Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 92


Ambar tersentak saat petugas polisi tersebut menyatakan penahanan dirinya karena telah melakukan pembunuhan berencana. Jantungnya seketika berdegup kencang, apakah perbuatannya kemarin telah ketahuan pihak kepolisian? Secepat itu?


"Pem-pembunuhan berencana? Anda pasti salah. Aku tidak pernah membunuh seseorang," kilah Ambar gugup. Bahkan ia sampai lupa kalau pakaian bagian atasnya telah robek sehingga bagian tubuhnya terekspos.


Jessica yang menyadari hal tersebut segera mengambil taplak meja yang tak jauh dari posisinya dan segera menyingkapkannya ke tubuh Ambar.


"Tapi bukti-bukti mengarah jelas kepada Anda. Silahkan ikut dengan kami. Anda juga diizinkan meminta pendampingan pengacara."


"Bukti? Bukti apa? Jangan bercanda!" sentak Ambar tak terima atas penangkapan dirinya. "Lagipula siapa yang aku bunuh, tak ada. Kalian pasti salah paham. Aku tidak pernah membunuh seseorang." Ambar terus berkelit, tak mau mengakui kesalahannya.


"Anda telah terbukti membunuh saudara Julian. Anda pasti kenal bukan dengan laki-laki bernama Julian? Dan berhentilah berkelit karena bukti-bukti telah jelas mengarah kepada Anda. Kalau Anda ingin melihat bukti itu, mari segera ikut kami. Kalau Anda merasa tidak bersalah, kami persilahkan Anda untuk membela diri," tegas polisi tersebut. Namun Ambar tetap menolak penahanannya. Ia berteriak marah tidak terima.


"Aku bukan pembunuh. Pasti kalian ingin menjebak ku, bukan? Ini fitnah. Aku tidak terima. Aku bukan pembunuh. Aku yakin ini hanya fitnah," jerit Ambar menolak saat salah satu petugas hendak memborgolnya.


"Hentikan! Jangan tangkap, mommy-ku. Kalian pasti salah paham. Mana mommy membunuh," bela Jessica yang telah berdiri di hadapan Ambar. Ia mencoba menghalangi petugas mendekati sang ibu. Ambar pun bersembunyi di belakang Jessica, takut ditangkap.


"Dad, katakan sesuatu! Jangan biarkan mereka menahan mommy," pekik Jessica meminta pertolongan Harold.


Harold tak bergeming. Ia cukup terkejut mengenai fakta itu. Apalagi setelah mendengar nama laki-laki yang telah dibunuh tersebut yang tak lain adalah mantan suami Ambar.


"Dad," pekik Jessica lagi menyadarkan Harold dari lamunannya.


Harold terkesiap, kemudian ia bertanya, "maaf, saya Harold, suami Ambar. Bisa jelaskan sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang dibunuh? Dan apa buktinya kalau Ambar lah pembunuh tersebut?" berondong Harold yang masih dilanda kebingungan pun rasa penasaran.


Sebenarnya petugas tersebut pun menjelaskan, "kemarin istri Anda datang ke apartemen tuan Julian lalu melakukan hubungan intim. Lalu tanpa sepengetahuan Julian, nyonya Ambar memasukkan racun ke dalam minuman tuan Julian. Tuan Julian sempat meminta pertolongan dan berjanji akan segera pergi jauh, tapi Nyonya Ambar justru menendang tuan Julian dan setelahnya meninggalkannya begitu saja. Untung saja ada seseorang yang sempat menolong tuan Julian, tapi sayang, semalam tuan. Julian akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Racun telah melumpuhkan hampir semua syaraf-syarafnya. Bila Anda bertanya bagaimana kami mengetahui siapa pelakunya, maka jawabannya karena tanpa istri Anda sadari, tuan Julian telah memasang mini kamera di kamarnya. Awalnya beliau ingin merekam aktifitas panas mereka, tapi yang terjadi justru bukan hanya merekam aktifitas panas mereka itu, melainkan merekam bagaimana istri Anda memasukkan racun ke dalam minuman tuan Julian dan melakukan kekerasan fisik padanya," papar petugas polisi tersebut.


Ambar, Jessica, dan Harold terkesiap. Ambar tak menyangka kalau perbuatannya itu terekam mini kamera tanpa sepengetahuannya. Padahal ia merasa semuanya akan aman-aman saja sama seperti saat ia menyingkirkan Shena. Sementara Harold dan Jessica pun tidak menyangka kalau Ambar bisa melakukan perbuatan keji seperti itu.


Ambar terkesiap. Ia baru ingat kalau suaminya barusan mendapatkan kiriman video panasnya dengan Julian. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang mengirimkannya ke Harold?


Karena asik melamun, Ambar sampai tak sadar kalau tangannya telah terpasang borgol. Ambar yang sadar dari lamunannya pun berteriak. Ia tetap merasa tidak bersalah dan tak ingin mengakui kesalahannya meskipun bukti-bukti telah nyata tertuju padanya.


Jessica masih mencoba menahan lengan Ambar yang kini diseret paksa oleh petugas karena tidak mau menyerahkan diri dan terima memberontak.


"Mommy, mommy, lepaskan mommy. Ini pasti salah paham. Ini pasti fitnah, aku yakin itu. Aku mohon lepaskan mommy. Daddy, cepat tolong Mommy. Daddy, jangan diam saja," raung Jessica sambil berusaha menahan tangan Ambar yang terus diseret paksa.


"Biarkan dia mendekam di dalam penjara. Aku tak menyangka aku telah menikahi seorang iblis sepertimu, Ambar," sentak Harold tak ingin membela apalagi mencoba menyelamatkan Ambar.


Hingga tibalah Ambar di depan pintu masuk, tiba-tiba ada sebuah mobil super mewah berhenti di depan gerbang. Tak lama kemudian, turun dua orang dari dalamnya. Petugas polisi yang melihat kedatangan laki-laki yang barusan keluar dari dalam mobil pun segera memberikan hormat sekaligus bersalaman.


Setelah itu, mereka berdua pun segera menghampiri Ambar yang kini telah melotot tajam. Sungguh kedatangan dua orang itu di saat yang tidak tepat. Seolah kedatangan kedua orang itu untuk mengejeknya.


Melihat tangan Ambar terborgol membuat Shenina tersenyum kecil atau lebih tepatnya senyum mengejek membuat rahang Ambar dan Jessica mengeras.


"Mau apa kalian datang kemari, hah? Kalau kalian datang hanya untuk mengejek mommy, lebih baik segera pergi sebab kedatangan kalian hanya merusak suasana," sentak Jessica yang tidak suka melihat kedatangan Shenina.


Shenina terkekeh pun Rainero yang tersenyum mengejek.


"Ah, ternyata dia tahu tujuan kedatangan kita, suamiku," ujar Shenina seraya tersenyum sinis. "Lihatlah, penampilannya sungguh memukau. Aku harap pembunuh ini membusuk di penjara," imbuhnya dengan sorot mata penuh kebencian.


"Sialan. Pergi kalian, tak perlu ikut campur urusan kami, brengsekkk!" raung Jessica.


"Tapi aku takkan pergi sebelum aku membersihkan nama ibuku," desis Shenina membuat Ambar terhenyak.


"Apa maksudmu?" desis Harold. "Kalau kau ingin menertawakan kehancuranku, maka tertawalah. Aku yakin, kau sangat bahagia melihat diriku hancur, bukan?"; lanjut Harold.


"Ya, kau benar tuan Harold yang terhormat, aku bahagia melihatmu hancur, tapi ini belum seberapa. Aku yakinkan kalau sebentar lagi kau akan lebih hancur setelah mengetahui fakta tak terduga ini," ujar Shenina sambil menyeringai. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim sesuatu ke ponsel Harold. "Buka rekaman itu. Aku harap kau tidak terkena serangan jantung setelah ini karena hukuman seperti itu belum apa-apa dibandingkan rasa sakit aku dan ibuku selama ini akibat kebodohanmu," tukasnya seraya tersenyum mencemooh.


Dengan jantung berdegup kencang, Harold pun segera membuka rekaman video tersebut.


[Halo, perkenalkan, aku Julian, mantan suami Ambar. Aku ingin membuat pengakuan mengenai kejahatan yang pernah aku lakukan hampir 20 tahun silam. Saat itu aku baru bercerai dengan Ambar karena aku yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pribadi Ambar yang hedon. Akibatnya, aku jadi sering mabuk-mabukan dan berjudi. Aku terjerat hutang yang banyak akibat kebiasaan baruku itu hingga aku kembali bertemu dengan Ambar. Dia menawarkanku pekerjaan bagus dengan imbalan fantastis. Aku yang saat itu masih mencintai Ambar sekaligus membutuhkan uang pun menerima penawarannya. Namun aku tak menyangka kalau tawarannya itu berupa menjebak majikannya sendiri agar terlihat seolah berselingkuh dengannya di belakang suaminya. Kebetulan saat itu, majikan perempuan Ambar sedang sakit jadi Ambar memberikannya obat tidur secara diam-diam sehingga aku bisa masuk ke dalam kamarnya. Ambar melepaskan semua pakaian wanita tak bersalah itu dan membuat kami seolah-olah baru saja melakukan perbuatan tak terpuji di belakang suaminya. Dan rencana Ambar sukses. Wanita malang itu akhirnya dibenci suaminya. Di saat itulah, Ambar muncul bak pahlawan yang ingin mengobati luka lara suami majikannya. Semenjak hari itu, aku pun secara diam-diam sering mengunjungi Ambar. Di saat suami majikannya pergi, aku pasti datang dan bersenang-senang dengan Ambar. Hingga suatu hari, kedok Ambar terkuak oleh majikannya wanitanya itu. Ambar yang tak ingin rencananya gagal pun tanpa belas kasih memukul wanita malang itu dengan balok kayu hingga kehilangan nyawanya. Lalu ... dengan bantuan ku, kami membawanya ke kamar mandi dan membuatnya seolah-olah terjatuh dan meninggal di tempat. Setelah itu, aku selalu dihantui rasa bersalah hingga aku tak pernah lagi muncul dihadapan Ambar. Setelah bertahun-tahun berlalu, akhirnya kami kembali dipertemukan. Lalu dengan bodohnya aku mengancam Ambar dengan masa lalunya. Aku lupa kalau Ambar itu merupakan iblis betina. Ia takkan segan-segan menghabisi nyawa musuhnya. Dan kini beginilah akhirnya nasibku. Dia berhasil meracuniku. Semoga pengakuan ku ini bisa berguna untuk membongkar kebusukan Ambar. Maaf karena baru mengungkapkannya sekarang.]


Setelah mengucapkan pengakuan itu dengan terbata-bata, akhirnya Julian menghembuskan nafas terakhirnya. Semua tak luput dari perhatian Harold yang masih memandangi ponselnya dengan tatapan kosong.


Brakkkk ...


Ponsel itu jatuh ke lantai hingga layarnya retak. Tapi apa yang terdapat di layar itu masih dapat terlihat jelas oleh Ambar meskipun videonya tidak lagi berputar.


Ambar meringsut ketakutan. Bila tadi ia menolak dibawa ke kantor polisi, maka berbeda sekarang. Ia justru memohon-mohon agar polisi tersebut segera membawanya pergi sebab ia takut Harold akan makin bertindak nekat.


Dan benar saja, baru saja Ambar akan masuk ke dalam mobil polisi, Harold langsung saja menariknya dengan kasar lalu menghantamkan sebuah tinjuan ke wajah Ambar hingga hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Bahkan matanya kini bengkak karena tinjuan tersebut.


Jessica yang panik mencoba menghalangi, tapi nahas, ia justru didorong kasar hingga jatuh tersungkur di jalanan. Merasa belum puas, Harold langsung menginjak perut Ambar hingga wajah Ambar memerah karena menahan sakit. Hingga dua orang polisi pun bergerak untuk menyelamatkan Ambar. Kalau tidak, Ambar pasti akan segera meregang nyawa di tempat akibat ulah Harold.


Shenina tersenyum puas. Lalu dengan santai, Rainero merangkulnya menuju mobil mereka.


Sebelum mobil Rainero benar-benar melaju, Shenina sempat bersitatap dengan Harold. Tatapan Harold yang biasanya tajam kini justru terlihat sendu, tapi hal itu tidak menggoyahkan kerasnya hati Shenina yang terlanjur mati rasa. Ia tidak iba sedikitpun dengan apa yang menimpa Harold sebab apa yang laki-laki itu dapatkan belum sebanding dengan penderitaan dirinya dan mendiang ibunya selama ini.


"Sweety, kita pergi sekarang?" tanya Rainero memastikan.


Shenina memalingkan wajahnya dari Harold kemudian mengangguk seraya tersenyum lembut pada Rainero. Hari ini merupakan hari paling membahagiakan Shenina sebab akhirnya hari ini ia bisa mengungkapkan kebenaran kalau ibunya tidak pernah berselingkuh. Dan fakta yang tak kalah menyakitkan lainnya adalah ternyata ibunya sengaja dibunuh, bukan meninggal karena terjatuh. Sungguh Shenina takkan pernah memaafkan Ambar karena telah menjadi penyebab utama penderitaannya selama ini. Kalau perlu, ia akan memastikan sendiri Ambar akan membusuk di penjara seumur hidupnya.


"Terima kasih, Sayang."


Deghhhh ...


Rainero yang sedang duduk di balik kemudi tiba-tiba tersentak dengan jantung yang berdebar.


"Terima kasih, berkatmu akhirnya aku bisa mengungkapkan kebenaran tentang Mommy," ucap Shenina sambil merebahkan kepalanya di pundak Rainero.


"Kalau begitu, beri aku hadiah," ujar Rainero tanpa bisa menyembunyikan raut bahagianya. Apalagi setelah Shenina memanggilnya sayang barusan, membuat hatinya berkembang-kembang.


Shenina mengangkat kepalanya dan menatap Rainero dengan dahi yang berkerut, "memangnya apa hadiah yang kau mau? Kalau aku bisa, pasti akan aku berikan. Tapi jangan yang mahal-mahal ya soalnya tabunganku hanya sedikit. Tidak mungkin kan aku membeli hadiah dengan uang pemberianmu sendiri. Itu namanya bukan hadiah," ujar Shenina polos.


Rainero terkekeh, "tenang saja hadiahku itu tidak perlu menguras isi tabunganmu."


"Hah, benarkah? Memang apa hadiah yang kau inginkan? Jangan bilang kau ingin diizinkan menjadi seorang Cassanova seperti sebelumnya?" Mata Shenina memicing tajam membuat Rainero tergelak.


"Ya, kalau diizinkan aku memang ingin kembali menjadi seorang Cassanova ... " Rainero menggantung ucapannya membuat mata Shenina melotot tajam.


"Kau tidak lupa kan perkataanku semalam kalau aku akan memutilasi Rainocondamu itu dan memberikannya pada Albert bila kau berani macam-macam?"


Rainero kian tergelak. Shenina yang terlalu serius menanggapi candaan Rainero sampai tak sadar kalau Rainero telah membawanya ke suatu tempat.


Rainero memarkirkan mobilnya kemudian melepaskan seat belt. Ia mengubah posisi duduknya hingga berhadapan dengan Shenina.


"Dengarkan aku dulu. Jangan langsung berasumsi seperti itu. Dengar, aku memang ingin kembali menjadi seorang Cassanova, tapi hanya untuk satu wanita dan itu adalah kamu. Jadi ... apa kau sudah siap memberikan hadiahmu untukku?" Rainero menggestur wajahnya ke depan sehingga Shenina pun mengalihkan pandangannya ke luar.


Mata Shenina seketika terbelalak, "jadi maksudmu hadiah itu, kau ingin ... "


Wajah Shenina bersemu merah saat menyadari apa yang Rainero inginkan. Hanya dengan melihat apa yang ada di depan matanya saja ia sudah paham.


Ya, mereka kini telah sampai di sebuah resort tepi pantai. Pasti para pembaca bisa menebak kan apa permintaan Rainero?


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...