
Beberapa jam sebelumnya
"Shen, kamu sudah membeli perlengkapan bayi kalian?" tanya Delena yang siang itu mampir ke kediaman Rainero dan Shenina. Delena memang secara rutin mengunjungi Shenina. Dalam satu Minggu ia bisa datang 2-3 kali. Bagi Delena, Shenina bukan hanya menantu, tapi juga sudah seperti putrinya sendiri. Ia benar-benar menyayangi Shenina seperti ia menyayangi Rainero.
"Udah sih, Mom. Tapi Shenina tidak tahu sudah semua atau belum. Maklum, Shenina kan tidak pernah berurusan dengan anak kecil," ujar Shenina sambil tertawa kecil.
Delena maklum, apalagi Shenina merupakan calon ibu baru jadi wajar kalau perempuan itu belum benar-benar paham mengenai apa-apa saja yang dibutuhkan bayi baru lahir. Delena ingat dia dulu pun begitu. Tapi beruntung, mendiang mama mertuanya masih ada. Ibunya pun masih ada jadi mereka lah yang membantu Delena membeli perlengkapan bayi.
"Coba Mommy lihat apa saja yang sudah kalian beli," ujar Delena yang diangguki Shenina.
Lantas Shenina mengajak Delena ke kamar yang telah dipersiapkan Rainero dan dirinya untuk calon kedua buah hatinya.
Delena masuk ke dalam kamar yang didominasi warna biru muda tersebut. Sesaat setelah masuk, Delena langsung disambut dengan penampakan dua ranjang bayi yang lengkap dengan kelambunya. Kedua ranjang itu satu berwarna merah muda, sedangkan satunya berwarna biru.
Lalu Shenina menunjukkan lemari yang berisi perlengkapan bayi new born.
"Semuanya sudah cukup lengkap," ujar Delena sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. "Eh, kalian belum beli stroller dan bouncer ya? Bagaimana kalau kita beli sekarang. Kalian pasti akan membutuhkan dua benda itu. Tidak mungkin kan kalian akan menggendong bayi kalian terus saat berkeliling. Disitulah gunanya stroller jadi tidak pegal karena gendong bayi kalian terus. Kalian juga butuh bouncer. Jadi kalian bisa menidurkan twins dengan mudah," tukas Delena. Setelah menimbang, Shenina pun setuju. Tapi sebelum itu, ia menghubungi Rainero terlebih dahulu untuk mengabarkan kepergiannya. Baru saja Shenina akan menghubungi Rainero, seorang perempuan cantik telah berdiri di ambang pintu.
"Shen," panggil perempuan itu dengan senyum merekah.
"Gladys," gumam Shenina seraya tersenyum lebar. Mereka lantas saling berpelukan. "Eh, ada Aunty. Hai Aunty, apa kabar!"
"Ah, hai Gladys. Kabar Tante baik. Wah, kebetulan kamu datang, mau ikut aunty dan Shenina ke baby shop?! Aunty ingin membeli stroller dan bouncer untuk twins yang sebentar lagi lahir," ajak Delena.
Gladys pun mengangguk setuju. Shenina pun segera mengabarkan kepergiannya pada Rainero. Karena Shenina berangkat dengan sang ibu, Rainero tenang-tenang saja sebab yakin sang ibu bisa menjaga istrinya. Apalagi ibunya selalu bepergian dengan Rose yang juga mahir bela diri jadi tidak ada yang perlu ia khawatir, pikirnya.
Shenina pun gegas bersiap. Setelahnya, mereka semua masuk ke dalam mobil Delena yang dikendarai Rose secara langsung.
Tak butuh waktu lama, Delena, Shenina, dan Gladys pun telah tiba di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di negara itu. Delena lantas memboyong Shenina dan Gladys ke sebuah baby shop terlengkap di sana.
"Shen, lihat baju ini! Twins pasti lucu saat mengenakan baju ini," tukas Delena sambil mengangkat baju berbentuk kostum beruang yang begitu lucu. Shenina pun melihat baju itu dengan mata berbinar, menyetujui pendapat sang ibu mertua.
"Wah, aunty benar, bayi kamu pasti lucu sekali mengenakan baju ini. Uh, jadi tidak sabar mau punya bayi juga," tukas Gladys menimpali.
"Kamu belum ada tanda-tanda ya?" tanya Shenina.
Gladys menggeleng, "belum. Kira-kira kapan ya aku hamil?"
Mendengar pertanyaan itu, Delena pun ikut menimpali, "tidak perlu terburu-buru. Nikmati dulu saja hubungan kalian. Apalagi kalian 'kan baru jalan berapa bulan pernikahan jadi wajar kalau belum hamil. Tapi ngomong-ngomong, kalian rajin buatnya 'kan?" Delena mengerlingkan sebelah matanya. Shenina terkekeh mendengar godaan sang ibu mertua membuat pipi Gladys bersemu merah.
"Kalau itu tak perlu ditanyakan lagi, Aunty. Axton itu sangat rajin, bahkan sangat-sangat rajin," jawab Gladys dengan wajah memerah.
Delena dan Shenina tertawa, "jangan-jangan, tanpa kalian sadari, Axton junior dan Gladys junior sudah bersarang di sini nih," ujar Shenina sambil menoel perut Gladys.
Gladys tersenyum lebar, "semoga saja."
...***...
Setelah mendapatkan semua yang ingin dibeli, Delena mengajak Shenina dan Gladys ke restoran terlebih dahulu.
"Oh ya, Rose mana Mom? Kenapa tidak sekalian kita ajak makan juga?" tanya Shenina yang sejak tadi tidak melihat keberadaan Rose, asisten pribadi sang ibu mertua
"Tadi Mommy udah ngajak, tapi dianya yang tidak mau. Katanya tidak mau mengganggu momen kebersamaan mertua dan menantu."
"Ah, padahal seharusnya dia tidak perlu segitunya. Aku tidak masalah kok."
"Tapi pemikiran orang kan beda, Sayang. Rose memang seperti itu. Malah sering menyendiri sendirian."
"Memangnya Rose tidak memiliki keluarga, Aunty?" tanya Gladys sebab hampir setiap waktu, ia melihat dimana ada Delena, di sana pasti ada Rose.
Delena menggeleng, "katanya sih Mommy-nya sudah meninggal. Daddy-nya entah dimana. Dia sebelumnya hanya tinggal berdua dengan pamannya. Itu saja yang mommy tahu," jelas Delena. "Ya udah, kita makan dulu ya! Mommy sudah lapar. Kalian pasti juga."
"Maaf madam, aku permisi sebentar ke toilet, boleh kan?"
Delena berdecak, "kenapa mesti kau tanyakan, silahkan saja. Kenapa juga mesti melarang."
Setelah mendapatkan izin, Rose pun segera pergi.
"Kok mommy tiba-tiba mengantuk, ya," ujar Delena yang telah menguap beberapa kali.
"Sama, Shen juga, Mom. Rasanya mata Shen berat sekali." Shenina menutup mulutnya yang menguap lebar. Kemudian tanpa sadar, matanya pun menutup. Begitu pula dengan Delena dan Gladys, membuat seseorang yang berdiri tak jauh dari mobil itu tersenyum lebar. Sepertinya rencananya akan benar-benar berhasil.
...***...
Sementara itu, di kantor milik Rainero, tampak Axton terus-terusan mengusap perutnya.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi usap perut terus? Lapar?"
Axton mengangguk, "entah kenapa aku lapar sekali. Padahal tadi aku sudah habis makan dia piring. Tidak seperti biasanya," jawab Axton yang gelisah sendiri karena merasakan lapar di sata yang tidak tepat.
"Duit banyak, tinggal pesan saja. Begitu saja kok repot."
Axton berdecak sebal dengan jawaban Rainero, "duitku memang banyak. Tapi yang aku inginkan ini yang buat repot. Tapi kalau kamu kasi izin, aku akan dengan senang hati menerimanya. Kalaupun harus membayar mahal, aku tak masalah."
Rainero mengerutkan keningnya, "memangnya makanan apa yang kau inginkan? Bukankah selera makan mu tidak pernah yang aneh-aneh."
Axton menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, "emmm ... entah kenapa beberapa hari ini selera makan ku aneh. Emmm, jujur, sebenarnya aku ingin sekali makan bakso krispi buatan istrimu. Kira-kira kamu kasi izin tidak kalau aku minta tolong Shenina membuatkannya?" tanya Axton seraya meringis saat melihat perubahan ekspresi Rainero.
Brakkkk ...
"Apa? Kau pikir Shenina itu juru masak mu jadi kau bisa seenaknya minta buatkan bakso krispi padanya," sewot Rainero.
"Tidak bisakah kau terbaik hati padaku, Rain? Lihat, hanya dengan membayangkan memakannya saja, ludahku sudah memenuhi rongga mulut," ucap Axton yang sudah hampir meneteskan liurnya saat terbayang betapa gurihnya bakso krispi buatan istri bosnya itu.
"Tidak. Terserah kau mau ileran atau apa, aku takkan mengizinkan Shenina membuatkanmu makanan itu," tolak Rainero.
"Ayolah, Rain, tolonglah sahabatmu ini. Aku benar-benar ingin makan bakso krispi buatan Shenina. Ayolah, please!" melas Axton, tapi Rainero masa bodoh.
"Apa kau lupa, Shenina sedang hamil besar. Aku tak ingin dia kelelahan hanya karena memenuhi keinginan aneh mu itu. Apa itu? Tiba-tiba ingin memakan bakso krispi buatan Shenina."
"Rainero, kenapa kau begitu kejam padaku, huh? Tak ingat kau saat Shenina ingin makan apa itu? Kau sampai suruh aku mencari ke segala penjuru supermarket dan minimarket yang menjual panganan dari Indonesia. Biar lelah, aku tetap berusaha mewujudkan permintaanmu itu," omel Axton mengingatkan kejadian beberapa waktu yang lalu. Axton sampai harus keluar masuk supermarket dan minimarket yang menjual bahan makanan dari Indonesia semua hanya demi memenuhi permintaan Rainero.
"Itu karena Shenina yang ingin. Dia sedang hamil jadi wajar aku memenuhi keinginannya. Lagipula kau tidak disuruh begitu saja. Ada harga yang aku berikan. Tidak sedikit, tapi banyak. Jangan lupakan itu," dengus Rainero. "Kau tak ingat, dulu kau mengata-ngataiku karena keinginanku untuk memakan makanan super gurih itu, dan sekarang apa? Kau tiba-tiba seperti ibu hamil yang mengidam. Tunggu-tunggu, atau jangan-jangan ... Gladys ... "
Tiba-tiba Axton terlonjak dari tempat duduknya. Ia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu.
"Mungkinkah Gladys hamil?"
"Bisa saja. Bukankah kau sudah menikah lebih dari satu bulan."
Axton tersenyum lebar, "Rain, aku pulang lebih dulu. Aku sudah tak sabar memastikan Gladys hamil Axton junior," seru Axton sambil berlari menuju pintu keluar. Rainero hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Axton.
"Hah, kenapa tiba-tiba aku merindukan Shenina," ucapnya sambil memegang jantungnya yang berdebar. "Ah, lebih baik aku pulang juga." Lalu Rainero melirik jam tangan di pergelangan tangannya, "pasti Shenina dan Mommy sudah pulang."
Rainero pun segera keluar dari ruangannya untuk gegas pulang ke rumah.
...***...
...Selamat Hari Raya Idul Adha 1444 H....
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...