lain. Ia juga melihat laki-laki itu di restoran dimana Rhea bekerja. Bila waktu itu ia terlambat sedikit saja, pasti Rhea akan pulang dengan laki-laki tersebut.


Theo berdeham dengan wajah datarnya. Rhea yang mengenali suara tersebut pun reflek melepaskan pelukan Ael dari tubuhnya.


"Theo."


Rhea pun segera berdiri untuk menghampiri Theo. Rhea menyeka kasar air matanya. Mata Rhea tampak sangat sembab, Theo bisa melihatnya dengan jelas. Namun ia bungkam menunggu penjelasan Rhea.


"Emmm ... itu ... dia adalah Ael. Dia sahabatku sekaligus pemilik restoran tempatku bekerja."


Merasa namanya disebut, Ael pun gegas berdiri dan berjalan dengan gagah ke arah Theo. Ia lantas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Samuel. Tapi lebih sering dipanggil Ael. Ael adalah panggilan kesayangan Rhea khusus untukku," ucapnya seakan sengaja ingin memprovokasi Theo.


Mata Rhea sontak saja membulat saat mendengar penuturan Ael yang terlampau berani itu. Ael tampak santai sekali. Seolah apa yang ia katakan tidaklah masalah.


Theo menyambut tangan itu dengan wajah datarnya. Rhea tersenyum miris, ia pikir Theo akan cemburu melihat ada laki-laki lain yang tampak begitu dekat dengannya. Tapi melihat ekspresi wajah Theo yang tampak biasa saja seakan menamparnya.


'Sadarlah, Rhea. Kau bukan siapa-siapa baginya. Ingat, pernikahan kalian hanya sementara. Jangan terlalu berharap karena cintanya bukanlah untukmu.'


...***...


Suasana rumah duka tampak ramai. Satu persatu orang-orang yang mengenal ayah Rhea mengungkapkan bela sungkawa mereka. Tadi di rumah sakit, ibu Rhea sempat kembali histeris. Namun setibanya di rumah, akhirnya ia sudah bisa lebih tenang. Meskipun air mata tak henti-hentinya mengucur dari pelupuk matanya.


"Mom, Rhea mohon, kuat. Ikhlaskan, Daddy. Rhea ... "


Brukkk ...


"Rhea," pekik Ael dan ibu Rhea.


Mendengar namanya disebut, Theo yang sedang menyambut kedatangan para pelayat pun segera berlari. Melihat Rhea yang pingsan dan sekarang sedang berada di dalam pelukan Ael membuat dada Theo bergemuruh. Ia pun gegas mendekat dan mengambil alih Rhea lalu menggendongnya.


"Menyingkir!" ucapnya dingin pada Ael. Ael mendengus tak suka mendengar nada suara Theo.


"Biar aku saya yang membawanya ke kamarnya. Aku sudah sangat hafal seluk beluk rumah ini," ucapnya. Ada nada sindiran di dalamnya. Theo sadar, ia tidak tahu dimana kamar Rhea sebab setelah mereka menikah, Rhea langsung pindah ke apartemennya.


"Tapi Rhea sekarang sudah menjadi tanggung jawabku. Aku suaminya dan aku lebih berhak atas dirinya. Jadi lebih baik kau menyingkir. Jangan mempermalukan dirimu sendiri karena masih mengharapkan istri orang lain," tukasnya dingin.


Mata Ael terbelalak. Sementara itu, Theo menyeringai. Dalam sekali lihat saja, siapapun bisa menebak kalau Ael memiliki perasaan tak biasa pada Rhea.


Tak mau basa-basi lagi, Theo pun segera meraih Rhea ke dalam gendongannya. Ia berjalan menaiki anak tangga rumah besar dan mewah itu. Theo memang tidak mengetahui dimana kamar Rhea, tapi Theo tidak bodoh. Ia lantas meminta salah seorang pelayan di rumah itu untuk mengantarkannya ke kamar Rhea.


Setibanya di kamar Rhea, Theo segera membaringkan Rhea di atas ranjang. Wajah Rhea tampak begitu pucat. Theo tahu, Rhea sedang tidak baik-baik saja. Namun di sisi lain, ia memiliki seorang ibu yang butuh dikuatkan. Ia pun berusaha menutupi kerapuhannya dengan berpura-pura tegar. Namun hal itu justru berdampak pada psikisnya. Akhirnya Rhea pun tumbang.


Theo mengusap puncak kepala Rhea dengan lembut. Lalu telapak tangannya beralih ke perut Rhea. Tangannya bergetar saat ia berhasil menyentuhnya. Ada perasaan tak biasa saat tangannya menyentuh tonjolan yang Theo yakini merupakan calon buah hatinya tersebut.


"Baby, ini daddy. Dengar, baik-baik di dalam sini ya! Daddy ... menyayangimu."


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...