Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 146 (S2 Part 15)


"Rhea, kau mau kemana?" tanya Ael sambil menyamakan langkah kakinya dengan Rhea yang berjalan lebih dulu


Namun Rhea tak menyahut. Ia justru terus berjalan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Ael yang khawatir pun gegas menyusul dan ikut masuk ke dalam mobil Rhea.


"Rhea, jangan menyetir dalam keadaan tidak tenang seperti ini. Bahaya," peringat Ael yang sudah duduk di kursi samping kemudi.


Kemudian Rhea menyadarkan kepalanya pada kemudi. Ia terisak pelan. Ael sungguh tak tega melihatnya.


"Rhea, kau kepikiran dengan apa yang ibu mertuamu itu katakan?" tanya Ael hati-hati.


Rhea mengangguk pelan.


"Rhea, jangan langsung mengambil kesimpulan. Jangan berpikiran negatif. Apa yang kau dengar belum tentu seperti yang kau pikirkan."


Rhea menegakkan tubuhnya kemudian menoleh ke arah Ael yang menatapnya sendu.


"Bagaimana aku tidak berpikiran buruk, Ael? Kau dengar sendiri kan apa yang Mommy Emery bilang tadi, ternyata Shenina memang sebaik itu. Pantas saja Theo begitu mencintainya dan sulit melupakannya. Mommy Emery pasti menyesal telah menikahkan kami. Aku yakin, Mommy Emery pasti menginginkan Shenina kembali pada Theo. Dan ... mommy Emery pasti ingin memisahkan kamu, Ael. Memisahkan kami. Lalu ... bagaimana dengan aku? Anakku? Bagaimana Ael? Bagaimana?" jerit Rhea menumpahkan tangisnya.


Ael yang tak kuasa melihat kesedihan di wajah Rhea lantas menarik Rhea ke dalam pelukannya. Ia usap punggung Rhea yang bergetar. Ia bisa merasakan kalau Rhea sedang benar-benar khawatir saat ini.


"Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, Rhe. Bisa saja Mommy Emery melakukan itu karena alasan lain. Tidak semua apa yang terlihat seperti apa yang kita pikirkan. Jangan mudah mengambil kesimpulan yang belum tentu kebenarannya. Jangan. Lagipula, kau pikir perempuan itu masih mau menerima suamimu itu? Kau bisa lihat sendiri, kini ia sangat bahagia. Ia telah menemukan seseorang yang mampu meratukannya. Bahkan kau sudah lihat beritanya kan, bagaimana keluarganya sendiri memperlakukannya dengan buruk. Lalu tuan muda Sanches justru memperlakukannya dengan sangat baik. Mencintainya dengan tulus. Mereka sudah bahagia. Jadi tak perlu kau khawatir. Aku yakin 100%, ia takkan mungkin mau kembali pada suamimu."


Ael berusaha memberikan saran dengan bijak, tapi Rhea yang kadung mengambil kesimpulan tentu sulit untuk berpikiran positif. Ketakutan dan kekhawatirannya mengalahkan logika.


"Oke kalau aku salah menduga, tapi ... bagaimana kalau apa yang aku pikirkan ini benar? Bagaimana kalau memang mommy Emery berniat menyingkirkan ku demi menyatukan Theo dan Shenina lagi? Apalagi aku tahu, sampai saat ini Theo masih mencintai Shenina? Bisa jadi Shenina pun masih mencintai Theo. Bagaimana kalau ia justru bersedia kembali pada Theo? Bagaimana, Ael? Lantas aku harus bagaimana?"


"Kalau itu benar terjadi, maka aku akan membawamu pergi sejauh mungkin. Kemana hanya ada kita bertiga. Tak ada yang mengenali kita. Kau tak perlu khawatir, ada aku. Aku akan selalu ada untukmu," ucap Ael sungguh-sungguh.


"Jangan bercanda."


"Aku tidak bercanda. Aku serius. Kenapa kau selalu mengatakan kalau aku bercanda?"


"Ael, jangan rusak persahabatan kita dengan kata cinta. Karena cinta bisa merusak persahabatan. Lebih baik kau cari perempuan lain. Aku akan lebih bahagia bila melihat mu dengan perempuan yang lain."


Ael berdecak, "bicara tak semudah merealisasikan. Memangnya kau bisa melupakan laki-laki itu? Meskipun ia bersikap dingin padamu, tapi kau tetap setia padanya."


Rhea terdiam. Memang melupakan seseorang yang dicintai itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu selama ini Rhea memaklumi perasaan Theo yang masih terbelenggu pada mantan kekasihnya.


"Itu karena kami sudah menikah, sedangkan kau ... Kau masih muda. Kau bisa mendapatkan perempuan single dan yang pasti lebih baik dariku."


"Terserah kau mau mengatakan apa. Selagi kau masih belum bahagia, maka aku akan terus menunggumu," ucap Ael acuh tak acuh membuat Rhea yang tadi menangis seketika ternganga.


"Jadi kalau aku tak kunjung bahagia, tapi masih mempertahankan hubungan kami, maka kau akan terus menjomblo seperti ini?" cerca Rhea yang ditanggapi Ael dengan kedikkan bahu.


Rhea baru saja ingin kembali bersuara, tapi gedoran di kaca membuat atensi keduanya teralih. Mata Rhea seketika terbelalak saat melihat siapa yang berdiri di samping mobilnya.. Berbeda dengan Rhea yang menegang, maka Ael justru bersikap santai dan acuh tak acuh. Ia tak peduli orang tersebut akan salah paham pada mereka atau tidak. Justru lebih bagus kalau ia salah paham, pikirnya. Bukankah itu artinya kesempatannya mendapatkan Rhea terbuka makin lebar.


...***...


"Semakin hari kelakuanmu semakin gila saja, Axton. Sepertinya kau akan menjadi Pinkyman sejati," ejek Rainero saat melihat Axton masuk ke dalam ruangannya dengan dasi kupu-kupu berwarna pink menggantung di lehernya.


Axton memutar matanya jengah. Semenjak ia suka mengenakan sesuatu yang bernuansa pink, ia pun selalu menjadi bahan olok-olokan Rainero.


'Dasar atasan tidak ada akhlak!' gumam Axton dalam hati.


Axton tidak terima ia menjadi bahan olok-olokan Rainero. Axton lupa, kalau saat Shenina hamil dan Rainero mengidam yang aneh-aneh pun ia juga mengejeknya.


"Terserah kau mau bilang apa, aku tidak peduli. Yang penting aku tidak menggunakan uangmu untuk membeli barang-barang ini," balas Axton dengan bersungut-sungut.


"Apa kau lupa, kau membeli itu dari uang bonus yang aku berikan? Bukankah kau sendiri yang bilang, gajimu utuh kau berikan pada Gladys, artinya kau membeli barang-barang itu dari uangku juga."


"Tidak bisa seperti itu. Uang itu sudah kau berikan padaku jadi tentu saja uang itu sudah menjadi hakku."


Tiba-tiba pintu terbuka lebar. Gladys dan Shenina pun masuk ke sana secara bersamaan.


"Kau sudah pulang, Sweety? Mengapa tidak bilang-bilang?" Rainero terkejut melihat kedatangan sang istri. Setahunya Shenina sedang bertemu dengan Emery, tapi belum juga satu jam kenapa Shenina sudah berada di sana.


"Kenapa kau merasa heran? Apa kau takut aku datang saat kau sedang bersama perempuan lain?"


Mata Rainero melotot, "perempuan lain? Siapa? Mana ada. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Sweety. Ingat, kau harus selalu berpikiran positif. Pikiran buruk hanya akan membuat ASI-mu tidak lancar," tukas Rainero pelan sambil melirik Axton yang sudah bermesraan dengan Gladys.


'Sialan. Dia malah bermesraan di ruanganku.'


Shenina mencebikkan bibirnya, "awas saja ya kalau kau membawa perempuan lain ke dalam sini. Kalau sampai itu terjadi, udang mu itu akan aku potong dan masak dengan saos super pedas," ancam Shenina membuat Rainero reflek menutup Rainocondanya.


"No, Sweety. Kau tidak boleh kejam seperti itu. Kalau itu sampai terjadi, kau sendiri yang akan rugi."


"Kenapa aku rugi?"


"Bagaimana tidak, kau akan kehilangan si perkasa yang mampu membuatmu menjerit kenikmatan," ujar Rainero sambil mengerlingkan sebelah matanya.


Shenina lantas mencubit perut Rainero yang sudah tidak seliat dulu. Semenjak bersama Shenina, Rainero jadi jarang berolahraga. Tapi ia seiring berolahraga ranjang. Sama saja kan, pikirnya. Sama-sama berolahraga jadi ia tak perlu sering-sering berolahraga yang lain lagi. Hahaha ...


"Awww ... Sakit, Sweety. Jangan galak-galak. Nanti kita sambung di rumah. Atau mau lanjut di kamar sini?" goda Rainero yang membuat muka Shenina mendelik kesal. Rainero justru tergelak, tak peduli pada pasangan di ujung sofa sana yang sedang ketawa-ketiwi entah membicarakan apa.


"Sepertinya sahabatmu itu akan memiliki anak perempuan," ucap Rainero sambil mengajak Shenina duduk di sofa yang berseberangan dengan Axton dan Gladys.


"Aku pun menduga seperti itu," respon Shenina yang sepemikiran.


"Karena kegilaan asisten pribadi tuan Rainero ini, semua orang pun jadi bilang seperti itu." Secara tidak langsung, Gladys ikut membenarkan ucapan Rainero dan Shenina.


"Ini bukan kegilaan, Sayang. Tapi ... antusias."


Rainero dan Shenina terkekeh mendengar sanggahan Axton.


"Memangnya kalian belum USG?"


"Tidak. Kami memang sengaja tidak melakukannya. Mau perempuan ataupun laki-laki, bagi kami sama saja. Yang penting gendernya jelas. Tidak membingungkan. Hahaha ..." sahut Axton yang sudah tergelak sendiri.


"Bagaimana kalau anakmu perempuan, kita jodohkan anakmu dan anakku?"


"Anakmu ada dua kalau Anda lupa tuan, Rainero."


"Yah, tidak perlu terlalu detil menyebutkannya. Sudah pasti yang aku maksud adalah Sky."


"Kalau anakku laki-laki?"


"Tinggal jodohkan dengan Earth."


"Tidak perlu menjodoh-jodohkan. Bagaimana kalau saat mereka dewasa justru menemukan tambatan hati yang lain? Masalah jodoh tak bisa dipaksa, ingat itu!" ucap Shenina yang kurang setuju dengan masalah perjodohan.


"Tapi kenapa kedengarannya cukup menarik ya?" timpal Axton sambil mengusap dagunya.


"Tapi apa yang dikatakan Shenina ada benarnya juga, Suamiku," timpal Gladys.


"Ya sudah, biarkan ini jadi wacana. Saat anak-anak dewasa kita akan tanyakan pendapat mereka. Kalau mereka setuju, kita lanjutkan. Kalau tidak, ya sudah artinya kita gagal berbesan," putus Rainero yang disetujui Shenina dan yang lainnya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...