Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 100


Karena terlalu larut melepaskan rindu, Justin sampai lupa memanggil dokter untuk melaporkan apa yang terjadi pada Delianza. Dokter dan perawat yang bertugas merawat Delianza tak henti-hentinya merasa takjub akan kekuatan cinta dari seorang anak dan suami itu pada Delianza.


Meskipun Delianza dan baby Arley telah tampak sehat, tapi dokter belum mengizinkan mereka untuk pulang. Mereka harus menjalani observasi beberapa hari lagi, setelah semuanya dinyatakan baik-baik saja barulah mereka diizinkan pulang.


Tiga hari berselang, dokter melaporkan hasil pemeriksaan Delianza dan baby Arley yang semuanya baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya.


Tentu saja Justin merasa amat senang sehingga di siang harinya, Justin pun bisa membawa mereka pulang.


Sesampainya di kediamannya, tampak seluruh keluarga menyambut kepulangan Delianza dan baby Arley. Kedua orang tua Justin menyambut kepulangan menantu dan cucu mereka dengan tangis bahagia.


"Hai," sapa Shenina pada Delianza yang sedang memangku baby Arley. Mendengar sapaan ramah dari Shenina membuat Delianza sedikit canggung, tapi ia tetap berusaha untuk tersenyum ramah.


"Hai," jawab Delianza dengan tersenyum kaku. Sungguh, ia tak menyangka Shenina akan menyapanya seperti ini.


"Selamat ya atas kesembuhanmu dan baby Arley. Aku turut senang, bahkan terharu," ujar Shenina tulus.


"Terima kasih. Mungkin ini berkat doa-doa dari keluarga dan orang-orang terdekat. Aku pun tidak menyangka setelah apa yang kami alami, kami bisa berdiri bersama lagi dengan kebahagiaan baru yang sungguh di luar ekspektasi," ucap Delianza. "Shen, maaf ya!"


"Maaf?" Delianza mengangguk.


"Iya, maaf karena hampir saja merusak kebahagiaan kalian. Rumah tangga kalian. Maafkan atas kebodohanku waktu itu. Sungguh aku menyesal pernah berbuat bodoh seperti itu," tutur Delianza lembut.


Shenina tersenyum lembut, "tak perlu kau pikirkan. Semua hanya masa lalu. Yang penting sekarang adalah masa depan. Aku harap kau pun menemukan bahagiamu, seperti kami yang telah menemukan kebahagiaan kami."


"Ya, kau benar. Kau sungguh baik. Wajar saja Rain sampai tergila-gila padamu. Mungkin bila itu perempuan lain, saat melihatku pasti akan langsung menjambak-jambak rambutku."


"Dan aku tidak sebar-bar itu. Lagipula tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan emosi, bukan."


Delianza mengangguk, hingga tiba-tiba ada suara yang menginterupsi obrolan mereka.


"Honey, kau mau sesuatu? Cemilan, jus, teh, atau buah-buahan? Biar aku ambilkan," ujar Justin yang sudah menyapa sang istri sambil merengkuh pundaknya.


Shenina tersenyum penuh arti pada Delianza yang membuat wajah wanita itu bersemu merah.


"Emmm ... boleh. Ambilkan apa saja yang menurutmu enak, pasti akan aku makan," ujar Delianza seraya tersenyum manis.


"Baiklah. Kau tunggu di sini, oke," ujar Justin. Sebelum beranjak, Justin terlebih dahulu tersebut kecil sambil menganggukkan kepalanya sekadar sapaan ramah. Shenina membalas dengan tersenyum kecil seraya mengangguk.


"Sepertinya dia benar-benar mencintaimu?" Goda Shenina membuat Delianza tak mampu menyembunyikan senyum bahagianya.


"Benarkah?"


Shenina mengangguk.


"Semoga saja. Kami memang sudah berkomitmen untuk memperbaiki hubungan kami. Bila sebelumnya pernikahan kami dilandasi oleh kepentingan masing-masing, maka kali ini kami ingin memperbaiki semuanya dan memulai segalanya dari awal."


"Itu bagus. Semoga kalian selalu berbahagia," ucap Shenina seraya melirik baby Arley.


"Mau mencoba gendong?"


"Boleh?" tanya Shenina dengan binar di matanya.


Delianza pun mengangguk sehingga bayi mungil yang tengah mengecupi ibu jarinya itu berpindah ke lengan Shenina. Shenina menimang baby Arley dengan penuh kelembutan. Bayi mungil itu tersenyum saat Shenina mencoba mengajaknya berbicara.


"Sungguh aku sudah tak sabar melihatmu menggendong anak-anak kita," ujar Rainero tiba-tiba yang telah merengkuh pinggang Shenina dari belakang.


"Ck ... kau mengagetkanku saja. Untung saja baby Arley tidak terlepas dari tanganku," protes Shenina saat Rainero telah berada di belakangnya.


Rainero terkekeh, "maaf," ucapnya sambil menatap baby Arley yang juga menatapnya.


"Kenapa tatapannya seperti itu? Tatapannya mengingat aku pada tatapan seseorang," ujar Rainero saat baby Arley menatapnya datar, berbeda dengan tatapannya kepada Shenina.


"Mengingatkanmu pada siapa?" Shenina memicingkan matanya.


"Kenapa? Kau penasaran, hm?" goda Rainero. Shenina mendelik tajam.


"Mau tahu, tatapannya sama dengan tatapan sepupu kurang ajarku ini." Tiba-tiba Rainero menarik Justin dan memiting lehernya. "Heh, kau pasti yang mengajari anakmu itu menatapku sinis seperti itu, hm? Dari wajah sampai tatapan, benar-benar duplikat sepupu kurang ajar ini," delik Rainero membuat Justin membeliakkan matanya.


"Heh, baby Arley itu masih bayi. Mana mungkin dia aku ajari yang macam-macam. Ah, aku tahu, pasti baby Arley tahu kalau kau itu musuh daddy-nya jadi dia menatap tak suka padamu."


"Kau memang sepupu kurang ajar. Sejak kecil selalu saja ingin membuat masalah denganku. Sepertinya aku ingin memberimu hukuman terlebih dahulu," ujar Rainero seraya menyeringai.


"Apa? Jangan macam-macam di acaraku ini, Rain!" pekik Justin dengan suara tertahan.


"Aku tidak akan macam-macam. Aku hanya ingin satu macam."


"Jangan aneh-aneh kau, Rain. Atau aku akan membalas mu."


"Balas saja. Bukankah selama ini kau tak pernah menang melawanku," jawab Rainero pongah.


Justin berdecak.


"Sudahlah suamiku, saat ini waktunya berbahagia, bukannya berdebat seperti ini."


"Siapa yang berdebat, Sweety. Aku hanya ingin menghukumnya dengan meminjam baby Arley beberapa hari, bagaimana? Boleh?"


"Hah, akhirnya, kalian bisa kompak juga," desah Rainero sambil tersenyum kecil.


Justin dan Delianza saling menoleh. Kemudian tanpa aba-aba, Justin langsung berhambur memeluk Rainero membuat laki-laki itu syok.


"Heh, lepas! Aku tidak ingin orang-orang mengira aku pecinta sesama batangan," seru Rainero pelan membuat Justin mendelik.


"Astaga, Rain, kau hanya ingin memelukmu sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan maaf. Terima kasih karena nasihatmu waktu itu aku akhirnya sadar kalau ada seseorang yang begitu berharga yang harus aku jaga dan lindungi. Serta maaf atas semua sikap pongah dan iri ku selama ini. Aku harap kita bisa menjadi sodara lagi layaknya sodara sesungguhnya. Tak ada lagi permusuhan apalagi saling iri dengki."


"Aku tak pernah iri padamu. Kau saja yang selalu iri padaku."


"Ya, ya, ya, kau benar. Maafkan aku tuan Rainero yang terhormat," ujar Justin sambil meletakkan sebelah telapak tangannya di depan dada dan tubuh sedikit membungkuk seakan-akan ia sedang meminta maaf dengan seorang raja.


Plakkkk ....


Rainero menggeplak kepala Justin sambil terkekeh, "ya, aku maafkan. Hahaha ... "


Justin mendelik, tapi selanjutnya ia pun tertawa. Baru kali ini ia bisa tertawa lepas apalagi bersama sepupu yang selalu dimusuhinya itu.


Sementara itu, di sisi lain rumah.


"Adisti, kenapa kau di sini? Tidak ikut makan?" tanya Jevian yang sudah menghampiri Adisti yang duduk di pojokan. Ya, acara ini memang mengundang semua rekan terdekat. Semua atas instruksi Ranveer. Termasuk sahabat cucu-cucunya yang sudah ia kenali.


Adisti menggeleng, "tidak. Terima kasih."


"Kenapa?"


Adisti tersenyum canggung, "aku ... aku merasa tidak pantas berada di sini."


Adisti merasa insecure sendiri sebab merasa dirinya yang begitu berbeda dari semua orang yang diundang ke sana.


"Mengapa kau berpikir seperti itu? Bukankah kau itu sahabat Shenina jadi wajar kalau kau ikut bergabung. Dan tak perlu merasa canggung. Anggap saja mereka semua adalah keluargamu sendiri."


"Bagaimana mungkin aku menganggap mereka keluarga, sedangkan aku ini hanyalah seorang yatim piatu yang hidup sebatang kara. Bahkan tempat tinggal sendiri pun tak punya. Andai tak ada Shenina, pasti aku masih tinggal di sebuah kontrakan kecil dan bekerja sebagai cleaning service. Tapi berkat Shenina hidupku jauh lebih baik bahkan aku bisa bekerja di tempat yang tak terduga."


"Kata siapa kau sebatang kara kau memiliki Shenina, Gladys, dan juga aku. We are family now. Jadi kau mau makan? Ayo aku temani. Jangan sungkan. Shenina pasti akan marah saat tahu sahabatnya tidak makan dan malah memilih duduk di pojokan."


Jevian menarik lengan kecil Adisti dan membawanya ke stand yang berisi berbagai macam makanan. Jevian membantu Adisti memiilih makanan. Namun baru saja ia ingin menyantap makanan, Adisti tiba-tiba ingin ke kamar kecil.


"Jevian, aku permisi ke toilet sebentar ya!" ucap Adisti.


Jevian mengangguk, "perlu aku temani?"


"Ckk, aku bukan anak kecil yang ke toilet pun mesti ditemani," sungut Adisti membuat Jevian terkekeh.


Lalu Adisti pun segera pergi ke toilet di area dapur. Setelah selesai, ia pun membuka pintu ingin keluar. Namun belum sempat keluar, p


Adisti kembali terdorong ke dalam toilet hingga terdengar suara klik saat pintu terkunci. Adisti memelototkan matanya saat melihat siapa pelakunya.


"Kau? Apa yang kau lakukan? Cepat buka pintunya! Aku mau keluar?" desis Adisti dengan mata melotot.


"Kau sebenarnya kenapa? Kenapa kau terus menghindariku? Ini sudah berapa bulan, tapi kau tetap saja seperti ini. Oke, aku memang salah karena melupakan mu saat itu. I'm so sorry. Jangan terus menghindar dariku, ku mohon!"


"Cih, siapa juga yang menghindari mu? Tak penting." Adisti memutar bola matanya.


"Ternyata kau sangat pendendam ya!"


"Kalau iya kenapa? Tak suka? Tinggal jauh-jauh aja sana, aku juga malas berdekatan denganmu," ucap Adisti seraya mengibaskan tangannya.


Tiba-tiba Mark menangkap tangan Adisti dan menggenggamnya. Adisti melotot dan berusaha melepaskan cekalan tangannya, tapi Mark justru makin mengeratkan genggamannya.


"Adisti, tidak bisakah kau seperti awal kita berkenalan dulu? Aku merindukan sosokmu yang penuh perhatian seperti waktu itu," ujar Mark sendu.


"Untuk apa? Tidak penting juga, bukan. Bukankah kau sudah balikan sama mantan kekasihmu itu. Sana, pergi yang jauh. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman dengan kekasihmu itu." Adisti masih berupaya melepaskan genggaman tangannya, tapi Mark tidak membiarkannya.


"Kekasih? Aku tidak memiliki kekasih. Ya, aku memang waktu itu tanpa sengaja bertemu dengannya, tapi aku tidak kembali menjalin hubungan dengannya. Sudah ya, jangan marah lagi!"


"Mau ada hubungan kek mau tidak kek, aku tidak peduli. Cepat, lepaskan tanganku dan buka pintunya! Jevian pasti sudah menungguku saat ini," pekik Adisti dengan suara tertahan.


Mendengar nama Jevian tiba-tiba rahang Mark mengeras, "apa karena dia lebih kaya dan mapan jadi kau lebih memilih dia daripada aku?" desis Mark.


Adisti mengerutkan keningnya, "maksudmu?"


"Tak perlu berkilah. Aku tahu, kau lebih memilih dia daripada aku karena dia lebih kaya dan mapan, bukan. Tidak seperti aku yang hanya seorang sopir. Ternyata semua wanita sama saja."


"Apa maksudmu sama saja? Oh, jadi kau kira aku dekat dengan Jevian karena dia kaya, begitu? Ternyata pikiranmu cukup picik. Dengar, aku tidak sepicik itu. Aku tidak memandang orang dari harta bendanya. Yang penting bagiku adalah kebaikan, ketulusan, dan kenyamanan. Jadi jangan sama ratakan semua perempuan karena tidak semua perempuan seperti yang kau pikirkan," sergah Adisti marah.


Adisti lantas menghempas tangan Mark sama berjalan menuju pintu yang ada di balik tubuh Mark. Tapi belum sempat pintu terbuka, Mark lebih dahulu menahan tangan Adisti dan membalikkan badannya. Lalu tanpa aba-aba, Mark segera membungkam bibir Adisti dengan sebuah pagutan yang awalnya cukup kasar, namun lambat laun pagutan itu berubah menjadi lembut dan mesra. Adisti yang awalnya memberontak, seketika terhanyut akan buaian lidah dan bibir Mark.


Aneh, padahal otaknya hendak menolak apa yang Mark lakukan, tapi kenapa tubuhnya justru merespon berbeda. Tubuhnya justru merasa nyaman dengan apa yang Mark lakukan. Adisti tak henti-henti mengumpat dalam hati, kenapa reaksi otak dan tubuhnya bisa berbeda seperti ini?


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...