
Setelah menempuh perjalanan sekitar 25 menit, akhirnya Rhea dan Theo telah tiba di gedung apartemen dimana Rhea tinggal. Perempuan hamil itupun segera turun dari mobil setibanya di basemen.
"Kau mau langsung pulang atau ... "
"Kau pergi kerja jam berapa?" tanya Theo mengabaikan pertanyaan Rhea.
"Jam 9. Kenapa? Kalau kau sibuk, kau bisa pulang lebih dulu. Nanti jam setengah 7 aku ke sana untuk menyiapkan sarapanmu."
Jam kerja Theo pukul setengah sembilan jadi ia masih ada waktu yang cukup panjang untuk kembali lagi ke apartemen Theo dan menyiapkan sarapan. Setelahnya, ia akan langsung pergi ke restoran tempatnya bekerja.
"Aku akan menunggu di sini. Sekalian saja sarapan di sini," ucap Theo sambil mensejajarkan langkahnya dengan Rhea.
Rhea sedikit membelalakkan matanya. Namun sudut bibirnya berkedut. Ia tidak menyangka Theo akan menungguinya di sini.
Rhea lantas melangkah menuju lift yang akan mengantarnya ke lantai dimana unitnya berada.
Selama lift bergerak, baik Theo maupun Rhea saling bungkam. Theo berdiri sambil bersedekap dengan punggung menyandar ke dinding, sedangkan Rhea tampak berdiri canggung membelakangi Theo. Mereka tidak seperti pasangan suami istri. Yang ada justru mereka seperti orang asing yang tidak saling mengenal.
Untung saja perjalanan menuju lantai yang dituju tidaklah lama. Rhea lantas segera berjalan menuju unitnya dan membuka pintu. Ia pun segera mempersilahkan Theo masuk ke apartemennya.
Apartemen yang ditempati Thea merupakan apartemen studio. Apartemen studio atau yang lebih dikenal dengan apartemen satu kamar itu terdiri dari satu ruangan besar yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang makan, dan kamar tidur gabungan. Untuk dapur terletak di area kecil yang terpisah begitu pula kamar mandi. Namun meskipun apartemen itu ukurannya jauh lebih kecil dari apartemen miliknya, tapi apartemen Rhea tak kalah nyaman. Dengan penataan barang yang rapi membuatnya sedap dipandang.
Rhea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung ingin mempersilahkan Theo duduk dimana sebab tidak ada sofa di sana. Tidak mungkin kan ia mempersilahkan Theo duduk di tempat tidur.
Bahkan meja makan pun tak ada di sana. Hanya ada meja kecil berukuran 30 x 50 cm di sana. Meja itu biasanya Rhea gunakan untuk makan maupun bekerja. Rhea pikir untuk apa membeli perlengkapan rumah yang komplit, Yoh ia hanya tinggal sendiri. Bahkan orang tuanya pun tidak tahu perihal itu. Bisa gawat bila kedua orang tuanya tahu. Rhea paling tak ingin merepotkan apalagi menjadi beban orang lain. Oleh sebab itu, ia menjaga rapat-rapat permasalahannya dengan sang suami.
"Emmm ... maaf, tidak ada sofa di sini. Kau bisa duduk di sana saja," tunjuknya pada sebuah karpet bulu yang mungkin dijadikan Rhea tempat untuk bersantai. Di depannya ada televisi yang tergantung. Jadi ia bisa rebahan sambil menonton televisi di sana.
Tanpa banyak bicara, Theo langsung mendudukkan bokongnya di karpet bulu tersebut. Theo menguap. Rhea yang tahu Theo masih mengantuk lantas segera mengambilkan bantal untuknya.
"Terima kasih," ucap Theo setelah menerima uluran bantal tersebut. Setelahnya, Theo langsung merebahkan tubuhnya. Dalam hitungan detik, terdengar suara nafas teratur dari bibir Theo, pertanda kalau laki-laki itu telah tertidur.
Rhea yang sedang membereskan barang-barangnya pun sedikit terperangah. Ia tidak pernah menyangka Theo akan mampir ke apartemennya bahkan tidur di sana.
Dengan tersenyum kecil, Rhea bergegas melanjutkan pekerjaannya. Tepat pukul 6, Rhea berhasil menyelesaikan pekerjaannya. Tak banyak memang barang yang ia kemas, oleh sebab itu, ia tidak butuh waktu lama untuk membereskannya.
Rhea berjalan ke dapur sambil menggelung rambut panjangnya ke atas. Setelahnya, ia pun mulai berkutat dengan peralatan dapur. Hanya sarapan sederhana yang terdiri atas poached egg atau ceplok. Dilengkapi dengan irisan bacon, selembar roti panggang yang dioles selai buah, dan juga jus jeruk. Rhea juga menyiapkan semangkuk sereal lengkap dengan susu dan buah khusus dirinya.
Tepat pukul 7 semua pekerjaan Rhea telah selesai. Bahkan ia telah mandi dan berganti pakaian.
Tampak Theo menggeliat kemudian menegakkan punggungnya. Ia mengucek matanya saat menyadari langit sudah tampak terang.
"Kau sudah bangun? Mau ke kamar mandi?" tawar Rhea yang diangguki Theo.
Rhea segera menunjukkan dimana kamar mandi berada. Theo pun segera masuk dan mencuci muka lalu mengelapnya dengan handuk kecil yang telah disiapkan Rhea terlebih dahulu di sana. Theo akui, Rhea memang sangat teliti bahkan dengan hal kecil sekalipun. Ia mampu melayaninya dengan baik.
Apalagi Rhea sudah bertekad ingin melakukan yang sebaik mungkin selama ia masih berstatus sebagai istri Theo. Tak peduli pada hasil akhir, yang penting ia telah melakukan segalanya sebaik mungkin. Ia harap, usahanya ini akan berbuah manis. Namun Rhea juga tidak begitu berharap. Ia pasrahkan segalanya pada sang pencipta. Apapun hasilnya, ia harap, itu yang terbaik bagi dirinya, calon anaknya, maupun Theo.
Setelah sarapan, ternyata Theo menawarkan untuk mengantarkan Rhea ke restoran. Jelas saja Rhea senang bukan main. Namun ia tidak menunjukkan hal tersebut.
...***...
"Cie, yang diantar suami, senyum-senyum terus," goda Ael, sahabat sekaligus owner restoran dimana Rhea bekerja.
"Siapa yang tersenyum? Tidak ada," elak Rhea sambil meletakkan tasnya ke atas meja kerjanya.
"Tumben diantar suami? Jujur, aku cemburu lho," ucap Ael sambil memasang wajah sedih yang justru mendapatkan hadiah lemparan gulungan tisu.
"Dasar aneh."
"Ya iyalah, aku itu istri orang. Gila aja kamu cemburu. Makanya jangan sibuk bangun restoran terus, cari istri sana, biar tidak seperti orang stres lagi."
"Kamu tega katain aku seperti orang stres?" Ael mengerucutkan bibirnya membuat Rhea terkekeh.
"Makanya, jangan aneh-aneh deh."
"Ck, aku tidak aneh ya. Memang salah aku cemburu."
"Ya ampun, ini orang. Udah jelas salah masih pake tanya," omel Rhea yang membuat Ael terkekeh.
"Tapi serius deh, tumben kamu sama suami kamu? Aku pikir hubungan kalian itu emmm ... bagaimana ya nyebutinnya?"
Rhea tersenyum kecut, "aku hamil, Ael."
"Apa?" seru Ael yang sontak menegakkan punggungnya.
"Iya, aku hamil. Doakan aku ya, semoga keberadaan calon anakku ini bisa menjadi jembatan penghubung antara aku dan dia."
Ael sedikit banyak tahu bagaimana hubungan antara Rhea dan Theo.
Ael lantas berjalan mendekati Rhea dan menggenggam tangannya, "tak perlu kau minta pun aku akan melakukannya. Apapun itu, asalkan kau bahagia, aku akan melakukannya. Itu janjiku," ucap Ael tulus membuat Rhea berkaca-kaca. "Tapi dengar, bila ia kembali menyakitimu dan kau ingin pergi, datang padaku. Aku akan membawamu pergi jauh. Tak peduli kau hamil anaknya, aku akan menerimamu dengan tangan terbuka," imbuhnya lagi membuat air mata Rhea akhirnya benar-benar tumpah.
"Ael, kenapa kau baik sekali sih?" Rhea lantas membalas genggaman tangan Ael.
"Masih bertanya kenapa?" ejek Ael membuat Rhea terkekeh sambil menyeka air matanya.
"Padahal kamu baik sekali, tapi kenapa aku tidak jatuh cinta sama kamu saja?"
"Karena kamu itu bodoh."
"Ael, kamu kok bilang aku bodoh sih?" Rhea mencebikkan bibirnya.
"Kalau kamu pintar, kamu pasti akan lebih memilih aku. Aku kaya, aku tampan, aku baik, dan yang lebih penting aku dari dulu tulus menyayangimu. Bahkan lebih. Aku mencintaimu dengan tulus."
"Ya, ya, ya, kau benar. Kau memang yang terbaik. Tidak sia-sia aku memiliki sahabat seperti dirimu," ucapnya dengan tersenyum mengejek yang dihadiahi Ael sentilan di dahi Rhea.
"Ael, sakit," rengek Rhea yang justru membuat Ael terkekeh.
...***...
Sesuai janji othor, othor akan kasih hadiah pulsa ke tiga ranking teratas top fans.
Dan pembaca beruntung itu adalah ...
Buat yang namanya ada di atas, silahkan hubungi othor melalui DM di igeh ya!
Cara klaimnya, screenshot dulu beranda akun NT kakak terus kirim melalui DM ke igeh othor @dwie.author.
Bagi yang belum beruntung, terus aja dukung karya othor. Insya Allah, entar di akhir cerita akan othor adain lagi gift pulsa seperti ini.
...Sarangheyo ❤️❤️❤️❤️...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...